BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Pesatnya perkembangan lingkungan lokal, regional, dan internasional saat ini berimplikasi terhadap penanganan penyelenggaraan pendidikan pada setiap jenjang pendidikan yang ada. Berkaitan dengan perkembangan tersebut, kebutuhan untuk memenuhi tuntutan meningkatkan mutu pendidikan sangat mendesak terutama dengan ketatnya kompetitif antar bangsa di dunia dalam saaat ini. Sehubungan dengan hal ini, paling sedikit ada tiga fokus utama yang perlu diatasi dalam penyelenggaraan pendidikan nasional, yaitu: (i) upaya peningkatan mutu pendidikan; (ii) relevansi yang tinggi dalam penyelenggaraan pendidikan, dan (iii) tata kelola pendidikan yang kuat.

Depdiknas menempatkan ketiga hal tersebut dalam rencana strategis pembangunan pendidikan nasional tahun 2004-2009, namun disadari bahwa ketiganya tetap mendesak dan relevan dalam penyelenggaraan pendidikan nasional pada waktu yang akan datang.

Tantangan pendidikan nasional yang dihadapi oleh bangsa Indonesia dari waktu kewaktu meliputi empat hal, yaitu peningkatan: (1) pemerataan kesempatan, (2) kualitas, (3) efisiensi, dan (4) relevansi. Pengenalan pendidikan kecakapan hidup (life skill education) pada semua jenis dan jenjang pendidikan pada dasarnya didorong oleh anggapan bahwa relevansi antara pendidikan dengan kehidupan nyata kurang erat.

Kesenjangan antara keduanya dianggap lebar, baik dalam kuantitas maupun kualitas. Pendidikan makin terisolasi dari kehidupan nyata sehinggu, tamatan pendidikan dari berbagai jenis dan jenjang pendidikan dianggap kurang siap menghadapi kehidupan nyata. Suatu pendidikan dikatakan relevan dengan kehidupan nyata jika pendidikan tersebut sesuai dengan kehidupan nyata. Namun, pertanyaannya adalah kehidupan nyata yang mana? Sementara itu, kehidupan nyata sangat luas dimensi dan ragamnya, misalnya ada kehidupan pribadi, kehidupan keluarga, kehidupan masyarakat, dan kehidupan bangsa. Kalau mengacu pada Garis-garis Besar Haluan Negara tahun 1998 dan Undang-Undang No.2, Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN), kehidupan nyata itu menyangkut kehidupan peserta didik, kehidupan keluarga, dan kehidupan pembangunan yang meliputi berbagai sektor dan subsector (pertanian, industri, jasa, dsb.).

Pendidikan sekolah (PS) dan pendidikan luar sekolah (PLS) diselenggarakan untuk meningkatkan kualitas daya pikir, daya kalbu dan daya fisik peserta didik sehingga yang bersangkutan memiliki lebih banyak pilihan dalam kehidupan, baik pilihan kesempatan untuk melanjutkan pndidikan yang lebih tinggi, pilihan kesempatan untuk bekerja maupun pilihan untuk mengembangkan dirinya. Untuk menecapai tujuan tersebut, PS dan PLS perlu memberikan bekal dasar kemampuan kesanggupan dan ketrampilan kepada peserta didik agar mereka siap menghadapi berbagai kehidupan nyata. Telah banyak upaya yang dilakukan dalam memberikan bekal dasar kecakapan hidup, baik melalui pendidikan di keluarga, di sekolah, maupun di masyarakat.

Mengingat peserta didik PS dan PLS berada dalam kehidupan nyata, maka salah satu upaya yang perlu dilakukan adalah mendekatkan pendidikan (kegiatan belajar mengajar) dengan kehidupan nyata yang memiliki nilai-nilai preservative dan progresif sekaligus melalui pengintensifan dan pengefektifan pendidikan kecakapan hidup. Istilah pengintensifan dan pengefekktifan perlu digaris bawahi agar tidak salah persepsi bahwa selama ini tidak diajarkan kecakapan hidup sama sekali dan yang diajarkan adalah kecakapan untuk mati. Kecakapan hidup sudah diajarkan, akan tetapi perlu peningkatan intensitas dan efektivitasnya, sehingga PS dan PLS dapat menghasilkan tamatan yang mampu, sanggup, dan terampil terjun dalam kehidupan nyata nantinya. UUSPN telah mengamantkan pendidikan kecakapan hidup, yang bunyinya: “Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesiaseutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarkatan dan kebangsaan“. Jadi, pendidikan kecakapan hidup bukanlah sesuatu yang baru dan karenanya juga bukan topik yang orisinil. Yang benar-benar baru adalah bahwa kita mulai sadar dan berpikir bahwa relevansi antara pendidikan dengan kehidupan nyata perlu ditingkatkan intensitas dan efektivitasnya.

Karena latar belakang tersebut penulis mencoba mengambil tema dala makalah ini adalah Inovasi Pendidikan Islam berbasis Kecakapan Hidup (Life Skill).

1.2 Batasan Masalah

Adapun batasan masalah pada makalah ini adalah:

  1. Apa Pengertian inovasi pendidikan Islam?
  2. Apa Pengertian Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skill) ?
  3. Bagaimana Implementasi Pendidikan Islam Berbasis Kecakapan Hidup (Life Skill)

1. 3 Tujuan

Adapun tujuan dari makalah ini adalah:

  1. Untuk mengetahui apa pengertian inovasi pendidikan Islam?
  2. Untuk mengetahui apa pengertian pendidikan kecakapan hidup (life skill) ?
  1. Untuk mengetahui bagaimana implementasi pendidikan islam berbasis kecakapan hidup (life skill)

BAB II

PEMBAHASAN

 2.1. Pengertian Inovasi Pendidikan Islam

2.1.1 Pengertian Inovasi pendidikan Islam

Inovasi berasal dari kata latin, innovation yang berarti pembaharuan dan perbuahan. Inovasi ialah suatu perubahan yang baru yang menuju ke arah perbaikan yang lain atau berbeda dari yang sebelumnya, yang dilakukan dengan sengaja dan bererncana (tidak secara kebetulan saja).
Ibrahim (1988) mengemukakan bahwa inovsi oendidikan adalah inovasi dalam bidang pendidikan atau inovasi untuk memecahkan masalah pendidikan. Jadi, inovasi pendidikan adalah suatu ide, barang, metode, yang dirasakan atau diamati sebagai hal yang baru bagi hasil seseorang atau kelompok orang (masyarakat), baik berupa hasil inverse (penemuan baru) atau discovery (baru ditemukan orang), yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan atau untuk memcahkan masalah pendidikan.
Demikian pula Ansyar, Nurtain (1991) mengemukakan inovasi adalah gagasan, perbuatan, atau suatu yang baru dalam konteks social tertentu untuk menjawab masalah yang dihadapi.[1]

Selanjutnya dijelaskan bahwa sesuatu yang baru itu mungkin sudah lama dikenal pada konteks sosial lain atau sesuatu itu sudah lama dikenal, tetapi belum dilakukan perubahan. Dengan demikian, daat disimpulkan bahwa inovasi adalah perubahan, tetapi tidak semua perubahan adalah inovasi.

