Category: MAKALAH PENDIDIKAN



LAPORAN PENELITIAN PERENCANAAN PENDIDIKAN

KOHORT MURID SD NEGERI MERJOSARI II NO. 251 MALANG

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayahnya serta karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan hasil penelitian ini sebagai salah satu tugas mata kuliah perencanaan pendidikan.

Penulis menyadari sepenuhnya, mengingat keterbatasan kemampuan dan pengetahuan yang ada pada panulis, tentu masih jauh dari sempurna sehingga semuanya ini tidak akan memberikan hasil yang memuaskan apabila tidak ada bantuan serta bimbingan dari berbagai pihak.

Terima kasih penulis ucapkan kepada Bapak dosen yang telah membimbing penulis, kemudian kepada teman-teman seperjuangan tidak lupa pula penulis ucapkan terima kasih.

Semoga dengan adanya laporan ini bisa bermanfaat bagi kita semua dalam mengembangkan ilmu pengetahuan umum maupun agama.

Penulis

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Dalam dunia pendidikan arti dan perkembangan perencanaan pendidikan pada hakikatnya tidak dapat dipisahkan. Perencanan sangat diperlukan dalam berbagai aspek kehidupan khususnya dalam dunia pendidikan yang merupakan lembaga pencetak generasi muda bangsa. Jika dlaam dunia pendidikan tidak terdapat perencanaan yang nmatang dan berkualitas maka secara langsung out put yang akan dihasilkan sangat dibawah standart dari mutu pendidikan yang sebenarnya.

Sampai hari ini kita tidak dapat mengelak bahwa dunia pendidikan kita masih jauh dari yang diharapkan, disana-sini perlu pembenahan yang harus segera diatur agar tidak menjadi batu hambatan untuk mencetak out put yang berhasil dalam masyarakat.

Untuk itulah perencanaan pendidikan yang matang dan terencana diharapkan mampu mengarahkan semua kegiatan pendidikan pada jalurnya sehingga tujuan dari pendidikan itu bisa tercapai. Dalam laporan ini terdapat perencanaan yang efektif dalam hal administrasi anak-anak didik. Dengan menggunakan kohort, diharapkan jelas tentang data-data anak didik setiap tahunnya sehingga perencanaan pendidikan kedepannya bisa lebih baik untuk mencapai tujuan pendidikan.

Semoga laporan ini dapat berguna bagi kita semua, khususnya dunia pendidikan kita yang masih dibawah standart sebagi pencetak generasi muda bangsa dan negara.

BAB II

PEMBAHASAN

A.         KOHORT

1.         Pengertian

Kohort berasal dari kata romawi yang berarti “kelompok di dalam ketentraman”. Kemudian kohort ini diterapkan dalam kependudukan yang diartikan sebagai “kelompok penduduk yang lahir pada suatu tahun yang sama (kelompok umur yang sama)”. Untuk selanjutnya dibidang pendidikan juga menggunakan istilah kohort yang diartikan sebagai “kelompok murid yang berada pada suatu tingkat yang sama pada suatu tahun tertentu di dalam suatu sistem pendidikan tertentu pula”, misalnya: kelompok murid di kelas 1 sekolah dasar pada tahun 2006 di propinsi Nusa Tenggara Barat di sebut kohort kelas 1 SD tahun 2006.

2.         Bahan Yang Diperlukan Untuk Penyusunan Kohort

  1. Data tentang murid sekolah yang berisi:
    1. Jumlah murid baru yang masuk kelas 1
    2. Jumlah murid per kelas
    3. Jumlah murid yang mengulang pada tiap kelas
    4. Jumlah murid yang lulus/ hasil ujian
  2. Bagan kohort yang terdiri atas:
    1. Kotak segi empat

Berisi jumlah murid menurut kelas pada tahun yang bersangkutan termasuk murid yang mengulang dan naik kelas dari tahun yang sebelumnya serta murid yang baru masuk.

  1. Kotah segi empat yang berhuruf MB
MB

Berisi jumlah murid yang baru masuk kelas 1 pada tahun yang bersangkutan, yang terdiri atas murid yang berasal dari Rumah Tangga dan murid yang berasal dari Taman Kanak-kanak (untuk kohort SD)

  1. Kotak belah ketupat

Berisi jumlah murid yang putus sekolah, keluar atau pindah, pada tahun yang bersangkutan.

  1. Kotak bulat telur

Berisi jumlah murid yang mengulang di kelas yang sama pada tahun berikutnya.

  1. Kotak segi empat bundar

Berisi jumlah murid yang naik kelas  ke satu tingkat lebih tinggi pada tahun berikutnya.

  1. Kota persegi panjang

Berisi jumlah murid yang lulus atau tamat belajar pada akhir tahun ajaran.

3.         Petunjuk Pengisian

Pengisian kohort yang dibicarakan ini khusus mengenai SD sedangkan untuk SLTP dan SLTA sama saja, hanya berbeda tingkat kelasnya.

  1. Pemindahan data (murid baru, jumlah murid perkelas, murid yang mengulang dan murid yang lulus (taman belajar) ke dalam kotak kohort.
  2. Jumlah murid perkelas

pindahkan ke dalam kotak segi empat menurut kelasnya pertahun dengan mengambil dari data laporan statistik pendidikan pertahun yang bersangkutan.

  1. Murid Baru

Pindahkan ke dalam kotak segi empat yang berhuruf MB dengan jalan mengambil dari data laporan statistik tahun yang bersangkutan yang terdiri dari jumlah murid yang berasal dari Rumah Tangga ditambah dengan murid yang berasal dari Taman Kanak-kanak.

  1. Murid yang mengulang

Untuk memindahkan jumlah murid yang mengulang kelas ke dalam kotak bulat telur. Perlu diingat bahwa jumlah murid yang mengulang kelas menurut laporan statistik pendidikan Tahunan adalah kelompok murid yang berasal dari kelas yang sama pada tahun yang sebelumnya. Dengan demikian apabila data data murid yang mengulang kelas dipindahkan dari laporan tersebut untuk salah satu tahun, data tersebut harus dimasukkan pada “kotak bulat telur” yang berada diatas kotak segi empat.

  1. Murid yang lulus atau tamat belajar

Pindahan jumlah murid yang lulus atau tamat belajar ke dalam kotak persegi panjang (paling kanan) untuk ytahun yang bersangkutan.

  1. Perhitungan jumlah murid yang naik kelas dan murid yang putus sekolah. Untuk perhitungan ini ada dua macam perhitungan yang berdasarkan pada dua kelompok data. Lihat bagan kecil berikut:

KELAS I                            KELAS II

X
  1. Perhitungan yang naik kelas dari kelas yang lebih rendah satu tingkat di bawahnua ke kelas satu tingkat lebih tinggi pada tahun berikutnya (B) caranya (lihat bagan I yang dibatasi oleh garis putus-putus pada bagian kecil diatas). Cara untuk mnghitung jumlah murid yang naik kelas pada suatu tahun adalah sebagai berikut:
B  =   X  -  Y

Jumlah murid di kelas satu tingkat lebih tinggi pada tahun berikutnya (X) dikurangi jumlah murid yang mengulang di kelas satu tingkat lebih tinggi itu untuk tahun beriktunya (Y). hasil ini diisikan pada kotak (B)

jadi rumusnya:

Catatan:

Perhitungan ini mengesampingkan jumlah murid baru yang masuk diluar sistem ke kelas tersebut

  1. Perhitungan murid putus sekolah pada tahun yang bersangkutan (D)

Caranya (lihat bagan II yang dibatasi oleh garis titik-titik pada bagan kecil di atas).

Mendapatkan murid yang putus sekolah, keluar atau pindah (D), dengan cara: jumlah murid yang naik kelas (B) ditambah dengan jumlah murid yang mengulang pada tingkat kelas yang sama (C). kemudian hasil penjumlahan ini ( B + C ) dipakai untuk mengurangi jumlah murid pada kelas yang bersangkutan (A)

D  =  A  –  (  B  +  C  )

Jadi rumusnya:

hasilnya isikan pada kotak belah ketupat pada tahun yang bersangkutan.

4.         Perhitungan Koefisien-Koefisien

Koefisien adalah angka pecahan yang merupakan seperberapa bagian dari suatu kesatuan jumlah. Pada kohort murid selalu kesatuan jumlah ini adalah jumlah murid seluruhnya perkelas. Kesatuan jumlah tersebut dapat dibagi atas tiga kelompok, yaitu:

  1. Kelompok yang mengulang kelas,
  2. Kelompok yang naik kelas,
  3. Kelompok yang putus sekolah.

Sebetulnya masih ada satu kelompok lagi yaitu kelompok yang pindah sekolah, yaitu selisih dari yang keluar dan yang masuk; akan tetapi dalam system pendidikan perdaerah yang agak luas (kabupaten atau propinsi) biasanya bisa diasumsikan pindahan tersebut hampir tidak ada. Dalam perhitungan tiga macam koefisien yang berikut di bawah ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu:

  1. Untuk menuliskan koefisien atau fraksinya digunakan dengan tanda titik (. 12) bukan tanda koma (0,12) sehingga nol (0) di depan koma tidak usah dituliskan.
  2. Koefisien jumlah murid seluruhnya pada suatu kelas (kotak segi empat) selalu 1.00 (satu .) Dengan demikian apabila ada tiga koefisien yang lain dijumlahkan harus selalu berjumlah 1.00. (satu).
  3. Koefisien masing-masing dapat pula dijadikan prosentase di dalam perhitungan biasa, khususnya bilamana diterangkan kepada orang yang belum tahu tentang kohort.
  4. pada bagan kohort koefisien dituliskan di atas masing-masing kotak yang bersangkutan.
  5. penulisan koefisiensi dengan ketentuan dibulatkan menjadi dua atau tiga angka di belakang tanda titik. Pembulatan di lakukan ke atas 5 keatas, sedang angka 4 kebawah dihilangkan contoh: .2135 menjadi .214 (kalau tiga angka) sedangkan menjadi .21 (kalau dua angka).

Dalam bahan berikutnya bulatan dipakai dua angka dibelakang tanda titik untuk menyederhanakan keterangan dan menghindarkan kelebihan yang tidak wajar sesuai dengan kekurangan-kekurangan yang ada didata murni terhadap keadaan murid. Cara menghitung koefisien masing-masing adalah sebagai berikut:

  1. Menghitung koefisien murid yang naik kelas, yaitu murid yang naik kelas itu seperberapanya dari jumlah murid yang ada dalam kelas yang bersangkutan.

B

A

Rumusnya:                         Lihat bagan II yang dibatasi oleh garis titik-titik pada nomor 2 diatas.

  1. Menghitung koefisien murid yang mengulang, yaitu jumlah murid yang mengulang kelas pada tahun berikutnya itu seperberapa bagian dari jumlah murid yang ada dalam kelas yang bersangkutan.

Rumusnya:                         lihat bagan II yang dibatasi oleh garis titik-titik pada nomor 2 diatas.

  1. Menghitung koefisien murid yang putus sekolah. Untuk menghitung koefisien ini mudah saja, yaitu koefisien jumlah murid pada suatu kelas dikurangi dengan koefisien yang naik kelas dikurangi lagi dengan koefisien yang mengulang.

rumusnya:              D   =     1   –     (  B   +   C   )

A                           A            A

(Lihat bagan II yang dibatasi oleh garis titik-titik pada nomor 2 diatas.)

Catatan:

Koefisien murid yang putus sekolah itu bisa menjadi minus (-) disebabkan adanya 2 kemungkinan:

  1. Data yang dipakai usul menghitung D itu salah
  2. Pindahan murid yang masuk sistem diluar itu.

Dalam perhitungan D untuk tingkat daerah kabupaten atau propinsi di indonesia, kesalahn data itu paling mungkin dialami oleh karena perpindahan murid antar daerah propinsi dan tingkat kabupaten itu sedikit.

BAB III

DATA HASIL PENELITIAN

Dari hasil penelitian yang kami laksanakan di SD Negeri Merjosari II No. 251 kecamatan Lowokwaru kami memperoleh beberapa data tentang anak-anak didik, sebagai beriktu:

DATA SISWA SDN MERJOSARI II NO.251 LOWOKWARU TAHUN PELAJARAN 2000-2001

Kelas Siswa masuk Siswa naik kelas Siswa tinggal kelas Siswa drop/cuti
I 47 42 5 -
II 27 26 1 -
III 35 33 2 -
IV 37 35 2 -
V 36 36 - -
VI 36 36 LULUS

Dari data diatas jumlah murid yang masuk terdapat 47 orang kemudian yang tinggal kelas 5 orang. Dari 5 orang tersebut ada yang tetap melanjutkan disekolah tersebtu tetapi ada juga yang pindah ke sekolah yang lainnya.

DATA SISWA SDN MERJOSARI II NO.251 LOWOKWARU TAHUN PELAJARAN 2001-2002

Kelas Siswa masuk Siswa naik kelas Siswa tinggal kelas Siswa drop/cuti
I 41 41 - -
II 45 39 6 -
III 30 29 1 -
IV 36 35 1 -
V 35 35 - -
VI 35 35 LULUS

Gambar 1.2

Dari data 1.2 yang tidak naik kelas terdapat dikelas II. Yaitu ada 6 orang siswa dabn seperti tahun sebelumnya mereka ada yang tetap melanjutkan disekolah tersebtu tetapi ada juga yang pindah.

DATA SISWA SDN MERJOSARI II NO.251 LOWOKWARU TAHUN PELAJARAN 2002-2003

Kelas Siswa masuk Siswa naik kelas Siswa tinggal kelas Siswa drop/cuti
I 46 43 3 -
II 43 42 1 -
III 42 39 3 -
IV 24 22 2 -
V 36 30 6 -
VI 30 30 LULUS

Gambar 1.3

Dari data diatas terlihat dikelas V jumlah siswa yang tidak naik kelas 6 orang. Dan pada kelas tiga terdapat 3 orang yang tidak naik kelas.

DATA SISWA SDN MERJOSARI II NO.251 LOWOKWARU TAHUN PELAJARAN 2003-2004

Kelas Siswa masuk Siswa naik kelas Siswa tinggal kelas Siswa drop/cuti
I 42 40 2 -
II 37 36 1 -
III 50 50 - -
IV 41 41 - -
V 27 27 - -
VI 27 27 LULUS

Gambar 1.4

Pada tahun 2003 jumlah siswa yang tidak naik kelas relatif sedikit. Di kelas I terdapat 2 orang dan di kelas II sejumlah 1 orang.

DATA SISWA SDN MERJOSARI II NO.251 LOWOKWARU TAHUN PELAJARAN 2004-2005

Kelas Siswa masuk Siswa naik kelas Siswa tinggal kelas Siswa drop/Pindah
I 50 47 3 -
II 38 36 2 -
III 52 47 4 1
IV 50 48 2 -
V 44 42 2 -
VI 42 42 LULUS

Gambar 1.5

Dari data diatas jumlah siswa yang tinggal kelas terbanyak terdapat dikelas III sejumlah 4 orang, serta 1 orang yang drop.

KOEFISISEN KOHORT TAHUN 2000-2001

Kelas Koefisien yang naik kelas Koefisien yang melanjutkan
I 89 1 X .89 = 89
II 96 89 X .96 = 85
III 94 85 X .94 = 78
IV 95 78 X .95 = 74
V 100 74 X .100 = 74
VI 100 74 X .100 = 74

Gambar 2.1

KOEFISISEN KOHORT TAHUN 2001-2002

Kelas Koefisien yang naik kelas Koefisien yang melanjutkan
I 100 1 X .100 = 100
II 86 100 X .86 = 86
III 97 86 X .86 = 74
IV 97 74 X .97 = 72
V 100 72 X .100 = 72
VI 100 72 X .100 = 72

Gambar 2.2

KOEFISISEN KOHORT TAHUN 2002-2003

Kelas Koefisien yang naik kelas Koefisien yang melanjutkan
I 93 1 X .93 = 93
II 98 93 X .98 = 91
III 93 91 X .93 = 85
IV 92 85 X .92 = 78
V 83 78 X .83 = 65
VI 100 65 X .100 = 65

Gambar 2.3

KOEFISISEN KOHORT TAHUN 2003-2004

Kelas Koefisien yang naik kelas Koefisien yang melanjutkan
I 95 1 X .95 = 95
II 97 95 X .97 = 92
III 100 92 X .100 = 92
IV 100 92 X .100 = 92
V 100 92 X .100 = 92
VI 100 92 X .100 = 92

Gambar 2.4

KOEFISISEN KOHORT TAHUN 20004-2005

Kelas Koefisien yang naik kelas Koefisien yang melanjutkan
I 94 1 X .94 = 94
II 95 94 X .95 = 89
III 90 89 X .90 = 80
IV 96 80 X .96 = 77
V 95 77 X .95 = 73
VI 95 73 X .95 = 69

Gambar 2.5

BAB IV

KESIMPULAN

Dari semua data diatas agar lebih mudah dalam menganallisanya kita dapat menggunakan sistem kohort. Dengan kohort data-data tersebut bisa dimasukkan dalam kolom-kolom yang ada sesuai dengan katagorinya dari kelas I samapi dengan kelas VI. Dengan begitu kita dengan mudah dapat melihat siswa yang masuk, naik kelas, tinggal kelas, dan drop. Kemudian kita dapat melakuakn sebuah perencanaan pendidikan dalam melihat kondisi anak didik yang tinggal kelas.

Kohort ini telah terbukti dapat mempercepat kita dalam administrasi anak didik. Tanpa melihat arsif yang lama kohort dapat kita tempelkan di dinding sehingga orang mudah untuk melihat kondisis anak didik disekolah tersebut.sebagai contoh kohort data data siswa SDN Merjosari II no.251 lowokwaru sebagaimana terlampir.

Demikian analisis yang dapat kami sampaikan semoga bermanfaat bagi kita dalam mengembangkan dunia pendidikan indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

Djumberansyah, Perencanaan Pendidikan Strategi Dan Implementasinya. Surabaya: Karya Abditama, 1995.

KETERANGAN:

  1. 5       Orang tidak naik kelas dan pindah sekolah
  2. 2       Orang murid pindahan
  3. 2       Orang murid pindahan
  4. 1       Orang murid pindahan
  5. 6       Orang tidak naik kelas dan 4 orang pindah sekolah
  6. 3       Orang murid pindahan
  7. 2       Orang murid pindah sekolah
  8. 1       Orang murid pindahan
  9. 5       Orang murid pindahan
  10. 5       Orang murid pindahan
  11. 1       Orang murid pindahan
  12. 16      Orang murid pindahan
  13. 3       Orang murid pindahan
  14. 15      Orang murid pindahan

PERENCANAAN PENDIDIKAN:

PENGELOLAAN HUBUNGAN SEKOLAH DAN MASYARAKAT

Oleh:

M. AMIN KUTBI

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT Tuhan semesta alam yang telah mmberikan taufik serta hidayahnya kepada umat manusia di seluruh penjuru dunia. Shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada baginda kita nabi besar Muhammad SAW pembawa misi perjuangan mentauhidkan Allah.

Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan trimakasih kepada Bapak dosen yang telah membimbing penulis dalam menyelesaikan makalah ini, tidak lupa pula penulis ucapkan kepada rekan-rekan yang telah memberikan motivasi kepada penulis agar tidak mudah putus asa dalam menghadapi berbagai masalah yang menghadang.

Makalah ini berjudul Pengelolaan Hubungan Sekolah Dan Masyarakat, yang insyaAllah akan berguna bagi kita semua yang sedang belajar tentang perencanaan pendidikan. Mudah-mudahan makalah inibermanfaat bagi kita semua amin.

Penulis

BAB I

PENDAHULUAN

Tidak dapat kita pungkiri lagi bahwa pendidikan (sekolah) dan masyarakat adalah faktor pendidikan yang saling mempengaruhi. Keduanya mempunyai timbal balik yang tidak dapat dipisahkan. Seorang anak didik setelah mendapat pendidikan di keluarganya akan segera berlanjut untuk mencari ilmu di sekolah. Dalam lungkungan yang baru ini peserta didik diberi berbagai macam ilmu pengetahuan yang berguna bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Setelah itu ia akan beranjak ke lingkungan berikutnya, yaitu masyarakat disinilah ia akan mengaplikasikan ilmu yang telah didapatnya ketika melakukan pendidikan di sekolah.

Terkadang seorang anak didik tidak bisa diterima oleh masyarakat karena pendidikan yang diberikan disekolah tidak sesuai dengan yang dibutuhkan masyarakat, sehingga peserta didik tersebut hanya bisa menjadi penonton tanpa terlibat secara langsung dalam masyarakat. Tetapi ketika pendidikan yang diterima disekolah tepat sebagaimana yang butuhkan masyarakat, maka ia kan bisa menjadi pemain dan terlibat dalam masyarakat.

Disini perlu kita lihat sejauh mana pengaruh sekolah sebagai ladang pendidikan (formal) dalam mencetak generasi yang siap terjun ketengah masyarakat. Karena tidak jarang antara sekolah dan masyarakat tidak saling berinteraksi. Sebagian masyarakat menganggap bahwa pendidikan mahal dan hanya menghabiskan uang,. Disinilah perlunya pendekatan dari pihak sekolah untuk mensosialisasikan pentingnya pendidikan bagi anak-anak. Perencanaan pendidikan yang baik akan menhasilkan output yang berkualitas.

BAB II

PEMBAHASAN

Lingkungan Sekolah

Perkembangan individu melewati pola-pola yang berbeda sesuai dengan hakekat dan harkat individu itu sendiri. Dalam proses tersebut terjadilah bermacam-macam lingkungan yang ikut mempengaruhi pembentukan kepribadian tiap-tiap individu. Mengenal lingkungan sekolah tidak dapat kita pisahkan dari mengenal kembali kapan timbulnya dalam masyarakat, serta fungsi dan peranannya.

Sejarah Timbulnya Sekolah

Meningkatnya tuntutan kehidupan dan bervariasi serta kompleksnya masalah yang akan dipecahkan adalah merupakan suatu titik tolak mengapa sekolah dibutuhkan dalam masyarakat. Dalam masyarakat serba sama, di mana dunia kehidupan belum menuntut: pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill) dan nilai serta sikap dan norma (values, attitude, norm) yang beraneka ragam mengakibatkan keluarga cukup membekali anaknya dengan pola dan cara yang tidak berbeda dengan apa yang telah didapat dan dialaminya.

Pada beberapa suku “primitive” telah dikemukakan dalam masyarakat statis seperti: suku Peoblo, Eskimo, Indian maupun pada suku asli Indonesia seoerti suku Dayak, Kubu dan suku asli di Irian Jaya, kehiodupan mereka yang belum banyak berkomunikasi dengan dunia luar, hanya membutuhkan kepandaian sederhana sekali untuk dapat hidup. Mereka bertani secara sederhana, berburu dengan tombak atau panah, maupun menangkap ikan ke laut. Kepandaian tersebut tidak perlu di terima melalui pendidikan khusus, tetapi melalui pemagangan dengan aktifitas langsung bersama orang tuanya.

Tetapi kemudian setelah tuntutan manusia kian meningkat, sebagai akibat terbukanya komunikasi dengan dunia luar, serta bertambah sempit dan kompleksnya lingkungan, manusia harus meninggalkan kestatisannya dan mencoba untuk berfikir dinamis. Alam lingkungan tidak dapat lagi untuk diolah sesuai dengan perubahan, maka mulailah di perlukan kemampuan dan keterampilan khusus. Pada waktu 4000 tahun sebelum masehi, pada masa peradaban tinggi di Mesir dan Tigris, sekolah seperti sekarang juga belum ada. Tetapi pada waktu itu ilmu pengetahuan telah sangat tinggi.

Yang belum ada sekolah untuk rakyat, tetapi pendidikan untuk kelas tertentu sudah lama dikembangkan. Pada saat itu orang telah banyak yang ahli dalam bidang tertentu, namun terbatas pada golongan yang telah ditentukan. Pada waktu perdagangan mulai maju, transaksi dagang membutuhkan keterampilan membaca, menulis dan berhitung. Pendidikan dalam golongan tertentu menjadi lebih luas dan melebar. Kterampilan yang dikembangkan juga makin bertambah luas. Sekolah untuk golongan elite tertentu sudah ada dan dikeembangkan sebagai salah satu lingkungan pendidikan untuk mempersiapkan anggota masyarakat elite memasuki dan menghadapi kehidupan yang lebih mantap. Pada waktu ini yang diutamakan dalam kurikulum pelajaran, belum bervariasi seperti sekolah formal sekarang ini, tetapi masih merupakan kelas bahasa, kelas menulis, maupun kelas berhitung.

Baru kemudian sekitar 2100 tahun sebelum masehi, pada waktu pemerintahan Hammurabi, sekolah untuk rakyat diadakan. Hal itu berarti tuntutan akan lingkungan pendidikan tidak dapat lagi memenuhi kebutuhan hidup manusia dan perkembangan ilmu pengetahuan yang makin meningkat.

Peran Dan Fungsi Sekolah

Pembentukan keperibadian tiap individu berlangsung secara berkesinambungan dalam lingkungan yang berbeda dengan pola dan pendekatan yang tiidak sama. Sekolah sebagai lingkungan pendidikan bukan mengambil peranan dan fungsi orang tua dalam mendidik anaknya dalam lingkungan keluarga, tetapi sekolah bersama-sama dengan orang tua membantu mendidik anak-anaknya. Keluarga menyerahkan sebagian wewenang dan tanggung jawabnya kepada sekolah, kepada guru yang telah mempunyai tugas khusus untuk itu sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Jelaslah bahwa peranan dan fungsi sekolah yang pertama-tama ialah membantu keluarga dalam pendidikan anak-anaknya di sekolah. Sekolah, guru dan tenaga pendidik lainnya meelalui wewenang hukum yang dimilikinya berusaha melaksanakan tugas yang kedua yaitu memberikan pengetahuan, ketrampilan dan nilai sikap secara lengkap sesuai pula dengan apa yang dibutuhkan oleh anak-anak dari keluarga yang berbeda. Ini berarti bahwa selama dalam keeluarga anak-anak mendapat pendidikan informal dengan kurang terikat kepada tata aturan trtentu, maka setelah mereka datang kesekolah, kepada mereka diperkenalkan tata krama, peraturan dan disiplin sekolah.

Lingkungan Masyarakat

Lingkungan masyarakat adalah merupakan lingkungan ketiga dalam proses pembentukan kepribadian anak-anak sesuai dengan keberadaannya. Lingkungan masyarakat akan memberikan sumbangan yangh sangat berarti dlam diri anak, apabila diwujudkan dalam proses dan pola yang tepat. Tidak semua ilmu pengetahuan, sikap, ketrampilan maupun performans dapat dikembangkan oleh sekolah ataupun dalam keluarga. Karena ketrbatasan dana dan kelengkapan lembaga tersebut. Kekurangan yang dirasakan akan dapat diisi dan dilengkapi oleh lingkungan masyarakat dalam membina pribadi anak didik atau individual secara utuh dan terpadu. Pendidikan dalam masyarakat akan berfungsi sebagai:

  1. Pelengkap (complement)
  2. Pengganti (substitute)
  3. Tambahan (supplement)

terhadap pendidikan yang diberikan oleh lingkungan yang lain.

Dalam masyarakat akan dapat dikembangkan bermacam-macam aktivitas yang bersifat pendidikan oleh bermacam-macam instansi maupun jabatan dan lembaga pendidikan maupun nonpendidikan. Kegiatan pendidikan yang berfungsi sebagai pelengkap perkembangan kepribadian individu secara individual maupoun kelompok ialah kegiatan pendidikan yang berorienytasi melengkapi kemampuan, ketrampilan, kognitif maupun performans seseorang. Sebagai akibat belum mantapnya apa yang telah mereka terima pada sekolah atau dalam keluarga. Kegiatan semacam ini mencakup antara lain:

-                      Perkembangan rasa sosial dalam berkomunikasi dengan orang lain.

-                      Pembinaan sikap dan kerjasama dengan anggota masyarakat.

-                      Pembinaan ketrampilan dan kecakapan khusus belum didapat di sekolah.

Bentuk-bentuk pendidikan dalam masyarakat ini antara lain apa yang tlah dilakukan oleh organisasi pemuda dan kepramukaan atau organisasi sosial lainnya, seperti yang pernah dilakukan oleh pramuka dalam Jambore atau Raimuna atau perkemahan pada tingkat Propinsi, Kabupaten atau kecamatan. Disamping itu apa yang dilakukan dalam organisasi sosial lainnya, Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) dengan desa pemudany, atau pembinaan pemuda melalui sanggar pemuda atau pembinaan pemuda dengan pertukaran pemuda antar propinsi dan antarnegara dan sebagainya. Tidak dapat pula diabaikan keikutsertaan organisasi sosial lainnya dalam menyediakan lingkungan pendidikan ini, seperti perkumpulan-perkumpulan olah raga dan keseniuan.

Lingkungan pendidikan yang berfungsi sebagai “pengganti” (substitute), hanya menyediakan pendidikan bukan sekedar tambahan atau pelenghkap, tetapi adalah mengadakan pendidikan yang berfungsi sama dengan lembaga pendidikan formal di sekolah. Hal ini dilaksanakan karena keterbatasan kemampuan lingkungan sekolah sehingga tidak mampu melayani semua lapisan dan semua anggota masyarakat yang ada. Sepertyi kursus Pengetahuan Dasar, kursus PKK atau kursus ketrampilan.

Lingkungan masyarakat juga mampu menyediakan pendidikan yang berfungsi sebagai tanmbahan (suplemen) di sekolah-sekolah teknik murid-murid telah mendapatkan pengetahuan dan ketrampilan tentang penggunaan mesin bubut, tetapi karena jumlah jam yang terbatas, sehingga semua siswa tidak dapat mendalaminya. Untuk memantapkan hal itu, maka diadakan kursus di luar program pendidikan formal yang telah ada. Hal yang sama sering juga dilakukan dalam rangka persiapan untuk memasuki perguruan tinggi, seperti bimbingan tes, skalu dan sebagainya.

Dengan demikian bentuk dan jenis lingkungan menentukan dan memberi pengaruh terhadap pembentukan pribadi tiap individu dalam masyarakat, dengan mengingat ketiga fungsi tersebut.

Pengelolaan Hubungan Sekolah Dan Masyarakat

Pendidikan (sekolah) dan kehidupan masyarakat amat saling pengaruh mempengaruhi dengan bermacam-macam cara:

  1. pendidikan dipengaruhi oleh keadaan masyarakat, antara lain keadaan sosial ekonominya: faktor kesenjangan sosial ekonomi akan mempengaruhi strategi dalam perencanaan pendidikan.
  2. Pendidikan mempengaruhi kehidupan bermasyarakat dengan memberikan ilmu pengetahuan, ketrampilan, pendidikan akal, budi pekerti dan kerohanian kepada anak didik atau generasi muda yang langsung atau tidak langsung menentukan jenis pekerjaannya di kemudian hari: profesinya akan menempatkan dia pada tingkat sosial ekonomi tertentu dan mempengaruhi perkembangan seterusnya.

Di negara-negara sedang berkembang, program-program pembangunan termasuk perogram pendidikan diarahkan kepada perbaikan mutu hidup. Pemerintah dan masyarakat percaya bahwa hanya dengan pendidikanlah negara akan mencapai kemajuan-kemajuan. Dengan pndidikan dapat dihasilkan bentuk kehidupan masyarakat yang lebih baik karena dilengkapi dengan ahli-ahli dari berbagai bidang seperti industri dan teknologi, kesehatan, pertanian, keuangan, manajemen dan ahli pendidikan.

Kegiatan pendidikan pada hakekatnya adalah pembangunan manusia dan pembangunan seluruh masyarakat yang maju dan berkepribadian. Karena itu pendidikan sebagai bagian dari kebudayaan tidak berdiri sendiri sebab pendidikan adalah suatu institusi di tengah-tengah masyarakat. Oleh karena itu kejadian-kejadian atau masalah-masalah yang terjadi di masyarakat dengan sendirinya pula, sedikit atau banyak akan berpengaruh terhadap pendidikan. Demikian juga sebaliknya setiap perubahan suatu rencana dengan sendirinya akan memperlihatkan pengaruh dalam masyarakat walaupun mungkin menunggu dalam jangka tertentu. Sebagai contoh sederhana pembangunan gedung sekolah dasar (SD) yang bagus disuatu desa dan dilengkapi dengan fasilitas yang sesuatu dengan standar serta dibarengi dengan guru yang pandai mengajar dengan sendirinya akan meningkatkan keinginan anak-anak untuk bersekolah dan keinginan orang tua untuk menyekolahkan anaknya.

Tidak dapat kita pungkiri bahwa perubahan yang terjadi dalam pernecanaan pendidikan akan sangat berpengaruh terhadap masyarakat atau sistem sosial. Hal ini dikarenakan pendidikan berkaitan dan saling pengaruh mempengaruhi bahakan saling bergantung. Karena itu seorang pereencana pendidikan perlu mngetahui aspek-aspek sosial dan ekonomi yang mempunyai hubungan dan peran dalam pertu7mbuhan dan perubahan pendidikan. Dan perlu di sadari bahwa masing-masing aspek memberikan pengaruh yang berbeda-beda kepada perencanaan pendidikan.

Aspirasi Masyarakat Terhadap Pendidikan (Sekolah)

Adanya kesempatan untuk menduduki jabatan tertentu dalam segala bidang bagi orang yang mampu misalnya dengan sendirinya mengubah sikap masyarakat terhadap pendidikan. Pendidikan bukan lagi milik golongan atau sekelompok masyarakat tertentu dan karena itu aspirasi masyarakat terhadap pendidikan menjadi makin tinggi. Ini merupakan salah satu perubahan sosial yang penting dan sangat berguna.

Pendidikan merupakan alat yang paling efektif untuk menaikkan status sosial seseorang. Seorang petani melihat baha putranya dapat menjadi seorang dokter melalui pendidikan yang baik. Demikian juga, setelah belajar sambil mengajar, seorang guru SD berhasil meningkatkan statusnya menjadi seorang dosen di Perguruan Tinggi. Dalam hal ini pendidikan memperbaiki  kehidupan individu dan masyarakat. Pendidikan memberikan sumbangan yang besar untuk terjadinya suatu mobilitas sosial. Dalam contoh di atas pendidikan berfungsi sebagai “Social elevator” atau peningkatan status sosial.

Bersamaan dengan peningkatan tersebut, individu yang bersangkutan dapat meningkatkan kualitas hisupnya, misalnya memperpanjang kesempatan dalam hidup yang sifatnya produktif, lebih giat bekerja, lebih mampu mengikuti beraneka ragam kegiatan yang memberikan kepuasan, lbih dapat menikmati hasil kerja dan sebagainya. Karena itu tidak mengherankan jikalau masyarakat desa dan kota makin cenderung menaruh minat kepada pendidikan. Makin disadari bahwa pendidikan adalah salah satu jalan untuk meningkatkan kesejahteraan perorangan dan masyarakat.

Karena aspirasi masyarakat untuk memasuki pendidikan begitu besar dan menyebar luas, maka penyusun kebijaksanaan, perencanaan mengahadapi suatu masalah pokok yaitu bagaimana caranya supaya kesempatan untuk mendapatkan pendidikan menjadi merata, antara desa dan kota dan antara pria dan wanita. Pemerataan kesempatan belajar harus dijamin kalau memang pendidikan dapat memberi kesempatan untuk memperbaiki hidup seseorang. Untuk ini perencanaan pendidikan mengahadapi tiga hambatan penting:

  1. Masalah bagaimana mendapatkan pendidikan secara mudah. Pendidikan harus memberikan kesempatan kepada masyarakat secara merata. Dalam hal ini perencanaan pendidikan menemukan kesulitan karena fasilitas yang tersedia dan sumber penyediaan terbatas.
  2. Fasilitas dan mutu pendidikan berbeda antara kota dengan desa bahkan sekolah di kota dan antar sekolah di desa. Walaupun semua anak mempunyai kesempatan belajar yang sama belum tentu semuanya mendapat pendidikan yang sama karena perbedaan jumlah dan mutu fasilitas, perbedaan kualifikasi guru, lingukngan, pendidikan dan ekonomi orang tua dan sebagainya. Dalam hal ini perencana pendidikan harus mengambil keputusan serta pelaksanaan harus: pertama, memanfaatkan fasilitas dan dana yang tersedia atas prinsip pemerataan kesempatan menerima pendidikan. Kedua, memikirkan batas-batas kebutuhan pasaran tenaga kerja.
  3. Sutuasi masyarakat dengan aspirasinya yang selalu bergerak di negara yang sedang berkembang. Pergerakan ini dipengaruhi oleh faktor pembangunan di sektor lain di samping daya tarik lembaga-lembaga pendidikan itu sendiri. Ada masanya masyarakat sangat tertarik kepada pendidikan menengah kejuruan dan aspirasi ini harus ditampung dan tergambar dalam perencanaan pendidikan.

Perlu diingat bahwa pendidikan bermaksud melayani kebutuhan masyarakat dalam arti menambah kemampuan masyarakat untuk dapat bertahan dan mengembangkan diri dalam semua aspek kehidupan. Karena itu materi yang disampaikan kepada anak didik harus sesuai dengan kebutuhan masyarakat di mana kelak mereka terjun. Perlu direncanakan kurikulum yang berorientasi langsung pada masyarakat sehingga anak didikpun tidak terasing dari lingkungannya. Kemudian tidak dapat diingkari bahwa hubungan pendidikan dengan masyarakat sangat erat dan saling mempengaruhi, oleh karena itu perlu dilakukan pengelolaan yang baik agar tercipta generasi yang siap terjun kedalam lingkungan masyarakat.

KESIMPULAN

Dari uraian singkat diatas kita dapat menarik kesimpulan antara lain:

Sekolah dan masyarakat memiliki Pendidikan (sekolah) dan kehidupan masyarakat amat saling pengaruh mempengaruhi dengan bermacam-macam cara: Pendidikan di pengaruhi oleh keadaan masyarakat, antara lain keadaan sosial ekonominya: faktor kesenjangan sosial ekonomi akan mempengaruhi strategi dalam perencanaan pendidikan.Pendidikan mempengaruhi kehidupan bermasyarakat dengan memberikan ilmu pengetahuan, ketrampilan, pendidikan akal, budi pekerti dan kerohanian kepada anak didik atau generasi muda yang langsung atau tidak langsung menentukan jenis pekerjaannya di kemudian hari: profesinya akan menempatkan dia pada tingkat sosial ekonomi tertentu dan mempengaruhi perkembangan seterusnya

Perlu diingat bahwa pendidikan bermaksud melayani kebutuhan masyarakat dalam arti menambah kemampuan masyarakat untuk dapat bertahan dan mengembangkan diri dalam semua aspek kehidupan. Karena itu materi yang disampaikan kepada anak didik harus sesuai dengan kebutuhan masyarakat di mana kelak mereka terjun.

DAFTAR PUSTAKA

Enoch, Jusuf, Dasar-Dasar Perencanaan Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, 1992.

Indar, Djumberansyah, Perencanaan Pendidikan: Strategi dan Implementasinya,

Ihsan, Fuad, Dasar-dasar Kependidikan, Jakarta: Rineka Cipta, 1997.

Jusuf, Muri, Pengantar Ilmu Pendidikan, Jakarta Timur: Ghalia Indonesia, 1982.

ST. Vembriarto, Pengantar Perencanaan pendidikan (Educational Planning), Yogyakarta: Andi Offset,


Pendahuluan

Dunia pendidikan saat ini masih dihadapkan pada berbagai persoalan, mulai dari soal rumusan tujuan pendidikan yang kurang sejalan dengan tuntutan masyarakat, sampai kepada persoalan guru, metode, kurikulum dan lain sebagainya.

Dan upaya untuk mengatasi masalah tersebut masih terus dilakukan dengan berbagai upaya.  Tetapi upaya yang demikian itu tampaknya perlu dilacak pada akar permasalahannya yang bertumpu pada pemikiran filosofis. Kita ketahui bahwa secara umum filsafat berupaya menjelaskan inti dari segala yang ada, dan karena itu filsafat dikenal sebagai induk segala ilmu.

Filsafat pendidikan Islam secara umum akan mengkaji berbagai masalah yang terdapat dalam dunia pendidikan. Misalnya berkaitan dengan masalah metode pendidikan seperti yang akan kita bahas dalam makalah ini. Untuk itu perlu untuk kita ketahui apa yang dimaksud dengan metode pendidikan Islam dan fungsinya serta metode-metode apa saja yang terdapat dalam dunia pendidikan.

Tujuan dari makalah ini agar kita mengetahui dan memikirkan bagaimana menggunakan metode pendidikan ketika terjun dalam masyarakat. Baik secara langsung maupun tidak langsung. Karena dengan mengetahuinya kita setidaknya sudah bisa mengantisipasi segala problem yang akan kita hadapi saat berada dalam masyarakat khususnya dalam hal pendidikan.

A.            Pengertian Metode Pendidikan Islam

Dalam bab ini kita akan membahas tentang pengertian Metode Pendidikan Islam. Dimana setiap kata akan kita bahas satu persatu yaitu: metode, Pendidikan, Pendidikan Islam, Metode Pendidikan, Dan metode Pendidikan Islam. Tujuannya agar pembaca lebih memahami secara mendalam tentang Metode Pendidikan Islam ini.

1.             Pengertian Metode

Kata metode berasal dari bahasa Greek (Yunani) yang terdiri dari kata “meta” yang berarti melalui, dan kata “hodos” yang berarti jalan. Jadi metode berarti jalan yang dilalui.[1] Runes, sebagaimana yang dikutip oleh Muhammad Noor Syam, secara teknis menerangkan bahwa metode adalah (1) Suatu prosedur yang dipakai untuk mencapai suatu tujuan. (2) Suatu teknik mengetahui yang dipakai dalam proses mencari ilmu pengetahuan dari suatu materi tertentu. (3) Suatu ilmu yang merumuskan aturan-aturan dari suatu prosedur.[2] Selain itu ada pula yang mengatakan bahwa metode adalah suatu sarana untuk menemukan, menguji, dan menyusun data yang diperlukan bagi pengembangan.[3]Ada lagi pendapat yang mengatakan bahwa metode sebenarnya berarti jalan untuk mencapai tujuan.[4] Jalan untuk mencapai tujuan itu bermakna ditempatkan pada posisinya sebagai cara untuk menemukan, menguji, dan menyusun data yang diperlukan bagi pengembangan ilmu atau tersistematisasikannya suatu pemikiran.

