PANDANGAN AL-GHAZALI DAN IBN KHALDUN

TENTANG PENDIDIKN ISLAM

Oleh:

M. AMIN KUTBI

BAB I

PENDAHULUAN

  1. 1. Latar Belakang

Filsafat merupakan pokok dari segala disiplin ilmu sebagai refleksi rasionil (fikr, nazr, ma’rifat, ra’y) atas keseluruhan keadaan untuk mencapai hakikat dan memperoleh hikmah. Berfilsafat adalah berpikir sedalam-dalamnya dengan bebas dan teliti tentang segala sesuatu yang masuk kedalam pikiran, baik yang di luar maupun yang ada di dalam diri. Maka timbullah suatu pertanyaan: “Dapatkah seorang Muslim itu berfilsafat?”. Timbulnya pertanyaan ini ialah karena seorang Muslim itu selamanya terikat dan didoktrin oleh ajaran-ajaran agamanya. Maka bolehkah dia meninggalkan agamanya untuk berfilsafat?

Perlu diketahui bahwa seorang Muslim yang berpikir dengan sedalam-dalamnya tanpa suatu maksud, selain dari mencari yang hak dan kebenaran, yang selalu mengindahkan disiplin dan hukum-hukum berpikir, maka dia akan sampai kepada kebenaran itu dan tidak akan tersesat.

Di dunia Islam Timur, filsafat mengalami perkembangan yang sangat signifikan, terbukti dengan munculnya tokoh-tokoh filosof Islam seperti Al-Kinidi, Al-Razi, Ibnu Rusyd, Al-Ghazali, Ibnu Sina, Ibn Khaldun dan lain-lain. Para tokoh tersebut memberikan kontribusi yang penting bagi umat Islam di dunia, khususnya dalam hal filsafat Islam. Atas dasar ini, maka kami mencoba untuk mengulas pemikiran tokoh filsafat Islam yakani Al-Ghazali dan Ibn Khaldun. Dalam hal ini penulis akan mengulas tentang pemikiran filosofi dari kedua tokoh tersebut dan pandangan mereka terhadap pendidikan Islam. Kemudian penulis akan mencoba membandingkan konsep pemikiran mereka tentang pendidikan Islam, apakah konsep yang mereka ungkapkan sama ataukah berbeda?

Tujuannya agar kita bisa mengetahui pemikiran tokoh-tokoh penting dalam dunia Islam. Pendidikan bukan saja dimiliki oleh barat yang terkenal saat ini, tetapi pendidikan sejak dahulu telah dimiliki oleh dunia Islam lewat tokoh-tokohnya. mudah-mudahan bermanfaat.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A. BIOGRAFI AL-GHAZALI

  1. 1. Sosio-Kultural Al-Ghazali

1.

Al-Ghazali, nama lengkapnya adalah Abu hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali di lahirkan di Tusia di daerah Khurasan (Persia), pada pertengahan abad ke-5 Hijriyah tepatnya pada tahun 450 Hijriyah bertepatan dengan 1059 M. Tetapi ada juga yang berpendapat bahwa ia dilahirkan di Ghazalah, yang terletak di ujung Thus, sehingga dapat dikatakan ia memiliki darah Persia.[1]

Sementara tentang sejarah ibunya tidak banyak orang yang mengetahuinya, selain bahwa dia hidup hingga menyaksikan kehebatan anaknya di bidang ilmu pengetahuan dan melihat popularitasnya serta gelar tertinggi di bidang keilmuan.[2]

Ayah Al-Ghazali adalah seorang tasawuf yang sholeh dan meninggal dunia ketika Al-Ghazali masih kecil. Ia seorang laki-laki miskin yang bekerja sebagai tukang tenun sutera. Sang ayah ingin sekali Al-Ghazali tumbuh di lingkungan yang Islami. Karena itu sebelum wafatnya ia menitipkan Al-Ghazali dan adiknya kepada seorang temannya yang sufi dan menyerahkan biaya hidup untuk mereka berdua. Sang sufi adalah seorang yang miskini. Karena itu ketika biaya hidupnya habis, maka ia menyerahkan keduanya ke salah satu sekolah yang didirikan oleh Nizham al-Mulk yang dapat menyediakan asrama dan biaya hidup bagi pelajar.[3]