Pembaharuan (inovasi) diperlukan bukan saja dalam bidang teknologi, tetap ijuga di segala bidang termasuk bidang pendidikan.pembaruan pendidikan diterapkan didalam berbagai jenjang pendidikan juga dalam setiap komponen system pendidikan. Sebagai pendidik, kita harus mengetahui dan dapat menerapkan inovasi-inovasi agar dapat mengembangkan proses pembelajaran yang kondusif sehingga dapat diperoleh hasil yang maksimal.
Kemajuan suatu lembaga pendidikan sangat berpengaruh pada outputnya sehingga akan muncul pengakuan yang rill dari siswa, orang tua dan masyarakat. Namun sekolah/ lembaga pendidikan tidak akan meraih suatu pengakuan rill apabila warga sekolah tidak melakukan suatu inovasi di dalamnya dengan latar belakang kekuatan, kelemahan tantangan dan hambatan yang ada.

2.1.2 Tujuan inovasi

Menurut Santoso (1974), tujuan utama inovasi adalah, yakni meningkatkan sumber-sumber tenaga, uang dan sarana, termasuk struktur dan prosedur organisasi.

Tujuan inovasi pendidikan adalah meningkatkan efisiensi, relevansi, kualitas dan efektivitas: sarana serta jumlah pendidikan sebesar-besarnya (menurut criteria kebutuhan peserta didik, masyarakat, dan pembangunana), dengan menggunakan sumber, tenga, uang, alat, dan waktu dalam jumlah yang sekecil-kecilnya.

Tahap demi tahap arah tujuan inovasi pendidikan Indonesia:

  1. Mengajar ketinggalan-ketinggala yang dihasilkan oleh kemajuan-kemajuan ilmu dan teknologi sehingga makin lama pendidikan di Indonesia makin berjalan sejajara dengan kemjuan tersebut
  2. Mengusahakan terselenggaranya pendidikan sekolah maupun luar sekolah bagi setiap warga Negara. Misalnya meningkatkan daya tampung usia sekolah SD, SLTP, SLTA, dan Perguruan Tinggi.[2]
  • Pendidikan Kecakapan Hidup ( Life Skill)
  1. Pengertian Pendidikan Kecakapan Hidup ( Life Skill)

Pendidikan kecakapan hidup adalah pendidikan yang memberi bekal dasar dan latihan yang dilakukan secara benar kepada peserta didik tentang nilai-nilai kehidupan sehari-hari agar yang bersangkutan mampu, sanggup, dan terampil dalam menjalankan kehidupannya yaitu dapat menjaga kelangsungan hidup dan perkembangannya.

Dengan cara ini, pendidikan akan lebih realistis, lebih kontekstual, tidak akan mencabut peserta didik dari akarnya, sehingga pendidikan akan lebih bermakna bagi peserta didik dan akan tumbuh subur. Seseoarang dikatakan memiliki kecakapan hidup apabila yang bersangkutan mampu, sanggup, dan terampil dalam menjalankan kehidupan dengan nikmat dan bahagia. Kehidupan yang dimaksud meliputi kehidupan pribadi, kehidupan keluarga, kehidupan tetangga, kehidupan masyarakat, kehidupan perusahaan, kehidupan bangsa, dan kehidupan-kehidupan yang lainnya.

Ciri kehidupan adalah perubahan, dan perubahan selalu menuntut kecakapan-kecakapan untuk menghadapinya.[3] UUSPN telah mengamanatkan pendidikan kecakapan hidup, sebagai bagian yang menjadi tujuan Pendidikan Nasional yang berbunyi:

“Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan”.[4]

  1. Jenis-jenis Pendidikan Kecakapan Hidup (life skills)

Kecakapan hidup dapat dipilah menjadi dua jenis utama, yaitu : kecakapan hidup yang bersifat generik (generic life skill/GLS) yang terbagi atas kecakapan personal (personal skill) dan kecakapan sosial (social skill) sedangkan kecakapan hidup yang bersifat khusus (specific life skill/SLS) mencakup kecakapan akademik (academic skill) dan kecakapan vokasional (vocational skill).

Jenis kecakapan hidup di atas untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar skema kecakapan hidup berikut;

Gambar 1. Skema terinci kecakapan hidup (life skills).

  1. Kecakapan hidup yang bersifat generik (generic life skill/GLS),

Kecakapan Hidup yang bersifat Generik ini mencakup dua Kecakapan, yaitu:

  1. Kecakapan personal (personal skill),

adalah kecakapan yang diperlukan bagi seseorang untuk mengenal dirinya secara utuh. Kecakapan ini mencakup kecakapan akan kesadaran diri atau memahami diri (self awareness) dan kecakapan berfikir (thinking skill).

Menurut depdiknas bahwa kecakapan kesadaran diri itu pada dasarnya merupakan penghayatan sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa, anggota masyarakat dan Warga Negara, serta menyadari dan mensyukuri kelebihan dan kekurangan yang diimilikinya, sekaligus menjadikannya sebagai modal dalam meningkatkan dirinya sebagai individu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan lingkungan.[5]

Kecakapan kesaadaran diri tersebut dapat dijabarkan menjadi: kesadaran diri sebagai hamba Tuhan, makhluk sosial, serta makhluk lingkungan, dan kesadaran akan potensi yang dikaruniakan oleh Tuhan, baik fisik maupun psikologik. Kemudian kecakapan berfikir rasional (thingking skill) adalah kecakapan yang diperlukan dalam pengembangan potensi berfikir. Kecakapan ini mencakup antara lain kecakapan menggali dan menemukan informasi, kecakapan mengolah informasi dan mengambil keputusan serta kecakapan memecahkan masalah secara kreatif.[6]

  1. Kecakapan sosial (social skill)

Kecakapan sosial dapat dipilah menjadi dua jenis utama, yaitu :

Kecakapan berkomunikasi. Dalam hal ini diperlukan kemampuan bagaimana memilih kata dan cara menyampaikan agar mudah dimengerti oleh lawan bicaranya. Karena komunikasi secara lisan adalah sangat penting, maka perlu ditumbuhkembangkan sejak dini kepada peserta didik. Lain halnya dengan komunikasi secara tertulis. Dalam hal ini diperlukan kecakapan bagaimana cara menyampaikan pesan secara tertulis dengan pilihan kalimat, kata-kata, tata bahasa, dan aturan lainnya agar mudah dipahami orang atau pembaca lain.