Dalam bahasa Arab metode diungkapkan dalam berbagai kata. Terkadang digunakan kata al-thariqah, Manhaj, dan al-Wasilah. Al-thariqah berarti jalan, Manhaj berarti sistem, dan al-Wasilah berarti perantara atau mediator. Dengan demikian, kata arab yang dekat dengan arti metode adalah Al-thariqah. Kata-kata serupa ini banyak dijumpai dalam al-Qur’an menurut Muhammad Fuad Abd al-Baqi didalam al-Qur’an kata al-Thariqah diulang sebanyak sembilan kali. Kata ini terkadang dihubungkan dengan objeknya yang dituju oleh al-Thariqah seperti neraka, sehingga jalan menuju neraka (Q.S 4:169)  rkadang dihubungkan dengan sifat dari jalan tersebut, seperti al-Thariqah al-Mustaqimah yang diartikan jalan yang lurus (Q.S. 46:30).[5]

Mohammad Athiyah al-Abrasy mendefinisikan metode sebagai jalan yang kita ikuti memberi paham kepada murid-murid dalam segala macam pelajaran, dalam segala mata pelajaran. Metode adalah rencana yang kita buat untuk diri kita sebelum kita memasuki kelas, dan kita terapkan dalam kelas selama kita mengajar dalam kelas itu. Kemudian Prof. Abd al-Rahim Ghunaimah menyebut metode sebagai cara-cara yang diikuti oleh guru untuk menyampaikan sesuatu kepada anak didik. Adapun Adgar Bruce Wesley mendefinisikan metode sebagai kegiatan yang terarah bagi guru yang menyebabkan terjadinya proses belajar mengajar, hingga pengajaran menjadi berkesan.[6]

Dalam pandangan filosofis pendidikan, metode merupakan alat yang dipergunakan untuk mencapai tujuan pendidikan. Alat itu mempunyai sifat ganda, yaitu bersifat polipragmatis dan monopragmatis. Polipragmatis, bilamana metode itu mengandung kegunaan yang serba ganda (multipurpoce). Misalnya, suatu metode tertentu pada suatu situasi dan kondisi tertentu dapat dipergunakan untuk merusak, dan pada situasi dan kondisi yang lain dapat dipergunakan untuk memperbaiki dan membangun. Contohnya, penggunaan video cassete recorder (VRC) untuk merekam semua jenis film, baik fornografis maupun yang moralis, yang hal itu bila dipergunakan sebagai media pembelajaran, maka sasarannya dapat merusak disamping dapat memperbaiki atau membangun. Monopragmatis adalah alat yang hanya dapat dipergunakan untuk mencapai satu macam tujuan. Misalnya, laboratorium ilmu alam, hanya dapat dipergunakan untuk eksperimen-eksperimen bidang ilmu alam, tidak dapat dipergunakan untuk eksperimen bidang ilmu lain.[7]

2.             Pengertian Pendidikan Islam

Setelah kita membahas tentang metode, selanjutnya kita akan membahas tentang pendidikan Islam. Tetapi terlebih dahulu kita akan membahas tentang pendidikan. Banyak para pakar pendidikan yang mendefinisikan pendidikan secara berbeda-beda tetapi pada intinya sama.

Beberapa ahli pendidikan di Barat yang memberikan arti pendidikan sebagai proses antara lain: Menurut Mortimer J. Adler mengartikan pendidikan adalah proses dengan mana semua kemampuan manusia (bakat dan kemampuan yang diperoleh) yang dapat dipengaruhi oleh pembiasaan, disempurnakan dengan kebiasaan-kebiasaan yang baik melalui sarana yang secara artistik dibuat dan dipakai oleh siapapun untuk membantu orang lain atau dirinya sendiri mencapai tujuan yang ditetapkan yaitu kebiasaan yang baik.

Menurut William Mc Gucken, SJ, seorang tokoh pendidikan Katolik berpendapat bahwa pendidikan diartikan oleh ahli Scholaktik, sebagai suatu perkembangan dan kelengkapan dari kemampuan-kemampuan manusia baik moral, intelektual, maupun jasmaniah yang diorganisasikan, dengan atau untuk kepentingan individual atau sosial dan diarahkan kepada kegiatan-kegiatan yang bersatu dengan Penciptanya sebagai tujuan akhir.[8]

Menurut Prof. Sugarda Purbakawaca, dalam “Ensiklopedi Pendidikan”nya, memberikan pengertian pendidikan, sebagai berikut: “Pendidikan dalam arti luas meliputi semua perbuatan dan usaha dari generasi tua untuk mengalihkan pengetahuannya, pengalamannya, kecakapannya serta ketrampilannya (orang menamakan ini juga “mengalihkan” kebudayaan, dalam bahasa Belanda: Cultuurover dracht) kepada generasi muda sebagai usaha menyiapkannya agar dapat memenuhi fungsi hidupnya baik jasmani maupun rohani.”[9]

Setelah membahas Pendidikan selanjutnya kita akan memaparkan tentang pendidikan Islam. Berikut ini adalah beberapa pengertian Pendidikan Islam secara terminologi yang diformulasikan oleh para ahli Pendidikan Islam, diantaranya adalah:

  1. Menurut al-Syaibaniy mengemukakan bahwa pendidikan Islam  adalah proses mengubah tingkah laku individu peserta didik pada kehidupan pribadi, masyarakat, dan alam sekitarnya. Proses tersebut dilakukan dengan cara pendidikan dan pengajaran sebagai suatu aktifitas asasi dan profesi diantara sekian banyak profesi asasi dalam masyarakat.
  2. Menurut Muhammad Fadhil al-Jamaly, mendefinisikan pendidikan Islam sebagai upaya mengembangkan, mendorong serta mengajak peserta didik hidup lebih dinamis dengan berdasarkan nilai-nilai yang tinggi dan kehidupan yang mulia. Dengan proses tersebut, diharapkan bisa membentuk pribadi peserta didik yang lebih sempurna, baik yang berkaitan dengan potensi akal, perasaan, maupun perbuatannya.
  3. Ahmad D. Marimba mengemukakan bahwa pendidikan Islam adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani peserta didik menuju terbentuknya kepribadiannya yang utama (insan kamil)
  4. Ahmad Tafsir mendefinisikan Pendidikan Islam sebagai bimbingan yang diberikan oleh seseorang, agar ia berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran Islam.[10]

Dari batasan diatas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan Islam adalah suatu sistem yang memungkinkan seseorang (peserta didik) dapat mengarahkan kehidupannya sesuai dengan ideologi Islam. Melalui pendekatan ini, ia akan dapat dengan mudah membentuk kehidupan dirinya sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam yang diyakininya.

3.             Metode Pendidikan Islam

Dari beberapa pengertian yang diformulasikan oleh para pakar diatas tentang pengertian Metode dan Pendidikan Islam. Kita dapat menyimpulkan  tentang pengertian Metode Pendidikan. Seperti yang dikemukakan oleh al-Syaibaniy yaitu, segala segi kegiatan yang terarah yang dikerjakan oleh guru dalam rangka kemestian-kemestian mata pelajaran yang diajarkannya, ciri-ciri perkembangan peserta didiknya, dan suasana alam sekitarnya dan tujuan membimbing peserta didik untuk mencapai proses belajar yang diinginkan dan perubahan yang dikehendaki pada tingkah laku mereka.[11]

Ahmad Tafsir secara umum membatasi bahwa metode pendidikan adalah semua cara yang digunakan dalam upaya mendidik. Kemudian Abdul Munir Mulkan, mengemukakan bahwa metode Pendidikan adalah suatu cara yang dipergunakan untuk menyampaikan atau mentransformasikan isi atau bahan pendidikan kepada anak didik.[12]

Selanjutnya jika kata metode tersebut dikaitkan dengan pendidikan Islam, dapat membawa arti sebagai jalan untuk menanamkan pengetahuan agama pada diri seseorang sehingga dapat terlihat dalam pribadi objek sasaran, yaitu pribadi Islami. Selain itu metode pendidikan Islam dapat diartikan sebagai cara untuk memahami, manggali, dan mengembangkan ajaran Islam, sehingga terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman.

  1. B. FUNGSI METODE PENDIDIKAN ISLAM

Tentang fungsi metode secara umum dapat dikemukakan sebagai pemberi jalan atau cara yang sebaik mungkin bagi pelaksanaan operasional dari ilmu pendidikan tersebut[13]. Sedangkan dalam konteks lain metode dapat merupakan sarana untuk menemukan, menguji, dan menyusun data yang diperlukan bagi pengembangan disiplin suatu ilmu. Dari dua pendekatan ini segera dapat dilihat bahwa pada intinya metode berfungsi mengantarkan suatu tujuan kepada objek sasara dengan cara yang sesuai perkembangan objek tersebut.

Dalam al-Qur’an metode dikenal sebagai sarana yang menyampaikan seseorang kepada tujuan penciptaan-Nya sebagai khalifah di muka bumi dengan melaksanakan pendekatan dimana manusia ditempatkan sebagai makhluk yang memiliki potensi rohaniah dan jasmaniah yang keduanya dapat digunakan sebagai saluran penyampaian materi pelajaran. Karenanya terdapat suatu prinsip yang umum dalam memfungsikan metode, yaitu prinsip agar pengajaran dapat disampaikan dalam suasana menyenangkan, menggembirakan, penuh dorongan, dan motivasi, sehingga pelajaran atau materi didikan itu dapat dengan mudah diberikan. Banyaknya metode yang ditawarkan para ahli lebih merupakan usaha mempermudah atau mencari jalan paling sesuai dengan perkembangan jiwa si anak dalam menerima pelajaran.

Pada kenyataannya, metode merupakan sesuatu yang sangat penting dalalm terciptanya sebuah pendidikan yang ideal. Dengan metode-metode seorang pendidik akan bisa menyampaikan ilmunya kepada peserta didik. Tetapi jika pendidik tidak memiliki metode dalam penyampaian materi pendidikan, maka peserta didik akan kesulitan dalam memahami materi yang disampaikan. Metode bisa dikatakan adalah sebagai jembatan yang menghubungkan pendidik dengan anak didik kepada tujuan pendidikan, yaitu terbentuknya kepribadian. Bila dikaitkan dengan Islam kepribadian ini lebih mengarah pada kepribadian muslim, yang mencerminkan nilai-nilai keislaman.

Dengan demikian, jelaslah bahwa metode sangat berfungsi dalam menyampaikan materi pendidikan. Karena dengan metode seorang pendidik akan lebih mudah dalam  memberikan materi. Dan peserta didik akan mudah dalam memahami apa yang disampaikan oleh pendidik.

C.            ASAS-ASAS UMUM METODE PENDIDIKAN ISLAM

Sesungguhnya metode pendidkan Islam memiliki asas-asas dimana ia tegak berdiri dan memperoleh unsur, tujuan, dan prinsip-prinsip. Asas-asas tersebut pada prinsipnya tidak banyak berbeda dengan asas-asas tujuan dan kurikulum pendidikan Islam. Konsep ini menggambarkan bahwa seluruh komponen yang terkait dalam proses pendidikan Islam adalah merupakan satu kesatuan yang membentuk suatu sistem. Secara umum, asas-asas metode pendidikan Islam itu menurut al-Syaibany[14], adalah:

  1. Asas Agama, yaitu prinsip-prinsip, asas-asas dan fakta-fakta umum yang diambil dari sumber asasi ajaran Islam, yakni al-Qur’an dan Sunnah Rasul.
  2. Asas-Biologis, yaitu dasar yang mempertimbangkan kebutuhan jasmani dan tingkat perkembangan usia peserta didik.
  3. Asas Psikologis, yaitu prinsip yang lahir diatas pertimbangan kekuatan psikologis, seperti motivasi, kebutuhan, emosi, minat, sikap, keinginan, bakat dan kecakapan akal atau kapasitas intelektual.
  4. Asas Sosial, yaitu asas yang bersumber dari kehidupan sosial manusia seperti tradisi, kebutuhan-kebutuhan, harapan-harapan dan tuntutan kehidupan yang senantiasa maju dan berkembang.

Sementara dari sudut pandang pelaksanaannya, asas-asas pendidikan Islam dapat diformulasikan kepada:[15]

  1. Asas Motivasi, yaitu usaha pendidik untuk membangkitkan perhatian peserta didik kearah bahan pelajaran yang sedang disajikan.
  2. Asas Aktivitas, yaitu memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk ambil bagian secara aktif dan kreatif dalam seluruh kegiatan pendidikan yang dilaksanakan.
  3. Asas Apersepsi, mengupayakan respon-respon tertentu dari peserta didik sehingga mereka memperoleh perubahan pada tingkah laku, pembendaharaan konsep, dan kekayaan akan informasi.
  4. Asas Peragaan, yaitu memberikan variasi dalam cara-cara mengajar dengan mewujudkan bahan yang diajarkan secara nyata, baik dalam bentuk aslinya maupun tiruan.
  5. Asas Ulangan, yaitu usaha untuk mengetahui taraf kemajuan atau keberhasilan belajar peserta didik dalam aspek pengetahuan, ketrampilan dan sikap
  6. Asas Korelasi, menghubungkan suatu bahan pelajaran dengan bahan pelajaran lainnya, sehingga membentuk mata rantai yang erat.
  7. Asas Konsentrasi, yaitu memfokuskan pada suatu pokok masalah tertentu dari keseluruhan bahan pelajaran untuk melaksankan tujuan pendidikan serta memperhatikan peserta didik dalam segala aspeknya.
  8. Asas Individualisasi, yaitu memperhatikan perbedaan-perbedaan individual peserta didik.
  9. Asas Sosialisasi, yaitu menciptakan situasi sosial yang membangkitkan semangat kerjasama antara peserta didik dengan pendidik atau sesama peserta didik dan masyarakat, dalam menerima pelajaran agar lebih berdaya guna.
  10. Asas Evaluasi, yaitu memperhatikan hasil dari penilaian terhadap kemampuan yang dimiliki peserta didik sebagai umpan balik pendidik dalam memperbaiki cara mengajar.
  11. Asas Kebebasan, yaitu memberikan keleluasan keinginan dan tindakan bagi peserta didik dengan dibatasi atas kebebasan yang mengacu pada hal-hal yang positif.
  12. Asas Lingkungan, yaitu menentukan metode dengan berpijak pada pengaruh lingkungan akibat interaksi dengan lingkungan.
  13. Asas Globalisasi, yaitu memperhatikan reaksi peserta didik terhadap lingkungan secara keseluruhan, tidak hanya secara intelektual, tetapi juga secara fisik, sosial dan sebagainya.
  14. Asas Pusat-Pusat Minat, yaitu memperhatikan kecenderungan jiwa yang tetap ke jurusan suatu yang berharga bagi seseorang.
  15. Asas Ketauladanan, yaitu memberikan contoh yang terbaik untuk ditiru dan ditauladani peserta didik.
  16. Asas Kebiasaan, yaitu mambiasakan hal-hal positif dalam diri peserta didik sebagai upaya praktis dalam pembinaan mereka.

Metode pendidikan Islam harus digali, didayagunakan, dan dikembangkan dengan mengacu pada asas-asas sebagaimana yang dikemukakan diatas. Melalui aplikasi nilai-nilai Islam dalam proses penyampaian seluruh materi pendidikan Islam, diharapkan proses itu dapat diterima, difahami, dihayati, dan diyakini sehingga pada gilirannya memotivasi peserta didik untuk mengamalkannya dalam bentuk nyata.

D.            JENIS-JENIS METODE PENDIDIKAN ISLAM

Menurut para ahli  pendidikan, metode pendidikan yang dipakai dalam dunia pendidikan sangat banyak. Hal ini tidak terlepas dari tujuan yang ingin dicapai dalam dunia pendidikan, yaitu membentuk anak didik menjadi lebih baik dari sebelumnya. Dan berikut ini akan  beberapa metode pendidikan yang dikemukakan oleh para ahli, yaitu:

1.             Menurut Omar Mohammad al-Toumy al-Syaibany[16]

Dalam bukunya, Syaibany memaparkan beberapa metode pendidikan, yaitu:

a         Metode Pengambilan Kesimpulan atau Induktif.

Metode ini bertujuan untuk membimbing pelajar untuk mengetahui fakta-fakta dan hukum-hukum umum melalui jalan pengambilan kesimpulan. Metode ini mulai dengan membahas dari bagian-bagian yang kecil untuk sampai kepada undang-undang umum.

Metode ini dapat digunakan pada berbagai ilmu yang mejadi tumpuan perhatian pendidikan Islam. Misalnya, nahu, saraf, fiqhi, hitungan, teknik, fisika, kimia dan dalam berbagai ilmu yang lain. Dan metode ini telah digunakan oleh pendidik-pendidik dan cerdik pandai Islam. Orang-orang Islamlah yang mula-mula menggunakan dan memantapkan metode ini sebelum munculnya Roger Bacon, dan sesudah itu Francis Bacon yang selalu dianggap orang sebagai pencipta metode tersebut.

b         Metode Perbandingan

Metode ini berbeda dengan metode induktif, dimana perpindahan menurut metode ini dari yang umum kepada yang khusus, dari keseluruhan kepada bagian-bagian yang kecil, dimana disebutkan prinsip umum dahulu, kemudian diberi contoh-contoh dan perincian-perincian yang menjelaskan dari prinsip-prinsip umum tersebut. Metode perbandingan dapat digunakan pada pengajaran sains dan pelajaran-pelajaran yang mengandung prinsip-prinsip, hukum-hukum, dan fakta-fakta umum yang dibawahnya termasuk bagian-bagian dan masalah cabang. Dapat juga dipakai dalam mengajarkan bahasa, baik sastra atau nahu, sejarah, saraf dan lain-lain.

Pendidik-pendidik dan para ulama-ulama Islam sudah banyak menggunakan metode perbandingan dalam pengajaran, perbincangan dan dalam usaha membuktikan kebenaran fikiran dan kepercayaan mereka pada karya-karyanya. Terutama sesudah mereka berhubungan dengan logika Aristoteles, yang pertama kali merupakan logika perbandingan.

c         Metode Kuliah

Metode kuliah adalah metode yang menyatakan bahwa mengajar menyiapkan pelajaran dan kuliahnya, mencatatkan perkara-perkara penting yang ingin dibicarakannya. Ia memulai kuliahnya dengan mengutarakan sepintas lalu tentang perkara-perkara penting yang ingin dibicarakan. Kemudian menjelaskan dengan terperinci tentang perkara-perkara yang disimpulkannya pada permulaan kuliahnya. Pelajar-pelajar mengikuti dengan mendengar dan mencatat apa yang difahami dari kuliah itu, untuk dipelajari sekali lagi dengan cara masing-masing.

Pendidik-pendidik Islam mengenal metode ini, sebagaimana juga mereka telah mengenal dua metode sebelumnya. Mereka menggunakannya dalam pengajaran, bimbingan, dan dakwah kepada jalan Allah. Mereka telah meletakkan dasar-dasar, prinsip-prinsip dan syarat-syarat yang menjamin kejayaannya sebagai metode mengajar dakwah.

d         Metode Dialog dan Perbincangan

Metode Dialog adalah metode yang berdasarkan pada dialog, perbincangan melalui tanya jawab untuk sampai kepada fakta yang tidak dapat diragukan, dikeritik dan dibantah lagi. Ahli-ahli pendidikan Islam telah mengenal metode dialog yang dianggap oleh pendidik-pendidik modern berasal dari filosof Yunani Socrates, kemudian mereka kembangkan sesuai dengan tabiat agama dan ahlaknya. Dan atas itulah didasarkan metode perdebatan yang betul-betul merupakan salah satu ciri-ciri khas pendidikan Islam.

e         Metode Lingkaran

Pada metode ini, yang terus menerus dipergunakan pada yayasan-yayasan pendidikan dalam dunia Islam semenjak bermulanya dakwah Islamiyah. Pelajar-pelajar mengelilingi guru-gurunya dalam setengah bulatan untuk mendengarkan syarahnya. Kalau guru itu duduk, ia duduk  bersandar pada sebuah tiang di Mesjid menghadap kiblat. Sebagian ulama mengkhususkan tiang-tiang tertentu yang dijadikan majlisnya sepanjang hidupnya. Kalau seorang guru telah memilih tempat tertentu untuk tempat pengajarannya maka biasanya beliaulah mendapat keutamaan untuk menempati tempat tersebut

Guru-guru yang memasuki halaqah pelajaran harus telah berwudu’ dan berbau harum dan dalam bentuk pakaian yang baik dan dengan khusu’ kepada Allah, terutama pada pelajaran tafsir dan hadits. Guru memulai pelajaran dengan membaca Bismillah, dengan memuji kepada Allah dan mengucapkan salawat kepada Nabi SAW. Kemudian barulah dia memulai pelajarannya. Sehingga bila ia selesai ditutupnya dengan membaca al-Fatihah kemudian  murid-muridnya disuruh untuk membaca pelajaran yang akan datang.

f           Metode Riwayat

Metode ini dianggap salah satu metode dasar yang digunakan oleh pendidik Islam. Hadits, bahasa dan sastera Arab termasuk ilmu-ilmu Islam, dan segi-segi pemikiran Islam yang paling banyak menggunakan metode ini. Tentang hadits Nabi, sahabat-sahabat Nabi SAW meriwayatkan apa yang didengarnya dari beliau tentang hukum-hukum petunjuk, atau pekerjaan-pekerjaan dan keadaan disaksikan dan dilaksanakan.

g         Metode Mendengar

Metode ini dilakukan dengan cara mendengarkan sesuatu. Metode ini banyak digunakan pada abad pertama dakwah Islamiyah, karena pada saat itu tulisan dan pembacaan belum tersebar luas dimasyarakat. Dan juga karena para ahli pada abad itu tidak senang menulis apa yang diriwayatkannya sebab kawatir kalau tulisan itu akan serupa dengan al-Qur’an.

h         Metode Membaca

Metode ini merupakan alat yang digunakan dalam mengajarkan dan meriwayatkan karya ilmiah yang biasanya bukan karya guru sendiri. Menurut metode ini murid membacakan apa yang dihafalnya kepada gurunya atau orang lain membacanya sedang dia mendengar.

Metode ini tersebar setelah pintu ijtihad didunia Islam telah tertutup, dan pengajaran terbatas hanya pada mengikuti buku-buku tertentu yang berkisar dari situ ke situ saja, tidak boleh melampuinya. Segala usaha hanya tertumpu pada membaca, manghafal dan mengulang-ulang kata-kata orang dahulu.

i           Metode Imla’

Metode Imla’ adalah metode mencatat apa yang didengarnya. Misalnya seorang guru membacakan sebuah naskah kemudian murid-muridnya mencatat setiap kata yang didengarnya. Metode ini pernah digunakan pada saat memberikan imla’ dalam hadits seperti yang dilakukan oleh Al-Sayuti pada tahun 873 H. dan metode ini juga digunakan pada pelajaran bahasa Arab.

j           Metode Hafalan

Metode hafalan adalah salah satu metode yang terpusat pada hafalan. Ulama-ulama terdahulu banyak yang menggunakan metode ini untuk mengahafal al-Qur’an dan al-Hadits. Karena pada saat itu sedikit sekali yang mengerti tentang tulis menulis. Metode hafalan ini masih digunakan sampai sekarang, karena terbukti bisa meningkatkan pemikiran.

k         Metode Pemahaman

Metode pemahaman adalah memahami suatu wacana yang sedang dikaji. Metode ini sangat penting dalam pendidikan Islam, karena dengan memahami sebuah tulisan kita bisa mengerti maksud dibalik tulisan itu. Banyak dari kalangan kita yang hanya membaca sebuah buku tetapi sulit untuk memahaminya. Karena metode ini memerlukan pemikiran yang lebih dibandingkan dengan metode yang lainnya.

l           Metode Lawatan Untuk Menuntut Ilmu

Metode lawatan adalah berkunjung kesuatu tempat untuk mencari ilmu atau biasa disebut dengan Studi Banding. Pada saat ini studi banding banyak dipraktekkan dalam lingkungan pendidikan dari TK, SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi, bahkan instansi pemerintah maupun swasta. Hal ini didasarkan pada manfaat yang diperoleh dari metode ini. Dengan metode ini kita akan mempunyai banyak teman, mendapat ilmu, dan memperoleh pengalaman yang sebelumnya tidak kita dapatkan ditempat kita belajar.Para ulama kita pada zaman dahulu banyak yang menggunakan metode ini untuk mencari ilmu, menyebar luaskan Islam.

2.             Menurut Abdurrahman Saleh Abdullah.[17]

Abdurrahman mengemukakan beberapa metode pendidikan, yaitu:

  1. Metode ceramah, yaitu suatu metode yang dilakukan dengan cara penyampaian pengertian-pengertian bahan pembelajaran kepada pelajar dengan jalan penerangan atau penuturan secara lisan. Tujuan yang hendak dicapai dari metode ini adalah untuk memberikan dorongan psikologis kepada peserta didik.
  2. Metode Diskusi, yaitu suatu sistem pembelajaran yang dilakukan dengan cara berdiskusi. Dalam metode ini pertanyaan yang diajukan mengandung suatu masalah dan tidak bisa diselesaikan hanya dengan satu jawaban saja. Jawaban yang terdiri dari berbagai kemungkinan, memerlukan pemikiran yang saling menunjang dari peserta diskusi, untuk sampai pada jawaban akhir yang disetujui sebagai jawaban yang paling benar atau terbaik.
  3. tanya jawab dan dialog, yaitu penyampaian pembelajaran dengan guru mengajukan pertanyaan dan pelajar atau siswa menjawabnya atau berdialog dengan cara saling bertukar fikiran. Metode ini secara murni tidak diawali dengan ceramah, tetapi murid sebelumnya sudah diberi tugas, membaca materi pelajaran tertentu dari sebuah buku.

Teknik ini akan membawa kepada penarikan deduksi. Dalam pendidikan, deduksi merupakan suatu metode pemikiran logis yang sangat bermanfaat. Formulasi dari suatu metode umum diluar fakta ternyata lebih berguna sebab peserta didik akan dapat membandingkan dan menyusun konsep-konsep.

  1. d. Metode perumpamaan atau Metafora. Penjelasan konsep-konsep abstrak dengan makna-makna kongkrit memberi gambaran yang jelas bagi peserta didik. Perumpamaan disini adalah perumpamaan yang terdapat dalam al-Qur’an. Seperti yang terdapat dalam Surat Ankabut ayat 41, yang artinya: perumpamaan-perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah, padahal sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba kalau mereka mengetahuit (Ankabut 41)
  2. Metode hukuman, yaitu metode yang dilakukan dengan memberikan hukuman kepada peserta didik. Hukuman merupakan metode paling buruk dari metode yang lainnya, tetapi dalam kondisi tertentu harus digunakan.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam metode ini adalah: hukuman adalah metode kuratif artinya tujuan hukuman untuk memperbaiki peserta didik dan bukan untuk balas dendam, hukuman baru digunakan apabila metode yang lainnya tidak berhasil, sebelum dijatuhi hukuman peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk memperbaiki dirinya, hukuman yang dijatuhkan kepada peserta didik, hendaknya dapat dimengerti oleh peserta didik, sehingga ia sadar akan kesalahannya.

3.             Menurut Abd al-Rahman al-Nahlawi[18]

Al-Nahwali mengemukakan metode pendidikan yang berdasarkan Metode Qur’an dan Hadits yang dapat menyentuh perasaan yaitu:

  1. Metode Hiwar (percakapan) Qur’ani dan Nabawi, adalah percakapan silih berganti antara dua pihak atau lebih mengenai suatu topik, dan sengaja diarahkan kepada suatu tujuan yang dikehendaki oleh pendidik.

Jenis-jenis hiwar ini ada 5 macam, yaitu:  (1) Hiwar Khitabi, merupakan dialog yang diambil dari dialog antara Tuhan dengan hamba-Nya. (2) Hiwar Washfi, yaitu dialog antara Tuhan dengan malaikat atau dengan makhluk gaib lainnya. Seperti dalam surat Ash-Shaffat ayat 27-28[19] Allah SWT berdialog dengan malaikat tentang orang-orang zalim. (3) Hiwar Qishashi terdapat dalam al-Qur’an, yang baik bentuk maupun rangkaian ceritanya sangat jelas, merupakan bagian dari Uslub kisah dalam Al-Qur’an. Seperti Syuaib dan kaumnya yang terdapat dalam Surat Hud ayat 84-85. (4) Hiwar Jadali adalah hiwar yang bertujuan untuk memantapkan hujjah atau alasan baik dalam rangka menegakkan kebenaran maupun menolak kebatilan. Contohnya dalam al-Qur’an terdapat dalam Surat An-Najm ayat 1-5. (5) Hiwar Nabawi adalah hiwar yang digunakan oleh Nabi dalam mendidik sahabat-sahabatnya.

  1. Metode Kisah Qur’ani dan Nabawi, adalah penyajian bahan pembelajaran yang menampilkan cerita-cerita yang terdapat dalam al-Qur’an dan Hadits Nabi SAW. Kisah Qur’ani bukan semata-mata karya seni yang indah, tetapi juga suatu cara mendidik umat agar beriman kepada-Nya, dan dalam pendidikan Islam, Kisah sebagai metode pendidikan yang sangat penting, karena dapat menyentuh hati manusia.
  2. Metode Amtsal (perumpamaan) Qur’ani, adalah penyajian bahan pembelajaran dengan mengangkat perumpamaan yang ada dalam al-Qur’an. Metode ini mempermudah peserta didik dalam memahami konsep yang abstrak, ini terjadi karena perumpamaan itu mengambil benda konkrit seperti kelemahan Tuhan orang kafir yang diumpamakan dengan sarang laba-laba, dimana sarang laba-laba itu memang lemah sekali disentuh dengan lidipun dapat rusak. Metode ini sama seperti yang disampaikan oleh  Abdurrahman Saleh Abdullah.
  3. Metode keteladanan, adalah memberikan teladan atau contoh yang baik kepada peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Metode ini merupakan pedoman untuk bertindak dalam merealisasikan tujuan pendidik. Pelajar cenderung meneladani pendidiknya, ini dilakukan oleh semua ahli pendidikan, baik di barat maupun di timur. Dasarnya karena secara psikologis pelajar memang senang meniru, tidak saja yang baik, tetapi yang tidak baik juga ditiru.
  4. Metode Pembiasaan, adalah membiasakan seorang peserta didik untuk melakukan sesuatu sejak dia lahir. Inti dari pembiasaan ini adalah pengulangan, jadi sesuatu yang dilakukan peserta didik hari ini akan diulang keesokan harinya dan begitu seterusnya.
  5. Metode Ibrah dan Mau’izah. Metode Ibrah adalah penyajian bahan pembelajaran yang bertujuan melatih daya nalar pembelajar dalam menangkap makna terselubung dari suatu pernyataan atau suatu kondisi psikis yang menyampaikan manusia kepada intisari sesuatu yang disaksikan, yang dihadapi dengan menggunakan nalar. Sedangkan metode Mau’izah adalah pemberian motivasi dengan menggunakan keuntungan dan kerugian dalam melakukan perbuatan
  6. Metode Targhib dan Tarhib. Metode Targhib adalah penyajian pembelajaran dalam konteks kebahagian hidup akhirat. Targhib berarti janji Allah terhadap kesenangan, kenikmatan akhirat yang disertai bujukan. Tarhib adalah penyajian bahan pembelajaran dalam konteks hukuman akibat perbuatan dosa yang dilakukan. Atau ancaman Allah karena dosa yang dilakukan.

Demikianlah beberapa hal yang dapat kami paparkan dalam makalah ini. Semoga dengan hadirnya makalah ini bisa membuka wacana berfikir kita dalam mengembangkan pendidikan kearah yang lebih baik dimasa depan.

Kesimpulan

Dari uraian singkat diatas dapat kami simpulkan beberapa hal, yaitu ternyata dalam dunia pendidikan memiliki banyak metode pendidikan. Karena dalam pendidikan seorang pendidikan tidak hanya mengenal satu karakter orang saja tetapi banyak karakter, hal ini menyebabkan ketika pendidik sedang mengajar akan menghadapi masalah yang berbeda-beda. Disamping itu metode pendidikan merupakan jembatan yang bisa menghubungkan pendidik dengan peserta didik, seandainya metode ini tidak ada pendidik akan kesulitan dalam menerapkan kurikulum dan tujuan yang ingin dicapainya.

Metode pendidikan sangat penting dalam dunia pendidikan, untuk itu setiap pendidik hendaknya mengetahui tentang metode pendidikan. Bukan saja secara formal tetapi yang tidak formalpun harus diketahui. Banyak para ahli pendidikan dahulu maupun sekarang memformulasikan metode pendidikan, tetapi pada kenyataannya memilki satu tujuan yaitu membentuk manusia yang terdidik.

Mungkin hanya itu yang dapat kami simpulkan dari beberapa uraian diatas. semoga bermanfaat bagi kita semua, khususnya generasi muda yang akan terjun dimasyarakat tentunya harus mempunyai bekal yang matang dan baik.

Daftar Pustaka

Al-Syaibany, Omar Mohammad Al-Thoumy, Falsafah Pendidikan Islam,  Terjemahan Hasan Lalunggung, Jakarta:Bulan Bintang, 1979

Arifin, H. M, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bina Aksara, 1987

Barnadib, Imam, Filsafat Pendidikan, Sistem dan Metode, Yogyakarta: Yayasan Penerbitan IKIP Yogyakarta, cet. Ke-6, 1990

Jalaluddin dan Usman Said, Filsafat Pendidikan Islam, Konsep dan Perkembangan pemikirannya, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1994

Nata, H. Abudin, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997

Noor Syam, Mohammad, Falsafah Pendidikan Pancasila, Surabaya: Usaha Nasional, 1986

Nizar, H. Samsul, Filsafat Pendidikan Islam, Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis, Jakarta: Ciputat Pers, 2002

Nawawi, H. Hadari, Pendidikan Dalam Islam, Surabaya: Al-Iklas, 1993

Mulkhan, Abdul Munir, Paradigma Intelektual, Yogyakarta: SI Pers, 1993

Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia, 2002

Tadjab, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Malang: Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel, 1984

Zuhairini, Dkk, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara kerkasama dengan Depag, 1992



[1] M. Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bina Aksara, 1987), 97.

[2] Mohammad Noor Syam, Falsafah Pendidikan Pancasila, (Surabaya: Usaha Nasional, 1986), 24.

[3] Imam Barnadib, Filsafat Pendidikan, Sistem dan Metode, (Yogyakarta: Yayasan Penerbitan IKIP Yogyakarta, cet. Ke-6, 1990), 85.

[4] Abudin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997), 91.

[5] Ibid. 92.

[6] Jalaluddin dan Usman Said, Filsafat Pendidikan Islam, Konsep dan Perkembangan pemikirannya, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1994), 52-53.

[7] Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002),  67.

[8] M. Arifin, Ibid, 12-13.

[9] Tadjab, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, (Malang: Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel, 1984), 39.

[10] Samsul Nizar, Ibid, 32.

[11] Omar Mohammad Al-Thoumy Al-Syaibany, Falsafah Pendidikan Islam,  Terjemahan Hasan Lalunggung, (Jakarta:Bulan Bintang, 1979),  553.

[12] Mulkhan, Abdul Munir, Paradigma Intelektual, (Yogyakarta: SI Pers, 1993).

[13] M. Arifin, Ibid. 61.

[14] Omar Mohammad Al-Thoumy Al-Syaibany, Ibid, 586.

[15] Samsul Nizar, ibid, 68-69.

[16] Omar Mohammad Al-Thoumy Al-Syaibany, Ibid, 561.

[17] Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2002), 168.

[18] Ramayulis, Ibid, 167.

[19] lihat terjemahan al-Qur’an


BAB I

PENDAHULUAN

A.            Latar Belakang

Kalau kita bisa melihat, tokoh yang paling berperan dalam agama Masehi sejak semula perkembangannya yang ajarannya menyeleweng dari ajaran Nabi Isa adalah Paulus. Bahkan apa yang dinamakan agama Masehi itu lebih tepat dinamakan Paulisme (Agama Paulus).

Paulus telah melakukan peranannya dengan baik dalam agama ini, sehingga bisa memasukkan semua ajarannya yang bersumber dari surat-suratnya kedalam ajaran agama Masehi. Dan sekarang semuanya terwujud, semua doktrin-doktrin yang dipakai dalam agama Masehi telah menggunakan doktrin dari Paulus. Apa sajakah doktrin dari Paulus tersebut ini akan kita bahas dalam makalah ini, dan juga akan kita bahas pula siapakah Paulus ini, kemudian bagaimana ia bisa masuk dalam agama Masehi.

Selanjutnya kita juga akan membahas perbedaan yang terdapat dalam agama Masehi tentang ajaran-ajaran Paulus dan ajaran yang di bawa Nabi Isa. Dimana kita akan mengutip beberapa kesepakatan para ulama barat yang menyimpulkan tentang adanya perbedaan ajaran tersebut. Ajaran-ajaran Paulus telah banyak mendominasi kegiatan keagamaan di lingkungan umat Masehi.

Tujuannya adalah agar kita bisa memahami ajaran-ajaran dari agama Masehi yang telah terkontaminasi oleh ajaran yang di bawa oleh Paulus, dan juga untuk menambah keilmuan kita dalam membandingkan setiap agama dengan agama lainnya. Diharapkan dengan adanya tulisan ini setiap pembaca akan lebih membuka diri, artinya tidak saja fanatik dengan agama sendiri dan menyalahkan agama lain tetapi kita lihat agama lain jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A. Asal-Usul Paulus

Paulus merupakan tokoh penting dalam agama Masehi di samping Yesus. karena sepeninggal Yesus, Pauslah yang sangat berperan dalam membentuk ajaran agama Masehi. Padahal ajaran Paulus itu banyak sekali yang menyimpang dari ajaran yang asli yang diajarkan Nabi Isa (Yesus) terjadi semenjak Paulus ini cukup besar. [1]

Nama asli dari Paulus adalah Saul, lahir di negeri Tarsus wilayah Kilikia di Asia kecil[2]. Paulus lahir kira-kira dua tahun Sebelum Masehi. Karena Nabi Isa lahir tahun 6 Sebelum Masehi, maka Paulus kira-kira 8 tahun lebih muda dari Nabi Isa.[3] Paulus adalah nama latin dari Saul.

Ayahnya berasal dari suku Benyamin dan masuk golongan Yahudi peranakan, tetapi di negeri asing melakukan hukum Taurat dengan cermatnya. Pada zaman Paulus kota Tarsus merupakan kota dagang yang penting dan ramai menjadi kota pelintasan dari Timur ke Eropa (Roma) pulang pergi. Pada masa itu di kota Tarsus terdapat sebuah Perguruan Yunani, sejumlah candi dewa-dewa, gedung komedi dan tempat-tempat hiburan lainnya yang disukai orang-orang Yunani.[4]

Oleh ayahnya, Saulus (Paulus) dimasukkan ke sekolah “Synagoge” dan disanalah ia mempelajari sejarah bangsanya.[5] Dalam Kisah Rasul-Rasul dijelaskan bahwa Paulus setelah menginjak dewasa dikirim oleh ayahnya untuk belajar kepada para Rabbi di Yerussalem untuk belajar agama Yahudi.[6] Sejak muda Paulus sangat tertarik pada kebudayaan Yunani (Hellenisme) terutama pelajaran filsafatnya. Dengan demikian terkumpul pada dirinya dua pengaruh, pertama pengaruh didikan hukum Taurat yang kuat dari keluarganya dan kedua pengaruh kebudayaan Yunani yang mempengaruhi masyarakat pada masa itu. Mengenai ajarannya Paulus juga berguru pada Gamalil, seorang Ulama Yunani yang amat terkenal di Yerusalem.

Paulus bukan orang Nazaret dan bukan pula orang Yerusalem, jadi bukan orang yang sejak muda segera dapat dengan lingkungan Nabi Isa. Paulus bukanlah murid dari Nabi Isa dan juga bukan pengikutnya baik di Yerusalem atau di Nazaret. Dia belum pernah berhadapan muka dengan Nabi Isa, walaupun ada kemungkinan dia pernah melihatnya dari jauh. Malahan Paulus merupakan Musuh dari pengikut-pengikut Nabi Isa dan bertindak kejam sekali. Dia mengambil peranan penting dalam menganiaya orang-orang Nasrani yang pertama. Banyak orang Nasrani yang dipenjarakannya, dianiaya didalam rumah sembahyang dan dipaksanya mereka untuk menentang Nabi Isa. Dia menyetujui pembunuhan terhadap orang-orang Nasrani.[7]

Paulus hingga mati tidak pernah kawin dan kondisi badannya kurang sehat sehingga sering mengganggu tablighnya. Tetapi ia adalah seorang pembicara yang baik sekali, apalagi ditambah pengetahuannya yang dalam tentang agama-agama Hellenisme.[8]

B.            Masuknya Paulus Dalam Agama Masehi

Mengenai masuknya Saulus ke dalam agama Masehi, Lukas berkata: “waktu Saul (Paulus) berada dekat Damaskus, tiba-tiba memancar disekitarnya cahaya dari  langit turun ke bumi dan ia mendengar suara berkata kepadanya: “Saul-Saul apakah sebabnya engkau aniaya aku? Maka sahutnya: “Siapakah Engkau? Ya Tuhan? “maka iapun berkata “akulah Yesus yang engkau aniayakan”.[9]

Ia berkata dengan gemetar dan kagum. Hai Tuhan apakah yang akan engkau perbuat? Maka Tuhan berkata kepadanya: “Bangunlah dan berpeganglah pada agama Masehi”. Lukas berkata pada akhir ceritanya sebuah kata yang berarti, yang mengubah muka sejarah itu: “Semenjak itu ia menyebarkan di dalam pergaulannya tentang Al-Masih dan mengajarkan bahwa Al-Masih anak Tuhan.”[10]

Tetapi disamping cerita dari Lukas diatas, banyak penyelidik berpendapat bahwa permusuhan Paulus terhadap agama Masehi jelas mendesaknya dan menyebabkan masuknya ia ke dalam agama tersebut. Kemudian Paulus memeranginya dengan senjata, yaitu senjata yang meruntuhkan dari dalam dengan merusak lambang-lambang dan menghapus corak-corak agama tersebut. Dia memasuki agama ini pada lehernya hanyalah untuk dipergunakan sebagai senjata penikam.[11]Dengan cerdiknya Paulus telah banyak merubah segala ajaran umat Masehi, menjadi agama yang jelas bertentangan dengan ajaran yang disampaikan oleh Nabi Isa.

Perbuatan yang semacam itu banyak sekali terjadi dalam sejarah agama-agama. Dalam agama Islam pun kejadian serupa itu pernah terjadi pada Abdullah bin Saba’, sebagai orang yang pertama memeluk agama Yahudi, ia akan mengembangkan ajaran perintisan Tuhan pada diri Sayyidina Ali (dan menjadi inti kepercayaan Syi’ah). Namun pikiran-pikiran Abdullah bin Syaba’ tidak dapat hidup dan tumbuh seperti hidup dan tumbuhnya pikiran Paulus karena al-Qur’an dihafalkan dan ditulis, dan al-Qur’an itu adalah penjaga yang sebaik-baiknya bagi agama Islam. Lain halnya dengan Injil, Yesus yang telah hilang di dalam pergolakan. Oleh karena itu, tidak ada yang melindungi agama Masehi dari pukulan-pukulan yang kejam yang ditujukan kepadanya oleh musuh-musuhnya dari dalam dan dari luar. Oleh karena itu pula robohlah agama Masehi Yesus dan berdirilah di atas runtuhan itu agama Masehi Paulus.[12]

C.            Ajaran-Ajaran Paulus

Sudah dijelaskan bahwa ajaran agama Masehi yang sekarang bukanlah murni ajaran yang sebenarnya dari Nabi Isa (Yesus). Banyak sekali penyimpangan-penyimpangan yang terjadi, khususnya tentang ajaran-ajarannya. Dan untuk mengetahui ajaran-ajaran Paulus kita dapat melihatnya pada kalimat-kalimat suratnya. Karena sumber utama ajaran-ajaran yang disampaikan Paulus di tulis dalam bentuk surat-surat. Berikut adalah beberapa kutipan dari surat-surat Paulus yang dijadikan sebuah ajaran dalam agama Masehi, yaitu:[13]

Rum 3: 9, 10, 11, 12

Sekarang bagaimanakah? Adakah kita orang Yahudi yang menaruh suatu kelebihan? Sekali-kali tidak, karena dahulu kami sudah menyalahkan orang yahudi dan juga orang Gerika, bahwa mereka itu sekalian tertakluk kebawah dosa.

“Seperti yang tersurat demikian ini: “Bahwa tiadalah seorang yang benar, bahkan, seorangpun tiada.”

“Tiada seorang yang berakal tiadalah seorang yang menuntut akan Allah.”

“Sekalian mereka itu sudah menyimpang kelain, sekalilannya itu menjadi sia-sia, tiadalah seorang yang berbuat kebajikan bahkan seorangpun tidak.”

Rum 3: 20-24

“Karena dengan melakukan hukum Taurat tiada seorangpun dibenarkan, sebab dari dalam Taurat itu datang pengenalnya dosa saja.”

“Tetapi sekarang dengan tiada ber-Taurat sudah dinyatakan kebenaran Allah, yang disaksikan oleh Taurat Nabi-nabi.”

“Yaitu kebenaran Allah oleh sebab iman kepada Yesus Kristus untuk sekalian orang yang percaya: karena tiada perbedaan.”