Al-Ghazali memulai pendidikannya di wilayah kelahirannya Tus dengan mempelajari dasar-dasar pengetahuan. Selanjutnya ia pergi ke Nisyafur dan Khurasan yang pada waktu itu kedua kota tersebut terkenal dengan pusat ilmu pengetahuan terpenting di dunia Islam. Di kota Nisyafur inilah Al-Ghazali berguru kepada Imam al-Haramain Abi al-Ma’ali al-Juwainy, seorang ulama yang bermazhab Syafi’I yang pada saat itu menjadi guru besar di Nisyafur.[4]Diantara mata pelajaran yang dipelajari Al-Ghazali di kota tersebut adalah teologi, hukum Islam, falsafat, logika, sufisme dan ilmu-ilmu alam. Ilmu-ilmu yang dipelajarinya inilah yang kemudian mempengaruhi sikap dan pandangan ilmiahnya dikemudian hari.[5]

Setelah itu Al-Ghazali berkunjung kepada Nidzam al-Mulk di kota Mu’askar, dan darinya ia mendapat kehormatan dan penghargaan yang besar, sehingga ia tinggal di kota itu enam tahun lamanya. Pada tahun 483 H/1090 M, ia diangkat menjadi guru di sekolah Nidzamah Baghdad, dan pekerjaannya itu dilaksanakan dengan sangat berhasil sehingga banyak para penuntut ilmu dan pengagumnya berguru kepadanya.[6]

Pada tahun 487 Hijriyah, khalifah al-Mustadhir meminta Ghazali untuk menanggapi pemikiran kaum Islamiyah, yang terkenal dengan al-Bathiniyah atau al-Ta’limiyah. Pada saat itu mereka merupakan kekuatan yang luar bisaa. Dan Al-Ghazali sampai menulis tiga buku untuk menanggapi pemikiran mereka.

Setelah itu, Al-Ghazali mengalami krisis psikologi yang serius dan mematikan seluruh kegiatannya serta membuatnya meninggalkan kegiatan mengajarnya. Dalam bukunya al-Munqidz Min ad-Dhalal, Al-Ghazali menyatakan bahwa krisis psikologilah yang membuatnya meninggalkan kedudukannya di madrasah Nizhamiyah. Pekerjaan itu ditinggalkannya sekitar tahun 484 H, Untuk menuju Damsyik dan dikota ini ia merenung, membaca dan menulis selama kurang lebih 2 tahun, dengan tasawuf sebagai jalan hidupnya. [7]

Kemudian ia pindah ke Palestina dan disinipun ia tetap merenung, membaca dan menulis dengan mengambil tempat di masjid Baitul Maqdis. Sesudah itu bergeraklah hatinya untuk menjalankan ibadah haji, dan setelah selesai pulang ke negeri kelahirannya sendiri yaitu kota Tus dan disana ia tetap seperti bisaanya, berkhalwat dan beribadah.[8]

Karena desakan penguasa pada masanya, yaitu Muhammad, Al-Ghazali mau kembali mengajar di sekolah Nazamiyyah di Naisabur tahun 499 H. akan tetapi pekerjaan ini berlangsung 2 tahun, untuk akhirnya kembali ke kota Tus lagi, dimana ia kemudian mendirikan sebuah sekolah untuk para fuqaha dan sebuah biara (Khangak) untuk para mutasawwifin. Di kota itu pula ia meninggal dunia pada tahun 505 H/1111M, dalam usia 54 tahun.[9]

  1. 2. Karya-karya Al-Ghazali

Al-Ghazali banyak mengarang buku dalam berbagai disiplin ilmu. Karangan-karangannya meliputi Fiqih, Ushul Fiqh, Ilmu Kalam, Teologi kaum Salaf, bantahan terhadap kaum Batiniah, Ilmu Debat, Filsafat dan khususnya yang menjelaskan tentang maksud filsafat serta bantahan terhadap kaum filosof, logika, tasawuf, akhlak dan psikologi.

Kitab yang terbesar Al-Ghazali, yaitu ‘Ulumuddin yang artinya “Menghidupkan Ilmu-ilmu Agama”, dan karangannya dalam beberapa tahun dalam keadaan berpindah-pindah antara Syam, Yerussalem, Hajzz, dan Tus, dan yang berisi paduan yang indah antara fiqh, tasawuf dan filsafat, bukan saja terkenal di kalangan kaum muslimin, tetapi juga di kalangan dunia Barat dan Islam.