Kecakapan bekerjasama. Kemampuan bekerjasama perlu dikembangkan agar peserta didik terbiasa memecahkan masalah yang sifatnya agak kompleks.[7]

Dalam tahapan lebih tinggi, kecakapan menyampaikan gagasan juga mencakup kemampuan meyakinkan orang lain. Menyampaikan gagasan, baik secara lisan maupun tertulis, juga memerlukan keberanian. Keberanian seperti itu banyak dipengaruhi oleh keyakinan diri dalam aspek kesadaran diri. Oleh karena itu, perpaduan antara keyakinan diri dan kemampuan berkomunikasi akan menjadi modal berharga bagi seseorang

Untuk berkomunikasi dengan orang lain. Di dalam al Qur’an pun ternyata Allah SWT telah memuat ayat-ayat tentang komunikasi. Beberapa ayat dalam al Qur’an yang mengatur tentang komunikasi adalah:

Ÿwqà)sù ¼çms9 Zwöqs% $YYÍh‹©9 ¼ã&©#yè©9 ㍩.x‹tFtƒ ÷rr& 4Óy´øƒs† ÇÍÍÈ

Artinya: “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut”. (Q.S. At Thoha: 44)[8]

Kecakapan kerjasama tidak hanya antar teman kerja yang “setingkat” tetapi juga dengan atasan dan bawahan. Dengan rekan kerja yang setingkat, kecakapan kerjasama akan menjadikan seseorang sebagai teman kerja yang terpercaya dan menyenangkan. Dengan atasan, kecakapan kerjasama akan menjadikan seseorang sebagai staf yang terpercaya, sedangkan dengan bawahan akan menjadikan seseorang sebagai pimpinan tim kerja yang berempati kepada bawahan.

Kemampuan kerjasama perlu dikembangkan agar peserta didik terbiasa memecahkan masalah yang sifatnya agak komplek. Kerjasama yang dimaksudkan adalah bekerjasama adanya saling pengertian dan membantu antar sesama untuk mencapai tujuan yang baik, hal ini agar peserta didik terbiasa dan dapat membangun semangat komunitas yang harmonis. Sebagai mahluk sosial, manusia merupakan bagian dari masyarakat yang selalu membutuhkan keterlibatan menjalin hubungan dengan sesamanya, hal ini disebut dengan silaturrahmi.

$pkš‰r’¯»tƒ â¨$¨Z9$# (#qà)®?$# ãNä3­/u‘ “Ï%©!$# /ä3s)n=s{ `ÏiB <§øÿ¯R ;oy‰Ïnºur t,n=yzur $pk÷]ÏB $ygy_÷ry— £]t/ur $uKåk÷]ÏB Zw%y`͑ #ZŽÏWx. [ä!$|¡ÎSur 4 (#qà)¨?$#ur ©!$# “Ï%©!$# tbqä9uä!$|¡s? ¾ÏmÎ/ tP%tnö‘F{$#ur 4 ¨bÎ) ©!$# tb%x. öNä3ø‹n=tæ $Y6ŠÏ%u‘ ÇÊÈ

Artinya: “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (Q.S. An Nisa’: 1)[9]

  1. Kecakapan Hidup Spesifik (specifik life skill)

yaitu kecakapan untuk menghadapi pekerjaan atau keadaan tertentu, yang mencakup;

  1. Kecakapan akademik (academic skill) atau kecakapan intelektual

Kecakapan akademik yang seringkali juga disebut kecakapan intelektual atau kemampuan berpikir ilmiah pada dasarnya merupakan pengembangan dari kecakapan berpikir pada General Life Skills (GLS). Jika kecakapan berpikir pada GLS masih bersifat umum, kecakapan akademik sudah lebih mengarah kepada kegiatan yang bersifat akademik/keilmuan. Hal itu didasarkan pada pemikiran bahwa bidang pekerjaan yang ditangani memang lebih memerlukan kecakapan berpikir ilmiah. Kecakapan akademik mencakup antara lain kecakapan melalui identifikasi variabel dan menjelaskan hubungannya pada suatu fenomena tertentu, merumuskan hipotesis terhadap suatu rangkaian kejadian, serta merancang dan melaksanakan penelitian untuk membuktikan suatu gagasan atau keingintahuan.

Sebagai kecakapan hidup yang spesifik, kecakapan akademik penting bagi orang-orang yang akan menekuni pekerjaan yang menekankan pada kecakapan berpikir. Oleh karena itu kecakapan akademik lebih cocok untuk jenjang SMA dan program akademik di universitas. Namun perlu diingat, para ahli meramalkan di masa depan akan semakin banyak orang yang bekerja dengan profesi yang terkait dengan mind worker dan bagi mereka itu belajar melalui penelitian menjadi kebutuhan seharihari. Tentu riset dalam arti luas, sesuai dengan bidangnya. Pengembangan kecakapan akademik yang disebutkan di atas, tentu disesuaikan dengan tingkat berpikir siswa dan jenjang pendidikan.

  1. Kecakapan Vokasional (Vocational skill).

Kecakapan Vokasional adalah keterampilan yang dikaitkan dengan berbagai bidang pekerjaan tertentu yang terdapat di masyarakat. Kecakapan vokasional mencakup kecakapan vokasional dasar (basic vocational skill) dan kecakapan vokasional khusus (occupational skill). Kecakapan vokasional mempunyai dua bagian, yaitu: kecakapan vokasional dasar dan kecakapan vokasional khusus yang sudah terkait dengan bidang pekerjaan tertentu.