“Sebab sekalian sudah berbuat dosa dan kurang kemuliaan Allah.”

“Serta dibenarkan cara karunia sahaja, dengan anugerah Allah, oleh sebab penebusan yang ada didalam Yesus Kristus.”

Rum 3: 28, 29, 30

“Sebab itu kami sifatkan bahwa orang dibenarkan oleh iman bukan dengan melakukan syari’at Taurat.”

“Atau adalah Allah itu Tuhan orang Yahudi sahaja? Bukankah ia itu Tuhan orang kafir juga? Bahkan, untuk orang kafir itu juga.”

“Karena Allah itu memang Esa, yang akan membenarkan orang yang bersunat dari sebab iman dan orang yang tiada bersunat itupun oleh sebab iman.”

Rum 5: 8, 9, 10, 12 dan 18

“Tetapi Allah sudah menyatakan kasihnya kepada kita didalam hal Kristus telah mati karena kita, tatkala kita ditaklukkan oleh dosa.”

“Sedangkan sekarang kita dibenarkan oleh darahnya, maka terlebih lagi kita akan beroleh selamat daripada kemurkaan dengan jalan Dia.”

“Karena jikalau kita, tatkala lagi seteru Allah, diperdamaikan dengan Allah oleh sebab kematian anaknya, maka terlebih pula kita, sesudah diperdamaikan itu, akan beroleh selamat oleh sebab hidupnya.”

“Sebab ini sebagaimana oleh sebab seorang maka dosa sudah masuk kedalam dunia ini, dan maut oleh sebab dosa, dan atas peri demikian maut itu menimpa sekalian manusia, maka karena itulah sekaliannya berbuat dosa.”

“Sebab itu, sebagaimana oleh sebab satu dosa sekalian manusia terkena hukum begitulah oleh sebab satu perbuatan yang benar itu, sekalian manusia dibenarkan, supaya beroleh hidup.”

Rum 8: 14, 16, 17, 29

“Karena sebarapa banyak orang yang dipimpin oleh Roh Allah, Maka itulah Anak-anak Allah.”

“Maka Roh itu sendiri menyaksikan beserta dengan roh kita, bahwa kita ini anak-anak Allah.

“Tetapi jikalau anak-anak, maka warislah juga yaitu waris Allah dan sewaris dengan Kristus jikalau kita sama merasa sengsara dengan Dia, supaya sama juga kita dipermuliakan.”

“Karena orang yang dikenalnya terdahulu, ia itu juga ditetapkannya terdahulu akan menjadi serupa dengan teladan Anaknya, supaya Ia itu menjadi anak sulung diantara beberapa banyak saudara.”

I Korintus 1: 1, 9 dan 12: 12, 13

“Daripada Paulus, yang dengan kehendak Allah dipanggil menjadi rasul Kristus Yesus, dan Sostenes, saudara kita.”

“Maka Allah itu setiawan, yang sudah memanggil kamu masuk ke dalam persekutuan Anaknya, Yesus Kristus, Tuhan kita.”

“Karena sebagaimana tubuh itu satu dan anggotanya banyak dan segala anggota tubuh itu, meskipun banyak, menjadi satu tubuh demikianlah juga Kristus.”

“Karena di dalam Satu Roh juga kita sekalian sudah dibaptiskan menjadi satu tubuh, baik orang Gerika, baik abadi, baik orang yang merdeka, maka kita sekalian diisikan Roh yang Satu juga.”

Galatia 1: 1-4, 6-8, 11-13, dan 15-16

“Daripada Paulus, seorang Rasul (bukannya daripada manusia, dan bukan pula dengan jalan seorang manusia, melainkan yang ditetapkan oleh Yesus Kristus serta Allah Bapa, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati).”

“serta dengan segala saudara yang ada beserta kepada segala sidang jum’at di Galatia.”

“Turunlah kiranya atas kamu anugrah dan sejahtera daripada Allah Bapa kita, dan Tuhan Yesus Kristus.”

“Yang telah menyerahkan Dirinya karena dosa kita, supaya dapat melepaskan kita daripada dunia yang jahat ini menurut kehendak Allah, yaitu Bapa kita.”

“Aku heran bahwa kamu sebegitu lekas berpaling daripada Dia, yang memanggil kami di dalam anugrah Kristus kepada suatu Injil yang berlainan.”

“Padahal yang lain itu bukan Injil, tetapi ada setengah orang yang mengherankan kamu dan yang hendak menyungsangkan Injil yang berlainan.”

“Tetapi jikalau kami ini atau seorang malaikat dari surga sekalipun akan memberikan kepAdamu Injil lain daripada yang telah kami beritakan kepAdamu biarlah ia terlaknat.”

“Karena memaklumkan kepAdamu, hai saudara-saudaraku bahwa Injil yang telah kuberitahukan itu bukanlah pendapat manusia.”

“Karena bukannya aku ini sudah menerima dia daripada manusia, dan bukannya pula ia itu kupelajari melainkan oleh wahyu daripada Yesus Kristus.”

“Karena kamu sudah mendengar hal kehidupanku yang dahulu di dalam agama Yahudi bahwa aku terlampau sangat menganiayakan sidang jum’at Allah serta membinasakan dia.”

“Tetapi tatkala sudah dikehendaki Allah, yang memilih aku daripada rahim ibuku dan memanggil aku dengan anugrahnya itu.”

“Menyatakan Anaknya di dalam aku, supaya aku memberikan Dia diantara orang kafir maka sebentar itu juga tiada aku bermasyarakat dengan seorang  jua pun.”

Galatia 2: 1-21

“Selang empat belas tahun kemudian daripada itu naiklah aku pula ke Yerusalem dengan Barnabas sambil membawa Titus besertaku.”

“Adapun aku naik itu dengan ilhan lalu kubentangkan di hadapan mereka itu Injil yang kuberikan di antara orang kafir itu, tetapi terutama sekali kepada segala orang yang terbilang, supaya jangan sia-sia pekerjaanku yuang sekarang ini ataupun yang sudah-sudah itu.”

“Sungguhpun Titus, yang beserta aku, itu bangsa Gerika, tetapi tiada juga ia dipaksa akan bersunat.”

“Oleh karena segala saudara palsu yang dibawa masuk dengan sembunyi, yaitu yang telah datang dengan bersembunyi, mengintip kebebasan kami, yang kami peroleh di dalam Yesus Kristus, supaya mereka itu membawa kami masuk ke dalam perhambaan.”

“Maka seketika pun tiada kami takluk kepada mereka itu, supaya kebenaran Injil itu tinggal tetap kepAdamu.”

“Tetapi daripada orang yang di katakan terbilang itu, (sebagaimana besar pun tiada menjadi perbedaan kepadaku, sebab Allah tiada membedakan orang atas rupanya), karena orang yang terbilang tiada melatakkan atasku suatu hukum pun.”

“Tetapi pada sebaliknya, tatkala mereka itu tampak, bahwa sudah diamanatkan kepadaku pemberitaan Injil bagi orang yang tiada bersunat itu: sama seperti kepada Petrus bagi orang yang bersunat itu.”

“(Karena Tuhan, yang melakukan kuasa di dalam Petrus atas jawaban rasul bagi orang yang bersunat, ialah juga melakukan kuasanya di dalam aku kepada orang kafir).”

“Maka tatkala mereka itu sudah tampak anugrah yang telah dikaruniakan kepadaku itu, lalu Yakub dan Kepas dan Yahya, yang dibilangkan menjadi tiang itu pun berjabat tangan dengan aku dengan aku dan Barnabas sebagai tanda persekutuan, supaya kami ini pergi kepada orang kafir, tetapi mereka itu pergi kepada orang yang bersunat.”

“Hanya kehendak mereka itu supaya kami ingat akan orang-orang miskin itu, maka itulah barang yang aku memang rajin mengerjakannya.”

“Tetapi tatkala Kepas itu tiba di Antiokia, lalu aku melawan dia di hadapan orang, sebab ia berdiri di atas yang salah.”

“Karena dahulu daripada datang beberapa orang daripada pihak Yakub, ia sudah makan bersama-sama orang kafir, tetapi tatkala mereka itu tiba, ia pun undur dan mengasingkan dirinya, sebab takut akan orang yang bersunat itu.”

“Dan orang-orang Yahudi yang lain itu pun sama berpura-pura dengan dia sehingga Barnabas pun disesatkan oleh pura-puranya itu.”

“Tetapi apabila aku tampak bahwa kelakuan mereka itu tiada betul menurut kebenaran Injil, maka kukatakan kepada Kepas di hadapan orang sekalian: “Jikalau seorang Yahudi, hidup cara orang kafir dan bukan cara orang Yahudi, bagaimanakah engkau memaksa orang kafir itu hidup cara Yahudi?”

“Bahwa asal kota ini Yahudi, dan bukannya orang-orang berdosa dari antara orang kafir.”

“Tetapi kami mengetahui bahwa tiada seorang dibenarkan oleh sebab melakukan hukum Taurat, melainkan oleh sebab imam kepada Kristus Yesus, demikianlah kita ini sudah percaya akan Kristus Yesus, supaya kita dibenarkan oleh sebab imam kepada Kristus dan bukannya oleh sebab melakukan hukum Taurat karena dengan melakukan hukum Taurat itu seorang pun tiada dibenarkan.”

“Tetapi jikalau kita sendiri, sedang mencari jalan hendak dibenarkan di dalam Kristus, nyata menjadi berdosa, adalah Kristus itu pelayan dosa?”

“karena jikalau aku membangunkan pula barang yang telah aku rasakan itu, niscaya nyatalah aku menjadi pelanggar hukum.”

“Karena oleh sebab hukum Taurat  aku ini mati lepas daripada hukum Taurat, supaya aku hidup kepada Allah. Aku sudah tersalib serta dengan Kristus.”

“Adapun hidupku ini bukannya aku lagi, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku, tetapi hidup yang sekarang aku hidup di dalam tubuh ini, aku hidup di dalam iman kepada Anak Allah, yang mengasihi aku dan yang menyerahkan Dirinya karena aku.”

“Maka tiadalah aku menolah anugrah Allah, karena jikalau kebenaran itu datang dengan jalan Taurat, maka Kristus mati itu sia-sialah saja.”

Galatia 3: 24, 25, 26

“Dengan hal yang demikian syariat Taurat itu sudah menjadi suatu pelatih yang membawa kita kepada Kristus, supaya kita dibenarkan oleh sebab iman.”

“Tetapi setelah datang iman itu, maka tiadalah lagi kita di bawah perintah pelatih itu.”

“Karena kamu sekalian anak-anak Allah oleh sebab itu iman kepada Kristus Yesus.”

Itulah beberapa kutipan surat-surat Paulus yang sekarang menjadi pedoman umat agama Masehi. Surat-surat Paulus tersebut sekarang telah dicantumkan dalam kitab Perjanjian Baru, dan sebagian besar isi dari Perjanjian Baru tersebut adalah merupakan surat-surat Paulus. Terbukti dalam Perjanjian Baru (Kisah Rasul-Rasul) banyak menceritakan tentang Paulus, walaupun Paulus sebenarnya bukanlah seorang  Rasul.

Dari beberapa kutipan surat-surat Paulus diatas, ringkasnya ada 4 macam ajaran yang ada dalam surat Paulus, yaitu:

1)       Agama masehi bukan untuk orang Yahudi atau Israel saja, tetapi untuk seluruh bangsa.

2)       Trinitas (Tritunggal), tiga Tuhan dalam satu termasuk ketuhanan Al-Masih dan ketuhanan Ruh Kudus.

3)       Wujud Isa sebagai anak Tuhan dan turunnya ke bumi untuk mengorbankan diri menebus dosa manusia.

4)       Isa bangkit dari alam mati dan naik ke langit untuk duduk di Kanaan ayahnya memerintah manusia.[14]

Demikianlah ajaran-ajaran yang sekarang dipedomani oleh umat Masehi dan sebagian besarnya bersumber dari Paulus. Karena itu bisa dipastikan bahwa Masehi yang sekarang benar-benar telah berubah menjadi agama Paulus.

D.             Pokok Keyakinan Dalam Ajaran Paulus

Karena pokok keyakinan dalam ajaran Paulus banyak menyimpang dari ajaran Yesus yang asli, maka tidaklah aneh kalau terjadi pertikaian dengan beberapa orang pengikut Yesus yang lain, seperti Barnaba dan Petrus, sehingga Paulus hanya menyampaikan ajarannya kepada orang-orang asing di Asia kecil dan Makedonia dan semenanjung Grik dan Semenanjung Italia. Kegiatan Paulus di lingkungan orang asing ini berlangsung pada tahun 60 M[15].

Pokok keyakinan dalam ajaran Paulus tersebut tersimpul dalam 7 doktrin dan termuat di dalam himpunan Surat-Surat Paulus (Paul’s Epistle)[16], sebagai berikut dibawah ini:

  1. Dosa Warisan (Inherited Sin), bahwa oleh karena moyang manusia (Adam dan Eva) membikin dosa di Sorga maka turunnya mewarisi Maut, yang sedianya akan tetap hidup kekal dalam Sorga.[17]
  2. Anak Allah (Son of God), bahwa Allah-Bapa di Sorga itu mempunyai anak Sulung yang terdahulu dari segala zaman dan segalanya diciptakan melalui-Nya.[18]
  3. Inkarnasi (Incarnation), bahwa anak sulung yang terdahulu dari segala zaman itu telah menjelmakan dirinya dimuka bumi melalui benih Daud yaitu Jesus Keristus,[19]
  4. Penyaliban (Crusifixion), bahwa anak sulung Allah yang menjelma dimuka bumi melalui benih Daud itu telah menyerahkan dirinya untuk disalib.[20]
  5. Penebusan (Redemption), bahwa Anak Sulung Allah yang mati diatas Tiang Salib itu adalah untuk menebus maut yang diwarisi manusia dari semenjak Adam; dan setiap orang mestilah beriman dengan penyaliban dan penebusan itu guna beroleh semangat dan guna beroleh hidup kekal kembali.[21]
  6. Kebangkitan (Resurrection), bahwa Anak Sulung Allah yang telah disalibkan dan dikuburkan itu sudah bangkit kembali setelah tiga hari di dalam kuburnya.[22]
  7. Naik ke langit dan bersemayam di sebelah kanan Allah-Bapa (Ascension), bahwa Anak Sulung Allah yang telah bangkit dari kuburnya itu sudah mikraj kembali kepada sisi Allah-Bapa di langit.[23]

Selanjutnya, tujuh pokok keyakinan (Akidah) yang diajarkan Paulus dalam lingkungan jemaat-jemaat Asing itu ditutup dengan doktrin Rahasia-Ilahi (Divine Misteries), bahwa sekaliannya itu adalah Rahasia-Ilahi yang tidak bisa diselidiki dan ditilik dengan akal, akan tetapi cuma harus diimani dan dipercayai dan diyakini sepenuh hati.

Paulus mengungkapkan doktrin Rahasia-Ilahi (Divine Misteries) itu dengan kalimat sebagai berikut dibawah ini:[24]

  • Bukannya aku datang dengan petah lidah atau hikmat didalam hal memberitakan rahasia Allah kepAdamu.

1 Korintus, 2:1

  • Bahwa rahasia sudah dinyatakan kepadaku dengan jalan wahyu. Dengan itu, apabila kamu membaca, bolehlah kamu mengetahui pengertianku atas rahasia Keristus, yang ada pada zaman dahulu belum diberitakan kepada segala anak Adam. Maka kepada aku ini, yang terlebih hina daripada segala orang suci, sudah dianugrah ini akan memberitahukan kepada orang kafir akan kekayaan Keristus yang tiada terkira-kira itu.

Epesus, 3: 3-8

  • Maka aku sudah dijadikan pelayan sidang itu, menurut seperti jawatan yang dikaruniakan Allah kepada aku karena kamu akan menyampaikan firman Allah, yaitu rahasia yang sudah tersembunyi berzaman-zaman dan turun temurun.

Kolose, 1: 25-26

  • Menurut Injil yang aku ajarkan, dan menurut pemberitaan dari hal Jesus Keristus itu, sebagaimana kenyataan rahasia yang terlindung semenjak zaman azali, tetapi sekarang ini sudah kentara dan dinyatakan kepada segala orang kafir.

Rum, 16: 25-26

  • Tetapi orang duniawi tiada menerima barang yang daripada Roh Allah itu, karena perkara itu menjadi kebodohan kepadanya, dan tiada dapat mengenalnya, sebab hal itu mestilah diselidiki dengan peri rohani.

1 Korintus, 2:14

  • Maka kita ini memberitakan Keristus yang tersalib, yaitu suatu syak kepada orang Yahudi, dan suatu kebodohan kepada orang kafir.

1 Korintus, 1:23

  • Karena pengajaran dari hal Salib itu menjadi kebodohan kepada segala orang yang menuju kebinasaan; tetapi kepada kita yang menuju keselamatan, itulah menjadi kuasa Allah.

1 Korintus, 1:18

Demikian Paulus mengunci tujuh pokok keyakinan yang diajarkan itu guna menutup pintu bagi setiap bantahan dan sangkalan dengan menyatakan sekaliannya itu Rahasia-Ilahi, yang tidak pernah diberitakan kepada anak Adam pada masa sebelumnya, dan barulah kini dibukakan dan diwahyukan kepada Paulus saja. Rahasia Ilahi itu tidak boleh diselidiki melalui alam pikiran duniawi tetapi cuma haruslah diimani dan dipercayai sepenuh hati.[25]

E.            Perbedaan Ajaran Paulus Dengan Nabi Isa as.

Hal yang perlu kita ketahui dalam pembahasan makalah ini adalah tentang adanya perbedaan ajaran Paulus dengan ajaran Nabi Isa. Dalam pembahasan sebelumnya telah terlihat adanya penyimpangan ajaran yang dilakuakan oleh aulus terhadap ajaran Nabi Isa. Dan umumnya para ulama Barat Ketters atau bukan, semua mengakui adanya perbedaan antara ajaran  Paulus dengan ajaran Nabi Isa. Dan golongan beragama, selalu berusaha untuk mengkompromikan perbedaan itu.

Para ulama barat sendiri telah menyimpulkan adanya tujuh macam ajaran Paulus yang menyalahi ajaran Nabi Isa (Yesus), tetapi tetap dipegang teguh dalam agama Masehi (Masehi). Berikut adalah 7 perbedaan tentang  ajaran Paulus dengan ajaran Nabi Isa:[26]

  1. Nabi Isa selalu mementingkan dalam khotbah-khotbahnya akan kedatangannya “Kerajaan Allah yang akan datang”. Sedangkan pada Paulus dititik beratkan pada “Kedatangan kembali Nabi Isa itu sendiri” sehingga timbul adanya ajaran Messianisme, akan datangnya Messiah.
  2. Nabi Isa tidak pernah membicarakan tentang adanya “dosa warisan”. Sedang Paulus telah mengajar adanya “Dosa warisan”.[27]
  3. Nabi Isa  mengajarkan tentang “pengampunan dari Tuhan atas dasar penyesalan dan tobat sungguh-sungguh dari hambanya pada perkataan dan perbuatan manusia serta atas dasar sifat kemaha pengampunan Tuhan itu sendiri “. Sedangkan Paulus “Menyandarkan pengampunan Tuhan pada penyaliban dari Nabi Isa”.
  4. Nabi Isa tetap mengakui “Hukum Taurat” berlaku bagi pengikut-pengikutnya[28]. Sedang pada Paulus “Hukum Taurat” telah digantikan dengan ”Iman pada penyaliban Yesus untuk menebus dosa” manusia. Syariat Taurat itu tidak berlaku lagi dengan penebusan Isa[29].
  5. Nabi Isa hanya mengajarkan Injil dalam lingkungan Yahudi[30] Sedangkan pada Paulus Injil diajarkan pula pada orang-orang kafir luar Yahudi[31]
  6. Nabi Isa mewajibkan pada pengikutnya meneruskan hukum Ibrahim tentang bersunat, sedangkan Paulus tidak mewajibkan lagi bersunat[32]
  7. Nabi Isa menyangkal dan menolak dirinya dipertuhankan di samping Tuhan Yang Maha Esa[33]. Sedangkan Paulus mengangkat Nabi Isa sebagai Tuhan [34] dan menganggap dirinya sendiri sebagai penjelmaan Kristus.[35]

Itulah beberapa perbedaan dalam ajaran Paulus dengan ajaran Nabi Isa. Dan terbukti bahwa agama Masehi yang sekarang bukanlah agama yang murni dari Nabi Isa karena sudah dimasuki oleh ajaran-ajaran dari Paulus yang sangat bertentangan dengan ajaran Masehi Nabi Isa, tetapi ajaran tersebut sampai sekarang masih dipegang oleh umat Masehi.

BAB III
KESIMPULAN

Dari uraian singkat diatas dapat disimpulkan bahwa ajaran-ajaran Paulus telah menggantikan ajaran-ajaran yang di bawa oleh Nabi Isa. Dan banyak perbedaan yang terdapat di dalamnya. Paulus telah melarang umat Masehi untuk memakai hukum Taurat yang di bawa  oleh Nabi Isa, bahkan menganggap Isa adalah sebagai Tuhan.

Dan sari dari ajaran Paulus itu ada empat macam, yaitu: (1) Agama masehi bukan untuk orang Yahudi atau Israel saja, tetapi untuk seluruh bangsa. (2) Trinitas (Trirunggal), tiga Tuhan dalam satu termasuk ketuhanan Al-Masih dan ketuhanan Ruh Kudus. (3) Wujud Isa sebagai anak Tuhan dan turunnya ke bumi untuk mengorbankan diri menebus dosa manusia. (4) Isa bangkit dari alam mati dan naik ke langit untuk duduk di Kanaan ayahnya memerintah manusia.

Disamping itu terdapat sejumlah perbedaan tentang ajaran Nabi Isa dengan Paulus antara lain, yaitu: (1) Nabi Isa selalu mementingkan dalam khotbah-khotbahnya akan kedatangannya “Kerajaan Allah yang akan datang”. Sedangkan pada Paulus dititik beratkan pada “Kedatangan kembali Nabi Isa itu sendiri” sehingga timbul adanya ajaran Messianisme, akan datangnya Messiah. (2) Nabi Isa tidak pernah membicarakan tentang adanya “dosa warisan”. Sedang Paulus telah mengajar adanya “Dosa warisan”. (3) Nabi Isa  mengajarkan tentang “pengampunan dari Tuhan atas dasar penyesalan dan tobat sungguh-sungguh dari hambanya pada perkataan dan perbuatan manusia serta atas dasar sifat kemaha pengampunan Tuhan itu sendiri “. Sedangkan Paulus “Menyandarkan pengampunan Tuhan pada penyaliban dari Nabi Isa”. (4) Nabi Isa tetap mengakui “Hukum Taurat” berlaku bagi pengikut-pengikutnya. Sedang pada Paulus “Hukum Taurat” telah digantikan dengan ”Iman pada penyaliban Yesus untuk menebus dosa” manusia. Syariat Taurat itu tidak berlaku lagi dengan penebusan Isa. (5) Nabi Isa hanya mengajarkan Injil dalam lingkungan Yahudi. Sedangkan pada Paulus Injil diajarkan pula pada orang-orang kafir luar Yahudi. (6) Nabi Isa mewajibkan pada pengikutnya meneruskan hukum Ibrahim tentang bersunat, sedangkan Paulus tidak mewajibkan lagi bersunat. (7) Nabi Isa menyangkal dan menolak dirinya dipertuhankan di samping Tuhan Yang Maha Esa. Sedangkan Paulus mengangkat Nabi Isa sebagai Tuhan  dan menganggap dirinya sendiri sebagai penjelmaan Kristus.

Perbedaan ajaran Paulus dengan Nabi Isa perlu kita ungkap, karena Paulus telah merubah agama Nabi Isa yang datangnya dari Allah menjadi agama yang jauh dari Allah SWT. Dan setiap muslim perlu mengetahuinya, agama masehi sekarang bukanlah agama yang dibawa dan di sebarluaskan oleh Nabi Isa dan Rasul-Rasulnya melainkan agama Paulus yang ajarannya bersumber dari surat-suratnya.

Mungkin itu saja yang bisa saya paparkan dalam makalah ini semoga bisa menambah khasanah keilmuan kita.

Daftar Pustaka

Al Kitab, Jakarta: Lembaga Al Kitab Indonesia, 1965.

Ali, Muhti. Ilmu Perbandingan Agama, Yogyakarta: PT. Al-Fatah, 1965.

Ahmadi, Abu. Perbandingan Agama, Jakarta: Rineka Cipta, 1991.

Abdul Manaf, Mujtahid. Sejarah Agama-Agama, Jakarta: Pt. Grafindo Persada, 1994.

Bakry, Hasbullah. Isa dalam Qur’an Muhammad dalam Bible, Yogyakarta: Pustaka Firdaus, 1968.

Berkhof, H. & Enklaar, I.H. Sejarah Gereja, Jakarta: BPK, 1959.

Bashori. Ilmu Perbandingan Agama (Suatu Pengantar), Malang: STAIN Malang, 2002.

Djam’annuri. Agama Kita, Perspektif Sejarah Agama-Agama (Sebuah Pengantar), Yogyakarta: Kurnia Kalam Semesta dan LESFI, 2002.

G. C. Van Niftrik & B. J. Bolan. Dogmatika Masakini, Cet. V, Jakarta: Badan Penerbitan Masehi, 1967.

Internet, Situs WWW. Google.com, Sejarah Paus Paulus.

J. Verkuyl. Etika Masehi, Bagian Umum, Cet. VI, Jakarta Pusat: BPK Gunung Mulya, 1979.

Muhammad Khalaf, Abdul Mun’im. Agama dalam Perspektif Rasional, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1995.

Riva’I, M. Ilmu Perbandingan Agama, Cet. V, Semarang: Wicaksana, 1980.

Syalabi. Perbandingan Agama, Agama Masehi, Jakarta: Jayamurni, 1960.

Sou’yb, Joesoef. Agama-Agama Besar di Dunia, Jakarta Pusat: Pustaka Al-Husna, 1993.

Sofwan, Ridin. Menguak Seluk Beluk Aliran Kebatinan (Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa), Semarang: Aneka Ilmu dan IAIN Wali Songo Press, 2002.


[1] Mujtahid Abdul Manaf,. Sejarah Agama-Agama, (Jakarta: Pt. Grafindo Persada, 1994), 73

[2] Joesoef Sou’yb, Agama-Agama Besar Di Dunia, (Jakarta: Pustaka AlHusna, 1993), 325

[3] Hasbullah Bakry, Isa Dalam Qur’an Muhammad Dalam Bible, (Yogyakarta: pustaka Firdaus, 1968), 56

[4] Ibid, 56

[5] Moh. Riva’I, Ilmu Perbandingan Agama, Cet. V, Semarang: Wicaksana, 1980, 51

[6] Mujtahid Abdul Manaf, Ibid, 73

[7] Ibid, 57

[8] Perjanjian Baru, Kisah Rasul-rasul 2: 39, 25: 1-12

[9] Perbuatan Rasul-Rasul ayat 9: 3-20

[10] Moh. Riva’I, Ibid, 52

[11]Abu Ahmadi,. Perbandingan Agama, Jakarta: Rineka Cipta, 1991.

[12] Syalabi. Perbandingan Agama, Agama Masehi, Jakarta: Jayamurni, 1960.

[13]Hasbullah Bakry, Ibid, 63-67.

[14] A. Syalabi,  Ibid, 45

[15] Mujtahid Abdul Manaf, Ibid, 74

[16] Joesoef Sou’yb, Ibid 329

[17] Rum, 5:12-18;1 Koristus, 15:21-26; dan ayat-ayat lainnya dalam himpunan Surat Paulus

[18] 1 Korintus, 8: 6; Kolose, 1:15; 1 Timotius, 2: 5; dan ayat-ayat lainnya dalam himpunan Surat Paulus).

[19] Galatia, 4:4-5; Rum,1:3-4; Kolose, 1:15; Ibrani, 1:3; dan ayat-ayat lainnya dalam himpunan Surat Paulus)

[20] lihat 1 Kontrirus 1:18-23; Rum, 5:8;1 Timotius, 1:15; dan ayat-ayat lainnya dalam himpunan Surat  Paulus

[21] Rum, 5:18; Ram, 6:10-11; 2 Korintus, 5-14; 1 Timotius, 2:6; dan ayat-ayat lainnya dalam himpunan Surat  Paulus

[22] Korintus, 15:17-20; 2 Timotius, 2:8; Rum, 6:4-18; Rum, 10:9; Korintus, 15:4; dan ayat-ayat lainnya dalam himpunan Surat  Paulus

[23] Epesus, 1:19-20; Kolose, 3:1 dan ayat-ayat lainnya dalam himpunan Surat  Paulus

[24] Joesoef Sou’yb, Ibid 331

[25] Ibid, 333.

[26] Hasbullah Bakry, Ibid, 58-59.

[27] Rum 5: 12.

[28] Matius 5:17, 18.

[29] Rum 3: 21-28 dan Rum 7: 4-6.

[30] Matius 10: 5, 6 dan Matius 15: 24-26.

[31] Kisah 13: 46 dan Kisah 14: 27.

[32] Rum 3″30 dan lain-lain.

[33] Matius 7: 21-22.

[34] I Korintus 1:1-9; 12:3 dan lain-lain.

[35] Galatia 2:19, 20.


BAB I

PENDAHULUAN

Sebagai umat Islam yang bertaqwa, kita tidak akan terlepas dari syari’at Islam. Hukum yang harus di patuhi oleh semua umat Islam di seluruh penjuru dunia. Baik laki-laki maupun perempuan tidak ada perbedaan di mata Allah SWT, tetapi yang membedakan hanyalah ketaqwaan kita.

Salah satu dari syari’at Islam adalah tentang perkawinan, talak, cerai, dan rujuk. Keempat hal ini sudah di atur dalam hukum Islam, baik dalam al-Qur’an maupun dalam Hadits Rasulullah SAW. Perkawinan merupakan peristiwa yang sering kita jumpai dalam hidup ini, bahkan setiap hari banyak umat Islam yang melakukan perkawinan.

Selanjutnya tentang masalah talak, hal ini juga tidak jarang kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Kita lihat di televisi banyak para artis yang melaporkan isterinya ke KUA lantaran hal sepele, dan dengan gampangnya mengucapkan kata talak. Padahal dalam al-Qur’an sudah jelas bahwa perbuatan yang paling di benci Allah adalah talaq. dari sini jika kita menengok kejadian-kejadian yang menimpa suami isteri yang bercerai maka patut kita bertanya ada apa di balik semua itu.

Kita ketahui bahwa tindak lanjut dari talak itu sendiri akan berakibat perceraian. Dan hal itu akan menambah penderitaan dari kaum itu sendiri jika melakukan sebuah perceraian. Tetapi hukum Islam disamping menentukan hukum juga memberikan alternatif jalan keluar yang bisa di tempuh oleh pasangan suami Isteri jika ingin mempertahankan hubungan pernikahan mereka. Hal itu bisa di tempuh dengan melakukan rujuk dan menyesali perbuatan yang telah di lakukan.

Setiap hari banyak umat yang melakukan penikahan, talak, cerai, dan rujuk. Hal ini perlu untuk kita teliti, berapa banyak umat Islam yang melakuakan pernikahan, talak, perceraian, dan rujuk. Dan kita akan mengambil contoh di kecamatan Blimbing. Dengan berpatokan pada data yang ada di KUA kecamatan Blimbing.

BAB II

PEMBAHASAN

A.        NIKAH

  1. 1. Pengertian Nikah

Nikah adalah salah satu pokok hidup yang utama dalam pergaulan atau masyarakat yang sempurna, bukan saja perkawinan itu satu jalan yang sangat mulia untuk mengatur kehidupan rumah tangga dan keturunan, tetapi perkawinan itu dapat di pandang sebagai satu jalan menuju pintu perkenalan antara satu umat dengan yang lain. Selain dari pada itu, dengan perkawinan seseorang akan terpelihara dari kebinasaan hawa nafsu. Sebagaimana sabda nabi Muhammad SAW. yang artinya: “Hai pemuda-pemuda barang siapa yang mampu diantara kamu serta berkeinginan hendak kawin, hendaklah dia kawin. Karena sesungguhnya perkawinan itu akan memejamkan matanya terhadapat orang yang tidak halal dilaihatnya. Dan akan memeliharakannya dari godaan syhwat. Dan barang siapa yang tidak mampu kawin hendaklah dia puasa, karena dengan puasa, hawa nafsunya terhadap perempuan akan berkurang. ”

Kata nikah berasal dari bahasa Arab yang di dalam bahasa Indonesia disebut perkawinan. Nikah menurut istilah syariat Islam adalah akad yang mengahalalkan pergaulan antara laki-laki dan perempuan yang tidak ada hubungan mahram sehingga dengan akad tersebut terjadi hak dan kewajiban antara kedua insan itu. Pergaulan antara laki-laki dan perempuan yang diatur dengan pernikahan ini akan membawa keharmonisan, keberkahan, dan kesejahteraan baik bagi laki-laki maupun perempuan, bagi masyarakat yang berada di sekelilingnya. Dan Allah berfirman dalam Surat An-Nisa’ ayat 3, yang artinya: “maka kawinilah wanita-wanita (lain)” yang kamu senangi, du, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan berlaku adil maka (kawinilah) seorang saja.”

Ayat ini memerintahkan kepada kaum laki-laki yang sudah mampu untuk melaksanakan nikah. Adapun yang dimaksud dengan adil di dalam ayat ini ialah adil di dalam memberikan kepada isteri berupa pakaian, tempat, giuran, dan laki-laki yang bersifat lahiriyah. Ayat ini juga menerangakan bahwa Islam memperbolehkan poligami dengan syarat-syarat tertentu. Batas poligami di dalam Islam hanya sampai empat orang saja.

  1. 2. Hukum Nikah

Pada dasarnya Islam sangat menganjurkan kepada umatnya yang sudah mampu untuk menikah. Namun karena adanya beberapa kondisi yang bermacam-macam, maka hukum nikah dapat di bagi menjadi lima macam, yaitu:

  1. Sunnah, bagi orang yang berkehendak dan baginya mempunyai biaya sehingga dapat memberikan nafkah isterinya.
  2. Wajib, bagi orang yang mampu melaksanakan pernikahan dan kalau tidak menikah ia akan terjerumus dalam perzinaan.
  3. Makruh, bagi orang yang tidak mampu untuk melaksanakan pernikahan karena tidak mampu memberi belanja kepada isterinya atau karena kemungkinan lain.
  4. Haram, bagi orang yang ingin menikahi seseorang dengan niat untuk menyakiti isterinya atau menyia-nyiakan isterinya, atau tidak mampu memberi nafkah jasmani maupun rohani.
  5. Mubah, bagi orang yang tidak terdesak oleh hal-hal yang mengahruskan segera nikah atau yang mengharamkannya.
    1. 3. Tujuan Nikah

Tujuan pernikahan  dapat disebutkan sebagai berikut:

  1. Untuk membina rumah tangga yang serasi, dan penuh dengan limpahan kasih sayang.
  2. Memperoleh keturunan yang soleh, yang sah dari hasil perkawinan itu.
  3. Menjaga kehormatan dan harkat martabat manusia.

Telah berlaku anggapan kebanyakan pemuda-pemuda dari dahulu sampai sekarang, mereka ingin kawin lantaran beberapa sebab, diantaranya:

  1. Ingin mengaharapkan harda benda.
  2. Karena mengarapkan gelar kebangsawanannya.
  3. Akan ingin melihat kecantikannya.
  4. Karena agama dan budi pekerti yang baik.
  5. 4. Rukun Dan Syarat Nikah

Rukun nikah ada lima macam, yaitu:

  1. Calon Suami

Syarat-syaratnya, yaitu:

  1. Islam.
  2. Tidak di paksa.
  3. Bukan mahram calon isteri.
  4. Tidak sedang melaksanakn ibadah haji atau umrah.
  1. Calon Isteri

Syarat-syaratnya, yaitu:

  1. Islam.
  2. Bukan mahram calon suami.
  3. Tidak sedang melakan ibadah haji atau umrah..

Nabi SAW. telah memberikan petunjuk sifat-sifat perempuan yang baik, antara lain:

  1. Wanita yang beragama dan menjalankannya.
  2. Wanita yang keturunannya orang yang mempunyai keturunan yang baik.
  3. Wanita yang mash perawan.
  1. Wali

Syarat-syaratnya, yaitu:

  1. Islam.
  2. Baligh (dewasa)
  3. Berakal sehat.
  4. Adil (tidak fasik)
  5. Laki-laki.
  6. Mempunyai hak untuk menjadi wali.
  1. Dua orang saksi.

Syarat-syaratnya, yaitu:

  1. Islam.
  2. Baligh (dewasa)
  3. Berakal sehat.
  4. Adil (tidak fasik)
  5. Laki-laki.
  6. Mengerti maksud akad nikah.
  1. 5. Ijab Dan Qabul

ijab adalah perkataan dari wali pihak wali perempuan. Sedangkan qabul adalah jawaban laki-laki dalam menerima ucapan wali perempuan. Syarat-syarat ijab dan qabul adalah:

    1. dengan kata nikah atau tazwij atau terjemahan.
    2. Ada persesuaian antara ijab dan qabul.
    3. Berturt-turt, artinya ijab dan qabul itu tidak terselang waktu yang lama.
    4. Tidak memakai syarat yang dapat mengahalangi kelangsungan pernikahan.
  1. 6. Mahar

Mahar atau maskawin ialah pemberian dari seorang laki-laki kepada seorang perempuan baik berupa uang atau benda-benda yang berharga yang di sebabkan karena pernikahan diantara keduanya. Pemberian mahar merupakan kewajiban bagi laki-laki yang menikahi perempuan. Mahar ini tidak termasuk rukun nikah, sehingga jika pada waktu akan nikah tidak di sebutkan mahar itu, maka akad nikah itu tetap sah. Banyaknya mahar itu tidak dibatasi oleh syariat Islam, hanya menurut kekuatan suami serta keridhaan isteri

  1. 7. Sunnah Dalam Akad Nikah

Setelah akad nikah selesai dilaksanakn maka di sunahkan melakukan tiga hal, sebagai berikut:

  1. Khotbah nikah

Khotbah nikah sangat dianjurkan menurt agama Islam, karena di dalam khotbah ini banyak nasehat-nasehat

  1. Do’a untuk kedua mempelai.

Setelah selesai khotbah nikah di sunahkan berdoa untuk kedua mempelai.

  1. Walimah.

Walimah artinya pesta, dan walimah untuk perkawinan di sebut walimatulusr, dengan maksud untuk menyiarkan perkawinan itu. Pernikahan ini perlu diketahui orang banyak supaya mempelai berdua ketika bergaul tidak di curigai oleh masyarakat. Bagi yang di undang untuk mendatangi walimah hukumnya wajib jika yang tidak berhalangan.

  1. 8. Hak Dan Kewajiban Suami Isteri
  2. Kewajiban suami
  3. Suami wajib membayar mahar.
  4. Suami wajib memberi nafkah
  5. Suami wajib menggauli isteri dengan penuh kasih sayang.
  6. Memimpin dan membimbing seluruh keluarga kejalan yang benar.
    1. Kewajiban isteri.
    2. Isteri wajib taat dan patuh kepada suami.
    3. Isteri harus menjaga dirinya, kehormatannya dan rumah tangganya.
    4. Mempergunakan nafkah yang di berikan oleh suami dengan sebaik-baiknya.
    5. Isteri berkuasa untuk meningkatkan kesejahteraan rumah tangga.
      1. Kewajiban bersama suami isteri.
      2. Memelihara anak-anak dengan penuh kasih sayang dan tanggung jawab.
      3. Berbuat baik kepada semua famili, baik dari keluarga suami maupun keluarga isteri dan kerabat yang lain.
        1. Hikmah pernikahan.
        2. Pernikahan dapat menentramkan jiwa.
        3. Pernikahan dapat menghindarkan seseorang dari perbuatan maksiat.
        4. Mempermudah dalam pengumpulan harta.

B.        TALAK

1.         Pengertian Talak

Kata talak berasal dari bahasa Arab artinya menurut bahasa melepaskan ikatan. Adapun talak menurut istilah syariat Islam ialah melepaskan atau membatalkan ikatan pernikahan dengan lafadz tertentu yang mengandung arti menceraikan. Talak merupakan jalan keluar terakhir dalam suatu ikatan pernikahan antara suami isteri jika mereka tidak terdapat lagi kecocokan dalam membina rumah tangga.

2.         Hukum Talak

Talak mempunyai beberapa hukum seperti dibawah ini:

  1. Makruh.
  2. Haram, apabila talak di jatuhkan oleh suami terhadap isteri dalam keadaan haidh, atau dalam keadaan suci setelah isteri itu di campuri.
  3. Sunnah, apabila suami sudah tidak mampu lagi menunaikan tugasnya sebagai suami.
  4. Wajib, apabila suami sudah bersumpah dengan mengatakan ia tidak akan menggauli isterinya lagi, atau karena perselisihan antara suami isteri.

Bagi suami yang telah menjatuhkan talak pada isterinya ia mempunyai kewajiban sebagai berikut:

  1. Suami memberi mut’ah, yaitu pemberian sesuatu yang berharga dari suami kepada isterinya sesuai dengan kemampuan suami.
  2. Suami bersikap santun dan ramah terhadap isteri.

3.         Khulu’

Khulu’ adalah talak yang di katuhkan suami karena mengabulkan permintaan isterinya dengan cara membayar tebusan dari pihak isteri kepada suami setelah terjadi khlu’. Antara suami dan isteri berlaku ketentuan-ketentuan sebagai berikut:

  1. Suami boleh menjatuhkan talak kepada isteri, ketika isterinya dalam keadaan haid atau dalam keadaan suci setelah di campuri.
  2. Suami tidak dapat merujuk isterinya pada masa iddah dan juga tidak bisa menambah talak. Jika antara suami dan isteri ingin bersatu kembali harus dengan akad baru.

4.         Pasakh

pasakh adalah terjadinya talak yang di jatuhkan oleh hakim atas pengaduan isteri atau suami. Perceraian dalam bentuk pasakh ini dapat terjadi karena beberapa hal sebagai berikut:

  1. Terdapat suatu aib atau cact pada salah satu pihak.
  2. Suami tidak dapat memberi nafkah kepada isterinya.
  3. Suami tidak sanggup membayar mahar yang telah disebutkan pada saat akad nikah.
  4. Terjadi penganiayaan yang berat oleh suami kepada isterinya.
  5. Suami merasa tertipu karena keadaan isteri tidak sesuai dengan janji yang telah di sepakati.
  6. Suami mengumpulkan dua orang isteri yang saling bersaudara.
  7. Suami berlaku murtad.
  8. Suami hilang atau pergi dan tidak jelas tempatnya atau tidak jelas hidup atau matinya.

5.         Bilangan Talak

Bilangan talak ada tiga macam, yaitu: Talak Satu, talak dua, dan talak tiga. Talak satu dan talak dua di sebut dengan talak pas’i, yaitu talak yang terjadi antara suami dan isteri dan boleh rujuk ketika dalam masa iddah. Adapun talak tiga yang terjadi antara suami dan isteri, maka tidak boleh mengadakan rujuk di antara keduanya pada masa iddah. Jika keduanya ingin kembali bersatu maka harus di lakukan dengan akad nikah yang baru dan telah di selang orang lain.

Talak tiga meliputi tiga cara, sebagai berikut:

  1. Suami menjatuhkan talak sebanyak tiga kali pada waktu yang berbeda-beda.
  2. Seorang suami menthlaq isterinya dengan talak satu, setelah habis masa iddahnya isteri itu di nikahi kembali lagi, kemudian di talak lagi.
  3. Talak tiga dengan cara suami mengatakan talak kepada isterinya dengan talak tiga pada sati waktu.