Bukunya yang lain, yaitu al-Minqidz min ad-Dlalal (Penyelamat dari Kesesatan), berisi sejarah perkembangan alam pikirannya dan mencerminkan sikapnya yang terakhir terhadap beberapa macam ilmu, serta jalan untuk mencapai Tuhan. Diantara penulis-penulis modern banyak yang mengikuti jajak Al-Ghazali dalam menuliskan autobiografinya.

Selain itu al-Ghazali juga menulis buku yang lainnya, yaitu:

  1. Ma’ārij al-Quds Fī Madārij Ma’rifat an-Nafs, cetakan II, Beirut: Dar al-Afaq al-Jadidah, 1975.
  2. Kīmiyā as-Sa’ādah, ditahkikkan dan diberi komentar oleh Muhammas Abdul Alim, Kairo: Maktabah al-Qur’an.
  3. Al-Jawāhir al-Ghazali Min Rasāil al-Imām al-Ghazali, Kairo: Muhyiddin Shabri al-Kurdi, 1934.
  4. Maqāshid al-Falāsifah, ditahkikkan oleh Sulaiman Dunya, Kairo: Dar al-Ma’rif, 1961.
  5. Miyār al-’Ilm, Percetakan Ilmu Kurdiatan, 1328.
  6. Tahāfut al-Falāsifah, dua jilid, ditahkikkan oleh Sulaiman Dunya, Kairo: Dar al-Ma’rif, 1980, 1981.[10]
  1. 3. Pemikiran Filosofis Al-Ghazali

Metafisika Al-Ghazali

Dalam pemikiran filsafat Al-Ghazali, terdapat empat unsur pemikiran filsafat yang mempengaruhinya. Keempat unsur tersebut sebenarnya merupakan hal-hal yang ditentang oleh Al-Ghazali, yaitu:

  1. Unsur pemikiran kaum Mutakallimin.
  2. Unsur pemikiran kaum filsafat.
  3. Unsur kepercayaan kaum bathiniah.
  4. Unsur kepercayaan kaum sufi.

Menurut Al-Ghazali terdapat beberapa buah filosof yang dipandang tersebut antara lain: Tuhan tidak mempunyai sifat; Tuhan mempunyai substansi dan tidak mempunyai hakikat; Tuhan tidak dapat diberi sifat; planet-planet adalah bintang yang bergerak dengan kemauan; Hukum alam tak dapat berubah; dan Jiwa planet-planet mengetahui semua.

Di samping itu Al-Ghazali juga telah berpolemik terhadap filsafat pada umumnya yang tertuang di dalam bukunya yang berjudul Tahafut al-Falasifah. Dalam buku tersebut secara umum Al-Ghazali menyerang pendapat-pendapat filsafat Yunani dan filsafat Ibnu Sina yang meliputi 20 masalah antara lain:

  1. Al-Ghazali menyerang dalil-dalil filsafat (Aristoteles) tentang azalinya alam dan dunia. Di sini Al-Ghazali berpendapat bahwa alam (dunia) berasal dari tidak ada menjadi ada sebab diciptakan oleh Tuhan.
  2. Al-Ghazali menyerang pendapat kaum filsafat (Aristoteles) tentang pastinya keabadian alam. Ia berpendapat bahwa soal keabadian alam itu terserah kepada Tuhan semata-mata. Mungkini saja alam itu terus menerus tanpa akhir andaikata Tuhan menghendakiniya. Akan tetapi bukanlah suatu kepastian harus adanya keabadian alam disebabkan oleh dirinya sendiri di luar iradat Tuhan.
  1. Al-Ghazali menyerang pendapat kaum filsafat bahwa Tuhan hanya mengetahui soal-soal yang besar saja, tetapi tidak mengetahui soal-soal yang kecil-kecil (juz iyat).
  2. Al-Ghazali juga menentang pendapat filsafat bahwa segala sesuatu terjadi dengan kepastian hukum sebab dan akibat semata-mata, dan mustahil ada penyelewengan dari hukum itu. Bagi Al-Ghazali segala peristiwa yang serupa dengan hukum sebab akibat itu hanyalah kebisaaan (adat) semata-mata, dan bukan hukum kepastian. Dalam hal ini jelas Al-Ghazali meyokong pendapat Ijraul-’adat dari Al-Asyari.[11]

Tiga pikiran filsafat metafisika yang menurut Al-Ghazali sangat berlawanan dengan Islam, dan yang oleh karenanya para filosof harus dinyatakan sebagai orang ateis ialah:

  1. Qadim-Nya alam.
  2. Tidak mengetahuinya Tuhan terhadap soal-soal peristiwa kecil.
  3. Pengingkaran terhadap kebangkitan jasmani.[12]

Epistimologi Al-Ghazali

Al-Ghazali memandang bahwa manusia memperoleh pengetahuan melalui dua cara. Pertama, melalui belajar dibawah bimbingan seorang guru, serta dengan menggunakan indera dan akal. Melalui cara ini, manusia mengenal inderawi, menghasilkan ilmu dan pengetahuan, serta mempelajari huruf dan keahlian. Kedua, melalui belajar yang bersifat Rabbani atau belajar Ladunni, dimana terungkap pengetahuan hati secara langsung melalui ilham dan wahyu.

Pengetahuan yang bersifat Rabbaniyah atau pengetahuan Ladunniyah adalah tingkatan tertinggi pengetahuan. Pengetahuan ini membutuhkan ibadah, kezuhudan Mujahadah (mendekatkan diri kepada Allah), dan olah batin (Riyadhah an-Nafs) atas akhlak yang mulia. Sepertinya al-Ghazali mengaitkan antara keluhuran dan kesempurnaan jiwa manusia dengan keluhurannya dalam memperoleh pengetahuan. Oleh karena itu, semakini meningkat dan luhur jiwa manusia melalui kontrakanya dengan Allah SWT, maka semakini berkembang pengetahuannya.

Pengetahuan yang diperoleh manusia melalui alat indera dan akal adalah pengetahuan yang terbatas, dan pengetahuan itu sendiri tidak mengaitkan manusia dan alam ghaib. Sedangkan pengetahuan Rabbaniyah adalah satu-satunya pengetahuan yang mengaitkan manusia dengan Allah SWT. pengetahuan inilah yang dapat membuat manusia memperoleh ketenangan, kebahagiaan, dan kenikmatan pengetahuan sejati. Dan manusia tidak akan memperoleh pengetahuan Rabbaniyah, kecuali melalui pembersihan jiwa dari sifat-sifat tercela, dan pendekatan jiwa dengan sifat-sifat terpuji yang membuatnya siap menerima pengetahuan Rabbaniyah, yaitu pengetahuan sejati.[13]

Aksiologi Al-Ghazali

Menurut Al-Ghazali orang sufi benar-benar berada di atas jalan yang benar , berakhlak yang baik dan berpengetahuan.  Manusia sejauh mungkin meniru perangai dan sifat-sifat Tuhan seperti pengasih, penyayang, pengampun (pemaaf), dan sifat-sifat yang disukai Tuhan, sabar, jujur, takwa, ikhlas, zuhud, beragama dan sebagainya. Dalam Ihya ‘Ulumuddin itu Al-Ghazali mengupas rahasia-rahasia ibadat dan tasawuf dengan mendalam sekali. Misalnya dalam mengupas soal at-thaharah ia tidak hanya mengupas kebersihan badan lahir saja, tetapi juga kebersihan rohani. Dalam penjelasannya yang panjang lebar tentang salat, puasa, dan haji. Kita dapat menyimpulkan bahwa bagi Al-Ghazali semua amal ibadah yang wajib itu merupakan pangkal dari segala jalan pembersihan rohani.

Al-Ghazali melihat sumber kebaikan manusia itu terletak pada kebersihan rohaninya dan asa akrabnya terhadap Tuhan. Sesuai dengan prinsip Islam, Al-Ghazali menganggap Tuhan sebagai pencipta yang aktif berkuasa, yang sangat memelihara dan menyebarkan rahmat bagi sekalian alam.

Alghazali juga sesuai dengan prinsip Islam, mengakui bahwa kebaikan tersebar di mana-mana, juga materi. Hanya pemakainya yang disederhanakan, yaitu kurangi nafsu dan jangan berlebihan.[14]

  1. B. Pemikiran Al-Ghazali Tentang Pendidikan Islam

  1. 1. Pendidikan Islam

Adapun pemikiran pendidikan Al-Ghazali termuat dalam tiga buku karangannya, yaitu Fatihat al-Kitab, Ayyuha al-Walad dan Ihya Ulum al-Din. Menurut pendapat Imam Ghazali, pendidikan yang baik merupakan jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.[15]