Kecakapan dasar vokasional mencakup antara melakukan gerak dasar, menggunakan alat sederhana diperlukan bagi semua orang yang menekuni pekerjaan manual (misalnya palu, obeng dan tang), dan kecakapan membaca gambar sederhana. Disamping itu, kecakapan vokasional dasar mencakup aspek sikap taat asas, presisi, akurasi dan tepat waktu yang mengarah pada perilaku produktif. Kecakapan vokasional khusus, hanya diperlukan bagi mereka yang akan menekuni pekerjaan yang sesuai. Misalnya menservis mobil bagi yang menekuni, pekerjaan di bidang tata  boga, dan sebagainya. Namun demikian, sebenarnya terdapat satu prinsip dasar dalam kecakapan vokasional, yaitu menghasilkan barang atau menghasilkan jasa.[10]

Kecakapan akademik dan kecakapan vokasional sebenarnya hanyalah penekanan. Bidang pekerjaan yang menekankan ketrampilan manual, dalam batas tertentu juga memerlukan kecakapan akademik. Demikian sebaliknya, bidang pekerjaan yang menekankan kecakapan akademik, dalam batas tertentu juga memerlukan kecakapan vokasional. Jadi diantara jenis kecakapan hidup adalah saling berhubungan diantara kecakapan yang satu dengan kecakapan yang lainnya. Slamet membagi life skills menjadi dua bagian yaitu: kecakapan dasar dan kecakapan instrumentasi. Slamet selanjutnya membagi kecakapan dasar atas delapan kelompok, yaitu:

  1. Kecakapan belajar terus menerus;
  2. Kecakapan membaca, menulis, dan menghitung;
  3. Kecakapan berkomunikasi: lisan, tergambar, dan mendengar;
  4. Kecakapan berfikir;
  5. Kecakapan qolbu: iman (spiritual), rasa dan emosi;
  6. Kecakapan mengelola kesehatan;
  7. Kecakapan merumuskan keinginan dan upaya-upaya mencapainya;
  8. Kecakapan berkeluarga dan sosial.

Sedangkan untuk kecakapan instrumental selanjutnya Slamet membagi menjadi sepuluh kecakapan sebagai berikut:

  1. Kecakapan memanfaatkan teknologi dalam kehidupan;
  2. Kecakapan mengelola sumber daya;
  3. Kecakapan bekerja sama dengan orang lain;
  4. Kecakapan memanfaatkan informasi;
  5. Kecakapan menggunakan sistem kehidupan;
  6. Kecakapan berwirausaha;
  7. Kecakapan kejuruan, termasuk olah raga dan seni;
  8. Kecakapan memilih, menyiapkan dan mengembangkan karir;
  9. Kecakapan menjaga harmoni dengan lingkungan;
  10. Kecakapan menyatukan bangsa berdasarkan nilai-nilai pancasila.[11]

Berdasarkan jenis-jenis kecakapan hidup di atas, pada dasarnya diantara penjelasan para ahli yang satu dengan yang lainnya pada hakikatnya mempunyai kesamaan, sehingga beberapa jenis kecakapan hidup sudah termasuk dalam satu kecakapan. Pembagian kecakapan hidup oleh depdiknas dianggap sudah mewakili dari beberapa pembagian para ahli, yang menyatakan bahwa kecakapan hidup (life skills) ada empat aspek yakni kecakapan personal, kecakapan sosial, kecakapan akademik, dan kecakapan vokasional.

 

  1. Tujuan Pendidikan Kecakapan Hidup

Unesco ( 2008 ). Berdasarkan hasil laporan dari pertemuan akhli pendidikan menengah yang diadakan di Peking tahun 2001, merekomendsikan bahwa pendidikan di abad ke-21  perlu adanya keseimbangan antara pengembangan keterampilan dan pendidikan akademis , yang mencakup teknis dan pendidikan kejuruan ditingkat pendidikan menengah. Hal ini perlu dilakukan mengingat pada abad ke 21 terjadi perubahan yang sangat cepat   yang memunculkan tantangan yang lebih komplek dan meningkat dari  lingkungan.[12]

Hal ini bagi generasi muda menimbulkan ketidakpastian dalam hidup mereka bagaimana menghadapi masa depan yang tidak pasti, mengasumsikan kedewasaan maupun dalam memasuki dunia kerja.

Dari laporan di atas terlihat bahwa tujuan dari pendidikan kecakapan hidup adalah untuk membantu generasi muda didalam menghadapi perubahan yang sangat cepat sehingga mereka mampu untuk menyesuaikan diri dari perubahan tersebut melalui pendidikan keterampilan . Hal ini sejalan dengan rekomendasi dari Develovment Basic Education ( Puskur : 2007 ) Kecakapan hidup adalah berbagai jenis ketrampilan yang memampukan remaja-remaja menjadi anggota masyarakat yang aktif, produktif dan tangguh.

Depdiknas ( 2006 ) membagi tujuan pendidikan kecakapan hidup ini menjadi dua yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Secara umum kecakapan hidup  bertujuan memfungsikan pendidikan sesuai fitrahnya , yaitu mengembangkan potensi peserta didik dalam menghadapi perannya dimasa yang akan datang. Sedangkan secara khusus adalah :

  1. Mengaktualisasikan potensi peserta didik sehingga dapat digunakan untuk memecahkan problem yang dihadapi,
  2. Memberikan wawasan yang luas dalam pengembangan karir peserta didik. Ketiga, memberikan bekal dengan latihan dasar  tentang nilai-nilai yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.
  3. Memberikan kesempatan kepada sekolah untuk mengembangkan pembelajaran yang fleksibel dan kontekstual dan yang.
  4. Mengoptimalkan pemamfaatan suberdaya di lingkungan sekolah , dengan memberi peluang pemamfaatan sumberdaya  yang ada di masyarakat dengan prinsif manajement berbasis sekolah.[13]

Tujuan di atas, diharapkan akan memenuhi kebutuhan-kebutuhan individu  seperti yang diungkapkan oleh  UNESCO (2008) diantaranya, yaitu :

  1. Kebutuhan akan ketrampilan ,kemampuan dan wewenang sosial antar budaya yang mencakup tingkah laku, tanggung jawab, dan toleransi .
  2. Kebutuhan untuk belajar bagaimana cara belajar, untuk menjelajahi dari satu pengetahuan ke pengetahuan lainnya dan dari satu satuan ketrampilan ke lainnya dengan perasaan
  3. Kebutuhan akan kemampuan komunikasi yang kritis, analitis, fleksibel dan kreatif
  4. Kebutuhan untuk memperoleh tugas pengembangan yang mendukung, pada kemampuan menghadapi masalah dan tuntutan dalam perubahan ketrampilan dalam hubungan dengan perubahan  ekonomi
  5. Kebutuhan untuk menyesuaikan kepada perubahan permintaan ekonomi yang berkembang dari  industri dan jasa layanan  ke arah, teknologi tinggi
  6. Kebutuhan untuk menguasai atau belajar ketrampilan baru, seperti kemampuan beradaptasi dan memecahkan masalah , daya saing. Disamping ketrampilan hidup memprakarsai dan memotivasi jiwa kewiraswastaan.
  7. Kebutuhan untuk mengimbangi permintaan pola pekerjaan baru yang memerlukan kemampuan; menyesuaikan ke perubahan, berpikir kreatif dan inovatif serta bisa menggunakan teknologi baru dan
  8. Kebutuhan individu untuk dapat menyesuaikan diri secara fleksibel dalam rangka keterlibatan dalam berbagai jabatan  sepanjang hidup mereka.[14]