Kalimat yang di pakai dalam talak ada dua macam, yaitu:

  1. Sharih (terang) yaitu kalimat yang tidak di ragukan lagi bahasa yang dimaksud adalah memutuskan ikatan perkawinan.
  2. Kinayah (sindiran) yaitu kalimat yang masih ragu-ragu boleh dikaitkan untuk perceraian nikh atau yang lainnya. Kalimat sindiran ini tergantung pada niatnya, artinya kalau tidak di niatkan untuk perceraian mak tidaklah jatuh talak.

6.         Iddah

Iddah menurut bahasa artunya jumlah atau sejumlah. iddah menurut syari’at Islam ialah masa menunggu bagi seorang wanita karena ditalak atau ditinggal mati oleh suaminya, agar dapat diketahui kaandungannya ataukah kosong atau berisi. Adapun hukum iddah bagi seorang istri yang telah ditalaq atau ditinggal mati oleh suaminya adalah wajib. Pada masa iddah istri tidak boleh menikah dengan laki-laki lain hingga habis masa Iddahnya.

Iddah terdiri dari beberapa macam, yaitu:

  1. Iddah tiga kali suci atau tiga quru’. Iddah ibni disebabkan karena istri yang ditalak suaminya dalam keadaan hidup dan istri masih bisa mempunyai darah haid.
  2. Iddah tiga bulan, yaitu bagi wanita yang di talak oleh suami dalam keadaan hidup dan isteri sudah tidak mempunyai darah haid.
  3. Idaah sampai melahirkan anak, berlaku bagi wanita yang di ceraikan atau di tinggal mati suaminya dalam keadaan hamil.
  4. Iddah selama empat bulan sepuluh hari, yaitu iddah yang berlaku bagi wanita yang di tinggal mati suaminya dalam keadaan tidak hamil.

Suami yang telah mentalak isterinya dan isterinya masih dalam masa iddah maka bagi suami mempunyai kewajiban terhadap isterinya, sebagai berikut:

  1. Suami wajib memberi nafkah berupa sandang, pangan dan papan.
  2. Suami wajib memberi nafkah tempat tinggal bagi mantan isterinya yang di talak ba’in, apabila isteri ini tidak hamil.
  3. Suami wajib memberi nafkah berupa sandang, pangan, papan bagi mantan isterinya yang di talak ba’in apabila isterinya itu hamil sampai ia melahirkan anak.

Adapun hikmah iddah antara lain, yaitu:

  1. Untuk mengetahui apakah isteri yang di cerai itu hamil atau tidak dengan mantan suaminya.
  2. Untuk menentukan keturunan jika isteri yang di talak itu dalam keadaan hamil.
  3. Untuk memberikan kesempatan kepada kedua belah pihak suami dan isteri yang di talak hidup jika keduanya menghendaki berumah tangga lagi.

C.      CERAI

Suatu ikatan perkawinan akan menjadi putus antara lain di sebabkan karena perceraian.dalam hukum Islam perceraian terjadi karena Khulu’, zhihar, ila’, dan li’an. Khulu’ adalah perceraian yang di sertai sejumlah harta sebagai ‘iwadh yang diberikan oleh isteri kepada suami untuk menebus diri agar terlepas dari ikatan perkawinan. Dewasa ini sering terjadi seorang wanita sengaja membayar suaminya agar mau bercerai. Hal ini terjadi lantaran mengejar cita-cita duniawi semata tanpa memikirkan urusan akhiratnya.

Zhihar atau zhuhrun yang berarti punggung dalam bahasa Arab. Dalam kaitannya dengan suami isteri, shihar adalah ucapan suami kepada isterinya yang berisi menyerupakan punggung isteri dengan punggung ibu dari suami. Dan ini menjadi sebab mengharamkan menyetubuhi isterinya. Hal ini juga sering kita alami lantaran sang isteri mirip dengan ibu kita. Tetapi kalau penyebutannya dalam hal yang ringan hal semacam itu tidak menjadi masalah.

Illa’ artinya simpah, yaitu sumpah suami yang menyebut asma Allah untuk tidak mendekati isterinya itu. Dan di sini Allah membeikan waktu selama empat bulan. Jika dalam waktu itu tidak ada perubahan antara keduanya maka suami boleh menjatuhkan talak. Setiap ada hubungan tidak selamanya akan baik,dan ini merupakan hal yang sering terjadi dalam ikatan perkawinan. Karena terlalu emosi kadang-kadang suami bertindak di luar batas sampai-sampai bersumpah demi Allah tidak akan menyentuk isterinya. Hal semacam ini harus kita hindari jauh-jauh karena bisa memecah ikatan perkawinan.

Kemudian Li’an artinya jauh dan laknat, kutukan. Li’an ialah sumpah yang diucapkan oleh suami ketika ia menuduh isterinya berbuat zina dengan empat kali kesaksian bahwa dia adalah orang yang benar dalam tuduhan, kemudian dia bersedia menerima laknat dari Allah dalam kesaksiannya yang kelima jika ia berdusta.

D.      RUJUK

1.         Pengertian.

Rujuk menurut bahasa artinya kembali. Adapun menurut syariat Islam ialah kembalinya mantan suami kepada mantan isterinya yang telah di talaknya dengan talak raj’I untuk kumpul kembali pada masa iddah tanpa tanpa mengadakan akad nikah yang baru. Hukum asal daripada Rujukadalah mubah (boleh). Hal ini di dasarkan pada firman Allah SWTsurat Al-Baqarah ayat 228: Artinya: “dan suami-suaminya yang berhak meRujuknya dalam masa menanti itu jika mereka (para suami) itu mengehendaki Islah

2.         Hukum  Hukum Rujuk

Hukum rujuk dapat berubah menjadi sunnah, makruh atau haram sesuai dengan hal-hal tertentu, sebagai berikut:

  1. Mubah, hal ini sesuai dengan hukum asalnya.
  2. Sunnah apabila rujuk dimaksudkan untuk memperbaiki hubungan kekeluargaan yang telah retak.
  3. Makruh apabila rujuk ini akan membawa mudharat dan talak lebih bermanfaat.
  4. Haram, apabila dengan rujuk akan membawa isteri teraniaya.

3.         Rukun Rujuk

Adapun rukun rujuk ada tiga, yaitu:

  1. Isteri dengan syarat-syarat sebagai berikut:
    1. Isteri telah di campuri oleh mantan suami sebab bila belum di campuri tidak ada iddah dengan demikian tidak boleh Rujuk.
    2. Isteri di dalam keadaan talak raj’I, sebab dalam keadaan talak bain baik berupa fasakh, khulu’ atau talak tiga itu tidak boleh.
    3. Suami dengan syarat-syarat sebagai berikut:
      1. Baligh (dewasa).
      2. Berakal (tidak dalam keadaan gila atau m.abuk)
      3. Dengan kemauan sendiri (tidak di paksa).
      4. Sighat (ucapan)

Cara merujuk yang di lakukan oleh suami ada dua macam, yaitu: dengan sharih (jelas) dan dengan cara kinaya (sindiran). Pada waktu suami mengucapkan Rujuk sebaiknya ada dua orang saksi yang adil (tidak fasik).

  1. 4. Hikmah Rujuk

Adapun hikmah rujuk adalah:

  1. Rujuk dapat mengekalkan pernikahan dengan cara sederhana tanpa melalui akad nikah baru, setelah terjadi perceraian antara suami dan isteri.
  2. Rujuk merupakan sarana untuk menyatukan kembali hubungan antara suami isteri dengan cara ringan dari segi biaya, waktu, maupun tenaga atau pikiran.

BAB III

ANALISIS DATA

Dalam bab ini penulis akan memaparkan data hasil penelitian tentang presentase nikah, talak, dan rujuk yng ada di Kantor Urusan Agama Kecamatan Blimbing. Berikut data-data selengkapnya:

1.         Data  Nikah Di Kecamatan Blimbing

TAHUN 2003 TAHUN 2004
KELURAHAN NIKAH KELURAHAN NIKAH
PURWANTORO 188 PURWANTORO 193
BUNULREJO 163 BUNULREJO 170
POLOWIJEN 82 POLOWIJEN 79
ARJOSARI 76 ARJOSARI 90
PURWODADI 129 PURWODADI 161
BLIMBING 73 BLIMBING 95
PANDANWANGI 173 PANDANWANGI 145
KESATRIAN 41 KESATRIAN 73
JODIPAN 94 JODIPAN 89
POLEHAN 169 POLEHAN 120
BALEARJOSARI 45 BALEARJOSARI 46
JUMLAH 1233 JUMLAH 1261

Dari tabel data di atas terlihat bahwa pada tahun 2003 jumlah masyarakat yang menikah cukup banyak. Terlihat juga yang paling banyak melaksanakan pernikahan di kelurahan Purmantoro dengan jumlah pasangan suami isteri 188 pasangan, kemudian di susul dengan kelurahan Pandanwangi sebanyak 173 pasangan. Kemudian kelurahan yang paling sedikit melangsungkan pernikahan terdapat di kelurahan Kesatrian dengan jumlah pasangan sebanyak 41 pasangan. Dari data nikah diatas, secara keseluruhan pada tahun 2003 jumlah pernikahan yang tercatan adalah sebanyak 1233 pasangan.

Kemudian untuk tahun 2004 mengalami sedikit kenaikan. Dapat dilihat pasangan yang melakukan pernikahan yang terbanyak terdapat di kelurahan Purwantoro dengan jumlah 193 pasangan kemudian di tempat kedua yaitu kelurahan Bunulrejo dengan jumlah 170 pasangan. Dan kelurahan yang paling sedikit masyarakatnya yang melangsungkan pernikahan adalah kelurahan Balearjosari dengan jumlah 46 pasangan. Secara keseluruhan pada tahun 2004 jumlah pernikahan di kecamatan Blimbing sebanyak 1261 pasangan.

2.         Data  Talak Di Kecamatan Blimbing

TAHUN 2003 TAHUN 2004
KELURAHAN TALAK KELURAHAN TALAK
PURWANTORO 7 PURWANTORO 6
BUNULREJO 9 BUNULREJO 4
POLOWIJEN 0 POLOWIJEN 3
ARJOSARI 0 ARJOSARI 3
PURWODADI 4 PURWODADI 3
BLIMBING 1 BLIMBING 3
PANDANWANGI 1 PANDANWANGI 7
KESATRIAN 1 KESATRIAN 0
JODIPAN 2 JODIPAN 5
POLEHAN 8 POLEHAN 7
BALEARJOSARI 0 BALEARJOSARI 2
JUMLAH 33 JUMLAH 43

Dari tabel data di atas terlihat bahwa pada tahun 2003 jumlah masyarakat yang melaporkan telah mentalak isterinya sangat sedikit. Dan dapat kita lihat yang paling banyak melakukan talak terdapat di kelurahan Bunulrejo dengan jumlah 9 pasangan, kemudian di susul dengan kelurahan Polehan sebanyak 8 pasangan. Kemudian kelurahan yang paling sedikit melangsungkan pernikahan terdapat di kelurahan Blimbing, Pandanwangi, Kesatrian masing-masing sebanyak 41 pasangan.dan di kelurahan Polowijen, Arjosari, dan Balearjosari yang mentalak isteinya tidak ada. Dari data talak diatas, secara keseluruhan pada tahun 2003 jumlah talak yang tercatan adalah sebanyak 33 pasangan.

Kemudian untuk tahun 2004 mengalami sedikit kenaikan. Dapat dilihat talak yang terbanyak terdapat terjadi pandanwangi dan polehan sejumlah 7 pasangan. Dan kelurahan yang paling sedikit adalah di Balearjosari sebanyak 2 pasangan dan di kelurahan Kesatrian tidak ada. Secara keseluruhan pada tahun 2004 jumlah talak di kecamatan Blimbing sebanyak 43 pasangan.

3.         Data  Cerai Di Kecamatan Blimbing

TAHUN 2003 TAHUN 2004
KELURAHAN CERAI KELURAHAN CERAI
PURWANTORO 14 PURWANTORO 17
BUNULREJO 10 BUNULREJO 9
POLOWIJEN 4 POLOWIJEN 4
ARJOSARI 1 ARJOSARI 3
PURWODADI 9 PURWODADI 7
BLIMBING 9 BLIMBING 10
PANDANWANGI 6 PANDANWANGI 7
KESATRIAN 1 KESATRIAN 3
JODIPAN 6 JODIPAN 7
POLEHAN 1 POLEHAN 8
BALEARJOSARI 2 BALEARJOSARI 3
JUMLAH 63 JUMLAH 78

Dari tabel data di atas terlihat bahwa pada tahun 2003 jumlah masyarakat yang cerai cukup banyak. Terlihat juga yang paling banyak melakukan perceraian di kelurahan Purmantoro dengan jumlah 14 pasangan. Kemudian kelurahan yang paling sedikit melangsungkan pernikahan terdapat di kelurahan Arjosari, Kesatrian Polehan dengan jumlah 1 pasangan. Dari data cerai diatas, secara keseluruhan pada tahun 2003 jumlah perceraian yang tercatat  adalah sebanyak 63 pasangan.

Kemudian untuk tahun 2004 mengalami sedikit kenaikan. Dapat dilihat pasangan yang melakukan perceraian yang terbanyak terdapat di kelurahan Purwantoro dengan jumlah 17 pasangan kemudian di tempat kedua yaitu kelurahan Blimbing dengan jumlah 10 pasangan. Dan kelurahan yang paling sedikit masyarakatnya yang melangsungkan perceraian adalah kelurahan Arjosari, Kesatrian, Balearjosari dengan jumlah masing-masing 3 pasangan. Dan secara keseluruhan pada tahun 2004 jumlah perceraian di kecamatan Blimbing sebanyak 78 pasangan.

4.         Data  Rujuk Di Kecamatan Blimbing

TAHUN 2003 TAHUN 2004
KELURAHAN RUJUK KELURAHAN RUJUK
PURWANTORO 0 PURWANTORO 0
BUNULREJO 0 BUNULREJO 0
POLOWIJEN 0 POLOWIJEN 0
ARJOSARI 0 ARJOSARI 0
PURWODADI 0 PURWODADI 0
BLIMBING 0 BLIMBING 0
PANDANWANGI 0 PANDANWANGI 0
KESATRIAN 0 KESATRIAN 0
JODIPAN 1 JODIPAN 0
POLEHAN 0 POLEHAN 0
BALEARJOSARI 0 BALEARJOSARI 0
JUMLAH 1 JUMLAH 0

Dari tabel data di atas terlihat bahwa pada tahun 2003 jumlah masyarakat yang melakukan rujuk sangat sedikit jika dibandingkan dengan pasangan yang melakukan perceraian. Terlihat dari tabel diatas terlihat bahwa pada tahun 2003 yang melakukan rujuk hanya terdapat di satu kelurahan yaitu kelurahan Jodipan dan jumlahnyapun hanya 1 pasanganan. Kemudian untuk tahun 2004 jumlah psasangan yang melakukan rujuk tidak ada.

BAB IV

KESIMPULAN

Nikah adalah salah satu pokok hidup yang utama dalam pergaulan atau masyarakat yang sempurna, bukan saja perkawinan itu satu jalan yang sangat mulia untuk mengatur kehidupan rumah tangga dan keturunan, tetapi perkawinan itu dapat di pandang sebagai satu jalan menuju pintu perkenalan antara satu umat dengan yang lain. Selain dari pada itu, dengan perkawinan seseorang akan terpelihara dari kebinasaan hawa nafsu.

Talak menurut istilah syariat Islam ialah melepaskan atau membatalkan ikatan pernikahan dengan lafadz tertentu yang mengandung arti menceraikan. Talak merupakan jalan keluar terakhir dalam suatu ikatan pernikahan antara suami isteri jika mereka tidak terdapat lagi kecocokan dalam membina rumah tangga.

Suatu ikatan perkawinan akan menjadi putus antara lain di sebabkan karena perceraian.dalam hukum Islam perceraian terjadi karena Khulu’, zhihar, ila’, dan li’an. Rujuk menurut bahasa artinya kembali. Adapun menurut syariat Islam ialah kembalinya mantan suami kepada mantan isterinya yang telah di talaknya dengan talak raj’I untuk kumpul kembali pada masa iddah tanpa tanpa mengadakan akad nikah yang baru. Hukum asal daripada Rujuk adalah mubah (boleh).


DESAKRALISASI SIMBOL KEKUASAAN:

PEMBAHARUAN SULTAN MAHMUD II DI TURKI

Oleh:

M. AMIN KUTBI

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah Swt yang telah melimpahkan Rahmat serta hidayah-Nya bagi kita semua, sehingga kita masih diberikan kesehatan yang tak ternilai harganya. Shalawat serta salam kepada junjungan kita nabi besar Muhammad SAW pembawa misi perjuangan matauhidkan Allah SWT.

Terima kasih kami ucapkan kepada bapak Samsul Hady sebagai dosen pembimbing yang telah banyak membantu sehingga tugas ini dapat selesai sebagaimana semestinya. Kemudian kepada temen-teman kami ucapkan terimna kasih pula atas dukungan yang telah diberikan kepada kami.

Sebagai manusia biasa kami selaku penulis tidak luput dari kesalahan dan kekurangan dalam pembuatan tugas ini. Oleh karena itu kami sangat mengaharapkan kritik dan saran yang membangun guna perbaikan di masa yang akan datang.

Penulis

BAB I PENDAHULUAN

Ketika kita berbicara atau membahas tentang pembaharuan yang terjadi di kerajaan Usmani abad ke-19, sama halnya dengan pembaharuan di Mesir, karena yang mempeloporinya adalah seorang Raja. Kalau di Mesir yang mempeloporinya pembaharuannya adalah Muhammad Ali Pasya, dan dikerajaan Usmani raja yang menjadi pelopor pembaharuan adalah Sultan Mahmud II.

Dan sekarang ini sekilas kita akan membahas tentang pembaharuan yang dilakukan oleh Sultan mahmud II yang telah berani membongkar kesakranan simbol-simbol kekuasaan yang ada di Turki pada saat pemerintahan kerajaan Ismani. Dan ini merupakan hal sangat menarik dan perlu untuk didiskusikan bersama. Sejauh mana pembaharuan yang dilakukan oleh Sultan Mahmud II dalam mendesakralisasikan simbol kekuasaan yang ada. Sesuatu yang turun temurun dipertahankan telah dirubah dan digantikan dengan hal yang baru sehingga mengakibatkan terjadinya penolkan dari kelompok yang menentang adanya pembaharuan.

Inilah sekilah garis besar pembahasan yang ingin diangkat oleh penulis dalam makalah ini. Semoga dengan wacana yang singkat ini dapat memiliki makna yang berarti bagi kita semiua.

BAB II PEMBAHASAN

  1. Pengertian Desakralisasi Simbol Kekuasaan

Dalam kamus populer disebutkan bahwa desakralisasi berarti upaya penghapusan kesakralan. Sebuah kesakralan yang identik dengan keangkeran sehingga orang takut untuk mendekatinya, ciba untuk dihapuskan. Jadi kalau kita kaitkan dengan simbol kekuasaan berarti upaya penghapusan kesakralan simbol-simbol kekuasaan. Dimana hal itu terjadi dalam sistem pemerintahan kerajaan, seperti yang terjadi di Turki. Simbol-simbol kekuasaan ini telah menjadi penghalang antara raja dengan rakyatnya sehingga rakyat harus tunduk dan patuh terhadap raja. Simbol kekuasaan itu menjadi suatu kesakralan yang tidak bisa di ubah-ubah oleh siapapun, yang berkuasa adalah raja apaun yang menjadi kehendak dari raja merupakan suatu kewajiban untuk dilaksanakan oleh siapapun yang menjadi pengikutnya.

Sekilas bahwa desakralisasi simbol-simbol kekuasaan ini bisa dikatan sebuah pembaharuan yang ingin diwujudakan. Artinya simbol kekuasaan yang menjadi sebuah kekuasaan ingin di hilangkan atau dihapuskan dan digantikan dengan simbol yang lebih baik. Sebagai contoh bagaimana pembaharuan yang dilakukan oleh Sultan Mahmud II di Turki.

  1. 2. Pembaharuan Sultan Mahmud II di Turki
    1. a. Tentang Sultan Mahmud II

Mahmud lahir di Saray Juli 1785, ia adalah putra Sultan Abd al-Hamid  dan selain memperoleh pendidikan tradisional dibidang agama, juga memperoleh pendidikan pemerintahan, sejarah dan sastra Arab, Turki dan Persia. Dia tidak mmiliki pengetahuan tentang dunia Barat secara langsung dan tidak mengetahui satu pun bahasa Eropa. Ia diangkat menjadi Sultan di tahun 1807 dan meninggal di tahun 1839.

Dibagian pertama dari masa kesultanannya ia disibukkan oleh peperangan dengan Rusia dan usaha menundukkan daerah-daerah yang mempunyai kekuasaan otonom besar. Memang kerajaan Turki pada abad kesembilan belas dalam kondisi yang berantakan dan terpecah-pecah. Ini dikarenakaan minimnya kontrol politik pemerintah pusat terhadap pemerintah daerah. Di Mesir, wakil pemerintahan Turki saat itu, Muhammad Ali, justru meletakkan dasar bagi kekuatan politik yang mandiri. Para Pasya di Irak bahkan hanya tunduk kepada pemerintah Turki secara nominal.

Di Siria telah muncul gubenur-gubenur lokal yang mengatakan kemerdekaannya. Peperangan dengan Rusia itu sendiri selesai di tahun 1812 dan kekuasaan otonom daerah akhirnya dapat ia perkecil kecuali kekuasaan dari Muhammad Ali Pasya di Mesir dan satu daerah otonom lain di Eropa.

  1. b. Pembaharuan Sultan Mahmud II

Setelah kekuasaannya sebagai pusat pemerintahan kerajaan Usmani bertambah kuat, Sultan Mahmud II melihat bahwa telah tiba waktunya untuk memulai usaha-usaha pembaharuan yang telah lama ada dalam pikirannya. Dan pembaharuan yang dilakukannya secara sungguh-sungguh, seperti dalam bidang militer, tradisi,pendidikan, hukum, dan ekonomi. Berikut akan dijelaskan secara terinci pembaharuan yang dilakukan oleh Ultan Mahmud II.

  1. 1. Pembaharuan dalam Bidang Militer

Seperti sultan-sultan lain, hal pertama yang menarik perhatiannya ialah pembaharuan di bidang militer. Dalam melakukan pembaharuan dibidang militer, Sultan Mahmud II terkenal sangat taktis dan strategis, karena tentaranya yang baru adalah pelatih yang dikirim oleh Muhammad Ali dari Mesir. Adapun peembaruan militernya meliputi: (1) Membentuk tentara kerajaan yang modern; (2) Melumpuhkan tantangan dari pihak Janisarry sekaligus tantangan ulama atas pembaharuannya; dan (3) Membentuk korps tentara kerajaan Usmani yang baru pada tahun 1826. Dalam hal ini ia menjauhi pemakaian peelatih-pelatih Eropa atau Kristen yang pada masa lampau mendapat tantangan dari pihak yang tidak setuju dengan pembaharuan. Sebenarnya dari pihak Janisarry yang menentang pembaharuan Sultan Mahmud II para petingginya itu menyetujui pembentukan korps baru ini, tetapi perwira bawahan mengambil sikap menolak. Beberapa hari sebelum korps baru itu mengadakan parade, Janisarry berontak. Dengan mendapat restu dari Mufti Besar kerajaan Usmani, Sultan Mahmud II memberi perintah untuk mengepung Janisarry yang sedang berontak dan menghujani garnisun dengan tembakan meriam.

Pertumpahan darah terjadi dan kira-kira seribu Janisarry mati terbunuh. Tempat-tempat mereka selalu berkumpul dihancurkan dan penyokong-penyokong mereka dari golongan sipil di tangkap. Tarekat Baktasyi, sebagai tarekat yang banyak mempunyai anggotanya dari golongan Janisarry dibubarkan. Kemudian Janisarry sendiri dibubarkan.

  1. 2. Pembaharuan dalam Tradisi Turki

Sultan Mahmud II, dikenal sebagai sultan yang tidak mau terikat pada tradisi dan tidak segan-segan melanggar adat kebiasaan lama. Sultan-sultan sebelumnya menganggap diri mereka tinggi dan tidak pantas bergaul dengan rakyat. Oleh karena itumereka selalu mengasingkan diri dan menyerahkan soal mengurus rakyat pada bawahan-bawahan mereka. Timbullah anggapan mereka bukan manusia biasa dan pembesar-pembesar Negara pun tidak berani duduk ketika menghadap Sultan.

Tradisi aristokrasi ini dilanggar oleh Mahmud II. Ia mengambil sikap demokratis dan selalu muncul di muka umum untuk bicara atau menggunting pita pada upacara-upacara resmi. Menteri dan pembesar-pembesar negara lainnya ia biasakan uduk bersama jika datang menghadap. Pakaian kerajaan yang ditentukan untuk Sultan dan pakaian kebesaran yang biasa dipakai menteri dan pembesar-pembesar lain ia tukar dengan pakaian yang lebih sederhana. Tanda-tanda kebesaran hilang, rakyat biasa ia anjurkan pula supaya meniggalkan pakaian tradisional dan menukarnya dengan pakaian barat. Perubahan pakaian ini menghilangkan perbedaan status sosial yang nyata kelihatan pada pakaian tradisional.

Kekuasaan-kekuasaan luar biasa yang menurut tradisi dimiliki oleh penguasa-penguasa Usmani ia batasi. Kekuasaan Pasya atau gubenur untuk menjatuhkan hukuman mati dengan isyarat tangan dihapuskan. Hukuman mati untuk selanjutnya hanya dapat dikeluarkan oleh hakim. Penyitaan negara terhadap harta orang yang dibuang atau dihukum mati juga dihapuskan. Kekuasaan kepala-kepala feodal (karakteristik hidup suatu masyarakat dengan corak dipengaruhi oleh sifat kebangsawanan) untuk mengangkat pengganti dengan sekehendak hati juga dihilangkan.

  1. 3. Pembaharuan dalam Organisasi Pemerintahan

Aspek terpenting yang dilaksanakan Mahmud II dalam bidang pemerintahan adalah merombak sistem kekuasaan di tingkat penguasa puncak. Dalam tradisi krajaan Usmani, sultan memiliki dua bentuk kekuasaan, yakni kekuasaan temporal (duniawi) dan kekuasaan spiritual (rohani). Sebagai penguasa dunia ia disebut Sultan dan sebagai penguasa rohani disebut khalifah.

Dalam pelaksanaannya untuk urusan pemerintahan, sultan dibantu Sadrazam, sedangkan untuk keagamaan dibantu Syaikh al-Islam. Jabatan Sadrazam yang sering menggantikan sultan apabila sultan berhalangan dihapuskan Mahmud II. Sebagai gantinya dibentuk jabatan perdana menteri yang membawahi menteri untuk urusan dalam negeri, luar negeri, keuangan, dan pendidikan dengan departemennya masing-masing. Para menteri memiliki kekuasaan semi otonomi dan perdana menteri dan sultan.

Tugas perdana menteri sangat berkurang apabila dibandingkan dengan Sadrazam sebelumnya. Selain itu Mahmud II juga memindahkan kekuasaan Yudikatif dari tangan Sadrazam ke Syaikh al-Islam. Dalam sistem baru ini Mahmud II membentuk lembaga hukum sekuler disamping hukum syariat. Kekuasaan Syaikh al-Islam menjadi sedikit karena hanya menangani masalah syariat, sedangkan hukum sekuler diserahkan kepada Dewan Perancang Hukum untuk mengaturnya. Sepanjang sejarah kerajaan Usmani, Mahmud II yang secar5a tegas mengdakan perbedaan antara urusan agama dan urusan dunia.  Pada 1838 ia mengeluarkan hukum dan ket5entuan menyangkut kewajiban para hakim dan pegawainegeri. Ditegaskan pula ktentuan yang berlaku bagi seorang hakim maupun pegawai yang korupsi dan melalaikan tugasnya.

  1. 4. Pembaharuan Dibidang Pendidikan

Sebelum abad modern, pendidikan di kerajaan usmani tidak menjadi tanggung jawab kerajaan melainkan ditangani ulama yang orientasinya hanya pendidikan agamaa tanpa adanya peengetahuan umum. Sistem pendidikan seperti ini menurut Mahmud II tidak akan mampu menjawab problem umat di abad modern. Sementara itu mengubah kurikulum ketika itu merupakan suatu hal yang sangat sulit. Oleh sebab itu, Mahmud II mencari solusi dengan tetap membiarkan sekolah tradisional berjalan dan mendirikan dua sekolah umum, yakni Mekteb-i Ma’arif (sekolah pengetahuan umum) dan Mekteb-i Ulum-u Edebiye Tibbiye-i (sekolah sastra) yang siswanya adalah lulusan terbaik dari madrasah tradisional.

Selain itu secara berturut-turut Mahmud II mendirikan Sekolah Militer, Sekoleh Teknik, Sekolah Kedokteran, dan Sekolah Pembedahan. Pada 1838 ia menggabungkan Sekolah Kedokteran dengan Sekolah Pembedahan menjadi Dar-ul Ulum-u Hikemiye ve Mekteb-i Tibbiye-i Sabane dengan menjadikan bahasa Perancis sebagai bahasa pengantarnya. Mahmud II tercatat sebagai tokoh penganjur bahasa Perancis karena menurutnya penguasaan bahasa asing tersebut akan mempercepat laju alih ilmu modern ke Turki, khususnya ilmu kedokteran, dan sekaligus menjadi kunci dalam penyerapan khazanah pemikiran modern seperti politik, militer, ekonomi, sosial, sains, dan filsafat.

Selain  usaha pendirian sekolah, Mahmud II juga melaksanakan kegiatan yang sangat strategis. Ia mengirim siswa untuk belajar ke Eropa yang kelak setelah kembali diharapkan membawa ide baru di kerajaan ini. Pada masa berikutnya usaha ini terbukti, muncullah buku-buku yang berbahasa Turki mengenai peradaban modern Barat.

  1. 5. Bidang Publikasi

Untuk menyebarluaskan gagasannya dan mengkomunikasikannya kepada masyarakat, Mahmud II mengupayakan bidang publikasi yang memadai. Tahun 1831 ia mengintruksikan berdirinya surat kabar resmi pemerintah Takvim-i Vekayi, tiga tahun setelah terbitnya surat kabar pemerintah Mesir al-Waqā’i’ al-Misriyyah (1828). Surat kabar ini tidak hanya memuat berita dan pengumuman resmi pemerintah, melainkan juga memuat artikel mengenai gagasan progresif di Eropa. Oleh sebab itu, Takvim-i Vekayi dinilai mempunyai pengaruh besar dalam memperkenalkan ide modern kepada masyarakat Turki.

Salah satu redaktur surat kabar itu adalah Mustafa Sami yang telah pernah berkunjung ke Eropa. Kemajuan Eropa, menurut pendapatnya, didasarkan antara lain atas ilmu pengetahua, kemerdekaan dalam agama, patriotisme dan pendidikan yang merata. Ia begitu tertari dengan peradaban Barat sehingga ia tidak segan-segan mengkritik adat istiadat timur dan dibalik itu memuja-muja Barat.

  1. 6. Pembaharuan di Bidang Ekonomi

Mahmud II melakukan perbaikan sumber ekonomi melalui sektor pertanian mengingat daerah Turki terkenal daerah agraris yang cukup luas. Untuk itu Mahmud II menghapuskan semua peraturan yang dibuat Amir (pemerintah, raja, gubenur, pemimpin), tuan tanah, dan kaum feodal, kemudian menggantinya dengan peraturan tentang hak pemilikan dan penggunaan tanah yang keamanannya dilindungi. Perubahan ini melahirkan semangat rakyat untuk mengolah lahan pertanian.

Pembaharuan yang dilakukan oleh Sultan Mahmud II merupakan suatu hal yang dijadikan dasar bagi pemikiran dan usaha pembaharuan selanjutnya dikerajaan Usmani abad ke-19 dan Turki abad ke-20.

BAB III KESIMPULAN

Dari pemaparan secara singkat diatas, penulis ingin memberikan sebuah kesimpulan secara garis besar bahwa pembaharuan yang dilakukan oleh Sultan Mahmud II sangat luar biasa. Ia berani melakukan Desakralisasi dari simbol-simbol kekuasaan yang ada di Turki. Tertutama dalam hal hubungan seorang Sultan dengan rakyatnya. Yang konon katanya seorang sultan tidak pernah berhadapan (berurusan) langsung dengan rakyat maka Sultan Mahmud II merubahnya dan ia selalu hadir ditengah-tengah rakyatnya. Kemudian  banyak hal hal lagi yang dibaharui oleh Mahmud II dari bidang Militer, pemerintah, pendidikan, publikasi, ekonomi dan semua  perubahan ini menjdai auan pembaharuan selanjutnya di kerajaan Usmani yang disebut Tanzimat.

DAFTAR PUSTAKA

Nasution, Harun, Pembaharuan Dalam Islam, sejarah Pemikiran dan Gerakan, Jakarta: PT Bulan Bintang, 1975.

Ensiklopedi Islam, Jakarta: PT Ichtiat Baru Van Hoeve, 2000.

Ensiklopedi Islam, Jakarta: PT Ichtiat Baru Van Hoeve, 2005.


SOSIOLOGI PENDIDIKAN

STRUKTUR DAN HUBUNGAN-HUBUNGAN PERANAN DALAM KELAS

OLEH:

M. AMIN KUTBI

BAB I PENDAHULUAN

Kini, kelas dikenal sebagai masyarakat kecil. Karena itu sudah lazim dan perlu kelas tersebut memiliki moralitas yang seimbang dengan besar ukurannya, corak elemen, dan fungsinya. Yang dimaksud dengan moralitas disini adalah kedisiplinan….. dilain pihak, masyarakat kelas agak berbeda dengan masyarakat keluarga. Masyarakat kelas lebih banyak mendekati masyarakat orang dewasa pada umumnya. Karena di dalam kenyataan, jumlah orang dalam masyarakat kelas relatif lebih besar dibandingkan dengan di dalam keluarga. Disamping itu, para individu yang membentuk masyarakat kelas (guru dan murid), mereka terbendung tingkah lakunya bukanlah karena perasaan atau piferensi perorangan melainkan atas dasar pertimbangan umum dan abstrak, dimana ungsi sosial tersebut berada ditangan guru sementara kondisi mental para muridnya belum matang. Oleh sebab itu, tata aturan kelas tidak bisa mengadakan penyesuaian dengan temperamen yang ada….. inilah yang dikenal sebagai inisiasi pertama terhadap ketetatan kewajiban. Dalam hubungan ini, para murid memulai menjalani hidup sebagai layaknya masyarakat dewasa dengan sunbguh-sungguh.

Emile Durkheim

Murid mempengaruhi guru, dan sebaliknya guru juga mempengaruhi belajarnya murid. Para murid, juga saling mempengaruhi antara yang satu dengan yang lainnya. Adanya struktur sosial informal yang berlangsung dalam masyarakat kelas, menimbulkan berlain-lainnya perlakuan guru terhadap murid.

Elizabeth Cohen[1]

Berdasarkan dua teori diatas penulis mencoba mengambil permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini. Yaitu:

  1. Apa yang dimaksud dengan struktur sosial di dalam kelas?
  2. Bagaimana peranan guru dalam kelas ?
  3. Bagaimanakah hubungan antara guru dan murid ?
  4. Bagaimanakah hubungan antara murid dengan murid?

BAB II PEMBAHASAN

  1. 1. STRUKTUR SOSIAL DALAM KELAS

Bila kita bicara tentang “struktur” bangunan maka yang dimaksud adalah material, hubungan antara bagian-bagian bangunan dan bangunan  itu dalam keseluruhannya sebagai gedung sekolah, kantor dan lainnya. Demikian pula ketika kita berbicara tentang struktur sosial, maka yang dimaksud adalah materialnya yang meliputi jumlah orang, peria, wanita, dewasa, anak, guru, murid, dan sebaginya, kemudian hubungan antara bagiannya (hubungan guru dengan guru, murid dengan murid, apa yang diharapkan guru dari murid dan sebagainya), dan struktur sosial itu dari keseluruhan.[2]

Dalam struktur sosial kita ketahui disana terdapat sebuah sistem kedudukan dan peranan anggota-anggota kelompok yang kebanyakan bersifat hierarki, yakni dari kedudukan yang tinggi dimana mereka memegang kekuasaan yang paling banyak sampai posisi atau keududukan yang paling rendah. Jika kita kaitkan dengan struktur sosial di dalam kelas, guru merupakan orang yang mempunyai kedudukan yang lebih tinggi daripada murid. Dan biasanya murid-murid yang berada dalam kelas rendah merasa mempunyai kedudukan yang lebih rendah dari murid-murid yang berada di kelas yang lebih tinggi.

Jika kita lihat struktur yang seperti itu memungkinkan bagi kelas mnjalankan ungsinya sebagai lembaga edukatif dengan baik. Artinya masing-masing mempunyai kedudukan tertentu dan menjalankan peranan seperti yang diharapkan menurut kedudukannya. Dengan demikian, ketika terjadi konflik dapat dicegah dan dapat dijamin kelancaran dari usaha pendidikan di dalam kelas tersebut.

  1. 2. PERANAN GURU DALAM KELAS

Peranan guru jika dikaitkan dengan murid di dalam kelas bermacam-macam, menurut situasi interaksi sosial yang terjadi atau yang dihadapi. Yaitu interaksi yang terjadi secara formal pada saat proses belajar mengajar di dalam kelas dan secara informal dimana itu terjadi di luar kelas.

Untuk lebih jelasnya penulis akan menjelaskan peranan guru di dalam klas secara formal. Dalam situasi formal, yakni dalam usaha guru mendidik dan mengajar anak dalam kelas guru harus sanggup menunjukkan kewibawaannya atau (kekuasaanya) otoritasnya, artinya seorang guru harus mampu mengendalikan, mengatur, dan mengontrol segala tindakan yang dilakukan murid di dalam kelas.[3] Kalau perlu guru bisa menggunakan kekuasaannya untuk memaksa murid belajar, melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai seorang murid. Dan guru juga bisa memaksa anak atau murid untuk mematuhi segala peraturan.

Kalau kita mengambil sebuah analisa dari pengalaman yang kita jalani ketika masih sekolah (SD, SLTP, dan SLTA), terlihat bahwa seorang guru berperan sangat otoriter (walaupun tidak semuanya). Tetapi kita bisa melihat, guru terkadang memberikan sesuatu kepada murid dikelas dengan menggunakan kekuasaanya. Ada unsur pemaksaan yang terjadi ketika proses belajar mengajar di kelas. Kemudian timbullah sebuah pertanyaan apakah peran guru itu selalu bersifat otoriter? Artinya guru menggunakan kekuasaan untuk mendidik anak. Sementara tidak semua murid dapat menerima sikap maupun sifat dari guru yang seperti itu.

Mengutip dari bukunya Sanapiah Faisal, ternyata peran guru itu tidak selamanya otoriter. Ada tiga gaya dari guru sehubungan dengan mengajarkan anak di dalam kelas yaitu Otoriter, Demokratis, dan Laissez-fire.[4]

Otoriter seperti yang dijelaskan tadi bahwa guru yang otoriter tujuan umum, keegiatan khusus, dan prosedur kerja kelompoknya semuanya didekte oleh pemimpinnya. Akan tetapi pemimpinnya tetap menjauhkan diri dari artisipasi aktif kecuali apabila menunjukkan atau memberikan tugas. Kemudian kalau demokratis semua kegiatan dan prosedur kerjanya ditetapkan secara keseluruhan. Pemimpinnya ikut aktif dan berusaha menjadi anggota biasa dengan semangat tanpa melakukan teerlalu banyak kerja. Laissez-fire maksudnya adalah kebebasan sepenuhnya bagi kelompok maupun individu untuk menentukan keputusan, dengan sedikit partisipasi dari pemimpin atau dalam hal ini adalah guru.Jadi disini seorang guru harus bisa berperan sebagai seseorang yang dapat memimbing anak didik secara formal dalam kaitannya dengan pendidikan di dalam kelas.

Untuk peran guru dalam situasi informal, yang mana situasinya berbeda dengan situasi di dalam kelas. Seorang guru dapat mengendorkan hubungan formal dan jarak sosial. Misalnya sewaktu rekreasi, berolah raga, berpiknik atau kegiatan lain yang di luar kelas (formal). Murid-murid biasanya menyukai guru yang pada saat itu dapat bergaul dengan lebih akrab dengan mereka, dapat tertawa dan bermain terlepas dari pangkat keformalan. Jadi guru itu harus bisa menyesuaikan diri atau perannya terhadap situasi sosial yang sedang dihadapi. Dan peran ini hanya bisa di lakukan ketika berada pada situasi yang informal, jika dilakukan di dalam kelas (formal) maka akan menimbulkan kesulitan kedisiplinan bagi muri itu sendiri.

Pada satu pihak seorang guru memang harus bersikap otoriter untuk mengonterol kelakuakn murid dan mendidik anak agar bersikap disiplin. Tetapi dilain pihak seorang guru harus bersikap bersahabat dengan murid dan memberikan kebebasan kepada murid dalam menentukan arah pikirannya. Tetapi kalau kita lihat realita yang ada kebanyakan guru lebih bersikap otoriter dari pada demokratis kepada muridnya. Untuk itu perlu kiranya ada sebuah sosialisasi dari semua pihak yang terkait agar sikap-sikap yang terlalu otoriter dari guru ini dapat di minimalisir sedemikian rupa, sehingga peran guru tidak dicap sebagai orang yang jelek, menyeramkan dimata muridnya.

  1. 3. HUBUNGAN GURU DENGAN MURID

Jika kita berbicara tentang hubungan guru dan murid, sebenarnya itu lebih mempunyai sifat yang relatif stabil. Dimana ciri khas dari hubungan ini adalah bahwa terdapat status yang tak sama antara guru dan murid. Guru itu secara umum diakui mempunyai status yang lebih tinggi dan karena itu dapat menuntut murid untuk menunjukkan kelakuan yang sesuai dengan sifat hubungan itu. Bila anak itu meningkat didalam kelas ada kemungkinan ia mendapatkan kedudukan yang lebih tinggi dari yang lainnya.

Dalam hubungan guru dan murid biasanya hanya muridlah yang diharapkan mengalami sebuah perubahan kelakuan sebagai hasil belajar. Setiap orang yang mengajar akan mengalami perubahan dan menambah pengalamannya, akan tetapi ia tidak diharuskan menunjukkan perubahan kelakuan, sedangkan murid harus membuktikan bahwa ia telah mengalami perubahan kelakuan.

Perubahan kelakukan yang diharapkan mengenai hal-hal tertentu yang lebih spesifik, misalnya agar anak menguasai bahan pelajaran tertentu. Mengenai hal-hal yang umum, yang kabur, tidak mudah tercapai kesamaan pendapat, misalnya guru harus menunjukkan cinta kasih kepada murid, apakah ia harus bertindak sebagai sebagai orang tua, atau sebagi sahabat. Karena sifat tak sama dalam kedudukan guru dan murid, maka sukar bagi guru untuk mengadakan hubungan yang akrab, kasih sayang maupun sebagai teman dengan murid. Demi hasil belajar yang diharapkan diduga guru itu harus dihormati dan dapat memelihara  jarak dengan murid agar dapat berperan sebagai model bagi muridnya. Ada beberapa strategi yang bisa digunakan guru untuk lebih dekat (berhubungan ) dengan murid:

  1. Guru secara eksplisit mengadakan komunikasi dengan murid sehingga ia mengetahui apa yang terjadi dan bisa mencegahnya.
  2. Ikut banyak terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang menggangu tetapi tidak terlalu asyik dengannya.
  3. Membina arus perubahan kegiatan
  4. Mengelola resitasi dengan cara yang bisa membuat murid sibuk (misalnya, menciptakan ketidakpastian tata aturan yang mewajibkan murid)

Guru akan lebih banyak mempengaruhi kelakuan murid bila dalam memberikan pelajaran dalam kelas hubungan itu tidak sepihak tetapi harus hubungan secara interaktif dengan partisipasi yang sebanyak-banyaknya dari pihak murid. Hubungan itu akan lebih efektif dalam kelas yang kecil daripada di kelas yang besar.