Al-Ghazali termasuk kedalam kelompok sufistik yang banyak menaruh perhatian yang besar terhadap pendidikan, karena pendidikanlah yang banyak menentukan corak kehidupan suatu bangsa dan pemikirannya. Dalam masalah pendidikan, Al-Ghazali lebih cenderung berfaham empirisme. Hal ini disebabkan karena ia sangat menekankan pengaruh pendidikan terhadap anak didik. Menurutnya seorang anak tergantung kepada orang tua yang mendidiknya. Hati seorang anak itu bersih, murni laksana permata yang berharga, sederhana dan bersih dari gambaran apapun.[16]

Al-Ghazali merupakan sosok ulama yang menaruh perhatian terhadap proses internalisasi ilmu dan pelaksana pendidikan. Menurutnya, untuk menyiarkan agama Islam, memelihara jiwa dan taqarrub kepada Allah. Oleh karena itu pendidikan merupakan ibadah dan upaya peningkatan kualitas diri. Pendidikan yang baik merupakan jalan untuk mendekatkan diri Allah dan mendapatkan kebahagian dunia-akhirat.[17]

Salah satu keistimewaan Al-Ghazali adalah penelitian, pembahasan dan pemikirannya yang sangat luas dan mendalam dalam masalah pendidikan. Selain itu, ia juga mempunyai pemikiran dan pandangan yang luas mengenai aspek-aspek pendidikan, dalam arti bukan memperhatikan aspek akhlak semata-mata seperti yang di tuduhkan oleh sebagian sarjana dan ilmuwan tetapi juga memperhatikan aspek-aspek lain.

Pada hakikatnya usaha pendidikan di mata Al-Ghazali adalah mementingkan semua hal tersebut dan mewujudkannya secara utuh dan terpadu karena konsep pendidikan yang di kembangkan Al-Ghazali berprinsip pada pendidikan manusia seutuhnya.

  1. 2. Kurikulum Pendidikan Islam

Adapun mengenai materi pendidikan Al-Ghazali berpendapat bahwa al-Quran beserta kandungannya adalah merupakan ilmu pengetahuan. Isinya sangat bermanfaat bagi kehidupan, membersihkan jiwa, memperindah akhlak, dan mendekatkan diri kepada Allah. [18]

Pandangan Al-Ghazali tentang kurikulum dapat dipahami dari pandangannya mengenai ilmu pengetahuan. Ia membagi ilmu pengetahuan kepada yang terlarang dan yang wajib dipelajari oleh anak didik menjadi tiga kelompok, yaitu:

  1. Ilmu yang tercela, banyak atau sedikit. Ilmu ini tidak ada manfaatnya bagi manusia di dunia dan di akhirat.
  2. Ilmu yang terpuji, banyak atau sedikit. Ilmu ini akan membawa seseorang kepada jiwa yang suci bersih dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
  3. Ilmu yang terpuji pada taraf tertentu, yang tidak boleh diperdalam, karena ini dapat membawa kegoncangan iman dan meniadakan Tuhan seperti ilmu filsafat.[19]

Dari ketiga kelompok ilmu tersebut Al-Ghazali membagi lagi ilmu-ilmu tersebut menjadi dua kelompok ilmu dilihat dari segi kepentingannya, yaitu:

  1. Ilmu-ilmu fardu ain yang wajib di pelajari oleh semua orang Islam meliputi ilmu-ilmu agama yakni ilmu yang bersumber dari kitab suci al-Quran.
  2. Ilmu-ilmu yang merupakan fardu kifayah, terdiri dari ilmu-ilmu yang dapat di manfaatkan untuk memudahkan urusan hidup duniawi, seperti ilmu hitung (matematika), ilmu kedokteran, ilmu teknik, ilmu pertanian dan industri[20].

Dari kedua kategori ilmu tersebut Al-Ghazali merinci lagi menjadi:

  1. Ilmu al-Quran dan ilmu agama seperti fiqhi, hadist dan tafsir.
  2. Ilmu-ilmu bahasa, seperti nahwu sharaf, makhraj, lafal-lafalnya yang membantu ilmu agama.
  3. Ilmu-ilmu yang fardu kifayah, terdiri dari berbagai ilmu yang memudahkan urusan kehidupan duniawi seperti ilmu kedokteran, matematika, teknologi (yang beraneka ragam jenisnya), ilmu politik dan lain-lain.
    1. Ilmu kebudayaan, seperti syair, sejarah dan beberapa cabang filsafat[21]
  1. 3. Tujuan Pendidikan