Dengan terpenuhinya kebutuhan  kecakapan hidup tersebut diharapkan  akan mampu mempersiapkan generasi muda didalam menghadapi perubahan yang sangat cepat di abad ke-21 ini. Sehingga mereka mampu untuk menyesuaikan diri dari perubahan tersebut melalui pendidikan keterampilan dengan jalan mengembangkan potensi peserta didik dalam menghadapi perannya dimasa yang akan datang

  • Implementasi Pendidikan Kecakapan Hidup ( Life Skill )
  1. Implementasi Pendidikan Kecakapan Hidup ( Life Skill )

Seperti halnya pengimplementasian  pembelajaran berbasis lainnya, pembelajaran berbasis kecapakan hidup ini diimplementasikan melalui model ; Kesatu, dengan mengintegrasikan pada setiap mata pelajaran. Pengimplementasian secara integratif pendidikan kecakapan hidup melekat dan terpadu dalam program-program kurikuler, kurikulum yang ada, dan atau mata pelajaran yang ada. Berbagai program kurikuler dan mata pelajaran yang ada seharusnya bermuatan atau berisi kecakapan hidup sehingga secara struktur tidak berdiri sendiri, artinya struktur yang ada akan saling terikat antara yang satu dengan yang lainnya.

Pendidikan kecapan hidup sudah menjadi kebijakan seiring dengan berlakunya standar isi dan Standar Kompetensi Lulusan yang menjadi acuan daerah/sekolah dalam mengembangkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP ) pada masing-masing tingkat jenjang pendidikan. Oleh sebab itu pengintegrasian pendidikan kecakapan  hidup ke dalam mata pelajaran harus mengacu kepada standar-standar yang telah ditetapkan oleh pemerintah terutama yang menyangkut standar isi dan standar kompetensi yang yang menjadi acuan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

Dibawah ini disajikan analisis pengintegrasian Kecakapan Hidup dalam Muatan wajib yang ada pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.[15]

No Mata Pelajaran Tujuan Pendidikan Pengembangan Kecakapan Hidup
Kecakapan

Persoanal

Kecakapan

Sosial

Kecakapa

pan Akademik

Kecaka

pan Vocasional

1 Pendidikan Agama Membentuk peserta didik menjadi manusia beriman
2 PKN Membentuk peserta didik menjadi warga negara yang memiliki wawasan dan rasa kebersamaan  cinta tanah air  serta bersikap dan berprilaku demokratis
3 Bahasa Membentuk peserta didik mampu berkomunikasi secara efektif sesuai denga etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulisan
4 Matematika Mengembangkan model logika dan kemampuan berpikir peserta didik
6 IPS Mengembangkan pengetahuan, pemahaman dan kemampuan analisis peserta didik terhadap kondisis sosial masyarakat
7 Seni dan Budaya Membentuk karakter peserta didik menjadi manusia yang memiliki rasa seni dan pemahaman budaya
8 Pendidikan Jasmani Olah Raga, dan Kesehatan Membentuk karakter peserta didik  agar sehat jasmani dan rohani , serta menumbuhkan rasa sportivitas
9 Ketrampilan bahasa Asing dan TIK Membentuk peserta didik yang memiliki keterampilan
10 Muatan Lokal Membentuk pemahaman terhadap potensi sesuai dengan ciri khas  di daerah tempat tinggalnya.
11 Pengembangan diri Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan dan minat , dan bakat.

Sumber Depdiknas 2008

        Ada dua hal penting yang perlu diperhatikan dalam pengimplementasia pendidikan kecapakan hidup secara terintegrati ini yaitu : Prinsif pelakasanaan pengembagan dan  penekanan program . Prinsif pengembangan kecakapan hidup dalam aktivitas pembelajaran banyak direkomendasikan oleh beberapa ahli diantarannya dari  Delor ( 1996 ) Pentingnya memasukan empat pilar pendidikan yang disarankan oleh UNESCO supaya lebih epektif dan berhasil dengan memasukkan kemampuan bagaimana seseorang belajar mengetahui,  belajar berbuat, belajar menjadi diri sendiri dan belajar untuk hidup bersaman .”order to impart essential skills effectively and successfully to the youth, Secondary Education must take into account the four pillars of education , i.e. learning to know, learning to do, learning to live and learning to be.”[16]  Dionisius ( 2008 ) Untuk mencapai upaya tersebut maka sistem activitas belajar harus dirubah dari TCL (teacher centered learning) ke aktifitas SCL (Student Centre Learning). Siswa harus lebih aktif dalam belajar melalui diskusi kelompok, pemecahan masalah, analisa, perbandingan dengan fakta lapangan, disamping itu perlu juga diperhatikan prinsip sebagai berikut :

  1. Pelaksanaan pendidikan kecakapan hidup tidak mengubah system pendidikan yang berlaku.
  2. Tidak mengubah kurikulum yang berlaku
  3. Belajar kontekstual dengan menggunakan potensi lingkungan sekitar sebagai wahana pendidikan dan mengarah kepada tercapainya hidup sehat dan berkualitas
  4. Memperluas wawasan dan pengetahuan serta memliki akses untuk memenuhi standar hidup secara layak[17]

Pengimplementasian pendidikan kecakapan hidup pada tiap tingkatan satuan pendidikan terdapat perbedaan penekanan hal ini berhubungan dengan tingkat perkembangan psikologis dan fisiologis tiap jenjang pendidikan .

Pertama: Pada Jenjang TK/SD/SMP lebih menekankan kepada kecakapan hidup umum (generic skill ), yaitu mencakup aspek kecakapan personal ( personal skill) dan  kecakapan sosial ( social skill ) dua kecakapan ini merupakan prasyarat yang harus diupayakan berlangsung pada jenjang ini. Kedua kecakapan ini penekanannya kepada pembentukan akhlak sebagai dasar pembentukan nilai-nilai dasar kebajikan ( basic  goodness ), seperti ; kejujuran, kebajikan, kepatuhan, keadilan, etos kerja, kepahlawanan, menjaga kebersihan , serta kemampuan bersosialisasi.