Ada beberapa jenis hubungan yang terjadi antara guru dan murid, dimana hubungan itu saling mempengaruhi antara yang satu dengan yang lain, yaitu:

  1. Hubungan antara hasil belajar murid dengan kelakuan guru; dalam suatu penelitian ternyata bahwa pertambahan pengetahuan murid dalam pelajaran rendah korelasinya dengan taraf disukainya guru itu oleh murid. Jadi guru yang disukai, yang ramah, suka bergaul dengan murid, yang sering dimintai nasehat mengenai soal-soal pribadi, ternyata bukan guru yang efektif dalam menyampaikan ilmu.
  2. Kelakuan murid berhubungan dengan kelakuan guru; pada umumnya perbuatan anak sebagai reaksi terhadap kelakuan guru dapat bersifat menurut atau tidak menurut, menyesuaikan diri dengan perintah guru atau menentangnya. Anak yang menunjukkan kerjasama, turut memberikan sumbangan fikiran, memberi bantuan dan dengan demikian memperlancar kegiatan pelajaran. Tidak semua kelakuan guru berhubungan dengan kelakuan murid. Tetapi kalau kita melihat sebuah realita dalam dunia pendidikan kita, terlihat bahwa jika seorang guru melakukan dominatif dalam kelas (dominasi) terhadap muridnya maka kelakuan dari murid menunjukkan sikap tidak bekerjasama. Dan guru yang melakukan dominatif terhadap murid akan ditiru oleh murid dengan melakukan dominatif terhadap murid yang lainnya.

Secara singkatnya, walaupun dalam banyak aspek peranan guru dan murid tidak seimbang, konseptualisasi interaksi antara guru dan murid berasumsi bahwa guru dan murid saling mempengaruhi satu dengan yang lainya. Guru dan murid memberikan reaksi terhadap struktur peranan kelas dengan aneka ragam cara, dan banyak guru lebih menggantungkan pada otoriter dari pada personal resource. Itu terbukti dengan pengalaman yang saya alami saat masih SD (walaupun tidak semua). Guru memberikan tugas seenaknya saja tanpa memahami kondisi anak, bahkan ketika anak melakukan tindakan yang salah menurut guru langsung dipukul tanpa memberikan kesempatan kepada anak untuk menjelaskan yang terjadi maupun membela diri.

  1. 4. HUBUNGAN MURID DENGAN MURID

Kelas bagi murid-murid dapat dipandang sebagai sistem persahabatan dan hubungan-hubungan sosial dan struktur sosial ini lebih bersifat tidak formal. Dalam lingkungan kelas diketahui bahwa murid yang satu dengan yang lain itu saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya. Dan aspek yang paling  menonjol dari hubungan ini adalah perasaan murid terhadap satu sama lain, apakah itu perasaan cinta (kasinh sayang) ataupun perasaan benci.

Ada dua metode utama yang digunakan dalam mempelajari struktur informal para murid. Yang pertama dan paling banyak adalah metode sosiometri. Dalam garis besarnya, kita menanyakan kepada murid siapakah diantara murid-murid, satu orang atau lebih, yang paling disukainya sebagai teman belajar, menonton bioskop, diundang kepesta atau kegiatan lainnya, atau sebaliknya yang paling dia tidak sukai, yang tidak dianggapnya sebagai teman. Dari hasil pertanyaan yang diajukan kepada murid dalam kelas itu dapat disusun suatu diagram yang disebut sosiogram yang secara visualnya jelas menunjukkan kedudukan seseorang dalam hubungan sosial dengan murid-murid lainnya. Sosiogram itu dapat memperlihatkan pengelompokkan atau klik dikalangan murid-murid dalam kelas.

Kemudian metode yang kedua adalah metode partisipasi-obserfasi, yakni sambil turut berpartisipasi dalam kegiatan kelompok selama beberapa waktu mengadakan observasi tentang kelompok. Melalaui observasi yang dilakukan pengamat menganalisis kedudukan setiap murid dalam hubungannya dengan murid-murid yang lain dalam kelompok itu.[5] Disuatu kelas kita dapat menemukan beberapa macam hubungan murid dengan murid yang lainnya, diantaranya hubungan berdasarkan usia dan tingkat kelas, kelompok persahabatan di dalam kelas.

Murid-murid di suatu kelas, yang pada umumnya mempunyai usia yang sama cenderung menjadi sebuah kelompok yang merasa bahwa dirinya mampu untuk menghadapi kelas yang lain, bahkan menhadapi guru. Kita bisa mengambil contoh dalam pertandingan dan pristiwa-pristiwa yang menyangkut nama dan kehormatan kelas itu. Terhadap kelas yang lebih tinggi mereka merasa dirinya adalah orang bawahan sebagai adik dan harus menunjukkan ras hormat dan patuh. Sebaliknya terhadap kelas yang bawah mereka merasa sebagai atasan. Antara murid-murid yang berbeda tingkat kelasnya terdapat hubungan atasan dan bawahan, atau kakak-adik. Murid-murid yang tinggi kelasnya mempunyai kekuasaan dan kontrol terhadap murid-murid yang kelasnya lebih rendah dan usianya lebih muda. Dalam tiap kelas terdapat pula bermcam-macam kelompok, tetapi kelompok itu hanya terbatas pada struktur dalam kelas itu saja.

Kemudian berbicara tentang kelompok persahabatan di dalam kelas pembentukkannya itu mudah. Suatu kelompok terbentuk bila dua orang atau lebih saling merasa persahabatan yang akrab dan karena itu ia banyak bermain bersama, sering bercakap-cakap, merencanakan dan melakukan kegiatan-kegiatan di dalam maupun di luar kelas. Mereka merasakan apa yang di alami oleh salah seorang anggota kelompoknya dan saling menungkapkan apa yang terkandung dalam dirinya (sebagai teman curhat).

Keanggotannya bersifat sukarela dan tak formal. Seorang diterima dan ditolak atas persetujuan bersama. Walaupun kelompok ini tidak mempunyai peraturan yang jelas tetapi ada nilai-nilai yang dijadikan dasar dalam melakukan atau menerima anggota. Mereka merasa kuat dan penuh percaya diri karena rasa persatuan dan kekompakan yang mereka miliki diantara mereka. Mereka mengutamakan kepentingan kelompok daripada kepentingan individual. Tidak jarang dengan prinsif yang mereka pegang seperti itu sering terjadi konflik dengan orang tua, guru, dan yang lainnya.

Secara ringkasnya dapat diambil sebuah kesimpulan sementara bahwa murid yang satu dengan yang lainnya itu memiliki hubungan antara yang satu dengan yang lainnya dalam sebuah kelas. Dimana hubungan itu memiliki pengaruh terhadap struktur yang terjadi dalam kelas tersebut. Biasanya pengelompokan yang terjadi dalam sistem sosial kelas tersebut membawa pengaruh terhadap anggota dalam kelompok tersebut. Pengaruhnya bisa positif tetapi bisa juga negatif.

BAB III PENUTUP

Dalam bagian yang akhir ini penulis ingin memberikan sebuah analisa singkat tentang struktur dan hubungan-hubungan peranan dalam kelas. Ternyata struktur dalam kelas merupakan sesuatu yang penting untuk kita ketahui khususnya dalam dunia pendidikan. Banyak orang belum memahami keadaan yang terjdai dalam kelas dimana disana terdapat hubungan-hubungan peranan yang saling mempengaruhi antara yang satu dengan yang lain. Walaupun kelas merupakan sebuah struktur terkecil dari sebuah sekolah. Namun bila kita analisa disinilah sebenarnya letak keberhasilan dari output yang dihasilkan.

Interaksi yang terjadi di kelas seperti yang dijelaskan tadi merupakan sebuah fenomena aktual dalam dunia pendidikan. Tetapi ini seolah disepelekan dan masih menganut sistem yang lama. Artinya guru yang mempunyai peran dalam kelas masih menggunakan otoriternya dengan absolut (tidak semua). Bukti nyata dalam kelas SD, SM dimana murid masih dikekang dengan kekuasaan dari guru. Jika murid tidak sepaham dengan guru maka murid tersebut akan dihukum.

Inilah sebuah realita yang harus kita hilangkan dari dunia pendidikan. Konsep-konsep otoriter sebenarnya sesuatu yang bagus, tetapi disalah artikan dalam penerapannya di lapangan (lebih kepada kekuasaan untuk menindak orang lain). Untuk itu perlu adanya sebuah wacana bagaimana kita mengelola struktur yang ada dalam kelas agar lebih baik dan mereka atau komponen-komponen yang berperan dalam kelas itu dapat dikelola dengan baik. Bukan malah dimanfaatkan untuk mencari keuntungan yang merusak jiwa generasi muda.

DAFTAR PUSTAKA

Nasution, Sosiologi Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, 1999.

Gunawan, H. Ari, Sosiologi Pendidikan: Suatu Analisis sosiologi tentang berbagai problem pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta, 2000.

Batubara, Muhyi, Sosiologi Pendidikan, Jakarta: Ciputat Pers, 2004.

Ahmadi, Abu, Sosiologi Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta.

Robinson, Philip, Beberapa Persfektif Sosiologi Pendidikan, Jakarta: Rajawali Pers, 1986.



[1] Sanapiah Faisal, Sosiologi Pendidikan, Penerbit: Usaha Nasional, Jakarta

[2] Nasution, Sosiologi Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, 1999. hlm 72.

[3] Ibid, 92.

[4] Ibid, Sanapiah Faisal, Sosiologi Pendidikan, 161-162.

[5] Nasution, Sosiologi Pendidikan, 81-82.


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Al-Qur’an merupakan sumber segala ilmu. Al-Qur’an menyebutkan tentang kejadian alam semesta dan berbagai proses kealaman lainnya, tentang penciptaan manusia, termasuk manusia yang didorong hasrat ingin tahunya dan dipacu akalnya untuk menyelidiki segala apa yang ada disekitarnya seperti keingintahuan tentang rahasia alam semesta.

Alam semesta merupakan sebuah bukti kebesaran Tuhan, karena penciptaan alan semesta dari ketiadaan memerlukan adanya Sang Pencipta Yang Maha Kuasa. Tuhan telah menciptakan alam semesta ini dengan segala isinya untuk manusia dan telah  menyatakan tentang penciptaan alam semesta dalam ayat-ayat Nya. Meskipun demikian al-Qur’an bukan buku kosmlogi atau biologi, sebab ia hanya menyatakan bagian-bagian yang sangat penting saja dari ilmu-ilmu yang dimaksud.

Keinginantahuan manusia tentang alam semesta tidak hanya membaca al-Qur’an saja, akan tetapi juga  melakukan perintah Tuhan. Sehingga ia dapat  menemukan kebenaran yang dapat dipergunakan dalam pemahaman serta penafsiran al-Qur’an, berdasarkan surat Yunus ayat101. Oleh karena itu tidak dapat diragukan lagi bahwa penciptaan alam semesta bukanlah produk dari hasil pemikiran manusia, akan tetapi

produk dari hasil Tuhan.

BAB II

PEMBAHASAN

A.  Alam Semesta dalam Perspektif Klasik dan Modern

  1. Pandangan Klasik

Menurut pakar fisika bahwa alam tidak hanya tak berhingga besarnya dan tak terbatas, tetapi juga tidak berubah status totalitasnya dari waktu tak berhingga lamanya yang telah lampau sampai waktu tak berhingga lamanya yang akan datang.

Menurut Einstein bahwa alam semesta tidak pernah diciptakan, yang qadim, langgeng, sesuai dengan konsesus yang didasarkan pada kesimpulan yang rasional sebagai analisis yang kritis terhadap berbagai data yang diperolehnya dari pemikiran dalam pengamatan.

  1. Pandangan Modern

Menurut Hubble bahwa alam semesta ini tidak statis, melainkan merupakan alam yang dinamis, seperti model Friedman.

Hubble melakukan observasi tentang alam melalui teropong bintang terbesar di dunia, melihat galaksi-galaksi di sekeliling kita, yang menurut analisis terhadap spektrum cahayanya tampak menjauhi galaksi kita dengan kelajuan yang sebanding dengan jaraknya dari bumi, yang terjauh bergerak paling cepat meninggalkan kita.1

Menurut Gamow, Alpher dan Robert Herman, bahwa terjadi ledakan yang maha dahsyat yang melemparkan materi seluruh jagat raya ke semua arah, yang kemudian membentuk bintang-bintang dan galaksi karena tidak mungkin materi seluruh alam itu berkumpul di suatu tempat dalam ruang alam tanpa meremas diri dengan gaya gravitasinya yang sangat kuat, sehingga volumenya menjauhi titik, maka disimpulkan bahwa dentuman besar itu terjadi ketika seluruh materi kosmos terlempar dengan kecepatan yang sangat tinggi keluar dari keberadaannya dalam volume yang sangat kecil.

Sehingga menurut mereka alam semesta lahir dari sebuah singularitas dengan keadaan ekstrem.

B.  Alam Semesta dalam Perspektif Islam

Alam semesta menurut Islam adalah diciptakan pada suatu waktu dan akan ditiadakan pada saat yang lain.

Pandangan Einstein tentang alam semesta sangat bertentangan dengan konsep alam menurut Al-Qur’an. Karena semula alam tiada tetapi kemudian, sekitar 15 milyard tahun yang lalu, tercipta dari ketiadaan. Sedangkan perbandingan konsepsi fisika tentang penciptaan alam dengan ajaran Al-Qur’an dapat kita lihat dalam surat Al-Anbiya’ ayat 30 yang berbunyi:

أولم ير الذين كفروا أن السموات والأرض كانتا رتقا ففتقناهما

Dan tidaklah oarang-orang kafir itu mengetahui bahwa langit (ruang alam) dan bumi (materi alam) itu dahulu sesuatu yang padu, kemudian Kami pisahkan keduanya itu. (Q.S. Al-Anbiya’ : 30).

C.  Ayat-ayat yang Berhubungan dengan Alam Semesta

Di antara ayat-ayat yang dijadikan sebagai bukti otentik tentang penciptaan alam semesta dalam Al-Qur’an yaitu:

1 Surat Al-Baqarah ayat 29

Bahwa Allah SWT setelah merici ayat-ayat-Nya tentang diri manusia dengan mengingatkan awal kejadian, sampai kesudahannya dan menyebutkan bukti keberadaan serta kekuasaan-Nya kepada Makhluk-Nya melalui apa yang mereka saksikan sendiri pada diri mereka, kemudian Dia menyebutkan ayat-ayat-Nya atau bukti lain yang ada di cakrawala melalui apa yang mereka saksikan, yaitu penciptaan langit dan bumi, untuk menunjukkan kekuasaan-Nya yang meliputi segala-galanya dan menunjukkan betapa banyak karunia-Nya kepada umat manusia dengan menjadikan segala yang di bumi sebagai bekal dan persediaan untuk dimanfaatkan. Untuk itu Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

هو الذي خلق لكم ما في الأرض جميعا ثم استوى إلى السماء فسواهن سبع سموات وهو بكل شيء عليم (29)

Penjelasan

Menurut Syekh Ahmad Musthofa Al-Maraghi makna ayat:2

  • هو الذي خلق لكم ما في الأرض جميعا (Dialah Tuhan yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu) yaitu :

Dalam memanfaatkan benda-benda di bumi ini dapat ditempuh melalui salah satu dari dua cara, yaitu:

1.   Memanfaatkan benda-benda itu dalam kehidupan jasadi untuk memberikan potensi pada tubuh atau kepuasan padanya dalam kehidupan duniawi.

2.   Dengan memikirkan dan memperhatikan benda-benda yang tidak dapat diraih oleh tangan secara langsung, untuk digunakan sebagai bukti tentang kekuasaan penciptanya dan dijadikan santapan rohani.

Dengan ayat ini kita mengetahui bahwa pada dasarnya memanfaatkan segala benda di bumi ini dibolehkan. Tidak seorangpun mempunyai hak mengharamkan sesuatu yang telah dihalalkan oleh Allah kecuali dengan izin-Nya sebagaimana telah difirmankan pada ayat 10 surat Yunus.

  • ثم استوى إلى السماء (kemudian Dia menuju langit) yaitu:

Kata samaa artinya sesuatu yang jauh berada di atas kepala kita. Dan kata Istawaa berarti langsung menuju tujuan tanpa kecenderungan mengerjakan sesuatu yang lain di tengah-tengah menciptakannya.

  • فسواهن سبع سموات (lalu menciptakan tujuh langit) yaitu:

Maksud dari ayat tersebut, Allah menyempurnakan penciptaan langit hingga menjadi tujuh langit.

Menurut Quraisy Shihab makna ayat :3

  • هو الذي خلق لكم ما في الأرض جميعا yaitu:

Dipahami oleh banyak Ulama’ menunjukkan bahwa pada dasarnya segala apa yang terbentang di bumi ini dapat digunakan oleh manusia, kecuali jika ada dalil yang melarangnya.

  • Makna استوى yaitu:

Kata Istawaa pada mulanya berarti tegak lurus, tidak bengkok. Selanjutnya kata itu dipahami secara majazi dalam arti menuju ke sesuatu dengan cepat dan penuh takad bagaikan yang berjalan tegak lurus tidak menoleh ke kiri dan ke kanan.

  • استوى إلى السماء yaitu:

Kehendak Allah untuk mewujudkan sesuatu seakan-akan kehendak tersebut serupa dengan seseorang yang menuju ke sesuatu untuk mewujudkannya dalam bentuk seagung dan sebaik mungkin.

  • فسواهن yaitu:

Bahwa langit itu dijadikanNya dalam bentuk sebaik mungkin, tanpa

sedikit aib/kekurangan apapun. Seperti dalam surat al-Mulk ayat 03.

Menurut Al-Imam Abul Fida Ismail Ibnu Katsir Ad-Dimasqy makna ayat:4

  • ثم استوى إلى السماء (kemudian Dia menuju langit) yaitu:

Summa dalam ayat ini menunjukkan ‘ataf khabar kepada khabar, bukan ‘ataf fi’il kepada fi’il yang lain.

Istawaa ilas samaa yaitu berkehendak atau bertujuan ke langit. Makna lafadz ini mengandung pengertian kedua lafadz tersebut, yakni berkehendak dan bertujuan, karena ia dimuta’addi-kan denagn memakai huruf ila.

  • فسواهن سبع سموات (Lalu Dia menciptakan langit tujuh lapis) yakni:

Lafadz as-samaa dalam ayat ini merupakan isim jins, karena itu disebutkan sab’a samaawaat. Maksud ayat ini yaitu Sebagian dari langit berada di atas sebagian  lainnya. Dikatakan sab’a samaawaati artinya tujuh lapis bumi, yakni sebagian berada dibawah yang lain. Ayat ini menunjukkan bahwa bumi diciptakan sebelum langit.

  • وهو بكل شيء عليم (Dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu) yaitu:

Maksudnya, pengetahuan-Nya meliputi semua makhluk yang telah Ia ciptakan sebagaimana dalam firman-Nya:

ألا يعلم من خلق..(الملك : 14)

Rincian makna ayat ini diterangkan dalam surat Fushilat ayat 9-12 yang berbunyi:

قل أئنكم لتكفرون بالذي خلق الأرض في يومين وتجعلون له أندادا ذلك رب العالمين (9) وجعل فيها رواسي من فوقها وبارك فيها وقدر فيها أقواتها في أربعة أيام سواء للسائلين (10) ثم استوى إلى السماء وهي دخان فقال لها وللأرض ائتيا طوعا أو كرها قالتا أتينا طائعين (11) فقضاهن سبع سموات في يومين وأوحى في كل سماء أمرها وزينا السماء الدنيا بمصابيح وحفظا ذلك تقدير العزيز العليم (12)

Di dalam ayat Fushilat terkandung dalil yang menunjukkan bahwa Allah SWT memulai ciptaan-Nya dengan menciptakan Bumi, kemudian menciptakan tujuh lapis langit. Memang demikianlah cara membangun sesuatu, yaitu dimulai dari bagian bawah, setelah itu baru bagian atasnya. Makna ayat ini juga diterangkan dalam surat  an-Naazi’aat 27-33:5

ءأنتم أشد خلقا أم السماء بناها (27) رفع سمكها فسواها (28) وأغطش ليلها وأخرج ضحاها (29) والأرض بعد ذلك دحاها (30) أخرج منها ماءها ومرعاها (31) والجبال أرساها (32) متاعا لكم ولأنعامكم (33) (النازعات : 27-33)

Apakah kalian yang lebih sulit penciptaannya atau langit? Allah telah membinanya. Dia meninggikan bangunannya, lalu menyempurnakannya, dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita dan menjadikan siangnya terang benderang. Dan bumi sesudah dihamparkan-Nya. Ia memancarkan darinya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh, (semua itu) untuk kesenangan kalian dan untuk binatang-binatang ternak kalian.

Menurut Ali Ibnu Abu Talhah, dari Ibnu abbas, bahwa As-Daha (Penghamparan),dilakukan sesudah penciptaan langit dan bumi. As-Saddi telah mengatakan di dalam kitab tafsirnya, dari Abu Malik, dari Abu Saleh, dari Ibnu Abbas, juga dari Murrah, dari Ibnu Mas’ud, serta dari sejumlah sahabat sehubungan dengan makna surat al-Baqarah ayat 29. bahwa Arasy Allah SWT berada di atas air, ketika itu Allah belum menciptakan makhluk, maka Dia mengeluarkan asap dari air tersebut, lalu asap (agar) tersebut membumbung di atas air hingga letaknya berada di atas air, dinamakanlah sama (langit).

Kemudian air dikeringkan, lalu Dia menjadikannya bumi yang menyatu. Setelah itu bumi dipisahkan-Nya dan dijadikan-Nya tujuh lapis dalam 2 hari, yaitu Ahad dan Senin. Allah menciptakan bumi di atas ikan besar, dan ikan besar inilah yang disebutkan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an surat al-Qolam ayat 1 :

ن والقلم وما يسطرون (1)

Sedangkan ikan besar (nun) berada di dalam air. Air berada di atas permukaan batu yang licin, sedangkan batu yang licin berada di atas punggung malaikat. Malaikat berada di atas batu besar, dan batu besar berada di atas angin. Batu besar inilah yang disebut oleh Luqman bahwa ia bukan berada di langit dan juga di bumi.

Kemudian ikan besar itu bergerak, maka terjadilah gempa di bumi, lalu Allah memancangkan gunung-gunung di atasnya hingga bumi menjadi tenang, gunung-gunung itu berdiri dengan kokohnya di atas bumi. Berdasarkan firman Allah dalam surat al-Anbiya’ : 31:

وجعلنا في الأرض رواسي أن تميد بهم ..(31)

Allah menciptakan gunung di bumi dan makanan untuk penghuni-penghuninya dan menciptakan pepohonan dan semuanya diperlukan di bumi pada hari Selasa dan Rabu.

Sebagaimana yang dijelaskan dalam surat Fushilat ayat 9-10. berdasarkan surat Fushilat ayat 11 yang berbunyi:

ثم استوى إلى السماء وهي دخان ..(فصلت : 11)

Bahwa asap itu merupakan uap dari air tadi. Kemudian asap dijadikan langit tujuh lapis dalam dua hari, yaitu hari Kamis dan Jum’at. Sesungguhnya hari Jum’at dinamakan demikian karena pada hari itu diciptakan langit dan bumi secara bersamaan.

Setelah Allah menyelesaikan penciptaan apa yang Dia sukai, lalu Dia menuju Arasy, sebagaimana dalam firman-Nya surat al-Hadid ayat 4 yaitu :

هو الذي خلق السموات والأرض في ستة أيام ثم استوى على العرش ..(الحديد : 4)

Dia menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia berkuasa di atas Arasy.

Ibnu Jaris mengatakan. Telah menceritakan kepadanya Al-Musanna, telah menceritakan kepada kami Abdullah Ibnu Saleh, telah menceritakan kepadaku Abu Ma’syar, dari Sa’id Ibnu Abu Sa’id, dari Abdullah Ibnu Salam yang mengatakan bahwa sesungguhnya Allah memulai penciptaan makhluk-Nya pada hari Ahad, menciptakan berlapis-lapis bumi pada hari Ahad dan Senin, menciptakan berbagai makanan dan gunung pada hari Selasa dan Rabu, lalu menciptakan langit pada hari Kamis dan Jum’at. Hal itu selesai di akhir hari Jum’at yang pada hari itu juga Allah menciptakan Adam dengan tergesa-gesa. Pada saat itulah kelak hari qiamat akan terjadi.

Menurut Sayyid Quthb makna surat al-Baqarah ayat 29 yaitu:6

  • Banyak sekali uraian para Mufassir dan Teolog tentang penciptaan langit dan bumi, mereka berbicara tentang apa yang ada sebelum penciptaan dan sesudahnya dan juga tentang istawaa. Mereka lupa bahwa sebelum dan sesudah adalah dua istilah yang digunakan manusia dan keduanya itu tidak menyentuh sisi Allah dan istawaa adalah istilah kebahasaan yang disini hanya menggambarkan bagi manusia (makhluk terbatas ini), suatu substansi yang tidak terbatas.
  • هو الذي خلق لكم ما في الأرض جميعا yaitu:

Perkataan “untuk kamu “ memiliki makna yang dalam dan memiliki kesan yang dalam ppula. Ini merupakan kata pasti yag menetapkan bahwa Allah menciptakan manusia ini untuk urusan yang besar.

  • ثم استوى إلى السماء فسواهن سبع سموات yaitu:

Menurut Sayyid Quthb tidak ada tempat untuk mempersoalkan hakikat

maknanya, karena kata itu adalah lambang ynag menunjuk pada

kekuasaan dan berkehendak untuk membuat sesuatu. Demikian halnya

dengan makna berkehendak menuju penciptaan. Sebagaimana halnya

tidak ada tempat untuk membahas makna tujuh langit serta bentuk

dan jaraknya

  • وهو بكل شيء عليم yaitu:

Karena Alah pencipta segala sesuatu, yang mengatur segala sesuatu. Dan jangkauan pengetahuan-Nya yang mennyeluruh ini sama dengan jangkauan-Nya yang menyeluruh bagi pengaturan-Nya. Hal ini mendorong keimanan kepada Tuhan Yang Maha Pencipta lagi Esa, memotivasi beribadah kepada Yang Maha Memberi rizqi dan nikmat saja merupakan pengakuan yang indah terhadapnya.      

Pesan dari ayat ini adalah bumi diciptakan untuk manusia, dimana Allah menciptakan bumi agar manusia berperan sebagai khalifah, berperan aktif dan utama dalam peristiwa-peristiwa serta pengembangannya. Dia adalah pengelola bumi dan pemilik alat, bukan dikelola oleh bumi dan menjadi hamba yang diatur atau dikuasai oleh alat. Tidak juga tunduk pada perubahan dan perkembangan yang dilahirkan oleh alat-alat, sebagaimana diduga bahkan dinyatakan oleh paham materialisme.

Informasi Allah ini bertujuan mengecam orang-orang kafir yang mempersekutukan Allah, padahal Dia adalah pencipta yang menguasai alam raya ,yang menghamparkan bumi manusia dan menyerasikan langit agar kehidupan di dunia menjadi nyaman. Semua iti tidak ada tempatnya untuk dibahas karena keterbatasan akal manusia, sekaligus karena membahasnya dan mengetahuinya sekalipun tidak berkaitan dengan tujuan penciptaan manusia dan sebagai hamba Allah dan khalifah di dunia. Demikianlah segmen surat ini, semuanya difokuskan pada masalah keimanan, dan seruan untuk memilih rombongan konvoi orang-orang yang beriman dan bertaqwa.

2   Surat Al-Mulk ayat 1-4

Yaitu surat yang menunjukkan tentang seluruh kerajaan (kekuasaan) ada dalam tangan Allah.

Surat al-Mulk ayat 1 berbunyi :

تبارك الذي بيده الملك وهو على كل شيء قدير (1)

Penjelasan

Menurut Prof. Dr. Hamka makna ayat:7

  • تبارك الذي بيده الملك (Maha Suci Dia, yang di dalam tangan-Nya sekalian kerajaan) yaitu:

Bahwa ayat tersebut mengandung pengertian betapa Tuhan memberi ingatan kepada manusia dalam kerajaan dan kemegahan dalam dunia ini, bahwasannya kerajaan yang sebenar kerajaan, kekuasaan yang sebenar kekuasaan hanya ada dalam tangan Allah.

Segala kerajaan dan kekuasaan yang ada di muka bumi ini, bagaimanapun manusia mengejarnya atau mempertahankannya bila telah dapat diperoleh, tidaklah semua itu benar-benar kerajaan (kekuasaan). Bagaimanapun seorang Raja (Presiden) memerintah dengan segenap kekuatan, kegagahan dan kadang-kadang kesewenang-wenangan, namun kekuasaan yang seperti demikian hanyalah pinjaman belaka dari Allah dan tidak ada yang akan kekal dipegangnya terus.

Naiknya seorang penguasa pun hanyalah karena adanya pengakuan sedang Allah sebagai Maha Kuasa dan Maha Menentukan, tidaklah Dia berkuasa karena diangkat. Itulah sebabnya maka mustahil Allah itu beranak, sebab Allah itu hidup selama-lamanya dan Maha Kuasa untuk selama-lamanya.

  • وهو على كل شيء قدير (Dan Dia atas tiap-tiap sesuatu adalah Maha Menentukan) yaitu:

Sebagai Tuhan Yang Maha Kuasa, pembagi kekuasaan kepada sekalian raja dan penguasa di dunia (di seluruh alam ini), baik di bumi atau di langit, Allah lah yang maha menentukan segala sesuatu. Segala sesuatu adalah meliputi segala sesuatu, baik yang sangat besar maupun yang sangat kecil.

Dengan menggali rahasia alam, akan mendapat pengetahuan tentang segala yang dilihat, didengar dan diselidiki, dari yang kecil sampai kepada yang besar, di waktu mendapatkannya itulah kita akan lebih faham apa arti yang sebenarnya dari pada kata takdir.

Dari uraian diatas dapat dipahami bahwa segala sesuatu itu ada ketentuannya. Jika tidak ada, maka tidak akan berarti yang dinamakan ilmu pengetahuan (sains). Dan ini ditegaskan pada dekat penutup surat Ali-Imran ayat 191 :

ربنا ما خلقت هذا باطلا

Demikianlah bahwa Tuhan Maha Kuasa dan Menentukan. Sehingga hidup dan mati manusia, musibah atau keselamatan itu adalah pertemuan di antara ketentuan dengan ketentuan, baik yang kecil maupun besar ataupun yang diketahui manusia maupun sebaliknya. Namun seluruh keadaan dalam alam ini tidaklah ada yang terlepas dari ketentuan yang telah ditentukan Tuhan, yang kadang-kadang disebut juga hukum sebab akibat.

Surat Al-Mulk ayat 2 berbunyi:

الذي خلق الموت والحياة ليبلوكم أيكم أحسن عملا وهو العزيز الغفور (2)

Penjelasan

Menurut prof. Dr. Hamka makna ayat:8

  • الذي خلق الموت والحياة (Dan Dia yang menciptakan maut  dan hidup) yaitu:

Bahwa Allah-lah yang menciptakan mati dan hidup. Tujuan dari ayat tersebut memberi peringatan kepada manusia, bahwa hidup ini tidaklah berhenti di dunia ini saja. Ini adalah peringatan kepada manusia agar mereka ingat akan mati di samping dia terpesona oleh hidup. Berkenaan dengan ayat tersebut, ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Hatim dari Qatadah yang berbunyi :

ان الله اذل نبى ادم بالموت وجعل الدينا دار حياة ثم دار موت و جعل الآخرة دار جزاء ثم دار بقاء

Sesungguhnya Allah menghinakan keturunan Adam dengan maut, dan Allah menjadikan dunia ini negeri untuk hidup, kemudian itu negeri untuk mati, dan Dia jadikan negeri akhirat untuk menerima ganjaran dan negeri untuk kekal.

  • ليبلوكم أيكم أحسن عملا (karena Dia akan menguji kamu, manakah di antara

kamu yang terlebih baik amalannya.) yaitu:

Maka di antara hidup dan mati itulah kita mempertinggi mutu amalan diri, berbuat amalan yang bermutu dan lebih baik. Tegasnya di sini dijelaskan bahwa yang dikehendaki Allah dari kita adalah ahsanu’amalan, amalan yang terlebih baik, biar pun sedikit, oleh karena itu janganlah beramal hanya karena mengharapkan kuantitas, tetapi beramallah yang bermutu tinggi walaupun berkualitas.

  • وهو العزيز الغفور (Dan Dia adalah Maha Perkasa dan Maha Pengampun)

yaitu:

Dengan menonjolkan terlebih dahulu sifat Allah yang bernama Al-Aziz, Yang Maha Perkasa dijelaskan bahwa Allah tidak boleh dipermainkan. Di hadapan Allah tidak boleh beramal separo atau ragu-ragu, melainkan dikerjakan dengan sungguh-sungguh, hati-hati dan penuh disiplin. Karena kalau tidak demikian, Tuhan akan murka. Tetapi Tuhan pun memiliki sifat Al-Ghofur, Maha Pengampun atas hamba-Nya yang tidak dengan sengaja melanggar perintah Tuhan, dan berniat hendak berbuat amalan yang lebih baik, tetapi tidak mempunyai tenaga yang cukup buat mencapai yang lebih baik itu.

Surat Al-Mulk ayat 03, berbunyi :

الذي خلق سبع سموات طباقا ما ترى في خلق الرحمن من تفاوت فارجع البصر هل ترى من فطور(3)

Penjelasan

Menurut Sayyid Quthb makna ayat :

  • الذي خلق سبع سموات طباقا (Dia telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat) yaitu:

Di dalam zilal nya bahwa langit tujuh tingkat itu jangan ditafsirkan dengan ilmu pengetahuan (science, sains) yang bisa berubah-ubah. Karena penyelidikan manusia tidak akan lengkap menghadapi alam cakrawala yang begitu luas.

Menurut Prof. Dr. Hamka makna ayat:9

  • ما ترى في خلق الرحمن من تفاوت (Tidaklah akan engkau lihat pada penciptaan

yang Maha Pemurah itu sesuatu pun dari yang bertikaian) yaitu:

Bahwa semua yang diciptakan Tuhan dijadikan dengan teratur dan tersusun rapi. Menurut ahli-ahli astronomi bahwasannya bintang-bintang yang bertaburan di langit itu diatur menurut jarak ukuran tertentu, ukuran keseimbangan. Sehingga yang satu berkait dengan yang lain. Dan tidak terjatuh dari tempat yang telah ditentukan.

  • فارجع البصر هل ترى من فطور (Maka ulanglah kembali penglihatan adalah engkau lihat semuanya itu janggal) yaitu:

Ilmu pengetahuan manusia telah membuktikan bahwa bulan lebih kecil dari bumi. Mengapa sama saja kelihatan besarnya? Alangkah cerdik dan pandai Tuhan mengaturnya. Sebab itu tidaklah ada yang janggal.

Surat Al-Mulk ayat 04, berbunyi :

ثم ارجع البصر كرتين ينقلب إليك البصر خاسئا وهو حسير (4)

Penjelasan

Menurut Prof.Dr. Hamka makna ayat :10

  • ثم ارجع البصر كرتين (kemudian itu ulanglah penglihat kedua kalinya) yaitu:

Ayat ini menyuruh kita mengulangi penglihatan memperhatikan sekali lagi, dua tiga kali. Karena apabila ditambah mengulangi melihatnya akan terdapat lagi keajaiban yang baru.

  • ينقلب إليك البصر خاسئا (niscaya akan kembalilah penglihatan dalam keadaan payah) yaitu:

Payah dalam ayat ini adalah payah karena kagum dengan kebesaran Ilahi, bila dilihat keadaan alam yang sekelilingnya kita ini akan terdapatlah sifat-sifat Allah yang mulia tertulis dengan jelasnya.

  • وهو حسير (Dan dia akan mengeluh) yaitu:

Mengapa mengeluh? Mengeluh lantaran karena di waktu itu menedesaklah dari dalam jiwa kita sebagai manusia berbagai perasaan. Di antaranya kagum melihat betapa besarnya kekuasaan Tuhan dan terasa kecil diri di bawah kekuasaan Tuhan dan terasa kecil diri di bawah kekuasaan Ilahi.

Menurut Ust.Asrari Alfa MAg dan Drs. H. Syu’aib H. Muhammad MAg diambil dari Shofwatut Tafsir makna surat al-Mulk ayat 1-4 yaitu:11

  • Makna تبارك الذي بيده الملك yaitu:

Maha mulia dan luhur Allah yang maha tinggi dan maha besar, yang melimpahkan kepada makhluknya bermacam-macam kebaikan .Yang mankerajaan langit dan bumi dalam genggaaman kekuasaan dan berbuat sesuatu sekehendakNya. Ibnu Abbas berkata: DitanganNyalah segala kerajaan, Dia memulyakan dan menghinakan orang yang dikehendaki, menghidupkan dan mematikan, menjadikan kaya dan fakir, serta memberi dan mencegah.

  • وهو على كل شيء قدير yaitu:

Dialah yang menguasai segala sesuatu yang baginya kekuasaan yang sempurna, yang menyelesaikan segala urusan secara sempurna tanpa menahan dan menolak kemudian menerangkan kekuasaanNya dan kata hikmahNya sangat mulia.

  • الذي خلق الموت والحياة yaitu:

Menjadikan di dunia sebuah kehidupan dan kematian, Dia menghidupkan dan mematikan apa yan dikehendakiNya.Dialah Yang Maha Esa dan Maha Perkasa. Akan tetapi Dia memberikan kematian karena sesungguhnya kematian itu bertiup dari nafas dan menakutkan.Ulama’ berkata: Kematian itu bukanlah hal yang fana, yang terputus dari segala kehidupan akan tetapi hanya perpindahan dari satu alam ke alam lain. Hal ini sudah menjadi ketetapan dalam qoul yang shahih bahwa mayyit itu mendengar, melihat dan merasakan di dalam kuburnya sebagaimana Rasulullah bersabda: Sesungguhnya salah seorang diantara kamu apabila diletakkan didalam kuburnya dan para sahabatnya mengiringinya ,sesungguhnya dia mendengar suara langkah kakinya. Kematian adalah terputusnya ruh dari badan terpisahnya dari jasad.

  • ليبلوكم أيكم أحسن عملا yaitu:

Allah menguji  kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik dari yang jelek. Imam Qurthubi berkata: Yakni amalmu yang diuji, sesungguhnya Allah mengetahui orang yang taat dan berbuat dosa.

  • وهو العزيز yaitu:

Dzat yang mengalahkan orang yang melawan-Nya.

  • الغفور yaitu:

Maha pengampun atas dosa-dosaaa orang yang bertaubat dan kembali kepadaNya.

  • الذي خلق سبع سموات طباقا yaitu:

Menciptakan tujuh langit yang berlapis-berlapis

  • ما ترى في خلق الرحمن من تفاوت yaitu:

Wahai para pendengar kamu tiadak melihat ciptaan Allah sesuatu kekurangan dan cacat atau perbedaan dan perselisihan. Tuhan adalah puncaknya keyakinan, sesungguhnya Dia bersabda Fi kholqir rohmaani dan bukan fi hinna sebagai pengagungan bagi makhlukNya dan mengingatkan atas luasnya kekuasaan Allah.

  • فارجع البصر هل ترى من فطور yaitu:

Melihat kelangit secara berulang-ulang atas ciptaan Allah dan apakah kamu mellihat ketereblahan dan keterputusan?

  • ثم ارجع البصر كرتين yaitu:

Kemudian mengulang-ulang lagi melihat ke langit yang sangat menajubkan.

  • ينقلب إليك البصر خاسئا yaitu:

Penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sebuah cacat sebagai bukti, dan tidak melihat apa yang kamu inginkan.

  • وهو حسير yaitu:

Penglihatanmu dalam keadaan letih dan payah karena penyakit yang tak mau sembuh. Imam fahr berkata: Bahwa makna sesungguhnya apabila kamu mengulang-ulangi pandanganmu, penglihatanmu tidak akan kembali kepadamu dengan apa yang disandarkan dari adanya cacad dan cela tetapi kembali  karena tidak menemukan cacad dan melihat keletihan serta kepayahan penyakit yang tak mu sembuh.

Imam Qurthubi berkata: mengulangi pandanganmu dan membalikkan penglihatanmu kelangit secara berulang-ulang maka penglihatanmu akan kembali kepadamu karena tunduk dan merasa kecil yang jauh dari melihat cela dan cacad. Akan tetapi masalah pandangan dengan berulang kali karena manusia apabila melihat sesuatu ssekali tidak melihat cela selagi tidak melihat yang kedua kalinya.

Dan maksud bil karrotaini adalah untuk memperbanyak dengan dalil yanqolib ilaikal bashoro khosinan wahuwa hasiir ini menunjukkan bukti atas banyaknya melihat kemudian Allah menerangkan tentang bintang yang bercahaya dan memancar menghiasi langit.

Sesungguhnya keempat ayat Mulk ini, membawa kita manusia ke halaman alam yang Maha Kuasa untuk mempergunakan penglihatan mata dan pendengaran telinga menghubungkan diri dengan Allah, dengan perantaraan alam yang Allah ciptakan. Benarlah kata-kata yang jadi buah tutur dari ahli tasawuf:

Aku ini adalah perbendaharaan yang sembunyi lalu Aku ciptakan hamba-hambaKu. Maka dengan bimbingan-Kulah mereka mengenal Aku.

Akal budi dan perasaan yang halus dalam diri dipersambungkan dengan alam keliling oleh penglihatan dan pendengaran, untuk mengambil hasil dan mencari hakikat yang sebenarnya mencari kenyataan sejati di belakang kenyataan yang tampak.

Ayat-ayat ini mendorong kita berbuat untuk mencintai seni, berperasaan halus, membawa kita dalam ilmu pengetahuan serta dalam filsafat. Tetapi hasil sejati adalah menumbuhkan keyakinan bahwa kita datang ke bumi tidak kebetulan dan alam sendiri mustahil begini teratur; kalau tidak ada yang mengaturnya.

3 Surat Al-A’raf ayat 54

Yaitu surat yang menunjukkan akidah tentang Tuhan dan fenomena alam semesta.

Surat Al-A’raf ayat 54 berbunyi :

إن ربكم الله الذي خلق السموات والأرض في ستة أيام ثم استوى على العرش يغشي الليل النهار يطلبه حثيثا والشمس والقمر والنجوم مسخرات بأمره ألا له الخلق والأمر تبارك الله رب       العالمين (54)

Penjelasan

  • Menurut Sayyid Quthb makna surat al-A’raf ayat 54 yaitu:12 Akidah tauhid Islam tidak meninggalkan satu pun lapangan bagi manusia untuk merenungkan zat Allah Yang Maha Suci dan bagaimana ia berbuat, maka, Allah itu Maha Suci, tidak ada lapangan bagi manusia untuk menggambarkan dan melukiskan zat Allah.

Adapun enam hari saat Allah menciptakan langit dan bumi, juga merupakan perkara ghaib yang tidak ada seorang makhlukpun menyaksikannya. Allah telah menciptakan alam semesta ini dengan segala kebesaran-Nya, yang menguasai alam ini mengaturnya dengan perintah-Nya, mengendalikannya dengan kekuasaan-Nya. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat dalam putaran yang abadi ini yaitu putaran malam mengikuti siang dalam peredaran planet ini.

Dia menciptakan matahari, bulan dan bintang, yang semuanya tunduk kepada perintah-Nya, sesungguhnya Allah Maha Pencipta, Pelindung, Pengendali dan Pengatur. Dia adalah Tuhan kalian yang memelihara kalian dengan manhaj-Nya, mempersatukan kalian dengan peraturan-Nya, membuat syariat bagi kalian dengan izin-Nya dan memutuskan perkara kalian dengan hukum-Nya. Dialah yang berhak menciptakan dan memerintah.