Untuk jenjang SMA lebih ditekankan pada kecapan akademik ( akademik skill ), yaitu kemampuan berpikir yang lebih diarahkan kepada kemampuan bersikap ilmiah, kritis, objekti dan transparan sehingga mempunyai kecakapan dalam hal  ; menidentifikasi variabel,  menjelaskan hubungan  suatu fenomena tertentu merumuskan hipotesis dan melaksanakan penelitian . Kemampuan ini  perlu dimiliki pada jenjang SMA karena mereka diproyeksikan untuk melanjutklan ke Perguruan Tinggi. Sedangkan untuk jenjang SMK penekan kecakapan hidup ditekankan kepada kecakapan kejuruan (vokasional skill ) karena mereka dipersiapkan untuk terjun langsung dilapangan yang sesuai dengan spesifikasi keahlian yang diajarkannya.

Berkaitan dengan hal itu, Pada jenjang SMA siswa dan siswi berasa pada masa remaja karena masa remaja merupakan masa yang penuh dengan permasalahan, sehingga pada masa ini sering disebut dengan masa storm and stress (badai dan tekanan). Keadaan remaja yang sedang berproses kearah pencarian dan pembentukan jati diri ini kerap menimbulkan konflik, hal itu akan terus terjadi karena adanya unsur ketidaksiapan seorang remaja dalam menghadapi permasalahan yang muncul, baik dari internal maupun eksternal remaja tersebut. Ketidaksiapan remaja dalam mengatasi persoalan hidup tentu saja akan berpengaruh negatif bagi perkembangan diri maupun lingkungan sekitarnya, misalnya; kehilangan orientasi tentang membangun masa depan, terjerumus ke dunia narkoba, minuman alkohol, pergaulan bebas, tawuran dan lain sebagainya.

Melihat kondisi remaja yang sangat rentan dengan konflik ini maka perlu adanya perhatian khusus bagi semua kalangan untuk lebih serius dalam melakukan pendekatan melalui program-program pendampingan dan pengembangan diri pada usia remaja. Pembatasan tentang usia remaja dari semua ahli kebanyakan hampir sama, yakni dari usia 12-23 tahun. Mesipun mulainya masa remaja relatif sama, tetapi berakhirnya masa remaja sangat variatif hal ini sangat berkaitan dengan kecakapan/kemampuan remaja dalam pemenuhan kapasitas diri sebagai sosok orang dewasa.[18]

Pendidikan kecakapan hidup merupakan kecakapan-kecakapan yang secara praktis dapat membekali seorang remaja dalam mengatasi berbagai macam persoalan hidup dan kehidupan. Kecakapan itu menyangkut aspek pengetahuan, sikap yang didalamnya termasuk fisik dan mental, serta kecakapan kejuruan yang berkaitan dengan pengembangan akhlak peserta didik sehingga mampu menghadapi tuntutan dan tantangan hidup dalam kehidupan.

Dikaitkan dengan pengembangan pendidikan kecakapan hidup pada remaja, jika diartikan secara luas Pendidikan kecakapan hidup ini dapat menyentuh aspek-aspek kehidupan remaja seperti :

  1. Aspek personal skill

Aspek ini menjangkau ruang pemahaman untuk mengenali diri (self awareness skill) sehingga diharapkan remaja mampu berpikir rasional dalam setiap menyelesaikan permasalahan yang dihadapi (thinking skill). Kecakapan mengenal diri pada dasarnya merupakan penghayatan diri sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa, sebagai anggota masyarakat dan warga negara, serta menyadari dan mensyukuri kelebihan juga kekurangan yang dimiliki. Dengan demikian maka kecakapan ini dapat menjadi modal dalam meningkatkan dirinya sebagai individu yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar. Kecapakan berpikir mencakup antara lain kecakapan mengenali dan menemukan informasi, mengolah, dan mengambil keputusan (making decision), serta memecahkan masalah (problem solving) secara kreatif.

  1. Aspek Sosial Skill

Merupakan aspek yang diperkuat untuk menjangkau sisi kehidupan bersosialisasi dengan lingkungan keluarga, teman sebaya, juga lingkungan masyarakat sekitar. Penguatan pada aspek ini dilakukan agar remaja dapat mengembangkan kemampuan berdialog dalam dunia pergaulan, sehingga memiliki kemampuan berkomunikasi dengan baik (communication skill) dan kemampuan bekerjasama dengan orang lain (collaboration skill).

  1. Aspek Akademik Skill dan Aspek Vokasional Skill

Secara konsep kedua aspek ini disebut sebagai Kecakapan spesipik (Specific Life Skill). Kedua aspek ini berkaitan langsung dengan penguasaan kemampuan keterampilan secara khusus bagi remaja dalam mengaktualisasikan diri, mengembangkan kemampuan untuk menguasai serta menyenangi jenis pekerjaan tertentu. Jenis pekerjaan tertentu ini bukan hanya merupakan pekerjaan utama yang akan ditekuni sebagai mata pencaharian, melainkan secara menyeluruh guna menjadi bekal untuk bersaing dalam kehidupan dunia kerja kedepan.

Selain beberapa aspek di atas, terdapat program-program pengembangan lainnya dapat berupa peningkatan kualitas mental seperti pendidikan kepemimpinan (leadership), komunikasi (public speaking), juga pelatihan-pelatihan kejuruan seperti komputer, kerajinan pertukangan, seni pahat/ukir, lukis, daur ulang bahan bekas (recycle) serta kreatifitas lain yang menunjang kehidupan remaja secara vokasinal. Jika empat aspek pengembangan kecakapan hidup diatas dapat dimiliki oleh seorang remaja maka dipastikan mereka dapat tumbuh dan berkembang secara layak serta memiliki kemampuan dan keberanian untuk menghadapi problema kehidupan, kemudian secara proaktif dan kreatif mencari serta menemukan solusi untuk mengatasinya.

Dari penekanan program ini terlihat bahwa untuk jenjang SD, SMP dan SMA lebih condong kepada penekanan kecapan yang sifatnya soft skill  yang meningkat kadarnya sesuai dengan peningkatan jenjang pendidikan, tapi bukan berarti untuk tingkatan ini tidak layak untuk  menekuni bidang kejuruan ( vocasional ) dan yang perlu diperhatikan mengintegrasikan aspek kecakapan hidup dalam topik materi tidak boleh dipaksakan.