Inilah persoalan yang menjadi sasaran pemaparan ini yaitu persoalan uluhiah, rububiyah dan hakimiyah, serta manunggalnya Allah SWT. Pada semuanya ini ia juga merupakan persoalan ubudiyah manusia di dalam syariat hidup mereka. Maka, ini pulalah tema yang dihadapkan konteks surat ini yang tercermin dalam masalah pakaian sebagaimana yang dihadapi surat Al-An’am dalam masalah binatang ternak, tanaman,nazar-nazar dan syiar-syiar.

Menurut Thahir Ibnu Asyur makna surat al-A’raf ayat 54 yaitu:13

  • Bahwa hubungan surat ini sangat serasi. Ia memulai dengan menyebut al-Qur’an, perintah mengikutinya serta larangan mendekati apa yang bertentanngan dengannya. Selain itu juga memperingatkan ttentang apa yang menimpa umat-umat yang dahulu, yang enggan mengakui keesaan Allah serta mendurhakai rasul-rasul mereka . Setelah itu semua kumpulan ayat ini menjelaskan tentang tauhid beserta bukti kebenarannya dan mengajak untuk tunduk dan patuh kepadanNya.

Menurut Al-Biqa’i makna surat al-A’raf ayat 54 yaitu:

  • Bahwa tema pokok yang berkisar pada uraian al-Qur’an tentang tauhid, Nubullah (kenabian), hari kemudian, dan pengetahuan. Ayat ini juga menegaskan bahwa sesungguhnya Tuhan Pemelihara dan Pembimbing, serta yang menciptakan kamu dari tiada dan akan membangkitkan kamu ialah Allah Yang Maha Esa yang telah mneciptakan semua langit dan bumi yakni alam raya dalam enam hari (enam masa).

Informasi tentang penciptaan alam dalam enam hari mengisyaratkan tentang qudrat, dan ilmu, serta hikmah Allah swt .

Kemudian Dia bersemayam di atas Arsy. Dia berkuasa dan mengatur segala yang diciptakan-Nya, sehingga berfungsi sebagaiman ynag ia kehendaki yaitu Dia menutupkan malam dengan kegelapannya kepada siang ataupun sebaliknya dan silih berganti dan diciptakan-Nya pula matahari, bulan dan bintang masing-masig tunduk kepada perintah-Nya, yakni alah menetapkan hukkum yang berlaku atasnnya dan benda-benda itu tidak dapat mengelak dari hokum-hukum yang ditetapkan Allah itu.

  • ثم استوى على العرش yaitu:

Istawa makna dasarnya bersemayam dialihkan ke makna majazi yaitu berkuasa. Sehingga penggalan ayat ini menegaskan tentang kekuasaan Allah SWT dalam mengatur dan mengendalikan alam raya, tetapi hal tersebut sesuai dengan kebesaran dan kesucian-Nya dari segala sifat kekurangan atau kemakhlukkan.

Kata Tsumma menggambarkan betapa jauh tingkat penguasaan ‘Arsy, dibanding dengan penciptaan langit dan bumi.

  • مسخرات yaitu:

Terambil dari kata sakhkhara yang berarti ancaman, pengajaran atau pengaturan tanpa meminta imbalan dari yang dittundukkan untuknya. Ini berarti, alam raya dan segala isinya ditundukkan allah SWT untuk dimanfaatkan oleh manusia, jika demikian bukan manusia yang menundukkannya, sehingga manusia tidak boleh annnngkkuh terhadap alam akan tetapi harus bersahabat denngannnnya ssambil mensyukuri nikmat Tuhan denagn jalan mengikuti semua tuntunanNya, baik yang berkaitan dengan alam, maupun diri manusia sendiri.

  • تبارك yaitu:

Berasal dari kata baraka yang berarti menetap dan mantap. Dan dapat dipahami dalam arti kebajikan yang banyak. Allah adalah  wujud yang tak berubah, selalu ada dan menetap lagi banyak kebajikannya.

Dari penjelasan ini terlihat,  bahwa ketika kata itu dinisbahkan kepada Allah dapat dipahami dalam arti sangat menonjol kebajikan yang disandanng dan dinampakan olehNya. Itu semua terhampar jelas dialam raya ini.

Menurut Muhammad Ali Ash-Shabuny makna surat al-A’raf ayat 54 yaitu:14

  • Di dalam ayat ini Alah menyebutkan beberapa dalil dan bukti tentang keEsaanNya:
  1. Penciptaan langit tujuh tingkatan, yang merupakan bukti penciptaan dan kemukjizatan
  2. Arsy ar-Rahman yang tidak dapat dicakup oleh langit dan bumi, yang tak dapat dibayangkan oleh hayalan karena besarnya.
  3. Bintang, matahari, rembulan, dan berbagai planet, yang semua ada di bawah kekuasaan Allah.

Tujuan pemaparan ayat ini adalah jangan menjadikan kita lupa untuk

berhenti beberapa saat di depan pemandangan yang indah, hidup, bergerak

dan memberikan isyarat/kesan yang mengagumkan.

4 Surat Ali Imran ayat 190

Imam Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Husain Ibnu Ishaq At-Tushri, telah menceritakan kepada kami Yahya Al-Hammani, telah menceritakan kepada kami Ya’qub Al-Qummi, dari Ja’far Ibnu Abul Mugirah, dari Sa’id Ibnu Jubairi dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa orang-orang Quraisy datang kepada orang-orang Yahudi, lalu berkata, Mukjizat apakah yang dibawa oleh Nabi Musa kepada Kalian? orang-orang Yahudi menjawab,  tongkat dan tangannya yang tampak putih bagi orang-orang yang memandang. Mereka datang kepada orang-orang Nashrani, lalu bertanya, Apakah yang dilakukan oleh Nabi Isa?. Orang-orang Nashrani menjawab, Dia dapat menyembuhkan orang yang buta sejak lahirnya, orang yang berpenyakit supak, dan dapat menghidupkan orang-orang yang mati. Mereka datang kepada Nabi SAW dan berkata, berdoalah kepada Allah, semoga Dia menjadikan kamu bukit Shifa ini menjadi emas. Maka turunlah ayat ini yang berbunyi :

إن في خلق السموات والأرض واختلاف الليل والنهار لآيات لأولي الألباب (آل عمران : 190)

Riwayat ini sulit dimengerti, mengingat ayat ini adalah ayat Madaniyah, sedangkan permintaan mereka yang menghendaki agar bukit emas menjadi emas adalah di Makkah.

Penjelasan

  • Menurut Al-Imam Abul Fida Isma’il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi makna ayat:15

إن في خلق السموات والأرض

Yaitu yang ini dalam ketinggiannya dan keluasannya, dan yang ini dalam hamparannya, kepadatannya serta tata letaknya, dan semua yang ada pada keduanya berupa tanda-tanda yang dapat disaksikan lagi amat besar, seperti lautan gunung, pepohonan, hewan, tumbuhan, barang tambang serta berbagai macam manfaat yang beraneka warna, bermacam-macam rasa, bau dan kegunaannya..

  • Makna ayat:

واختلاف الليل والنهار

Yaitu saling bergiliran dan mengurangi panjang dan pendeknya; ada kalanya yang ini panjang dan yang lain pendek, kemudian keduanya sama. Setelah itu yang ini mengambil sebagian waktu dari yang lain hingga ia menjadi panjang waktunya, yang sebelum itu pendek dan menjadi pendeklah yang tadinya panjang. Semuanya itu berjalan berdasarkan pengaturan dari Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.

  • Karena itu dalam firman selanjutnya disebutkan:

لآيات لأولي الألباب

Maksudnya yaitu akal-akal yang sempurna lagi memiliki kecerdasan, karena hanya yang demikianlah yang dapat mengetahui segala sesuatu dengan hakikatnya masing-masing secara jelas dan gamblang. Lain halnya dengan orang tuli dan bisu serta orang-orang yang tak berakal seperti yang disebutkan dalam Al-Qur’an surat Yusuf ayat 105-106, yang berbunyi:

وكأين من ءاية في السموات والأرض يمرون عليها وهم عنها معرضون (105) وما يؤمن أكثرهم بالله إلا وهم مشركون (106) (يوسف : 105- 106)

  • Menurut Sayyid Quthb terjemahan Aunur Rafiq Shaleh Thamhid dari Tafsir Fi Dzilalil Qur’an bahwa makna : 16

Ulul albab yaitu orang-orang yang memiliki kesadaran yang benar, membuka mata hati mereka untuk menerima ayat-ayat kauniyah Allah tanpa memasang berbagi penghalang dan tidak menutup berbagai pintu yang menghubungkan antara diri mereka dan ayat-ayat tersebut.

Dari penjelasan diatas dapat dipahami bahwa kontek al-Quran disini menggambarkan secara cermat  tahap-tahap getaran jiwa yang ditumbuhkan oleh tatapan terhadap pemandangan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang didalam perasan ulul albab. Menjadikan kitab alam yang terbuka ini sebagai kitab penngetahuan bagi manusia dengan Tuhan dan ciptaannya.

Kontek ini juga menggabungkan antara perenungan makhluk ciptaan tuhan dan ibadah kepadaNya, sehingga perenungan ini bernilai ibadah dan menjadikanya sebagai bagian dari manifestasi dzikir . Penggabungan tersebut mengisyaratkan dua hal penting yaitu:

  1. Perenungan tentang ciptaan Tuhan, pencermatan terhadap tangan Allah Yang Maha Pencipta, ketika menggerakkan alam ini dan lembarankitab ini merupakan ibadah yang sejati kepada Alah dan dzikir yang utama kepadanya.
  2. Bahwa ayat-ayat Allah di alam ini tidak akan terlihat jelas sesuai hakikatnya yang sarat inspirasi, kecuali oleh hati ynag senantiasa beribadah dan berdzikir.

5 Surat Ibrahim ayat 32 sampai 34

Surat Ibrahim ayat 32 berbunyi:

الله الذي خلق السموات والأرض وأنزل من السماء ماء فأخرج به من الثمرات رزقا لكم وسخر لكم الفلك لتجري في البحر بأمره وسخر لكم الأنهار (32)

Penjelasan

Menurut Sayyid Quthb makna ayat:17

  • الله الذي خلق السموات والأرض وأنزل من السماء yaitu:

Maksudnya adalah bahwasannya Allah menciptakan langit dan bumi

untuk manusia. Langit diturunkan darinya air (hujan) dan bumi menerima

air hujan itu.

  • ماء فأخرج به من الثمرات رزقا لكم yaitu:

Bahwa berbagai buah-buahan keluar dari keduanya (langit dan bumi). Tanaman-tanaman adalah sumber rizki yang pertama dan sumber kenikmatan yang nyata. Hujan dan penumbuhan keduanya mengikuti sunnah yang telah diciptakan padanya alam semesta ini.

Juga mengikuti undang-undang yang menetapkan turunnya hujan, tumbuhnya tanaman-tanaman, dan itu berbicara tentang nikmat-nikmat Allah yang tak terhingga. Halaman-halaman yang luas lagi besar menampilkan berbagai warna kenikmatan-kenikmatan itu sejauh mata memandang.

  • وسخر لكم الفلك لتجري في البحر بأمره yaitu:

Bahwa Allah menundukkannya dengan apa yang telah Dia titipkan pada berbagai unsur kekhususan-kekhususan yang dapat menjalankan bahtera pada permukaan air. Juga dengan apa yang telah Dia titipkan pada manusia berupa spesialisasi-spesialisasi yang berhasil ditemukan oleh hukum segala sesuatu. Semua itu ditundukkan dengan kehendak Allah.

  • وسخر لكم الأنهار yaitu:

Sungai-sungai mengalir, maka mengalirlah kehidupan dengan membawa berbagai rizki. Air sungai melimpah, maka melimpahlah kebajikan, dengan membawa apa yang terkandung di dalamnya berupa ikan, rumput-rumputan, dan manfaat-manfaat lainnya. Semua itu untuk manusia dan untuk apa yang dipelihara dan didayagunakan manusia, yakni sebangsa burung dan hewan-hewan lainnya.

Surat Ibrahim ayat 33 berbunyi:

وسخر لكم الشمس والقمر دائبين وسخر لكم الليل والنهار (33)

Penjelasan

Menurut Sayyid Quthb makna ayat:18

  • وسخر لكم الشمس والقمر دائبين yaitu:

Maksudnya manusia tidak memanfaatkan matahari dan bulan secara langsung sebagaimana memanfaatkan air, buah-buahan, laut, bahtera dan sungai. Akan tetapi, manusia mendapatkan manfaat dari unsur-unsur (pengaruh-pengaruh dan jejak-jejak sinar) keduanya dan mengambil berbagai materi dan potensi kehidupan dan penghidupannya, bahkan dalam struktur dan reformasi sel-sel tubuhnya.

  • وسخر لكم الليل والنهار yaitu:

Demikian pula Allah menunjukkan malam dan siang sesuai dengan kebutuhan dan struktur manusia serta apa yang relevan dengan kegiatan dan waktu santainya. Seandainya yang ada itu siang selamanya/malam selamanya, niscaya rusaklah organ-organ manusia. Di samping itu terjadi kerusakan pada segala yang ada di sekitarnya serta terhalang kehidupan, kegiatan dan produksinya.

Semua itu tiada lain kecuali tulisan-tulisan yang terhampar dalam kenikmatan-kenikmatan yang luas pada setiap tulisan terdapat titik-titik yang tiada terhingga. Oleh karena itulah tulisan-tulisan itu dihimpun secara global dan relevan dengan hamparan yang dipertunjukkan dan suasana yang universal.

Menurut M. Quraisy Shihab makna ayat:19

  • Kata سخر digunakan dalam arti menundukkan sesuatu agar mudah digunakan oleh pihak lain. Sesuatu yang ditundukkan Allah tidak lagi memiliki pilihan, dan dengan demikian, manusia yang mepelajari dan mengetahui sifat sesuatu itu akan merasa tenang menghadapinya karena yang ditundukkan tidak akan membangkang. Dari sini diperoleh kepastian hukum-hukum alam.

Penundukkan bahtera adalah kemampuan manusia membuatnya sehingga dapat digunakan untuk berlayar dan mengangkut barang-barang menuju arah yang mereka kehendaki. Ayat ini menyatakan menundukkan bahtera bagi kamu supaya ia berlayar karena kontek ayat ini menyebut nikmat Tuhan sedang alat transportasi laut merupakan salah satu nikmat dari kelautan.

  • Kata دائبين yaitu: bentuk dual dari kata da’b. kata ini mengandung makna berkelanjutnya suatu aktifitas tertentu secara teratur dan terus menerus. Perurutan penyebutan anugerah Tuhan diatas sungguh serasi.

Surat Ibrahim ayat 34 berbunyi:

وءاتكم من كل ما سألتموه وإن تعدوا نعمة الله لا تحصوها إن الإنسان لظلوم كفار (34)

Penjelasan

Menurut Sayyid Qutuhb makna ayat:20

  • وءاتكم من كل ما سألتموه وإن تعدوا نعمة الله لا تحصوها yaitu:

Inilah i’jaz yang di dalamnya serasi dan harmonis semua sentuhan, tulisan, warna dan bayangan dalam pagelaran alam semesta dan pertunjukkan kenikmatan-kenikmatan. Bahwasannya Allah telah memberikan segala nikmatnya kepada kita, yakni harta, keturunan, kesehatan, perhiasan dan kesenangan. Nikmat Allah itu lebih besar dan lebih banyak dari penghitungan  yang dilakukan oleh sekelompok manusia (seluruh manusia). Mereka semua terbatasi di antara dua batas waktu : permulaan dan penghabisan. Juga di antara batas-batas pengetahuan, mengikuti batas-batas waktu dan tempat. Nikmat-nikmat Allah itu mutlak sehingga pengetahuan dan pengamatan manusia tidak bisa melingkupinya.

  • إن الإنسان لظلوم كفار yaitu:

Setelah itu semua, mereka menjadikan bagi Allah sekutu-sekutu.  Bahkan semua itu pula, kamu tidak menyukuri nikmat Allah, tetapi justru

menukarnya dengan kekafiran dan melakukan kedzaliman dalam takdir

maupun dalam ibadah.

Menurut M. Quraisy Shihab makna ayat 34 yaitu:

  • وءاتكم من كل ما سألتموه yaitu:

Segala kebutuhan manusia telah disiapkan oleh Allah SWT atau Allah telah menyiapkan dan memberikan kepada setiap orang apa yang dimintanya, baik melalui usahanya yang disukseskan Allah maupun melalui perintahNya kepada yang memiliki kelebihan untuk memberikan sebagian dari yang dimilikinya kepada yang butuh.

  • Kata لظلوم yaitu:

Berarti mendzalimi dan menghalangi orang lain memperoleh haknya, atau menyianyiakan sesuatu dan tidak menggunakannya pada tempat yang semestinya.

  • Kata تحصوها yaitu:

Terambil dari akar kata yang terdiri dari huruf ha’,syad, dan ya’. Dan mengandung tiga makna, yaitu mneghalangi/melarang; menghitung dan mampu; dari sini lahir makna mengetahui dan mencatat serta memelihara; dan sesuatu yang merupakan bagian dari tanah, dari sini lahir kata hasha yang bermakna batu. Dari penjelasan diatas dapat diketahui bahwa maksud kata tersebut adalah pengetahuan menyangkut sesuatu dari himpunan dan bilangannya, sehingga yang dapat menjangkau segala sesuatu hanyalah Tuhan

Ayat ini ditutup dengan mengemukakan dua sifat buruk manusia yaitu

sangat dzalim dan kafir. Sehingga kontek ayat 34 mengandung uraian tentang sikap manusia yang durhaka terhadap aneka anugerah Allah.

Menurut Prof. Syeikh Musthofa Al-Maraghy makna surat Ibrahim ayat 32-34 yaitu:21

  • الله الذي خلق السموات والأرض yaitu:

Allah Yang telah menciptakan langit dan bumi bagi kalian, keduanya lebih besar daripada kalian dan pada keduanya terdapat banyak manfaat, baik yang kalian ketahui maupun yang tidak diketahui. Dan semuanya itu menunjuk kepada kebesaran kodrat-Nya dan kesempurnaan nikmat-Nya atas wujud ini.

  • وأنزل من السماء ماء فأخرج به من الثمرات رزقا لكم yaitu:

Dan Dialah Allah yang telah menurunkan air hujan dari langit, lalu dengan air hujan itu Dia menumbuhkan pohon-pohon dan tanaman, sehingga menghasilkan buah-buahan dan sayuran kepada kalian sebagai rizqi yang kamu makan dan menjadikan kalian hidup. Ayat ini juga sama dengan firman Allah dalam surat Thahaa ayat 53.

  • وسخر لكم الفلك لتجري في البحر بأمره yaitu:

Dia menundukkan bahtera-bahtera bagi kamu, seperti dengan  menjadikan kalian mampu membuatnya, menjadikannya mengapung  di permukaan air, dan diatas lautan dengan perintah Tuhan. Kemudian, Dia menundukkan lautan membawa bahtera itu, agar para Musafir dapat menempuh jarak yang jauh untuk mengangkut dan menindahkan apa yang ada di suatu daerah ke daerah lain untuk menghasilkan manfaat yang mereka perlukan.

  • وسخر لكم الأنها yaitu:

Dia menundukkan sungai-sungai bagi kamu yang membelah bumi dari satu belahan ke belahan lain, agar kamu memanfaatkannya untuk   minum dan membuat selokan /saluran, untuk menyirami tanaman, taman/kebun dan lain sebagainya.

  • وسخر لكم الشمس والقمر دائبين وسخر لكم الليل والنهار yaitu:

Dia menundukkan bagi kalian matahari dan bulan untuk selalu saling  bergerak di dalam falaq-Nya, tidak berhenti-henti, untuk menerangi dunia dan memberikan daya hidup kepada binatang-binatang dan tumbuh-tumbuhan.

  • وسخر لكم الليل والنها yaitu:

Dia-lah yang menundukkan bagi kamu malam dan siang yang salling mengikuti. Siang itu untuk mencari penghidupan dan bekerja, sedang malam untuk beristirahat. Sebagaimana dalam surat al-Qashas ayat 73.

Matahari dan bulan terus menerus beriringan, demikian pula malam dan siang. Maka kadang-kadang malam lebih panjang dari siang maupun sebaliknya.

  • وءاتكم من كل ما سألتموه yaitu:

Allah telah meyediakan bagi kalian segala apa yang kalian perlukan dalam seluruh keadaan kalian, dari segala yang berhak untuk kamu memohonnya, baik kamu memohonnya ataupun sebaliknya. Karena, Allah-lah yang telah meletakkan di dalam dunia ini berbagai manfaat yang tidak di ketahui oleh manusia, tetapi disediakan bagi mereka. Sehingga, tidak seorang pun dari umat dahulu memohon kepada Tuhan agar diberi kapal terbang magnit, dan listrik. Semua itu diberikan kepada manusia secara bertahap, dan masih ada keajaiban yang akan tampak bagi orang -orang sesudahnya.

  • وإن تعدوا نعمة الله لا تحصوها yaitu:

Dan kamu wahai anak Adam tiada sanggup menghitung satu persatu nikmat Allah yang telah dicurahkan atas dirimu, konon lagi mensyukuri-Nya.

  • إن الإنسان لظلوم كفار yaitu:

Sesungguhnya manusia yang mengganti nikmat Allah dengan  kekufuran benar-benar telah bersyukur kepada selain Tuhan yang melimpahkan nikmat kepadanya. Dengan demikian, dia telah  menempatkan syukur bukan pada tempatnya. Allah-lah yang telah melimpahkan nikmat kepadanya, dan Dia-lah yang berhak menerima ibadah yang ikhlas. Namun, manusia beribadah kepada selain-Nya dan menjadi sekutu bagi-Nya untuk menghalangi manusia dari jalan-Nya. Itulah kedzalimannya, dan itulah keingkaran terhadap nikmat yang dia limpahkan kepadanya. Dia telah memalingkan ibadah kepada selain Tuhan yang memberinya nikmat, dan tidak taat kepada-Nya.

Dari penjelasan diatas dapat dipahami bahwa dalam surat Ibrahim ayat 32-34  ini, Tuhan menerangkan dalil yang terdapat dalam cakrawala yang menunjuk kepada kita agar wajib mensyukuri nikmat Allah dan mentaati-Nya.

BAB III

KESIMPULAN

Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa:

Allah telah menciptakan alam semesta ini dengan segala kebesarannya, yang menguasai alam ini, mengaturnya dengan perintah-Nya ,mengendalikannya dengan kekuasaan-Nya. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat dalam putaran yang abadi ini. Yaitu, putaran malam mengikuti siang dalam peredaran planet ini. Dia menciptakan matahari, bulan dan bintang, yang semula tunduk kepada perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pencipta dan Tuhan sekalian alam.

Al-Qur’an telah menghubungkan semua pagelaran alam semesta dan seluruh getaran jiwa kepada akidah tauhid. Ia mengubah setiap kilatan sinar dalam lembaran alam semesta atau dalam batin manusia kepada sebuah dalil atau isyarat. Demikianlah alam semesta beserta segala isinya beralih rupa menjadi tempat pementasan ayat-ayat Allah yang dihiasi dengan keindahan oleh “tangan” kekuasaan dan bekas-bekasnya tampak nyata dalam setiap pagelaran dan pemandangan serta gambaran dan bayang-bayang didalamnya. Sehingga manusia diharuskan percaya dengan adanya alam semesta ini sebagai bukti dari kebesaran Tuhan.

Alam semesta bukanlah produk dari hasil pemikiran manusia melainkan produk dari hasil pemikiranTuhan. Berdasarkan bukti yang kongkrit dan valid yang berupa ayat-ayat al-Qur’an seperti surat al-Baqoroh: 29, al-A’raf: 54, Ibrahim: 32-34, Fushilat: 9-11, al-Anbiya’: 31, ali-Imran:190-194 dan al-Mulk: 1-4 serta ayat-ayat yang lain dalam al-Qur’an. Perdebatan yang terjadi dikalangan Teolog Muslim menyangkut ungkapan-ungkapan al-Qur’an itu, tidak lain kecuali salah satu dampak buruk dari sekian dampak buruk filsafat Yahudi dan Nashrani yang bercampur dengan akal Islam yang murni. Tidaklah wajar bagi kita dewasa ini terjerumus dalam kesalahan tersebut sehingga memperburuk keindahan akidah Islam dan keindahan al-Qur’an.

Allah menciptakan alam semsta ini dalam keadaan yang sangat harmonis, serasi dan memenuhi kebutuhan makhluk. Allah telah menjadikannya  baik, memerintahkan hamba-hambanya untuk memperbaikinya. Dalam ayat ini Tuhan menerangkan dalil-dalil yang terdapat dalam cakrawala yang menunjuk kepada kita agar mensyukuri Allah dan tetap mentaati-Nya.

DAFTAR PUSTAKA

Baiquni M.Sc.,Ph.D,Prof.Ahmad. Al-Qur’an Ilmu pengetahuan dan Teknologi, (Jakarta: Dana Bakti Prima Persada, 1985)

Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi, Al-Imam Abul Fida Ismail. Tafsir Ibnu Katsir Juz I al-Fatihah – al- Baqoroh, (Bandung: Sinar Baru Algensindo 2002)

, Tafsir Ibnu Katsir Juz 4 ali Imron92-an-Nisa’23,(Bandung: Sinar baru Alggensindo, 2000)

Quthb, Sayyid. Tafsir fi Zhilalil Qur’an: Dibawah Naungan Al-Qur’an, Jilid 1, (Jakarta: Gema Insani Press, 2000)

.Tafsir fi Zhilalil Qur’an: Dilengkapi dengan Takhrij hadits

dan Indeks Tematik, Jilid 2 Juz 3 dan 4, (Jakarta: Robbani Press, 2001)

. Tafsir fi Zhilalil Qur’an: Dibawah Naungan al-Qur’an al-An’am – Surah al-A’raf 137), Jilid 4, (Jakarta: Gema Insani, 2002)

Tafsir fi Zhilalil Qur’an: Dibawah Naungan Al-Qur’an ( Surat Yusuf 102-Thaahaa 56) Jilid 7, (Jakarta: Gema Insani, 2003)

Hamka, Prof. Dr.Tafsir Al-Azhar, Juz IV (Bogor: Yayasan Nurul Islam, 1981)

. Tafsir al-Azhar Juz XXIX, ( Bogor: Yayasan Nurul Islam, 1964)

Al-Maraghi, Syekh Ahmad Mustofa. Tarjamah Tafsir Al-Maraghi, (Yogyakarta: Sumber Ilmu, 1985)

Terjemah Tafsir Al-Maraghi, Juz XIII (Semarang: CV. Toha Putra, 1994)

Shihab, M. Quraish. Tafsir Al-Misbah Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an Volume 1: Surat al-Baqoroh, (Jakarta: Lentera hati, 2000)

Volume 2: Surat an-Nisa’

Volume 5: Surat al-A’raf-at-Taubah, (Jakarta: Lentera hati, 2002)

Volume 7: Surat Ibrahim-al-Isra’,

Ash-Shabuny, Muhammad Ali. Cahaya Al-Qur’an, Tafsir Tematik Surat Al-A’raf-Yunus, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar,2000)

H. Syu’aib. Drs.H.Muhammad, Alfa,Asrori. Tafsir Mashohib (Diambil dari Shofwatut tafsir), (Malang, Fakultas Tarbiyah UIN Malang, 20005)


1 Prof. Achmad Baiquni, M.Sc,Ph.D. Al-Qur’an Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, (Yogyakarta: PT. Dana Bhakti Prima Yasa, 1995),10-14

2 Syekh Ahmad Musthofa al-Maraghi. Tarjamah Tafsir al-Maraghi, (Yogyakarta: Sumber Ilmu, 1985), 63

3 M. Quraish Shihab. Tafsir Al-Misbah Volume I Surat al-Baqarah, (Jakarta: Lentera Hati, 2000), 136-137

4 Al-Imam Abul Fida Ismail Ibnu Kasir Ad-Dimasyqi, Terjemahan Bahrun Abu Bakar L.C. Tafsir Ibnu Kasir Juz I al-Fatihah – al-Baqarah, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2000), 348-355

5 Al-Imam Abul Fida Ismail Ibnu Kasir Ad-Dimasyqi, Terjemahan Bahrun Abu Bakar L.C. Tafsir Ibnu Kasir Juz I al-Fatihah – al-Baqarah, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2000), 349-351

6 Sayyid Quthb, Terjemahan As’ad Yasin, dkk. Terjemahan Tafsir Fi Zhilalil Qur’an, di Bawah Naungan al-Qur’an, (Jakarta: Gema Insani Press, 2000), 64

7 Prof. Dr. Hamka. Tafsir Al-Azhar Juz XXIX, (Bogor: Yayasan Nurul Islam, 1975), 2-5

8 Prof. Dr. Hamka. Tafsir Al-azhar Juz XXIX, (Bogor: Yayasan Nurul Islam, 1975), 6-7

9 Prof. Dr. Hamka. Tafsir Al-Azhar Juz XXIX, (Bogor: Yayasan Nurul Islam, 1975), 7-8

10 Prof. Dr. Hamka., Tafisr Al-Azhar Juz XXIX (Bogor: Yayasan Nurul Islam, 1975), 8-9

11 M. Asrari Alfa MAg, Drs. H. Syu’aib H. Muhammad MAg. Tafsir Al-Mashohib (Diambil dari Kitab Shofwatut Tafsir), (Malang: Fakultas Tarbiyah UIN Malang, 2005), 33-34

12 Sayyid Quthb. Tafsir Fi Zhilalil Qur’an, di Bawah Naungan al-Qur’an ( Surah al-An’am-Surah al-A’raf 137), (Jakarta: Gema Insani, 2002), 323-324

13 M. Quraish Shihab. TafsirAl- Misbah Pesan, Kesan  dan Keserasian al-Qur’an, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), 111-117

14 Muhammad Ali Ash-Shabuny, Terjemahan Kathur Suhardi. Cahaya al-Qur’an Tafsir Tematik Surat al-a’raf-surat Yunus, (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2000), 37

15 Al-Imam Abul Fida Ismail Ibnu Kasir Ad-Dimasyqi, Terjemahan Bahrun Abu bakar L.C. Tafsir Ibnu Kasir Juz 4 (ali-Imron-an-Nisa’ 23), (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2000), 357-359

16 Sayyid Quthb, Terjemahan Aunur Rafiq Shaleh Thamhid L.C. Tafsir Fi Zhilalil Qur’an; Dilengkapi Dengan Tarikh Hadits dan Indeks Tematik Jilid 2 Juz 3 dan 4, (Jakarta: Robbani Press, 2001), 575-576

17 Sayyid Quthb. Tafsir Fi Zhilalil Qur’an di Bawah Naungan al-Qur’an (Surat Yusuf 102-Surat Thahaa 56), Jilid 7, (Jakarta: Gema Insani, 2003), 105-106

18 Sayyid Quthb. Tafsir Fi Zhilalil Qur’an di Bawah Naungan al-Qur’an (Surat Yusuf 102-Surat Thahaa 56), Jilid 7, (Jakarta: Gema Insani, 2003), 106

19 M. Quraish Shihab. Tafsir Al-Misbah Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an Volume 7 (Surah Ibrahim-Surah al-Isra’), (Jakarta: Lentera Hati, 2002), 61-65

20 Opcit, 105

21 Syeikh Ahmad Musthofa Al-Maraghi, Terjemahan K. Anshori Umar Sitanggal dkk. Terjemah Tafsir Al-Maraghi Juz XIII, (Semarang: CV. Toha Putra,1994), 294-298


Pendahuluan

Dunia pendidikan saat ini masih dihadapkan pada berbagai persoalan, mulai dari soal rumusan tujuan pendidikan yang kurang sejalan dengan tuntutan masyarakat, sampai kepada persoalan guru, metode, kurikulum dan lain sebagainya.

Dan upaya untuk mengatasi masalah tersebut masih terus dilakukan dengan berbagai upaya.  Tetapi upaya yang demikian itu tampaknya perlu dilacak pada akar permasalahannya yang bertumpu pada pemikiran filosofis. Kita ketahui bahwa secara umum filsafat berupaya menjelaskan inti dari segala yang ada, dan karena itu filsafat dikenal sebagai induk segala ilmu.

Filsafat pendidikan Islam secara umum akan mengkaji berbagai masalah yang terdapat dalam dunia pendidikan. Misalnya berkaitan dengan masalah metode pendidikan seperti yang akan kita bahas dalam makalah ini. Untuk itu perlu untuk kita ketahui apa yang dimaksud dengan metode pendidikan Islam dan fungsinya serta metode-metode apa saja yang terdapat dalam dunia pendidikan.

Tujuan dari makalah ini agar kita mengetahui dan memikirkan bagaimana menggunakan metode pendidikan ketika terjun dalam masyarakat. Baik secara langsung maupun tidak langsung. Karena dengan mengetahuinya kita setidaknya sudah bisa mengantisipasi segala problem yang akan kita hadapi saat berada dalam masyarakat khususnya dalam hal pendidikan.

A.      Pengertian Metode Pendidikan Islam

Dalam bab ini kita akan membahas tentang pengertian Metode Pendidikan Islam. Dimana setiap kata akan kita bahas satu persatu yaitu: metode, Pendidikan, Pendidikan Islam, Metode Pendidikan, Dan metode Pendidikan Islam. Tujuannya agar pembaca lebih memahami secara mendalam tentang Metode Pendidikan Islam ini.

1.         Pengertian Metode

Kata metode berasal dari bahasa Greek (Yunani) yang terdiri dari kata “meta” yang berarti melalui, dan kata “hodos” yang berarti jalan. Jadi metode berarti jalan yang dilalui.[1] Runes, sebagaimana yang dikutip oleh Muhammad Noor Syam, secara teknis menerangkan bahwa metode adalah (1) Suatu prosedur yang dipakai untuk mencapai suatu tujuan. (2) Suatu teknik mengetahui yang dipakai dalam proses mencari ilmu pengetahuan dari suatu materi tertentu. (3) Suatu ilmu yang merumuskan aturan-aturan dari suatu prosedur.[2] Selain itu ada pula yang mengatakan bahwa metode adalah suatu sarana untuk menemukan, menguji, dan menyusun data yang diperlukan bagi pengembangan.[3]Ada lagi pendapat yang mengatakan bahwa metode sebenarnya berarti jalan untuk mencapai tujuan.[4] Jalan untuk mencapai tujuan itu bermakna ditempatkan pada posisinya sebagai cara untuk menemukan, menguji, dan menyusun data yang diperlukan bagi pengembangan ilmu atau tersistematisasikannya suatu pemikiran.

Dalam bahasa Arab metode diungkapkan dalam berbagai kata. Terkadang digunakan kata al-thariqah, Manhaj, dan al-Wasilah. Al-thariqah berarti jalan, Manhaj berarti sistem, dan al-Wasilah berarti perantara atau mediator. Dengan demikian, kata arab yang dekat dengan arti metode adalah Al-thariqah. Kata-kata serupa ini banyak dijumpai dalam al-Qur’an menurut Muhammad Fuad Abd al-Baqi didalam al-Qur’an kata al-Thariqah diulang sebanyak sembilan kali. Kata ini terkadang dihubungkan dengan objeknya yang dituju oleh al-Thariqah seperti neraka, sehingga jalan menuju neraka (Q.S 4:169) terkadang dihubungkan dengan sifat dari jalan tersebut, seperti al-Thariqah al-Mustaqimah yang diartikan jalan yang lurus (Q.S. 46:30).[5]

Mohammad Athiyah al-Abrasy mendefinisikan metode sebagai jalan yang kita ikuti memberi paham kepada murid-murid dalam segala macam pelajaran, dalam segala mata pelajaran. Metode adalah rencana yang kita buat untuk diri kita sebelum kita memasuki kelas, dan kita terapkan dalam kelas selama kita mengajar dalam kelas itu. Kemudian Prof. Abd al-Rahim Ghunaimah menyebut metode sebagai cara-cara yang diikuti oleh guru untuk menyampaikan sesuatu kepada anak didik. Adapun Adgar Bruce Wesley mendefinisikan metode sebagai kegiatan yang terarah bagi guru yang menyebabkan terjadinya proses belajar mengajar, hingga pengajaran menjadi berkesan.[6]

Dalam pandangan filosofis pendidikan, metode merupakan alat yang dipergunakan untuk mencapai tujuan pendidikan. Alat itu mempunyai sifat ganda, yaitu bersifat polipragmatis dan monopragmatis. Polipragmatis, bilamana metode itu mengandung kegunaan yang serba ganda (multipurpoce). Misalnya, suatu metode tertentu pada suatu situasi dan kondisi tertentu dapat dipergunakan untuk merusak, dan pada situasi dan kondisi yang lain dapat dipergunakan untuk memperbaiki dan membangun. Contohnya, penggunaan video cassete recorder (VRC) untuk merekam semua jenis film, baik fornografis maupun yang moralis, yang hal itu bila dipergunakan sebagai media pembelajaran, maka sasarannya dapat merusak disamping dapat memperbaiki atau membangun. Monopragmatis adalah alat yang hanya dapat dipergunakan untuk mencapai satu macam tujuan. Misalnya, laboratorium ilmu alam, hanya dapat dipergunakan untuk eksperimen-eksperimen bidang ilmu alam, tidak dapat dipergunakan untuk eksperimen bidang ilmu lain.[7]

2.         Pengertian Pendidikan Islam

Setelah kita membahas tentang metode, selanjutnya kita akan membahas tentang pendidikan Islam. Tetapi terlebih dahulu kita akan membahas tentang pendidikan. Banyak para pakar pendidikan yang mendefinisikan pendidikan secara berbeda-beda tetapi pada intinya sama.

Beberapa ahli pendidikan di Barat yang memberikan arti pendidikan sebagai proses antara lain: Menurut Mortimer J. Adler mengartikan pendidikan adalah proses dengan mana semua kemampuan manusia (bakat dan kemampuan yang diperoleh) yang dapat dipengaruhi oleh pembiasaan, disempurnakan dengan kebiasaan-kebiasaan yang baik melalui sarana yang secara artistik dibuat dan dipakai oleh siapapun untuk membantu orang lain atau dirinya sendiri mencapai tujuan yang ditetapkan yaitu kebiasaan yang baik.

Menurut William Mc Gucken, SJ, seorang tokoh pendidikan Katolik berpendapat bahwa pendidikan diartikan oleh ahli Scholaktik, sebagai suatu perkembangan dan kelengkapan dari kemampuan-kemampuan manusia baik moral, intelektual, maupun jasmaniah yang diorganisasikan, dengan atau untuk kepentingan individual atau sosial dan diarahkan kepada kegiatan-kegiatan yang bersatu dengan Penciptanya sebagai tujuan akhir.[8]

Menurut Prof. Sugarda Purbakawaca, dalam “Ensiklopedi Pendidikan”nya, memberikan pengertian pendidikan, sebagai berikut: “Pendidikan dalam arti luas meliputi semua perbuatan dan usaha dari generasi tua untuk mengalihkan pengetahuannya, pengalamannya, kecakapannya serta ketrampilannya (orang menamakan ini juga “mengalihkan” kebudayaan, dalam bahasa Belanda: Cultuurover dracht) kepada generasi muda sebagai usaha menyiapkannya agar dapat memenuhi fungsi hidupnya baik jasmani maupun rohani.”[9]

Setelah membahas Pendidikan selanjutnya kita akan memaparkan tentang pendidikan Islam. Berikut ini adalah beberapa pengertian Pendidikan Islam secara terminologi yang diformulasikan oleh para ahli Pendidikan Islam, diantaranya adalah:

  1. Menurut al-Syaibaniy mengemukakan bahwa pendidikan Islam  adalah proses mengubah tingkah laku individu peserta didik pada kehidupan pribadi, masyarakat, dan alam sekitarnya. Proses tersebut dilakukan dengan cara pendidikan dan pengajaran sebagai suatu aktifitas asasi dan profesi diantara sekian banyak profesi asasi dalam masyarakat.

b.  Menurut Muhammad Fadhil al-Jamaly, mendefinisikan pendidikan Islam sebagai upaya mengembangkan, mendorong serta mengajak peserta didik hidup lebih dinamis dengan berdasarkan nilai-nilai yang tinggi dan kehidupan yang mulia. Dengan proses tersebut, diharapkan bisa membentuk pribadi peserta didik yang lebih sempurna, baik yang berkaitan dengan potensi akal, perasaan, maupun perbuatannya.

  1. Ahmad D. Marimba mengemukakan bahwa pendidikan Islam adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani peserta didik menuju terbentuknya kepribadiannya yang utama (insan kamil)

d.  Ahmad Tafsir mendefinisikan Pendidikan Islam sebagai bimbingan yang diberikan oleh seseorang, agar ia berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran Islam.[10]

Dari batasan diatas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan Islam adalah suatu sistem yang memungkinkan seseorang (peserta didik) dapat mengarahkan kehidupannya sesuai dengan ideologi Islam. Melalui pendekatan ini, ia akan dapat dengan mudah membentuk kehidupan dirinya sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam yang diyakininya.

3.         Metode Pendidikan Islam

Dari beberapa pengertian yang diformulasikan oleh para pakar diatas tentang pengertian Metode dan Pendidikan Islam. Kita dapat menyimpulkan  tentang pengertian Metode Pendidikan. Seperti yang dikemukakan oleh al-Syaibaniy yaitu, segala segi kegiatan yang terarah yang dikerjakan oleh guru dalam rangka kemestian-kemestian mata pelajaran yang diajarkannya, ciri-ciri perkembangan peserta didiknya, dan suasana alam sekitarnya dan tujuan membimbing peserta didik untuk mencapai proses belajar yang diinginkan dan perubahan yang dikehendaki pada tingkah laku mereka.[11]

Ahmad Tafsir secara umum membatasi bahwa metode pendidikan adalah semua cara yang digunakan dalam upaya mendidik. Kemudian Abdul Munir Mulkan, mengemukakan bahwa metode Pendidikan adalah suatu cara yang dipergunakan untuk menyampaikan atau mentransformasikan isi atau bahan pendidikan kepada anak didik.[12]

Selanjutnya jika kata metode tersebut dikaitkan dengan pendidikan Islam, dapat membawa arti sebagai jalan untuk menanamkan pengetahuan agama pada diri seseorang sehingga dapat terlihat dalam pribadi objek sasaran, yaitu pribadi Islami. Selain itu metode pendidikan Islam dapat diartikan sebagai cara untuk memahami, manggali, dan mengembangkan ajaran Islam, sehingga terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman.

B. FUNGSI METODE PENDIDIKAN ISLAM

Tentang fungsi metode secara umum dapat dikemukakan sebagai pemberi jalan atau cara yang sebaik mungkin bagi pelaksanaan operasional dari ilmu pendidikan tersebut[13]. Sedangkan dalam konteks lain metode dapat merupakan sarana untuk menemukan, menguji, dan menyusun data yang diperlukan bagi pengembangan disiplin suatu ilmu. Dari dua pendekatan ini segera dapat dilihat bahwa pada intinya metode berfungsi mengantarkan suatu tujuan kepada objek sasara dengan cara yang sesuai perkembangan objek tersebut.

Dalam al-Qur’an metode dikenal sebagai sarana yang menyampaikan seseorang kepada tujuan penciptaan-Nya sebagai khalifah di muka bumi dengan melaksanakan pendekatan dimana manusia ditempatkan sebagai makhluk yang memiliki potensi rohaniah dan jasmaniah yang keduanya dapat digunakan sebagai saluran penyampaian materi pelajaran. Karenanya terdapat suatu prinsip yang umum dalam memfungsikan metode, yaitu prinsip agar pengajaran dapat disampaikan dalam suasana menyenangkan, menggembirakan, penuh dorongan, dan motivasi, sehingga pelajaran atau materi didikan itu dapat dengan mudah diberikan. Banyaknya metode yang ditawarkan para ahli lebih merupakan usaha mempermudah atau mencari jalan paling sesuai dengan perkembangan jiwa si anak dalam menerima pelajaran.