Kedua, melalui kegiatan ekstrakurikuler.  Out put pendididkan akan lebih berhasil apabila selama proses pembelajaran siswa dilibatkan langsung secara nyata dengan permasalahan yang terjadi dilingkungannya, begitu juga dengan tujuan pencapaian pendidikan kecakapan hidup perlu ada action langsung siswa terhadapat lingkungan nyata di lapangan. Untuk memenuhi harapan tersebut kegiatan ekstrakurikuler merupakan wadah yang tepat. , selain dapat menutupi kekurangan dari pelaksanaan kurikuler yang banyak disorot lebih menitik beratkan kepada unsur kognetif juga siswa dapat langsung mengimplementasikan teori-teori dan prinsif tentang kecakapan hidup dalam kehidupan nyata. Dalam forum ini juga siswa dapat menanyakan apa saja tentang materi yang sedang dibahas , sementara guru, instruktur  dapat memberikan materi secara utuh tanpa harus mengintegrasikan pada pelajaran tertentu. Kegiatan ektrakurikuler yang berpotensi bisa dimasukan dalam pendidikan kecakapn hidup  antara lain : OSIS. Pramuka,kesenian, PMR, KIR dan pencinta alam.

Ketiga Sistem dikrit. Melalui model ini pelaksanaannya dapat berupa pengembangan program kecakapan hidup yang dikemas dan disajikan secara khusus kepada peserta didik. Penyajiannya dilakukan dengan menintegrasikan paket-paket diklat pravocasional dan program kecakapan vocasional bagi siswa SD,SMP, SMA baik dilaksanakan dilingkungan sekolah, BLK maupun di SMK yang telah dikembangkan menjadi comunity collage ( Parjono : 2002 ). Model ini membutuhkan persiapan yang matang, ongkos yang relatif besar, dan kesiapan sekolah yang baik. Selain itu, model ini memerlukan perencanaan yang baik agar tidak salah penerapan. Meskipun demikian, model ini dapat digunakan membentuk kecakapan hidup peserta didik secara komprehensif dan leluasa.

  1. Kemampuan guru dalam Pendidikan Kecakapan Hidup

Untuk mencapai tujuan pendidikan kecakapan hidup ini tidak akan lepas dari peran guru sebagai pelaksana kurikulum, fasilitator dan motivator bagi siswa melalui kegiatan belajar mengajar di sekolah sehingga siswa memiliki bekal kompetensi untuk bekerja dan bermasyarakat dalam mengarungi kehidupan. Kurikulum sebagai petunjuk jalan untuk mencapai tujuan pembelajaran dan mata pelajaran sebagai kendaraan yang membawa peserta didik mencapai kompetensi tertentu dimana guru berperan sebagai sopir untuk mengantarkan peserta didik sampai ke tujuan pembelajaran sesuai standar kompetensi yang ditetapkan. Untuk itu  kreativitas guru dalam mengembangkan kecakapan hidup di dalam setting kelas sesuai dengan mata pelajaran yang di ampunya.sangat di perlukan.

Pendidikan kecakapan hidup bukanlah sesuatu yang baru dan karenanya juga bukan topik yang orisinil.  Yang benar-benar baru adalah bahwa kita mulai sadar dan berpikir bahwa relevansi antara pendidikan dengan kehidupan nyata perlu ditingkatkan intensitas dan efektivitasnya. Hal ini berarti proses pembelajaran yang selama ini dilakukan di sekolah sebenarnya juga telah menumbuhkan kecakapan hidup namun ketercapaiannya masih sebatas sebagai efek pengiring (nurturant efect) yang secara otomatis terbentuk seiring terkuasainya subtansi mata pelajaran. Sementara itu berdasarkan konsep pendidikan berorientasi kecakapan hidup bahwa aspek-aspek kecakapan hidup harus sengaja dirancang untuk ditumbuhkan dalam kegiatan belajar. Perancangan dimulai dari penyusunan program pembelajaran, penyusunan satuan pembelajaran, kegiatan pembelajaran dan sistem evaluasinya. Hal ini menuntut guru untuk melakukan reorientasi pembelajaran pada mata pelajaran yang diampunya guna mengembangkan kecakapan hidup.

Depdiknas (2006) Reorientasi pembelajaran dalam pengimplementasian pendidikan kecakapan hidup dalam kativitas pembelajaran perlu dilakukan, karena pendidikan kecakapan hidup bukan mata pelajaran sehingga dalam pelaksanaannya tidak perlu merubah kurikulum dan menciptakan pelajaran baru . Yang diperlukan disini adalah mereorientasikan pendidikan dari mata pelajaran ke orientasi pendidikan kecakapan hidup melalui pengintegrasian kegiatan-kegiatan yang prinsipnya membekali peserta didik terhadap kemampuan-kemampuan tertentu agar dapat diterapkan dalam kehidupan seharian pesera didik, Pemahaman ini memberi arti  bahwa mata pelajaran dipahami sebagi alat dan bukan tujuan untuk mengembangkan kecakapan hidup yang nantinya akan digunakan oleh peserta didik dalam menghadapi kehidupan nyata.[19]

Kemampuan mengorientasikan pembelajaran kecakapan hidup seorang guru harus mampu : Kesatu melakukan identifikasi unsur kecakapan hidup yang dikembangkan dalam kehidupan nyata  yang dituangkan dalam bentuk kegiatan pembelajaran, kedua melakukan identifikasi pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang mendukung kecakapan hidup, ketiga mengklasifikasikan dalam bentuk topik /tema dari mata pelajaran yang sesuai dengan kecakapan hidup , keempat menentukan metode pembelajaran yang cocok untuk mendukung pendidikan kecakapan hidup dan yang kelima merancang bentuk dan jenis evaluasi yang sesuai dengan kompetensi yang telah dirumuskan . Dengan kemampuan-kemampuan itu diharapkan seorang guru mampu mengimplementasikan pembelajaran berbasis kecapan hidup ini dengan baik dan benar. Pertanyaan mendasar, siapkan guru-guru dengan segala kreativitasnya  melakukan itu dan mencoba mengimplentasikan dalam seting-seting kelasnya dan seluruh instansi di lingkungan pendidikan  baik langsung atau tidak komitmen dalam mendukung program kecakapan hidup ini ? Kesadaran bersama inilah yang perlu dikaji bukan hanya tertuju kepada guru saja .