Pada kenyataannya, metode merupakan sesuatu yang sangat penting dalalm terciptanya sebuah pendidikan yang ideal. Dengan metode-metode seorang pendidik akan bisa menyampaikan ilmunya kepada peserta didik. Tetapi jika pendidik tidak memiliki metode dalam penyampaian materi pendidikan, maka peserta didik akan kesulitan dalam memahami materi yang disampaikan. Metode bisa dikatakan adalah sebagai jembatan yang menghubungkan pendidik dengan anak didik kepada tujuan pendidikan, yaitu terbentuknya kepribadian. Bila dikaitkan dengan Islam kepribadian ini lebih mengarah pada kepribadian muslim, yang mencerminkan nilai-nilai keislaman.

Dengan demikian, jelaslah bahwa metode sangat berfungsi dalam menyampaikan materi pendidikan. Karena dengan metode seorang pendidik akan lebih mudah dalam  memberikan materi. Dan peserta didik akan mudah dalam memahami apa yang disampaikan oleh pendidik.

C.        ASAS-ASAS UMUM METODE PENDIDIKAN ISLAM

Sesungguhnya metode pendidkan Islam memiliki asas-asas dimana ia tegak berdiri dan memperoleh unsur, tujuan, dan prinsip-prinsip. Asas-asas tersebut pada prinsipnya tidak banyak berbeda dengan asas-asas tujuan dan kurikulum pendidikan Islam. Konsep ini menggambarkan bahwa seluruh komponen yang terkait dalam proses pendidikan Islam adalah merupakan satu kesatuan yang membentuk suatu sistem. Secara umum, asas-asas metode pendidikan Islam itu menurut al-Syaibany[14], adalah:

  1. Asas Agama, yaitu prinsip-prinsip, asas-asas dan fakta-fakta umum yang diambil dari sumber asasi ajaran Islam, yakni al-Qur’an dan Sunnah Rasul.
  2. Asas-Biologis, yaitu dasar yang mempertimbangkan kebutuhan jasmani dan tingkat perkembangan usia peserta didik.
  3. Asas Psikologis, yaitu prinsip yang lahir diatas pertimbangan kekuatan psikologis, seperti motivasi, kebutuhan, emosi, minat, sikap, keinginan, bakat dan kecakapan akal atau kapasitas intelektual.
  4. Asas Sosial, yaitu asas yang bersumber dari kehidupan sosial manusia seperti tradisi, kebutuhan-kebutuhan, harapan-harapan dan tuntutan kehidupan yang senantiasa maju dan berkembang.

Sementara dari sudut pandang pelaksanaannya, asas-asas pendidikan Islam dapat diformulasikan kepada:[15]

  1. Asas Motivasi, yaitu usaha pendidik untuk membangkitkan perhatian peserta didik kearah bahan pelajaran yang sedang disajikan.
  2. Asas Aktivitas, yaitu memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk ambil bagian secara aktif dan kreatif dalam seluruh kegiatan pendidikan yang dilaksanakan.
  3. Asas Apersepsi, mengupayakan respon-respon tertentu dari peserta didik sehingga mereka memperoleh perubahan pada tingkah laku, pembendaharaan konsep, dan kekayaan akan informasi.
  4. Asas Peragaan, yaitu memberikan variasi dalam cara-cara mengajar dengan mewujudkan bahan yang diajarkan secara nyata, baik dalam bentuk aslinya maupun tiruan.
  5. Asas Ulangan, yaitu usaha untuk mengetahui taraf kemajuan atau keberhasilan belajar peserta didik dalam aspek pengetahuan, ketrampilan dan sikap
  6. Asas Korelasi, menghubungkan suatu bahan pelajaran dengan bahan pelajaran lainnya, sehingga membentuk mata rantai yang erat.
  7. Asas Konsentrasi, yaitu memfokuskan pada suatu pokok masalah tertentu dari keseluruhan bahan pelajaran untuk melaksankan tujuan pendidikan serta memperhatikan peserta didik dalam segala aspeknya.
  8. Asas Individualisasi, yaitu memperhatikan perbedaan-perbedaan individual peserta didik.
  9. Asas Sosialisasi, yaitu menciptakan situasi sosial yang membangkitkan semangat kerjasama antara peserta didik dengan pendidik atau sesama peserta didik dan masyarakat, dalam menerima pelajaran agar lebih berdaya guna.
  10. Asas Evaluasi, yaitu memperhatikan hasil dari penilaian terhadap kemampuan yang dimiliki peserta didik sebagai umpan balik pendidik dalam memperbaiki cara mengajar.
  11. Asas Kebebasan, yaitu memberikan keleluasan keinginan dan tindakan bagi peserta didik dengan dibatasi atas kebebasan yang mengacu pada hal-hal yang positif.
  12. Asas Lingkungan, yaitu menentukan metode dengan berpijak pada pengaruh lingkungan akibat interaksi dengan lingkungan.
  13. Asas Globalisasi, yaitu memperhatikan reaksi peserta didik terhadap lingkungan secara keseluruhan, tidak hanya secara intelektual, tetapi juga secara fisik, sosial dan sebagainya.
  14. Asas Pusat-Pusat Minat, yaitu memperhatikan kecenderungan jiwa yang tetap ke jurusan suatu yang berharga bagi seseorang.
  15. Asas Ketauladanan, yaitu memberikan contoh yang terbaik untuk ditiru dan ditauladani peserta didik.
  16. Asas Kebiasaan, yaitu mambiasakan hal-hal positif dalam diri peserta didik sebagai upaya praktis dalam pembinaan mereka.

Metode pendidikan Islam harus digali, didayagunakan, dan dikembangkan dengan mengacu pada asas-asas sebagaimana yang dikemukakan diatas. Melalui aplikasi nilai-nilai Islam dalam proses penyampaian seluruh materi pendidikan Islam, diharapkan proses itu dapat diterima, difahami, dihayati, dan diyakini sehingga pada gilirannya memotivasi peserta didik untuk mengamalkannya dalam bentuk nyata.

D.        JENIS-JENIS METODE PENDIDIKAN  ISLAM

Menurut para ahli  pendidikan, metode pendidikan yang dipakai dalam dunia pendidikan sangat banyak. Hal ini tidak terlepas dari tujuan yang ingin dicapai dalam dunia pendidikan, yaitu membentuk anak didik menjadi lebih baik dari sebelumnya. Dan berikut ini akan  beberapa metode pendidikan yang dikemukakan oleh para ahli, yaitu:

1.         Menurut Omar Mohammad al-Toumy al-Syaibany[16]

Dalam bukunya, Syaibany memaparkan beberapa metode pendidikan, yaitu:

a         Metode Pengambilan Kesimpulan atau Induktif.

Metode ini bertujuan untuk membimbing pelajar untuk mengetahui fakta-fakta dan hukum-hukum umum melalui jalan pengambilan kesimpulan. Metode ini mulai dengan membahas dari bagian-bagian yang kecil untuk sampai kepada undang-undang umum.

Metode ini dapat digunakan pada berbagai ilmu yang mejadi tumpuan perhatian pendidikan Islam. Misalnya, nahu, saraf, fiqhi, hitungan, teknik, fisika, kimia dan dalam berbagai ilmu yang lain. Dan metode ini telah digunakan oleh pendidik-pendidik dan cerdik pandai Islam. Orang-orang Islamlah yang mula-mula menggunakan dan memantapkan metode ini sebelum munculnya Roger Bacon, dan sesudah itu Francis Bacon yang selalu dianggap orang sebagai pencipta metode tersebut.

b        Metode Perbandingan

Metode ini berbeda dengan metode induktif, dimana perpindahan menurut metode ini dari yang umum kepada yang khusus, dari keseluruhan kepada bagian-bagian yang kecil, dimana disebutkan prinsip umum dahulu, kemudian diberi contoh-contoh dan perincian-perincian yang menjelaskan dari prinsip-prinsip umum tersebut. Metode perbandingan dapat digunakan pada pengajaran sains dan pelajaran-pelajaran yang mengandung prinsip-prinsip, hukum-hukum, dan fakta-fakta umum yang dibawahnya termasuk bagian-bagian dan masalah cabang. Dapat juga dipakai dalam mengajarkan bahasa, baik sastra atau nahu, sejarah, saraf dan lain-lain.

Pendidik-pendidik dan para ulama-ulama Islam sudah banyak menggunakan metode perbandingan dalam pengajaran, perbincangan dan dalam usaha membuktikan kebenaran fikiran dan kepercayaan mereka pada karya-karyanya. Terutama sesudah mereka berhubungan dengan logika Aristoteles, yang pertama kali merupakan logika perbandingan.

c         Metode Kuliah

Metode kuliah adalah metode yang menyatakan bahwa mengajar menyiapkan pelajaran dan kuliahnya, mencatatkan perkara-perkara penting yang ingin dibicarakannya. Ia memulai kuliahnya dengan mengutarakan sepintas lalu tentang perkara-perkara penting yang ingin dibicarakan. Kemudian menjelaskan dengan terperinci tentang perkara-perkara yang disimpulkannya pada permulaan kuliahnya. Pelajar-pelajar mengikuti dengan mendengar dan mencatat apa yang difahami dari kuliah itu, untuk dipelajari sekali lagi dengan cara masing-masing.

Pendidik-pendidik Islam mengenal metode ini, sebagaimana juga mereka telah mengenal dua metode sebelumnya. Mereka menggunakannya dalam pengajaran, bimbingan, dan dakwah kepada jalan Allah. Mereka telah meletakkan dasar-dasar, prinsip-prinsip dan syarat-syarat yang menjamin kejayaannya sebagai metode mengajar dakwah.

d        Metode Dialog dan Perbincangan

Metode Dialog adalah metode yang berdasarkan pada dialog, perbincangan melalui tanya jawab untuk sampai kepada fakta yang tidak dapat diragukan, dikeritik dan dibantah lagi. Ahli-ahli pendidikan Islam telah mengenal metode dialog yang dianggap oleh pendidik-pendidik modern berasal dari filosof Yunani Socrates, kemudian mereka kembangkan sesuai dengan tabiat agama dan ahlaknya. Dan atas itulah didasarkan metode perdebatan yang betul-betul merupakan salah satu ciri-ciri khas pendidikan Islam.

e         Metode Lingkaran

Pada metode ini, yang terus menerus dipergunakan pada yayasan-yayasan pendidikan dalam dunia Islam semenjak bermulanya dakwah Islamiyah. Pelajar-pelajar mengelilingi guru-gurunya dalam setengah bulatan untuk mendengarkan syarahnya. Kalau guru itu duduk, ia duduk  bersandar pada sebuah tiang di Mesjid menghadap kiblat. Sebagian ulama mengkhususkan tiang-tiang tertentu yang dijadikan majlisnya sepanjang hidupnya. Kalau seorang guru telah memilih tempat tertentu untuk tempat pengajarannya maka biasanya beliaulah mendapat keutamaan untuk menempati tempat tersebut

Guru-guru yang memasuki halaqah pelajaran harus telah berwudu’ dan berbau harum dan dalam bentuk pakaian yang baik dan dengan khusu’ kepada Allah, terutama pada pelajaran tafsir dan hadits. Guru memulai pelajaran dengan membaca Bismillah, dengan memuji kepada Allah dan mengucapkan salawat kepada Nabi SAW. Kemudian barulah dia memulai pelajarannya. Sehingga bila ia selesai ditutupnya dengan membaca al-Fatihah kemudian  murid-muridnya disuruh untuk membaca pelajaran yang akan datang.

f         Metode Riwayat

Metode ini dianggap salah satu metode dasar yang digunakan oleh pendidik Islam. Hadits, bahasa dan sastera Arab termasuk ilmu-ilmu Islam, dan segi-segi pemikiran Islam yang paling banyak menggunakan metode ini. Tentang hadits Nabi, sahabat-sahabat Nabi SAW meriwayatkan apa yang didengarnya dari beliau tentang hukum-hukum petunjuk, atau pekerjaan-pekerjaan dan keadaan disaksikan dan dilaksanakan.

g        Metode Mendengar

Metode ini dilakukan dengan cara mendengarkan sesuatu. Metode ini banyak digunakan pada abad pertama dakwah Islamiyah, karena pada saat itu tulisan dan pembacaan belum tersebar luas dimasyarakat. Dan juga karena para ahli pada abad itu tidak senang menulis apa yang diriwayatkannya sebab kawatir kalau tulisan itu akan serupa dengan al-Qur’an.

h        Metode Membaca

Metode ini merupakan alat yang digunakan dalam mengajarkan dan meriwayatkan karya ilmiah yang biasanya bukan karya guru sendiri. Menurut metode ini murid membacakan apa yang dihafalnya kepada gurunya atau orang lain membacanya sedang dia mendengar.

Metode ini tersebar setelah pintu ijtihad didunia Islam telah tertutup, dan pengajaran terbatas hanya pada mengikuti buku-buku tertentu yang berkisar dari situ ke situ saja, tidak boleh melampuinya. Segala usaha hanya tertumpu pada membaca, manghafal dan mengulang-ulang kata-kata orang dahulu.

i          Metode Imla’

Metode Imla’ adalah metode mencatat apa yang didengarnya. Misalnya seorang guru membacakan sebuah naskah kemudian murid-muridnya mencatat setiap kata yang didengarnya. Metode ini pernah digunakan pada saat memberikan imla’ dalam hadits seperti yang dilakukan oleh Al-Sayuti pada tahun 873 H. dan metode ini juga digunakan pada pelajaran bahasa Arab.

j          Metode Hafalan

Metode hafalan adalah salah satu metode yang terpusat pada hafalan. Ulama-ulama terdahulu banyak yang menggunakan metode ini untuk mengahafal al-Qur’an dan al-Hadits. Karena pada saat itu sedikit sekali yang mengerti tentang tulis menulis. Metode hafalan ini masih digunakan sampai sekarang, karena terbukti bisa meningkatkan pemikiran.

k        Metode Pemahaman

Metode pemahaman adalah memahami suatu wacana yang sedang dikaji. Metode ini sangat penting dalam pendidikan Islam, karena dengan memahami sebuah tulisan kita bisa mengerti maksud dibalik tulisan itu. Banyak dari kalangan kita yang hanya membaca sebuah buku tetapi sulit untuk memahaminya. Karena metode ini memerlukan pemikiran yang lebih dibandingkan dengan metode yang lainnya.

l          Metode Lawatan Untuk Menuntut Ilmu

Metode lawatan adalah berkunjung kesuatu tempat untuk mencari ilmu atau biasa disebut dengan Studi Banding. Pada saat ini studi banding banyak dipraktekkan dalam lingkungan pendidikan dari TK, SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi, bahkan instansi pemerintah maupun swasta. Hal ini didasarkan pada manfaat yang diperoleh dari metode ini. Dengan metode ini kita akan mempunyai banyak teman, mendapat ilmu, dan memperoleh pengalaman yang sebelumnya tidak kita dapatkan ditempat kita belajar.Para ulama kita pada zaman dahulu banyak yang menggunakan metode ini untuk mencari ilmu, menyebar luaskan Islam.

2.         Menurut Abdurrahman Saleh Abdullah.[17]

Abdurrahman mengemukakan beberapa metode pendidikan, yaitu:

  1. Metode ceramah, yaitu suatu metode yang dilakukan dengan cara penyampaian pengertian-pengertian bahan pembelajaran kepada pelajar dengan jalan penerangan atau penuturan secara lisan. Tujuan yang hendak dicapai dari metode ini adalah untuk memberikan dorongan psikologis kepada peserta didik.
  2. Metode Diskusi, yaitu suatu sistem pembelajaran yang dilakukan dengan cara berdiskusi. Dalam metode ini pertanyaan yang diajukan mengandung suatu masalah dan tidak bisa diselesaikan hanya dengan satu jawaban saja. Jawaban yang terdiri dari berbagai kemungkinan, memerlukan pemikiran yang saling menunjang dari peserta diskusi, untuk sampai pada jawaban akhir yang disetujui sebagai jawaban yang paling benar atau terbaik.
  3. tanya jawab dan dialog, yaitu penyampaian pembelajaran dengan guru mengajukan pertanyaan dan pelajar atau siswa menjawabnya atau berdialog dengan cara saling bertukar fikiran. Metode ini secara murni tidak diawali dengan ceramah, tetapi murid sebelumnya sudah diberi tugas, membaca materi pelajaran tertentu dari sebuah buku.

Teknik ini akan membawa kepada penarikan deduksi. Dalam pendidikan, deduksi merupakan suatu metode pemikiran logis yang sangat bermanfaat. Formulasi dari suatu metode umum diluar fakta ternyata lebih berguna sebab peserta didik akan dapat membandingkan dan menyusun konsep-konsep.

  1. d. Metode perumpamaan atau Metafora. Penjelasan konsep-konsep abstrak dengan makna-makna kongkrit memberi gambaran yang jelas bagi peserta didik. Perumpamaan disini adalah perumpamaan yang terdapat dalam al-Qur’an. Seperti yang terdapat dalam Surat Ankabut ayat 41, yang artinya: perumpamaan-perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah, padahal sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba kalau mereka mengetahuit (Ankabut 41)
  2. Metode hukuman, yaitu metode yang dilakukan dengan memberikan hukuman kepada peserta didik. Hukuman merupakan metode paling buruk dari metode yang lainnya, tetapi dalam kondisi tertentu harus digunakan.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam metode ini adalah: hukuman adalah metode kuratif artinya tujuan hukuman untuk memperbaiki peserta didik dan bukan untuk balas dendam, hukuman baru digunakan apabila metode yang lainnya tidak berhasil, sebelum dijatuhi hukuman peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk memperbaiki dirinya, hukuman yang dijatuhkan kepada peserta didik, hendaknya dapat dimengerti oleh peserta didik, sehingga ia sadar akan kesalahannya.

3.         Menurut Abd al-Rahman al-Nahlawi[18]

Al-Nahwali mengemukakan metode pendidikan yang berdasarkan Metode Qur’an dan Hadits yang dapat menyentuh perasaan yaitu:

  1. Metode Hiwar (percakapan) Qur’ani dan Nabawi, adalah percakapan silih berganti antara dua pihak atau lebih mengenai suatu topik, dan sengaja diarahkan kepada suatu tujuan yang dikehendaki oleh pendidik.

Jenis-jenis hiwar ini ada 5 macam, yaitu:  (1) Hiwar Khitabi, merupakan dialog yang diambil dari dialog antara Tuhan dengan hamba-Nya. (2) Hiwar Washfi, yaitu dialog antara Tuhan dengan malaikat atau dengan makhluk gaib lainnya. Seperti dalam surat Ash-Shaffat ayat 27-28[19] Allah SWT berdialog dengan malaikat tentang orang-orang zalim. (3) Hiwar Qishashi terdapat dalam al-Qur’an, yang baik bentuk maupun rangkaian ceritanya sangat jelas, merupakan bagian dari Uslub kisah dalam Al-Qur’an. Seperti Syuaib dan kaumnya yang terdapat dalam Surat Hud ayat 84-85. (4) Hiwar Jadali adalah hiwar yang bertujuan untuk memantapkan hujjah atau alasan baik dalam rangka menegakkan kebenaran maupun menolak kebatilan. Contohnya dalam al-Qur’an terdapat dalam Surat An-Najm ayat 1-5. (5) Hiwar Nabawi adalah hiwar yang digunakan oleh Nabi dalam mendidik sahabat-sahabatnya.

  1. Metode Kisah Qur’ani dan Nabawi, adalah penyajian bahan pembelajaran yang menampilkan cerita-cerita yang terdapat dalam al-Qur’an dan Hadits Nabi SAW. Kisah Qur’ani bukan semata-mata karya seni yang indah, tetapi juga suatu cara mendidik umat agar beriman kepada-Nya, dan dalam pendidikan Islam, Kisah sebagai metode pendidikan yang sangat penting, karena dapat menyentuh hati manusia.
  2. Metode Amtsal (perumpamaan) Qur’ani, adalah penyajian bahan pembelajaran dengan mengangkat perumpamaan yang ada dalam al-Qur’an. Metode ini mempermudah peserta didik dalam memahami konsep yang abstrak, ini terjadi karena perumpamaan itu mengambil benda konkrit seperti kelemahan Tuhan orang kafir yang diumpamakan dengan sarang laba-laba, dimana sarang laba-laba itu memang lemah sekali disentuh dengan lidipun dapat rusak. Metode ini sama seperti yang disampaikan oleh  Abdurrahman Saleh Abdullah.
  3. Metode keteladanan, adalah memberikan teladan atau contoh yang baik kepada peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Metode ini merupakan pedoman untuk bertindak dalam merealisasikan tujuan pendidik. Pelajar cenderung meneladani pendidiknya, ini dilakukan oleh semua ahli pendidikan, baik di barat maupun di timur. Dasarnya karena secara psikologis pelajar memang senang meniru, tidak saja yang baik, tetapi yang tidak baik juga ditiru.
  4. Metode Pembiasaan, adalah membiasakan seorang peserta didik untuk melakukan sesuatu sejak dia lahir. Inti dari pembiasaan ini adalah pengulangan, jadi sesuatu yang dilakukan peserta didik hari ini akan diulang keesokan harinya dan begitu seterusnya.
  5. Metode Ibrah dan Mau’izah. Metode Ibrah adalah penyajian bahan pembelajaran yang bertujuan melatih daya nalar pembelajar dalam menangkap makna terselubung dari suatu pernyataan atau suatu kondisi psikis yang menyampaikan manusia kepada intisari sesuatu yang disaksikan, yang dihadapi dengan menggunakan nalar. Sedangkan metode Mau’izah adalah pemberian motivasi dengan menggunakan keuntungan dan kerugian dalam melakukan perbuatan
  6. Metode Targhib dan Tarhib. Metode Targhib adalah penyajian pembelajaran dalam konteks kebahagian hidup akhirat. Targhib berarti janji Allah terhadap kesenangan, kenikmatan akhirat yang disertai bujukan. Tarhib adalah penyajian bahan pembelajaran dalam konteks hukuman akibat perbuatan dosa yang dilakukan. Atau ancaman Allah karena dosa yang dilakukan.

Demikianlah beberapa hal yang dapat kami paparkan dalam makalah ini. Semoga dengan hadirnya makalah ini bisa membuka wacana berfikir kita dalam mengembangkan pendidikan kearah yang lebih baik dimasa depan.

Kesimpulan

Dari uraian singkat diatas dapat kami simpulkan beberapa hal, yaitu ternyata dalam dunia pendidikan memiliki banyak metode pendidikan. Karena dalam pendidikan seorang pendidikan tidak hanya mengenal satu karakter orang saja tetapi banyak karakter, hal ini menyebabkan ketika pendidik sedang mengajar akan menghadapi masalah yang berbeda-beda. Disamping itu metode pendidikan merupakan jembatan yang bisa menghubungkan pendidik dengan peserta didik, seandainya metode ini tidak ada pendidik akan kesulitan dalam menerapkan kurikulum dan tujuan yang ingin dicapainya.

Metode pendidikan sangat penting dalam dunia pendidikan, untuk itu setiap pendidik hendaknya mengetahui tentang metode pendidikan. Bukan saja secara formal tetapi yang tidak formalpun harus diketahui. Banyak para ahli pendidikan dahulu maupun sekarang memformulasikan metode pendidikan, tetapi pada kenyataannya memilki satu tujuan yaitu membentuk manusia yang terdidik.

Mungkin hanya itu yang dapat kami simpulkan dari beberapa uraian diatas. semoga bermanfaat bagi kita semua, khususnya generasi muda yang akan terjun dimasyarakat tentunya harus mempunyai bekal yang matang dan baik.

Daftar Pustaka

Al-Syaibany, Omar Mohammad Al-Thoumy, Falsafah Pendidikan Islam,  Terjemahan Hasan Lalunggung, Jakarta:Bulan Bintang, 1979

Arifin, H. M, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bina Aksara, 1987

Barnadib, Imam, Filsafat Pendidikan, Sistem dan Metode, Yogyakarta: Yayasan Penerbitan IKIP Yogyakarta, cet. Ke-6, 1990

Jalaluddin dan Usman Said, Filsafat Pendidikan Islam, Konsep dan Perkembangan pemikirannya, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1994

Nata, H. Abudin, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997

Noor Syam, Mohammad, Falsafah Pendidikan Pancasila, Surabaya: Usaha Nasional, 1986

Nizar, H. Samsul, Filsafat Pendidikan Islam, Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis, Jakarta: Ciputat Pers, 2002

Nawawi, H. Hadari, Pendidikan Dalam Islam, Surabaya: Al-Iklas, 1993

Mulkhan, Abdul Munir, Paradigma Intelektual, Yogyakarta: SI Pers, 1993

Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia, 2002

Tadjab, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Malang: Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel, 1984

Zuhairini, Dkk, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara kerkasama dengan Depag, 1992


[1] M. Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bina Aksara, 1987), 97.

[2] Mohammad Noor Syam, Falsafah Pendidikan Pancasila, (Surabaya: Usaha Nasional, 1986), 24.

[3] Imam Barnadib, Filsafat Pendidikan, Sistem dan Metode, (Yogyakarta: Yayasan Penerbitan IKIP Yogyakarta, cet. Ke-6, 1990), 85.

[4] Abudin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997), 91.

[5] Ibid. 92.

[6] Jalaluddin dan Usman Said, Filsafat Pendidikan Islam, Konsep dan Perkembangan pemikirannya, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1994), 52-53.

[7] Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002),  67.

[8] M. Arifin, Ibid, 12-13.

[9] Tadjab, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, (Malang: Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel, 1984), 39.

[10] Samsul Nizar, Ibid, 32.

[11] Omar Mohammad Al-Thoumy Al-Syaibany, Falsafah Pendidikan Islam,  Terjemahan Hasan Lalunggung, (Jakarta:Bulan Bintang, 1979),  553.

[12] Mulkhan, Abdul Munir, Paradigma Intelektual, (Yogyakarta: SI Pers, 1993).

[13] M. Arifin, Ibid. 61.

[14] Omar Mohammad Al-Thoumy Al-Syaibany, Ibid, 586.

[15] Samsul Nizar, ibid, 68-69.

[16] Omar Mohammad Al-Thoumy Al-Syaibany, Ibid, 561.

[17] Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2002), 168.

[18] Ramayulis, Ibid, 167.

[19] lihat terjemahan al-Qur’an


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Al-Qur’an merupakan sumber segala ilmu. Al-Qur’an menyebutkan tentang kejadian alam semesta dan berbagai proses kealaman lainnya, tentang penciptaan manusia, termasuk manusia yang didorong hasrat ingin tahunya dan dipacu akalnya untuk menyelidiki segala apa yang ada disekitarnya seperti keingintahuan tentang rahasia alam semesta.
Alam semesta merupakan sebuah bukti kebesaran Tuhan, karena penciptaan alan semesta dari ketiadaan memerlukan adanya Sang Pencipta Yang Maha Kuasa. Tuhan telah menciptakan alam semesta ini dengan segala isinya untuk manusia dan telah menyatakan tentang penciptaan alam semesta dalam ayat-ayat Nya. Meskipun demikian al-Qur’an bukan buku kosmlogi atau biologi, sebab ia hanya menyatakan bagian-bagian yang sangat penting saja dari ilmu-ilmu yang dimaksud.
Keinginantahuan manusia tentang alam semesta tidak hanya membaca al-Qur’an saja, akan tetapi juga melakukan perintah Tuhan. Sehingga ia dapat menemukan kebenaran yang dapat dipergunakan dalam pemahaman serta penafsiran al-Qur’an, berdasarkan surat Yunus ayat101. Oleh karena itu tidak dapat diragukan lagi bahwa penciptaan alam semesta bukanlah produk dari hasil pemikiran manusia, akan tetapi
produk dari hasil Tuhan.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Alam Semesta dalam Perspektif Klasik dan Modern
1. Pandangan Klasik
Menurut pakar fisika bahwa alam tidak hanya tak berhingga besarnya dan tak terbatas, tetapi juga tidak berubah status totalitasnya dari waktu tak berhingga lamanya yang telah lampau sampai waktu tak berhingga lamanya yang akan datang.
Menurut Einstein bahwa alam semesta tidak pernah diciptakan, yang qadim, langgeng, sesuai dengan konsesus yang didasarkan pada kesimpulan yang rasional sebagai analisis yang kritis terhadap berbagai data yang diperolehnya dari pemikiran dalam pengamatan.
2. Pandangan Modern
Menurut Hubble bahwa alam semesta ini tidak statis, melainkan merupakan alam yang dinamis, seperti model Friedman.
Hubble melakukan observasi tentang alam melalui teropong bintang terbesar di dunia, melihat galaksi-galaksi di sekeliling kita, yang menurut analisis terhadap spektrum cahayanya tampak menjauhi galaksi kita dengan kelajuan yang sebanding dengan jaraknya dari bumi, yang terjauh bergerak paling cepat meninggalkan kita.1
Menurut Gamow, Alpher dan Robert Herman, bahwa terjadi ledakan yang maha dahsyat yang melemparkan materi seluruh jagat raya ke semua arah, yang kemudian membentuk bintang-bintang dan galaksi karena tidak mungkin materi seluruh alam itu berkumpul di suatu tempat dalam ruang alam tanpa meremas diri dengan gaya gravitasinya yang sangat kuat, sehingga volumenya menjauhi titik, maka disimpulkan bahwa dentuman besar itu terjadi ketika seluruh materi kosmos terlempar dengan kecepatan yang sangat tinggi keluar dari keberadaannya dalam volume yang sangat kecil.
Sehingga menurut mereka alam semesta lahir dari sebuah singularitas dengan keadaan ekstrem.

B. Alam Semesta dalam Perspektif Islam
Alam semesta menurut Islam adalah diciptakan pada suatu waktu dan akan ditiadakan pada saat yang lain.
Pandangan Einstein tentang alam semesta sangat bertentangan dengan konsep alam menurut Al-Qur’an. Karena semula alam tiada tetapi kemudian, sekitar 15 milyard tahun yang lalu, tercipta dari ketiadaan. Sedangkan perbandingan konsepsi fisika tentang penciptaan alam dengan ajaran Al-Qur’an dapat kita lihat dalam surat Al-Anbiya’ ayat 30 yang berbunyi:
أولم ير الذين كفروا أن السموات والأرض كانتا رتقا ففتقناهما
Dan tidaklah oarang-orang kafir itu mengetahui bahwa langit (ruang alam) dan bumi (materi alam) itu dahulu sesuatu yang padu, kemudian Kami pisahkan keduanya itu. (Q.S. Al-Anbiya’ : 30).

C. Ayat-ayat yang Berhubungan dengan Alam Semesta
Di antara ayat-ayat yang dijadikan sebagai bukti otentik tentang penciptaan alam semesta dalam Al-Qur’an yaitu:

1 Surat Al-Baqarah ayat 29
Bahwa Allah SWT setelah merici ayat-ayat-Nya tentang diri manusia dengan mengingatkan awal kejadian, sampai kesudahannya dan menyebutkan bukti keberadaan serta kekuasaan-Nya kepada Makhluk-Nya melalui apa yang mereka saksikan sendiri pada diri mereka, kemudian Dia menyebutkan ayat-ayat-Nya atau bukti lain yang ada di cakrawala melalui apa yang mereka saksikan, yaitu penciptaan langit dan bumi, untuk menunjukkan kekuasaan-Nya yang meliputi segala-galanya dan menunjukkan betapa banyak karunia-Nya kepada umat manusia dengan menjadikan segala yang di bumi sebagai bekal dan persediaan untuk dimanfaatkan. Untuk itu Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
هو الذي خلق لكم ما في الأرض جميعا ثم استوى إلى السماء فسواهن سبع سموات وهو بكل شيء عليم (29)
Penjelasan

Menurut Syekh Ahmad Musthofa Al-Maraghi makna ayat:2
 هو الذي خلق لكم ما في الأرض جميعا (Dialah Tuhan yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu) yaitu :
Dalam memanfaatkan benda-benda di bumi ini dapat ditempuh melalui salah satu dari dua cara, yaitu:
1. Memanfaatkan benda-benda itu dalam kehidupan jasadi untuk memberikan potensi pada tubuh atau kepuasan padanya dalam kehidupan duniawi.
2. Dengan memikirkan dan memperhatikan benda-benda yang tidak dapat diraih oleh tangan secara langsung, untuk digunakan sebagai bukti tentang kekuasaan penciptanya dan dijadikan santapan rohani.
Dengan ayat ini kita mengetahui bahwa pada dasarnya memanfaatkan segala benda di bumi ini dibolehkan. Tidak seorangpun mempunyai hak mengharamkan sesuatu yang telah dihalalkan oleh Allah kecuali dengan izin-Nya sebagaimana telah difirmankan pada ayat 10 surat Yunus.
 ثم استوى إلى السماء (kemudian Dia menuju langit) yaitu:
Kata samaa artinya sesuatu yang jauh berada di atas kepala kita. Dan kata Istawaa berarti langsung menuju tujuan tanpa kecenderungan mengerjakan sesuatu yang lain di tengah-tengah menciptakannya.
 فسواهن سبع سموات (lalu menciptakan tujuh langit) yaitu:
Maksud dari ayat tersebut, Allah menyempurnakan penciptaan langit hingga menjadi tujuh langit.

Menurut Quraisy Shihab makna ayat :3
 هو الذي خلق لكم ما في الأرض جميعا yaitu:
Dipahami oleh banyak Ulama’ menunjukkan bahwa pada dasarnya segala apa yang terbentang di bumi ini dapat digunakan oleh manusia, kecuali jika ada dalil yang melarangnya.
 Makna استوى yaitu:
Kata Istawaa pada mulanya berarti tegak lurus, tidak bengkok. Selanjutnya kata itu dipahami secara majazi dalam arti menuju ke sesuatu dengan cepat dan penuh takad bagaikan yang berjalan tegak lurus tidak menoleh ke kiri dan ke kanan.
 استوى إلى السماء yaitu:
Kehendak Allah untuk mewujudkan sesuatu seakan-akan kehendak tersebut serupa dengan seseorang yang menuju ke sesuatu untuk mewujudkannya dalam bentuk seagung dan sebaik mungkin.
 فسواهن yaitu:
Bahwa langit itu dijadikanNya dalam bentuk sebaik mungkin, tanpa
sedikit aib/kekurangan apapun. Seperti dalam surat al-Mulk ayat 03.

Menurut Al-Imam Abul Fida Ismail Ibnu Katsir Ad-Dimasqy makna ayat:4
 ثم استوى إلى السماء (kemudian Dia menuju langit) yaitu:
Summa dalam ayat ini menunjukkan ‘ataf khabar kepada khabar, bukan ‘ataf fi’il kepada fi’il yang lain.
Istawaa ilas samaa yaitu berkehendak atau bertujuan ke langit. Makna lafadz ini mengandung pengertian kedua lafadz tersebut, yakni berkehendak dan bertujuan, karena ia dimuta’addi-kan denagn memakai huruf ila.
 فسواهن سبع سموات (Lalu Dia menciptakan langit tujuh lapis) yakni:
Lafadz as-samaa dalam ayat ini merupakan isim jins, karena itu disebutkan sab’a samaawaat. Maksud ayat ini yaitu Sebagian dari langit berada di atas sebagian lainnya. Dikatakan sab’a samaawaati artinya tujuh lapis bumi, yakni sebagian berada dibawah yang lain. Ayat ini menunjukkan bahwa bumi diciptakan sebelum langit.
 وهو بكل شيء عليم (Dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu) yaitu:
Maksudnya, pengetahuan-Nya meliputi semua makhluk yang telah Ia ciptakan sebagaimana dalam firman-Nya:
ألا يعلم من خلق..(الملك : 14)
Rincian makna ayat ini diterangkan dalam surat Fushilat ayat 9-12 yang berbunyi:
قل أئنكم لتكفرون بالذي خلق الأرض في يومين وتجعلون له أندادا ذلك رب العالمين (9) وجعل فيها رواسي من فوقها وبارك فيها وقدر فيها أقواتها في أربعة أيام سواء للسائلين (10) ثم استوى إلى السماء وهي دخان فقال لها وللأرض ائتيا طوعا أو كرها قالتا أتينا طائعين (11) فقضاهن سبع سموات في يومين وأوحى في كل سماء أمرها وزينا السماء الدنيا بمصابيح وحفظا ذلك تقدير العزيز العليم (12)
Di dalam ayat Fushilat terkandung dalil yang menunjukkan bahwa Allah SWT memulai ciptaan-Nya dengan menciptakan Bumi, kemudian menciptakan tujuh lapis langit. Memang demikianlah cara membangun sesuatu, yaitu dimulai dari bagian bawah, setelah itu baru bagian atasnya. Makna ayat ini juga diterangkan dalam surat an-Naazi’aat 27-33:5
ءأنتم أشد خلقا أم السماء بناها (27) رفع سمكها فسواها (28) وأغطش ليلها وأخرج ضحاها (29) والأرض بعد ذلك دحاها (30) أخرج منها ماءها ومرعاها (31) والجبال أرساها (32) متاعا لكم ولأنعامكم (33) (النازعات : 27-33)
Apakah kalian yang lebih sulit penciptaannya atau langit? Allah telah membinanya. Dia meninggikan bangunannya, lalu menyempurnakannya, dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita dan menjadikan siangnya terang benderang. Dan bumi sesudah dihamparkan-Nya. Ia memancarkan darinya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh, (semua itu) untuk kesenangan kalian dan untuk binatang-binatang ternak kalian.
Menurut Ali Ibnu Abu Talhah, dari Ibnu abbas, bahwa As-Daha (Penghamparan),dilakukan sesudah penciptaan langit dan bumi. As-Saddi telah mengatakan di dalam kitab tafsirnya, dari Abu Malik, dari Abu Saleh, dari Ibnu Abbas, juga dari Murrah, dari Ibnu Mas’ud, serta dari sejumlah sahabat sehubungan dengan makna surat al-Baqarah ayat 29. bahwa Arasy Allah SWT berada di atas air, ketika itu Allah belum menciptakan makhluk, maka Dia mengeluarkan asap dari air tersebut, lalu asap (agar) tersebut membumbung di atas air hingga letaknya berada di atas air, dinamakanlah sama (langit).
Kemudian air dikeringkan, lalu Dia menjadikannya bumi yang menyatu. Setelah itu bumi dipisahkan-Nya dan dijadikan-Nya tujuh lapis dalam 2 hari, yaitu Ahad dan Senin. Allah menciptakan bumi di atas ikan besar, dan ikan besar inilah yang disebutkan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an surat al-Qolam ayat 1 :
ن والقلم وما يسطرون (1)
Sedangkan ikan besar (nun) berada di dalam air. Air berada di atas permukaan batu yang licin, sedangkan batu yang licin berada di atas punggung malaikat. Malaikat berada di atas batu besar, dan batu besar berada di atas angin. Batu besar inilah yang disebut oleh Luqman bahwa ia bukan berada di langit dan juga di bumi.
Kemudian ikan besar itu bergerak, maka terjadilah gempa di bumi, lalu Allah memancangkan gunung-gunung di atasnya hingga bumi menjadi tenang, gunung-gunung itu berdiri dengan kokohnya di atas bumi. Berdasarkan firman Allah dalam surat al-Anbiya’ : 31:
وجعلنا في الأرض رواسي أن تميد بهم ..(31)
Allah menciptakan gunung di bumi dan makanan untuk penghuni-penghuninya dan menciptakan pepohonan dan semuanya diperlukan di bumi pada hari Selasa dan Rabu.
Sebagaimana yang dijelaskan dalam surat Fushilat ayat 9-10. berdasarkan surat Fushilat ayat 11 yang berbunyi:
ثم استوى إلى السماء وهي دخان ..(فصلت : 11)
Bahwa asap itu merupakan uap dari air tadi. Kemudian asap dijadikan langit tujuh lapis dalam dua hari, yaitu hari Kamis dan Jum’at. Sesungguhnya hari Jum’at dinamakan demikian karena pada hari itu diciptakan langit dan bumi secara bersamaan.
Setelah Allah menyelesaikan penciptaan apa yang Dia sukai, lalu Dia menuju Arasy, sebagaimana dalam firman-Nya surat al-Hadid ayat 4 yaitu :
هو الذي خلق السموات والأرض في ستة أيام ثم استوى على العرش ..(الحديد : 4)
Dia menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia berkuasa di atas Arasy.
Ibnu Jaris mengatakan. Telah menceritakan kepadanya Al-Musanna, telah menceritakan kepada kami Abdullah Ibnu Saleh, telah menceritakan kepadaku Abu Ma’syar, dari Sa’id Ibnu Abu Sa’id, dari Abdullah Ibnu Salam yang mengatakan bahwa sesungguhnya Allah memulai penciptaan makhluk-Nya pada hari Ahad, menciptakan berlapis-lapis bumi pada hari Ahad dan Senin, menciptakan berbagai makanan dan gunung pada hari Selasa dan Rabu, lalu menciptakan langit pada hari Kamis dan Jum’at. Hal itu selesai di akhir hari Jum’at yang pada hari itu juga Allah menciptakan Adam dengan tergesa-gesa. Pada saat itulah kelak hari qiamat akan terjadi.

Menurut Sayyid Quthb makna surat al-Baqarah ayat 29 yaitu:6

 Banyak sekali uraian para Mufassir dan Teolog tentang penciptaan langit dan bumi, mereka berbicara tentang apa yang ada sebelum penciptaan dan sesudahnya dan juga tentang istawaa. Mereka lupa bahwa sebelum dan sesudah adalah dua istilah yang digunakan manusia dan keduanya itu tidak menyentuh sisi Allah dan istawaa adalah istilah kebahasaan yang disini hanya menggambarkan bagi manusia (makhluk terbatas ini), suatu substansi yang tidak terbatas.
 هو الذي خلق لكم ما في الأرض جميعا yaitu:
Perkataan “untuk kamu “ memiliki makna yang dalam dan memiliki kesan yang dalam ppula. Ini merupakan kata pasti yag menetapkan bahwa Allah menciptakan manusia ini untuk urusan yang besar.
 ثم استوى إلى السماء فسواهن سبع سموات yaitu:
Menurut Sayyid Quthb tidak ada tempat untuk mempersoalkan hakikat
maknanya, karena kata itu adalah lambang ynag menunjuk pada
kekuasaan dan berkehendak untuk membuat sesuatu. Demikian halnya
dengan makna berkehendak menuju penciptaan. Sebagaimana halnya
tidak ada tempat untuk membahas makna tujuh langit serta bentuk
dan jaraknya

 وهو بكل شيء عليم yaitu:
Karena Alah pencipta segala sesuatu, yang mengatur segala sesuatu. Dan jangkauan pengetahuan-Nya yang mennyeluruh ini sama dengan jangkauan-Nya yang menyeluruh bagi pengaturan-Nya. Hal ini mendorong keimanan kepada Tuhan Yang Maha Pencipta lagi Esa, memotivasi beribadah kepada Yang Maha Memberi rizqi dan nikmat saja merupakan pengakuan yang indah terhadapnya.
Pesan dari ayat ini adalah bumi diciptakan untuk manusia, dimana Allah menciptakan bumi agar manusia berperan sebagai khalifah, berperan aktif dan utama dalam peristiwa-peristiwa serta pengembangannya. Dia adalah pengelola bumi dan pemilik alat, bukan dikelola oleh bumi dan menjadi hamba yang diatur atau dikuasai oleh alat. Tidak juga tunduk pada perubahan dan perkembangan yang dilahirkan oleh alat-alat, sebagaimana diduga bahkan dinyatakan oleh paham materialisme.
Informasi Allah ini bertujuan mengecam orang-orang kafir yang mempersekutukan Allah, padahal Dia adalah pencipta yang menguasai alam raya ,yang menghamparkan bumi manusia dan menyerasikan langit agar kehidupan di dunia menjadi nyaman. Semua iti tidak ada tempatnya untuk dibahas karena keterbatasan akal manusia, sekaligus karena membahasnya dan mengetahuinya sekalipun tidak berkaitan dengan tujuan penciptaan manusia dan sebagai hamba Allah dan khalifah di dunia. Demikianlah segmen surat ini, semuanya difokuskan pada masalah keimanan, dan seruan untuk memilih rombongan konvoi orang-orang yang beriman dan bertaqwa.

2 Surat Al-Mulk ayat 1-4
Yaitu surat yang menunjukkan tentang seluruh kerajaan (kekuasaan) ada dalam tangan Allah.
Surat al-Mulk ayat 1 berbunyi :
تبارك الذي بيده الملك وهو على كل شيء قدير (1)

Penjelasan

Menurut Prof. Dr. Hamka makna ayat:7
 تبارك الذي بيده الملك (Maha Suci Dia, yang di dalam tangan-Nya sekalian kerajaan) yaitu:
Bahwa ayat tersebut mengandung pengertian betapa Tuhan memberi ingatan kepada manusia dalam kerajaan dan kemegahan dalam dunia ini, bahwasannya kerajaan yang sebenar kerajaan, kekuasaan yang sebenar kekuasaan hanya ada dalam tangan Allah.
Segala kerajaan dan kekuasaan yang ada di muka bumi ini, bagaimanapun manusia mengejarnya atau mempertahankannya bila telah dapat diperoleh, tidaklah semua itu benar-benar kerajaan (kekuasaan). Bagaimanapun seorang Raja (Presiden) memerintah dengan segenap kekuatan, kegagahan dan kadang-kadang kesewenang-wenangan, namun kekuasaan yang seperti demikian hanyalah pinjaman belaka dari Allah dan tidak ada yang akan kekal dipegangnya terus.
Naiknya seorang penguasa pun hanyalah karena adanya pengakuan sedang Allah sebagai Maha Kuasa dan Maha Menentukan, tidaklah Dia berkuasa karena diangkat. Itulah sebabnya maka mustahil Allah itu beranak, sebab Allah itu hidup selama-lamanya dan Maha Kuasa untuk selama-lamanya.
 وهو على كل شيء قدير (Dan Dia atas tiap-tiap sesuatu adalah Maha Menentukan) yaitu:
Sebagai Tuhan Yang Maha Kuasa, pembagi kekuasaan kepada sekalian raja dan penguasa di dunia (di seluruh alam ini), baik di bumi atau di langit, Allah lah yang maha menentukan segala sesuatu. Segala sesuatu adalah meliputi segala sesuatu, baik yang sangat besar maupun yang sangat kecil.
Dengan menggali rahasia alam, akan mendapat pengetahuan tentang segala yang dilihat, didengar dan diselidiki, dari yang kecil sampai kepada yang besar, di waktu mendapatkannya itulah kita akan lebih faham apa arti yang sebenarnya dari pada kata takdir.
Dari uraian diatas dapat dipahami bahwa segala sesuatu itu ada ketentuannya. Jika tidak ada, maka tidak akan berarti yang dinamakan ilmu pengetahuan (sains). Dan ini ditegaskan pada dekat penutup surat Ali-Imran ayat 191 :
ربنا ما خلقت هذا باطلا
Demikianlah bahwa Tuhan Maha Kuasa dan Menentukan. Sehingga hidup dan mati manusia, musibah atau keselamatan itu adalah pertemuan di antara ketentuan dengan ketentuan, baik yang kecil maupun besar ataupun yang diketahui manusia maupun sebaliknya. Namun seluruh keadaan dalam alam ini tidaklah ada yang terlepas dari ketentuan yang telah ditentukan Tuhan, yang kadang-kadang disebut juga hukum sebab akibat.

Surat Al-Mulk ayat 2 berbunyi:
الذي خلق الموت والحياة ليبلوكم أيكم أحسن عملا وهو العزيز الغفور (2)
Penjelasan

Menurut prof. Dr. Hamka makna ayat:8
 الذي خلق الموت والحياة (Dan Dia yang menciptakan maut dan hidup) yaitu:
Bahwa Allah-lah yang menciptakan mati dan hidup. Tujuan dari ayat tersebut memberi peringatan kepada manusia, bahwa hidup ini tidaklah berhenti di dunia ini saja. Ini adalah peringatan kepada manusia agar mereka ingat akan mati di samping dia terpesona oleh hidup. Berkenaan dengan ayat tersebut, ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Hatim dari Qatadah yang berbunyi :
ان الله اذل نبى ادم بالموت وجعل الدينا دار حياة ثم دار موت و جعل الآخرة دار جزاء ثم دار بقاء
Sesungguhnya Allah menghinakan keturunan Adam dengan maut, dan Allah menjadikan dunia ini negeri untuk hidup, kemudian itu negeri untuk mati, dan Dia jadikan negeri akhirat untuk menerima ganjaran dan negeri untuk kekal.
 ليبلوكم أيكم أحسن عملا (karena Dia akan menguji kamu, manakah di antara
kamu yang terlebih baik amalannya.) yaitu:
Maka di antara hidup dan mati itulah kita mempertinggi mutu amalan diri, berbuat amalan yang bermutu dan lebih baik. Tegasnya di sini dijelaskan bahwa yang dikehendaki Allah dari kita adalah ahsanu’amalan, amalan yang terlebih baik, biar pun sedikit, oleh karena itu janganlah beramal hanya karena mengharapkan kuantitas, tetapi beramallah yang bermutu tinggi walaupun berkualitas.
 وهو العزيز الغفور (Dan Dia adalah Maha Perkasa dan Maha Pengampun)
yaitu:
Dengan menonjolkan terlebih dahulu sifat Allah yang bernama Al-Aziz, Yang Maha Perkasa dijelaskan bahwa Allah tidak boleh dipermainkan. Di hadapan Allah tidak boleh beramal separo atau ragu-ragu, melainkan dikerjakan dengan sungguh-sungguh, hati-hati dan penuh disiplin. Karena kalau tidak demikian, Tuhan akan murka. Tetapi Tuhan pun memiliki sifat Al-Ghofur, Maha Pengampun atas hamba-Nya yang tidak dengan sengaja melanggar perintah Tuhan, dan berniat hendak berbuat amalan yang lebih baik, tetapi tidak mempunyai tenaga yang cukup buat mencapai yang lebih baik itu.

Surat Al-Mulk ayat 03, berbunyi :
الذي خلق سبع سموات طباقا ما ترى في خلق الرحمن من تفاوت فارجع البصر هل ترى من فطور(3)

Penjelasan

Menurut Sayyid Quthb makna ayat :
 الذي خلق سبع سموات طباقا (Dia telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat) yaitu:
Di dalam zilal nya bahwa langit tujuh tingkat itu jangan ditafsirkan dengan ilmu pengetahuan (science, sains) yang bisa berubah-ubah. Karena penyelidikan manusia tidak akan lengkap menghadapi alam cakrawala yang begitu luas.

Menurut Prof. Dr. Hamka makna ayat:9
 ما ترى في خلق الرحمن من تفاوت (Tidaklah akan engkau lihat pada penciptaan
yang Maha Pemurah itu sesuatu pun dari yang bertikaian) yaitu:
Bahwa semua yang diciptakan Tuhan dijadikan dengan teratur dan tersusun rapi. Menurut ahli-ahli astronomi bahwasannya bintang-bintang yang bertaburan di langit itu diatur menurut jarak ukuran tertentu, ukuran keseimbangan. Sehingga yang satu berkait dengan yang lain. Dan tidak terjatuh dari tempat yang telah ditentukan.
 فارجع البصر هل ترى من فطور (Maka ulanglah kembali penglihatan adalah engkau lihat semuanya itu janggal) yaitu:
Ilmu pengetahuan manusia telah membuktikan bahwa bulan lebih kecil dari bumi. Mengapa sama saja kelihatan besarnya? Alangkah cerdik dan pandai Tuhan mengaturnya. Sebab itu tidaklah ada yang janggal.

Surat Al-Mulk ayat 04, berbunyi :
ثم ارجع البصر كرتين ينقلب إليك البصر خاسئا وهو حسير (4)
Penjelasan

Menurut Prof.Dr. Hamka makna ayat :10
 ثم ارجع البصر كرتين (kemudian itu ulanglah penglihat kedua kalinya) yaitu:
Ayat ini menyuruh kita mengulangi penglihatan memperhatikan sekali lagi, dua tiga kali. Karena apabila ditambah mengulangi melihatnya akan terdapat lagi keajaiban yang baru.
 ينقلب إليك البصر خاسئا (niscaya akan kembalilah penglihatan dalam keadaan payah) yaitu:
Payah dalam ayat ini adalah payah karena kagum dengan kebesaran Ilahi, bila dilihat keadaan alam yang sekelilingnya kita ini akan terdapatlah sifat-sifat Allah yang mulia tertulis dengan jelasnya.
 وهو حسير (Dan dia akan mengeluh) yaitu:
Mengapa mengeluh? Mengeluh lantaran karena di waktu itu menedesaklah dari dalam jiwa kita sebagai manusia berbagai perasaan. Di antaranya kagum melihat betapa besarnya kekuasaan Tuhan dan terasa kecil diri di bawah kekuasaan Tuhan dan terasa kecil diri di bawah kekuasaan Ilahi.

Menurut Ust.Asrari Alfa MAg dan Drs. H. Syu’aib H. Muhammad MAg diambil dari Shofwatut Tafsir makna surat al-Mulk ayat 1-4 yaitu:11

 Makna تبارك الذي بيده الملك yaitu:
Maha mulia dan luhur Allah yang maha tinggi dan maha besar, yang melimpahkan kepada makhluknya bermacam-macam kebaikan .Yang mankerajaan langit dan bumi dalam genggaaman kekuasaan dan berbuat sesuatu sekehendakNya. Ibnu Abbas berkata: DitanganNyalah segala kerajaan, Dia memulyakan dan menghinakan orang yang dikehendaki, menghidupkan dan mematikan, menjadikan kaya dan fakir, serta memberi dan mencegah.
 وهو على كل شيء قدير yaitu:
Dialah yang menguasai segala sesuatu yang baginya kekuasaan yang sempurna, yang menyelesaikan segala urusan secara sempurna tanpa menahan dan menolak kemudian menerangkan kekuasaanNya dan kata hikmahNya sangat mulia.
 الذي خلق الموت والحياة yaitu:
Menjadikan di dunia sebuah kehidupan dan kematian, Dia menghidupkan dan mematikan apa yan dikehendakiNya.Dialah Yang Maha Esa dan Maha Perkasa. Akan tetapi Dia memberikan kematian karena sesungguhnya kematian itu bertiup dari nafas dan menakutkan.Ulama’ berkata: Kematian itu bukanlah hal yang fana, yang terputus dari segala kehidupan akan tetapi hanya perpindahan dari satu alam ke alam lain. Hal ini sudah menjadi ketetapan dalam qoul yang shahih bahwa mayyit itu mendengar, melihat dan merasakan di dalam kuburnya sebagaimana Rasulullah bersabda: Sesungguhnya salah seorang diantara kamu apabila diletakkan didalam kuburnya dan para sahabatnya mengiringinya ,sesungguhnya dia mendengar suara langkah kakinya. Kematian adalah terputusnya ruh dari badan terpisahnya dari jasad.
 ليبلوكم أيكم أحسن عملا yaitu:
Allah menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik dari yang jelek. Imam Qurthubi berkata: Yakni amalmu yang diuji, sesungguhnya Allah mengetahui orang yang taat dan berbuat dosa.
 وهو العزيز yaitu:
Dzat yang mengalahkan orang yang melawan-Nya.
 الغفور yaitu:
Maha pengampun atas dosa-dosaaa orang yang bertaubat dan kembali kepadaNya.
 الذي خلق سبع سموات طباقا yaitu:
Menciptakan tujuh langit yang berlapis-berlapis
 ما ترى في خلق الرحمن من تفاوت yaitu:
Wahai para pendengar kamu tiadak melihat ciptaan Allah sesuatu kekurangan dan cacat atau perbedaan dan perselisihan. Tuhan adalah puncaknya keyakinan, sesungguhnya Dia bersabda Fi kholqir rohmaani dan bukan fi hinna sebagai pengagungan bagi makhlukNya dan mengingatkan atas luasnya kekuasaan Allah.
 فارجع البصر هل ترى من فطور yaitu:
Melihat kelangit secara berulang-ulang atas ciptaan Allah dan apakah kamu mellihat ketereblahan dan keterputusan?
 ثم ارجع البصر كرتين yaitu:
Kemudian mengulang-ulang lagi melihat ke langit yang sangat menajubkan.
 ينقلب إليك البصر خاسئا yaitu:
Penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sebuah cacat sebagai bukti, dan tidak melihat apa yang kamu inginkan.
 وهو حسير yaitu:
Penglihatanmu dalam keadaan letih dan payah karena penyakit yang tak mau sembuh. Imam fahr berkata: Bahwa makna sesungguhnya apabila kamu mengulang-ulangi pandanganmu, penglihatanmu tidak akan kembali kepadamu dengan apa yang disandarkan dari adanya cacad dan cela tetapi kembali karena tidak menemukan cacad dan melihat keletihan serta kepayahan penyakit yang tak mu sembuh.
Imam Qurthubi berkata: mengulangi pandanganmu dan membalikkan penglihatanmu kelangit secara berulang-ulang maka penglihatanmu akan kembali kepadamu karena tunduk dan merasa kecil yang jauh dari melihat cela dan cacad. Akan tetapi masalah pandangan dengan berulang kali karena manusia apabila melihat sesuatu ssekali tidak melihat cela selagi tidak melihat yang kedua kalinya.
Dan maksud bil karrotaini adalah untuk memperbanyak dengan dalil yanqolib ilaikal bashoro khosinan wahuwa hasiir ini menunjukkan bukti atas banyaknya melihat kemudian Allah menerangkan tentang bintang yang bercahaya dan memancar menghiasi langit.
Sesungguhnya keempat ayat Mulk ini, membawa kita manusia ke halaman alam yang Maha Kuasa untuk mempergunakan penglihatan mata dan pendengaran telinga menghubungkan diri dengan Allah, dengan perantaraan alam yang Allah ciptakan. Benarlah kata-kata yang jadi buah tutur dari ahli tasawuf:
Aku ini adalah perbendaharaan yang sembunyi lalu Aku ciptakan hamba-hambaKu. Maka dengan bimbingan-Kulah mereka mengenal Aku.
Akal budi dan perasaan yang halus dalam diri dipersambungkan dengan alam keliling oleh penglihatan dan pendengaran, untuk mengambil hasil dan mencari hakikat yang sebenarnya mencari kenyataan sejati di belakang kenyataan yang tampak.
Ayat-ayat ini mendorong kita berbuat untuk mencintai seni, berperasaan halus, membawa kita dalam ilmu pengetahuan serta dalam filsafat. Tetapi hasil sejati adalah menumbuhkan keyakinan bahwa kita datang ke bumi tidak kebetulan dan alam sendiri mustahil begini teratur; kalau tidak ada yang mengaturnya.

3 Surat Al-A’raf ayat 54
Yaitu surat yang menunjukkan akidah tentang Tuhan dan fenomena alam semesta.
Surat Al-A’raf ayat 54 berbunyi :
إن ربكم الله الذي خلق السموات والأرض في ستة أيام ثم استوى على العرش يغشي الليل النهار يطلبه حثيثا والشمس والقمر والنجوم مسخرات بأمره ألا له الخلق والأمر تبارك الله رب العالمين (54)
Penjelasan

 Menurut Sayyid Quthb makna surat al-A’raf ayat 54 yaitu:12 Akidah tauhid Islam tidak meninggalkan satu pun lapangan bagi manusia untuk merenungkan zat Allah Yang Maha Suci dan bagaimana ia berbuat, maka, Allah itu Maha Suci, tidak ada lapangan bagi manusia untuk menggambarkan dan melukiskan zat Allah.
Adapun enam hari saat Allah menciptakan langit dan bumi, juga merupakan perkara ghaib yang tidak ada seorang makhlukpun menyaksikannya. Allah telah menciptakan alam semesta ini dengan segala kebesaran-Nya, yang menguasai alam ini mengaturnya dengan perintah-Nya, mengendalikannya dengan kekuasaan-Nya. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat dalam putaran yang abadi ini yaitu putaran malam mengikuti siang dalam peredaran planet ini.
Dia menciptakan matahari, bulan dan bintang, yang semuanya tunduk kepada perintah-Nya, sesungguhnya Allah Maha Pencipta, Pelindung, Pengendali dan Pengatur. Dia adalah Tuhan kalian yang memelihara kalian dengan manhaj-Nya, mempersatukan kalian dengan peraturan-Nya, membuat syariat bagi kalian dengan izin-Nya dan memutuskan perkara kalian dengan hukum-Nya. Dialah yang berhak menciptakan dan memerintah.
Inilah persoalan yang menjadi sasaran pemaparan ini yaitu persoalan uluhiah, rububiyah dan hakimiyah, serta manunggalnya Allah SWT. Pada semuanya ini ia juga merupakan persoalan ubudiyah manusia di dalam syariat hidup mereka. Maka, ini pulalah tema yang dihadapkan konteks surat ini yang tercermin dalam masalah pakaian sebagaimana yang dihadapi surat Al-An’am dalam masalah binatang ternak, tanaman,nazar-nazar dan syiar-syiar.

Menurut Thahir Ibnu Asyur makna surat al-A’raf ayat 54 yaitu:13
 Bahwa hubungan surat ini sangat serasi. Ia memulai dengan menyebut al-Qur’an, perintah mengikutinya serta larangan mendekati apa yang bertentanngan dengannya. Selain itu juga memperingatkan ttentang apa yang menimpa umat-umat yang dahulu, yang enggan mengakui keesaan Allah serta mendurhakai rasul-rasul mereka . Setelah itu semua kumpulan ayat ini menjelaskan tentang tauhid beserta bukti kebenarannya dan mengajak untuk tunduk dan patuh kepadanNya.

Menurut Al-Biqa’i makna surat al-A’raf ayat 54 yaitu:
 Bahwa tema pokok yang berkisar pada uraian al-Qur’an tentang tauhid, Nubullah (kenabian), hari kemudian, dan pengetahuan. Ayat ini juga menegaskan bahwa sesungguhnya Tuhan Pemelihara dan Pembimbing, serta yang menciptakan kamu dari tiada dan akan membangkitkan kamu ialah Allah Yang Maha Esa yang telah mneciptakan semua langit dan bumi yakni alam raya dalam enam hari (enam masa).
Informasi tentang penciptaan alam dalam enam hari mengisyaratkan tentang qudrat, dan ilmu, serta hikmah Allah swt .
Kemudian Dia bersemayam di atas Arsy. Dia berkuasa dan mengatur segala yang diciptakan-Nya, sehingga berfungsi sebagaiman ynag ia kehendaki yaitu Dia menutupkan malam dengan kegelapannya kepada siang ataupun sebaliknya dan silih berganti dan diciptakan-Nya pula matahari, bulan dan bintang masing-masig tunduk kepada perintah-Nya, yakni alah menetapkan hukkum yang berlaku atasnnya dan benda-benda itu tidak dapat mengelak dari hokum-hukum yang ditetapkan Allah itu.
 ثم استوى على العرش yaitu:
Istawa makna dasarnya bersemayam dialihkan ke makna majazi yaitu berkuasa. Sehingga penggalan ayat ini menegaskan tentang kekuasaan Allah SWT dalam mengatur dan mengendalikan alam raya, tetapi hal tersebut sesuai dengan kebesaran dan kesucian-Nya dari segala sifat kekurangan atau kemakhlukkan.
Kata Tsumma menggambarkan betapa jauh tingkat penguasaan ‘Arsy, dibanding dengan penciptaan langit dan bumi.
 مسخرات yaitu:
Terambil dari kata sakhkhara yang berarti ancaman, pengajaran atau pengaturan tanpa meminta imbalan dari yang dittundukkan untuknya. Ini berarti, alam raya dan segala isinya ditundukkan allah SWT untuk dimanfaatkan oleh manusia, jika demikian bukan manusia yang menundukkannya, sehingga manusia tidak boleh annnngkkuh terhadap alam akan tetapi harus bersahabat denngannnnya ssambil mensyukuri nikmat Tuhan denagn jalan mengikuti semua tuntunanNya, baik yang berkaitan dengan alam, maupun diri manusia sendiri.
 تبارك yaitu:
Berasal dari kata baraka yang berarti menetap dan mantap. Dan dapat dipahami dalam arti kebajikan yang banyak. Allah adalah wujud yang tak berubah, selalu ada dan menetap lagi banyak kebajikannya.
Dari penjelasan ini terlihat, bahwa ketika kata itu dinisbahkan kepada Allah dapat dipahami dalam arti sangat menonjol kebajikan yang disandanng dan dinampakan olehNya. Itu semua terhampar jelas dialam raya ini.

Menurut Muhammad Ali Ash-Shabuny makna surat al-A’raf ayat 54 yaitu:14
 Di dalam ayat ini Alah menyebutkan beberapa dalil dan bukti tentang keEsaanNya:
1. Penciptaan langit tujuh tingkatan, yang merupakan bukti penciptaan dan kemukjizatan
2. Arsy ar-Rahman yang tidak dapat dicakup oleh langit dan bumi, yang tak dapat dibayangkan oleh hayalan karena besarnya.
3. Bintang, matahari, rembulan, dan berbagai planet, yang semua ada di bawah kekuasaan Allah.
Tujuan pemaparan ayat ini adalah jangan menjadikan kita lupa untuk
berhenti beberapa saat di depan pemandangan yang indah, hidup, bergerak
dan memberikan isyarat/kesan yang mengagumkan.
4 Surat Ali Imran ayat 190
Imam Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Husain Ibnu Ishaq At-Tushri, telah menceritakan kepada kami Yahya Al-Hammani, telah menceritakan kepada kami Ya’qub Al-Qummi, dari Ja’far Ibnu Abul Mugirah, dari Sa’id Ibnu Jubairi dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa orang-orang Quraisy datang kepada orang-orang Yahudi, lalu berkata, Mukjizat apakah yang dibawa oleh Nabi Musa kepada Kalian? orang-orang Yahudi menjawab, tongkat dan tangannya yang tampak putih bagi orang-orang yang memandang. Mereka datang kepada orang-orang Nashrani, lalu bertanya, Apakah yang dilakukan oleh Nabi Isa?. Orang-orang Nashrani menjawab, Dia dapat menyembuhkan orang yang buta sejak lahirnya, orang yang berpenyakit supak, dan dapat menghidupkan orang-orang yang mati. Mereka datang kepada Nabi SAW dan berkata, berdoalah kepada Allah, semoga Dia menjadikan kamu bukit Shifa ini menjadi emas. Maka turunlah ayat ini yang berbunyi :
إن في خلق السموات والأرض واختلاف الليل والنهار لآيات لأولي الألباب (آل عمران : 190)
Riwayat ini sulit dimengerti, mengingat ayat ini adalah ayat Madaniyah, sedangkan permintaan mereka yang menghendaki agar bukit emas menjadi emas adalah di Makkah.
Penjelasan
 Menurut Al-Imam Abul Fida Isma’il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi makna ayat:15
إن في خلق السموات والأرض
Yaitu yang ini dalam ketinggiannya dan keluasannya, dan yang ini dalam hamparannya, kepadatannya serta tata letaknya, dan semua yang ada pada keduanya berupa tanda-tanda yang dapat disaksikan lagi amat besar, seperti lautan gunung, pepohonan, hewan, tumbuhan, barang tambang serta berbagai macam manfaat yang beraneka warna, bermacam-macam rasa, bau dan kegunaannya..
 Makna ayat:
واختلاف الليل والنهار
Yaitu saling bergiliran dan mengurangi panjang dan pendeknya; ada kalanya yang ini panjang dan yang lain pendek, kemudian keduanya sama. Setelah itu yang ini mengambil sebagian waktu dari yang lain hingga ia menjadi panjang waktunya, yang sebelum itu pendek dan menjadi pendeklah yang tadinya panjang. Semuanya itu berjalan berdasarkan pengaturan dari Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.
 Karena itu dalam firman selanjutnya disebutkan:
لآيات لأولي الألباب
Maksudnya yaitu akal-akal yang sempurna lagi memiliki kecerdasan, karena hanya yang demikianlah yang dapat mengetahui segala sesuatu dengan hakikatnya masing-masing secara jelas dan gamblang. Lain halnya dengan orang tuli dan bisu serta orang-orang yang tak berakal seperti yang disebutkan dalam Al-Qur’an surat Yusuf ayat 105-106, yang berbunyi:
وكأين من ءاية في السموات والأرض يمرون عليها وهم عنها معرضون (105) وما يؤمن أكثرهم بالله إلا وهم مشركون (106) (يوسف : 105- 106)

 Menurut Sayyid Quthb terjemahan Aunur Rafiq Shaleh Thamhid dari Tafsir Fi Dzilalil Qur’an bahwa makna : 16
Ulul albab yaitu orang-orang yang memiliki kesadaran yang benar, membuka mata hati mereka untuk menerima ayat-ayat kauniyah Allah tanpa memasang berbagi penghalang dan tidak menutup berbagai pintu yang menghubungkan antara diri mereka dan ayat-ayat tersebut.
Dari penjelasan diatas dapat dipahami bahwa kontek al-Quran disini menggambarkan secara cermat tahap-tahap getaran jiwa yang ditumbuhkan oleh tatapan terhadap pemandangan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang didalam perasan ulul albab. Menjadikan kitab alam yang terbuka ini sebagai kitab penngetahuan bagi manusia dengan Tuhan dan ciptaannya.
Kontek ini juga menggabungkan antara perenungan makhluk ciptaan tuhan dan ibadah kepadaNya, sehingga perenungan ini bernilai ibadah dan menjadikanya sebagai bagian dari manifestasi dzikir . Penggabungan tersebut mengisyaratkan dua hal penting yaitu:
1. Perenungan tentang ciptaan Tuhan, pencermatan terhadap tangan Allah Yang Maha Pencipta, ketika menggerakkan alam ini dan lembarankitab ini merupakan ibadah yang sejati kepada Alah dan dzikir yang utama kepadanya.
2. Bahwa ayat-ayat Allah di alam ini tidak akan terlihat jelas sesuai hakikatnya yang sarat inspirasi, kecuali oleh hati ynag senantiasa beribadah dan berdzikir.

5 Surat Ibrahim ayat 32 sampai 34

Surat Ibrahim ayat 32 berbunyi:
الله الذي خلق السموات والأرض وأنزل من السماء ماء فأخرج به من الثمرات رزقا لكم وسخر لكم الفلك لتجري في البحر بأمره وسخر لكم الأنهار (32)

Penjelasan
Menurut Sayyid Quthb makna ayat:17
 الله الذي خلق السموات والأرض وأنزل من السماء yaitu:
Maksudnya adalah bahwasannya Allah menciptakan langit dan bumi
untuk manusia. Langit diturunkan darinya air (hujan) dan bumi menerima
air hujan itu.
 ماء فأخرج به من الثمرات رزقا لكم yaitu:
Bahwa berbagai buah-buahan keluar dari keduanya (langit dan bumi). Tanaman-tanaman adalah sumber rizki yang pertama dan sumber kenikmatan yang nyata. Hujan dan penumbuhan keduanya mengikuti sunnah yang telah diciptakan padanya alam semesta ini.
Juga mengikuti undang-undang yang menetapkan turunnya hujan, tumbuhnya tanaman-tanaman, dan itu berbicara tentang nikmat-nikmat Allah yang tak terhingga. Halaman-halaman yang luas lagi besar menampilkan berbagai warna kenikmatan-kenikmatan itu sejauh mata memandang.
 وسخر لكم الفلك لتجري في البحر بأمره yaitu:
Bahwa Allah menundukkannya dengan apa yang telah Dia titipkan pada berbagai unsur kekhususan-kekhususan yang dapat menjalankan bahtera pada permukaan air. Juga dengan apa yang telah Dia titipkan pada manusia berupa spesialisasi-spesialisasi yang berhasil ditemukan oleh hukum segala sesuatu. Semua itu ditundukkan dengan kehendak Allah.
 وسخر لكم الأنهار yaitu:
Sungai-sungai mengalir, maka mengalirlah kehidupan dengan membawa berbagai rizki. Air sungai melimpah, maka melimpahlah kebajikan, dengan membawa apa yang terkandung di dalamnya berupa ikan, rumput-rumputan, dan manfaat-manfaat lainnya. Semua itu untuk manusia dan untuk apa yang dipelihara dan didayagunakan manusia, yakni sebangsa burung dan hewan-hewan lainnya.

Surat Ibrahim ayat 33 berbunyi:
وسخر لكم الشمس والقمر دائبين وسخر لكم الليل والنهار (33)

Penjelasan

Menurut Sayyid Quthb makna ayat:18
 وسخر لكم الشمس والقمر دائبين yaitu:
Maksudnya manusia tidak memanfaatkan matahari dan bulan secara langsung sebagaimana memanfaatkan air, buah-buahan, laut, bahtera dan sungai. Akan tetapi, manusia mendapatkan manfaat dari unsur-unsur (pengaruh-pengaruh dan jejak-jejak sinar) keduanya dan mengambil berbagai materi dan potensi kehidupan dan penghidupannya, bahkan dalam struktur dan reformasi sel-sel tubuhnya.
 وسخر لكم الليل والنهار yaitu:
Demikian pula Allah menunjukkan malam dan siang sesuai dengan kebutuhan dan struktur manusia serta apa yang relevan dengan kegiatan dan waktu santainya. Seandainya yang ada itu siang selamanya/malam selamanya, niscaya rusaklah organ-organ manusia. Di samping itu terjadi kerusakan pada segala yang ada di sekitarnya serta terhalang kehidupan, kegiatan dan produksinya.
Semua itu tiada lain kecuali tulisan-tulisan yang terhampar dalam kenikmatan-kenikmatan yang luas pada setiap tulisan terdapat titik-titik yang tiada terhingga. Oleh karena itulah tulisan-tulisan itu dihimpun secara global dan relevan dengan hamparan yang dipertunjukkan dan suasana yang universal.

Menurut M. Quraisy Shihab makna ayat:19
 Kata سخر digunakan dalam arti menundukkan sesuatu agar mudah digunakan oleh pihak lain. Sesuatu yang ditundukkan Allah tidak lagi memiliki pilihan, dan dengan demikian, manusia yang mepelajari dan mengetahui sifat sesuatu itu akan merasa tenang menghadapinya karena yang ditundukkan tidak akan membangkang. Dari sini diperoleh kepastian hukum-hukum alam.
Penundukkan bahtera adalah kemampuan manusia membuatnya sehingga dapat digunakan untuk berlayar dan mengangkut barang-barang menuju arah yang mereka kehendaki. Ayat ini menyatakan menundukkan bahtera bagi kamu supaya ia berlayar karena kontek ayat ini menyebut nikmat Tuhan sedang alat transportasi laut merupakan salah satu nikmat dari kelautan.
 Kata دائبين yaitu: bentuk dual dari kata da’b. kata ini mengandung makna berkelanjutnya suatu aktifitas tertentu secara teratur dan terus menerus. Perurutan penyebutan anugerah Tuhan diatas sungguh serasi.

Surat Ibrahim ayat 34 berbunyi:
وءاتكم من كل ما سألتموه وإن تعدوا نعمة الله لا تحصوها إن الإنسان لظلوم كفار (34)
Penjelasan

Menurut Sayyid Qutuhb makna ayat:20
 وءاتكم من كل ما سألتموه وإن تعدوا نعمة الله لا تحصوها yaitu:
Inilah i’jaz yang di dalamnya serasi dan harmonis semua sentuhan, tulisan, warna dan bayangan dalam pagelaran alam semesta dan pertunjukkan kenikmatan-kenikmatan. Bahwasannya Allah telah memberikan segala nikmatnya kepada kita, yakni harta, keturunan, kesehatan, perhiasan dan kesenangan. Nikmat Allah itu lebih besar dan lebih banyak dari penghitungan yang dilakukan oleh sekelompok manusia (seluruh manusia). Mereka semua terbatasi di antara dua batas waktu : permulaan dan penghabisan. Juga di antara batas-batas pengetahuan, mengikuti batas-batas waktu dan tempat. Nikmat-nikmat Allah itu mutlak sehingga pengetahuan dan pengamatan manusia tidak bisa melingkupinya.
 إن الإنسان لظلوم كفار yaitu:
Setelah itu semua, mereka menjadikan bagi Allah sekutu-sekutu. Bahkan semua itu pula, kamu tidak menyukuri nikmat Allah, tetapi justru
menukarnya dengan kekafiran dan melakukan kedzaliman dalam takdir
maupun dalam ibadah.

Menurut M. Quraisy Shihab makna ayat 34 yaitu:
 وءاتكم من كل ما سألتموه yaitu:
Segala kebutuhan manusia telah disiapkan oleh Allah SWT atau Allah telah menyiapkan dan memberikan kepada setiap orang apa yang dimintanya, baik melalui usahanya yang disukseskan Allah maupun melalui perintahNya kepada yang memiliki kelebihan untuk memberikan sebagian dari yang dimilikinya kepada yang butuh.
 Kata لظلوم yaitu:
Berarti mendzalimi dan menghalangi orang lain memperoleh haknya, atau menyianyiakan sesuatu dan tidak menggunakannya pada tempat yang semestinya.
 Kata تحصوها yaitu:
Terambil dari akar kata yang terdiri dari huruf ha’,syad, dan ya’. Dan mengandung tiga makna, yaitu mneghalangi/melarang; menghitung dan mampu; dari sini lahir makna mengetahui dan mencatat serta memelihara; dan sesuatu yang merupakan bagian dari tanah, dari sini lahir kata hasha yang bermakna batu. Dari penjelasan diatas dapat diketahui bahwa maksud kata tersebut adalah pengetahuan menyangkut sesuatu dari himpunan dan bilangannya, sehingga yang dapat menjangkau segala sesuatu hanyalah Tuhan
Ayat ini ditutup dengan mengemukakan dua sifat buruk manusia yaitu
sangat dzalim dan kafir. Sehingga kontek ayat 34 mengandung uraian tentang sikap manusia yang durhaka terhadap aneka anugerah Allah.

Menurut Prof. Syeikh Musthofa Al-Maraghy makna surat Ibrahim ayat 32-34 yaitu:21
 الله الذي خلق السموات والأرض yaitu:
Allah Yang telah menciptakan langit dan bumi bagi kalian, keduanya lebih besar daripada kalian dan pada keduanya terdapat banyak manfaat, baik yang kalian ketahui maupun yang tidak diketahui. Dan semuanya itu menunjuk kepada kebesaran kodrat-Nya dan kesempurnaan nikmat-Nya atas wujud ini.
 وأنزل من السماء ماء فأخرج به من الثمرات رزقا لكم yaitu:
Dan Dialah Allah yang telah menurunkan air hujan dari langit, lalu dengan air hujan itu Dia menumbuhkan pohon-pohon dan tanaman, sehingga menghasilkan buah-buahan dan sayuran kepada kalian sebagai rizqi yang kamu makan dan menjadikan kalian hidup. Ayat ini juga sama dengan firman Allah dalam surat Thahaa ayat 53.
 وسخر لكم الفلك لتجري في البحر بأمره yaitu:
Dia menundukkan bahtera-bahtera bagi kamu, seperti dengan menjadikan kalian mampu membuatnya, menjadikannya mengapung di permukaan air, dan diatas lautan dengan perintah Tuhan. Kemudian, Dia menundukkan lautan membawa bahtera itu, agar para Musafir dapat menempuh jarak yang jauh untuk mengangkut dan menindahkan apa yang ada di suatu daerah ke daerah lain untuk menghasilkan manfaat yang mereka perlukan.
 وسخر لكم الأنها yaitu:
Dia menundukkan sungai-sungai bagi kamu yang membelah bumi dari satu belahan ke belahan lain, agar kamu memanfaatkannya untuk minum dan membuat selokan /saluran, untuk menyirami tanaman, taman/kebun dan lain sebagainya.
 وسخر لكم الشمس والقمر دائبين وسخر لكم الليل والنهار yaitu:
Dia menundukkan bagi kalian matahari dan bulan untuk selalu saling bergerak di dalam falaq-Nya, tidak berhenti-henti, untuk menerangi dunia dan memberikan daya hidup kepada binatang-binatang dan tumbuh-tumbuhan.
 وسخر لكم الليل والنها yaitu:
Dia-lah yang menundukkan bagi kamu malam dan siang yang salling mengikuti. Siang itu untuk mencari penghidupan dan bekerja, sedang malam untuk beristirahat. Sebagaimana dalam surat al-Qashas ayat 73.
Matahari dan bulan terus menerus beriringan, demikian pula malam dan siang. Maka kadang-kadang malam lebih panjang dari siang maupun sebaliknya.
 وءاتكم من كل ما سألتموه yaitu:
Allah telah meyediakan bagi kalian segala apa yang kalian perlukan dalam seluruh keadaan kalian, dari segala yang berhak untuk kamu memohonnya, baik kamu memohonnya ataupun sebaliknya. Karena, Allah-lah yang telah meletakkan di dalam dunia ini berbagai manfaat yang tidak di ketahui oleh manusia, tetapi disediakan bagi mereka. Sehingga, tidak seorang pun dari umat dahulu memohon kepada Tuhan agar diberi kapal terbang magnit, dan listrik. Semua itu diberikan kepada manusia secara bertahap, dan masih ada keajaiban yang akan tampak bagi orang -orang sesudahnya.
 وإن تعدوا نعمة الله لا تحصوها yaitu:
Dan kamu wahai anak Adam tiada sanggup menghitung satu persatu nikmat Allah yang telah dicurahkan atas dirimu, konon lagi mensyukuri-Nya.
 إن الإنسان لظلوم كفار yaitu:
Sesungguhnya manusia yang mengganti nikmat Allah dengan kekufuran benar-benar telah bersyukur kepada selain Tuhan yang melimpahkan nikmat kepadanya. Dengan demikian, dia telah menempatkan syukur bukan pada tempatnya. Allah-lah yang telah melimpahkan nikmat kepadanya, dan Dia-lah yang berhak menerima ibadah yang ikhlas. Namun, manusia beribadah kepada selain-Nya dan menjadi sekutu bagi-Nya untuk menghalangi manusia dari jalan-Nya. Itulah kedzalimannya, dan itulah keingkaran terhadap nikmat yang dia limpahkan kepadanya. Dia telah memalingkan ibadah kepada selain Tuhan yang memberinya nikmat, dan tidak taat kepada-Nya.
Dari penjelasan diatas dapat dipahami bahwa dalam surat Ibrahim ayat 32-34 ini, Tuhan menerangkan dalil yang terdapat dalam cakrawala yang menunjuk kepada kita agar wajib mensyukuri nikmat Allah dan mentaati-Nya.

BAB III
KESIMPULAN
Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa:
Allah telah menciptakan alam semesta ini dengan segala kebesarannya, yang menguasai alam ini, mengaturnya dengan perintah-Nya ,mengendalikannya dengan kekuasaan-Nya. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat dalam putaran yang abadi ini. Yaitu, putaran malam mengikuti siang dalam peredaran planet ini. Dia menciptakan matahari, bulan dan bintang, yang semula tunduk kepada perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pencipta dan Tuhan sekalian alam.
Al-Qur’an telah menghubungkan semua pagelaran alam semesta dan seluruh getaran jiwa kepada akidah tauhid. Ia mengubah setiap kilatan sinar dalam lembaran alam semesta atau dalam batin manusia kepada sebuah dalil atau isyarat. Demikianlah alam semesta beserta segala isinya beralih rupa menjadi tempat pementasan ayat-ayat Allah yang dihiasi dengan keindahan oleh “tangan” kekuasaan dan bekas-bekasnya tampak nyata dalam setiap pagelaran dan pemandangan serta gambaran dan bayang-bayang didalamnya. Sehingga manusia diharuskan percaya dengan adanya alam semesta ini sebagai bukti dari kebesaran Tuhan.
Alam semesta bukanlah produk dari hasil pemikiran manusia melainkan produk dari hasil pemikiranTuhan. Berdasarkan bukti yang kongkrit dan valid yang berupa ayat-ayat al-Qur’an seperti surat al-Baqoroh: 29, al-A’raf: 54, Ibrahim: 32-34, Fushilat: 9-11, al-Anbiya’: 31, ali-Imran:190-194 dan al-Mulk: 1-4 serta ayat-ayat yang lain dalam al-Qur’an. Perdebatan yang terjadi dikalangan Teolog Muslim menyangkut ungkapan-ungkapan al-Qur’an itu, tidak lain kecuali salah satu dampak buruk dari sekian dampak buruk filsafat Yahudi dan Nashrani yang bercampur dengan akal Islam yang murni. Tidaklah wajar bagi kita dewasa ini terjerumus dalam kesalahan tersebut sehingga memperburuk keindahan akidah Islam dan keindahan al-Qur’an.
Allah menciptakan alam semsta ini dalam keadaan yang sangat harmonis, serasi dan memenuhi kebutuhan makhluk. Allah telah menjadikannya baik, memerintahkan hamba-hambanya untuk memperbaikinya. Dalam ayat ini Tuhan menerangkan dalil-dalil yang terdapat dalam cakrawala yang menunjuk kepada kita agar mensyukuri Allah dan tetap mentaati-Nya.

DAFTAR PUSTAKA
Baiquni M.Sc.,Ph.D,Prof.Ahmad. Al-Qur’an Ilmu pengetahuan dan Teknologi, (Jakarta: Dana Bakti Prima Persada, 1985)
Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi, Al-Imam Abul Fida Ismail. Tafsir Ibnu Katsir Juz I al-Fatihah – al- Baqoroh, (Bandung: Sinar Baru Algensindo 2002)
, Tafsir Ibnu Katsir Juz 4 ali Imron92-an-Nisa’23,(Bandung: Sinar baru Alggensindo, 2000)
Quthb, Sayyid. Tafsir fi Zhilalil Qur’an: Dibawah Naungan Al-Qur’an, Jilid 1, (Jakarta: Gema Insani Press, 2000)
.Tafsir fi Zhilalil Qur’an: Dilengkapi dengan Takhrij hadits
dan Indeks Tematik, Jilid 2 Juz 3 dan 4, (Jakarta: Robbani Press, 2001)
. Tafsir fi Zhilalil Qur’an: Dibawah Naungan al-Qur’an al-An’am – Surah al-A’raf 137), Jilid 4, (Jakarta: Gema Insani, 2002)
Tafsir fi Zhilalil Qur’an: Dibawah Naungan Al-Qur’an ( Surat Yusuf 102-Thaahaa 56) Jilid 7, (Jakarta: Gema Insani, 2003)
Hamka, Prof. Dr.Tafsir Al-Azhar, Juz IV (Bogor: Yayasan Nurul Islam, 1981)
. Tafsir al-Azhar Juz XXIX, ( Bogor: Yayasan Nurul Islam, 1964)
Al-Maraghi, Syekh Ahmad Mustofa. Tarjamah Tafsir Al-Maraghi, (Yogyakarta: Sumber Ilmu, 1985)
Terjemah Tafsir Al-Maraghi, Juz XIII (Semarang: CV. Toha Putra, 1994)
Shihab, M. Quraish. Tafsir Al-Misbah Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an Volume 1: Surat al-Baqoroh, (Jakarta: Lentera hati, 2000)

Volume 2: Surat an-Nisa’

Volume 5: Surat al-A’raf-at-Taubah, (Jakarta: Lentera hati, 2002)

Volume 7: Surat Ibrahim-al-Isra’,
Ash-Shabuny, Muhammad Ali. Cahaya Al-Qur’an, Tafsir Tematik Surat Al-A’raf-Yunus, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar,2000)
H. Syu’aib. Drs.H.Muhammad, Alfa,Asrori. Tafsir Mashohib (Diambil dari Shofwatut tafsir), (Malang, Fakultas Tarbiyah UIN Malang, 20005)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.