Meir (2005:41) Apalagi tugas pendidikan pada abad ke -21 ini adalah mempersiapkan orang untuk hidup  yang pasang surut , yaitu dunia tempat setiap orang harus mengerahkan seluruh kekuatan pikiran dan hati mereka sepenuhnya  dan bertindak  berdasarkan kreatifitas yang penuh kesadaran , bukan sesuatu yang mudah diramalkan dan tidak membutuhkan pikiran . Bukan menghasilkan  manusia fotocopy tapi tokoh orisinal yang mampu mengerahkan energi potensia dan menjanjikan. Untuk itulah bentuk inovasi pendidikan kecakapan hidup ini merupakan salah satu alternatif yang perlu dipertimbangkan  dalam memberikan  solusi mencapai tujuan tersebut  yang perlu diadopsi dan diimplementasikan di setiap jenjang pendidikan. [20]

Apabila hal ini dapat dicapai , diharapkan perdebatan para akhli selama ini  mengenai sejauh mana dunia pendidikan dapat diharapkan menjadi sarana persiapan siswa  memasuki dunia kerja atau menghasilkan siswa yang siap bekerja menemui titik terang. Dengan demikian ketergantungan terhadap ketersediaan lapangan pekerjaan , yang berakibat  pada meningkatnya angka penggangguran , dapat diturunkan , yang berarti produktifitas nasional dapat meningkat secara bertahap. Hal tersebut sangat mungkin tercapai karena kebutuhan kecakapan individu (peserta didik) untuk hidup di dalam masyarakat sudah disiapkan selama siswa mengikuti pelajaran di ruang-ruang kelasnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

 

KESIMPULAN

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa:

  1. Pendidikan kecakapan hidup ( life Skill education  ) merupakan suatu upaya mempersiapkan generasi muda sedini mungkin dalam menghadapi perubahan yang sangat cepat sehingga mereka mampu untuk menyesuaikan diri dari perubahan tersebut melalui pendidikan keterampilan, dengan jalan mengembangkan potensi peserta didik dalam menghadapi perannya dimasa yang akan datang.
  2. Kecakapan hidup (life skill) tidak hanya menyangkut kecakapan vocasional saja tapi meliputi kecapan mental dan fisik. Hal ini diperlukan agar generasi muda mampu untuk menyesuaikan diri dengan lingkunganya.
  3. Pengimplementasian pendidikan kecakapan hidup dalam aktivitas pembelajaran yaitu dengan mengintegrasikan kedalam mata-pelajaran yang ada pada muatan wajib kurikulum melalui reorientasi program mulai dari perencanaan, pelaksanan dan evalusi yang berorientasi kepada pendidikan kecakapan hidup.
  4. Pendidikan kecakapan hidup merupakan salah satu alternatif yang perlu dipertimbangkan  dalam  solusi mencapai tujuan pendidikan di abad ke-21  yang perlu diadopsi dan diimplementasikan di setiap jenjang pendidikan.

 

SARAN

  1. Setiap siswa harus menyadari bahwa ketika mereka sudah tidak mendapatkan ilmu dalam lingkungan formal maka mereka harus siap untuk terjun dalam lingkungan informal yang merupakan lingkungan nyata dalam mengaplikasikan ilmu yang mereka miliki. Untuk itu kesiapan siswa dalam hal ini, haruslah ditunjang dengan kegiatan-kegiatan yang mengarah kepada kehidupan nyata mereka nantinya. Bukan hanya sekedar teori yang kemudian akan sulit untuk para siswa praktekkan di lapangan.
  2. Pendidikan Kecakapan Hidup ini merupakan terobosan yang sangat bagus dalam dunia pendidikan. Untuk itu semua elemen yang ada dalam lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat harus terlibat secara aktif maupun non aktif dalam menyukseskan penerapan Life Skill ini.

 

[1] Drs. H. Fuad Ihsan, dasar-Dasar Kependidikan. Rineka Cipta, 1997

[2] http://makalah-inovasipendidikan.blogspot.com/ diambil hari Rabu taggal 15 Oktober 2014.

[3] Slamet PH, Pendidikan Kecakapan Hidup, hlm, dalam www.depdiknas.go.id. diunduh tanggal 22 Oktober 2014.

[4] Depdiknas ( 2006 ) , Pengembangan Model Pendidikan Kecakapan Hidup Puskur Balitbang Depdiknas . www.puskur.net

[5] Depdiknas., Op. Cit., hlm. 10.

[6] Hidayanto, Belajar Keterampilan Berbasis Keterampilan Belajar, Dalam Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, No. 037, (Jakarta: Balitbang Diknas, 2002), hlm. 562-574.

[7] http://aw-nashruddin.blogspot.com/2012/01/pendidikan-berorientasi-kecakapan-hidup.html JUMAT 17/10 JAM 18.40

[8] Departemen Agama RI, Al-‘Aliyy Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Bandung: Diponegoro, 2005, hlm. 251

[9] Ibid., hlm. 61.

[10] Depag., Pedoman Integrasi Life Skill Terhadap Pembelajaran, Jakarta: Dirjend Kelembagaan Agama Islam, 2005, hlm. 10.

[11] Slamet PH, Op. Cit., hlm. 552-559.

[12] UNESCO, Life skill http://portal.Unesco.org

[13] Depdiknas ( 2006 ) , Pengembangan Model Pendidikan Kecakapan Hidup Puskur Balitbang Depdiknas . www.puskur.net

[14] UNESCO, Ibid.

[15] Depdiknas ( 2008 ), Konsep Dasar Kecakapan Hidup, Direktorat Pembinaan Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar. http://www.mbs-sd.org

[16] Delor ( 1996 ), UNESCO, Life Skill, Educational Scondary Education. http://portal.Unesco.org

[17] Dionisaunus,Ir. ( 2008 ). Pengembangan Pembelajaran dengan Pendekatan Student Centered Learning (SCL). . http://www.jawapos.co.id/radar/index

[18] Sofyan S. Willis, Problema Remaja dan Pemecahannya, (Bandung: Angkasa, 1981), hlm. 16.

[19] Depdiknas ( 2006 ) , Pengembangan Model Pendidikan Kecakapan Hidup Puskur Balitbang Depdiknas . www.puskur.net

[20] Meir Dave, (2005 ) The Accelererated Learning ( Hand Book), Kaifa. Bandung

Untuk mendowload file lengkapnya silahkan klik tautan dibawah ini:

1. INOVASI PENDIDIKAN ISLAM cover pass

2. Inovasi Pendidikan Islam Berbasis Life Skill Pass