Menurut Al-Ghazali tujuan pendidikan adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, bukan untuk mencari kedudukan, kemegahan dan kegagahan atau kedudukan yang menghasilkan uang. Karena jika tujuan pendidikan diarahkan bukan untuk mendekatkan diri kepada Allah, akan dapat menimbulkan kedengkian, kebencian dan permusuhan. Selain itu rumusan tersebut mencerminkan sikap zuhud al-Ghazali terhadap dunia, merasa qana’ah (merasa cukup dengan yanng ada), dan banyak memikirkan kehidupan akhirat daripada kehidupan dunia.[22]

Selanjutnya pemikiran tentang tujuan pendidikan Islam menurut Al-Ghazali dapat diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu: Tujuan mempelajari ilmu pengetahuan semata-mata untuk ilmu pengetahuan itu sendiri sebagai wujud ibadah kepada Allah, Tujuan utama pendidikan Islam adalah pembentukan akhlakul al-karimah, Tujuan pendidikan Islam adalah mengantarkan peserta didik mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Dengan ketiga tujuan ini di harapkan pendidikan yang diprogramkan akan mampu mengantarkan peserta didik pada kedekatan diri kepada Allah.[23]

  1. 4. Metode Pendidikan Islam

Dalam hal yang berhubungan dengan metode pendidikan Islam, Al-Ghazali menekankan pentingnya bimbingan dan pembisaaan. Dalam menerapkan metode tersebut Al-Ghazali menyarankan agar tujuan utama dari penggunaan metode tersebut di selaraskan dengan tingkat usia, tingkat kecerdasan, bakat dan pembawaan anak dan tujuannya tidak lepas dari hubungannya dengan nilai manfaat. Oleh karena itu dalam metode pendidikannya ini Al-Ghazali cenderung mendasarkan pemikirannya pada prinsip ajaran sufi (penyucian jiwa) dan pragmatis (nilai guna).[24]

Dalam uraiannya yang lain, Al-Ghazali juga meletakkan prinsip metode pendidikan pada aspek mental atau sikap, sebagaimana kata-kata beliau “wajib atas para murid untuk membersihkan jiwanya dari kerendahan akhlak dan dari sifat-sifatnya yang tercela, karena bersihnya jiwa dan baiknya akhlak menjadi asas bagi kemajuan ilmu yang dituntutnya.” [25]

Dan hal tersebut dapat digunakan dengan menggunakan berbagai macam metode antara lain: metode keteladanan, metode bimbingan dan penyuluhan, metode cerita, metode motivasi, dan sebagainya.

Selain itu menurut Al-Ghazali dalam metode pendidikan ini ada dua macam kecenderungan yaitu:

  1. Kecenderungan religius sofistis, yang meletakkan ilmu-ilmu agama di atas pemikirannya. Dan melihatnya sebagai alat untuk menyucikan jiwa dan membersihkannya dari kotoran duniawi. Dengan demikian ia menekankan kepentingan akhirat yang menurutnya harus di kaitkan dengan pendidikan agama.
  2. Kecenderungan aktualitas manfaat yang tampak dari tulisan-tuliasannya meskipun ia seorang sufi dan tidak suka kepada duniawi, namun dia mengulangi penilaiannya terhadap ilmu-ilmu menurut kegunaanya bagi manusia baik di dunia ataupun di akhiratnya.
  1. 5. Pendidik

Sejalan dengan pentingnya pendidikan untuk mencapai tujuan sebagaimana disebutkan diatas, al-Ghazali juga menjelaskan tentang ciri-ciri pendidik yang boleh melaksanakan pendidikan. Ciri-ciri tersebut adalah:[26]

  1. Guru harus mencintai muridnya seperti mencintai anak kandungnya sendiri.
  2. Guru jangan mengharapkan materi (upah) sebagai tujuan utama dari pekerjaannya (mengajar), karena mengajar adalah tugas yang diwariskan oleh Nabi Muhammad SAW. Sedangkan upahnya adalah terletak pada terbentuknya anak didik yang mengamalkan ilmu yang diajarkannya.
  3. Guru harus mengingatkan muridnya agar tujuannya dalam menuntut ilmu bukan untuk kebanggaan diri atau mencari keuntungan pribadi, tetapi untuk mendekatkan diri kepada Allah.
  4. Guru harus mendorong muridnya agar mencari ilmu yang bermanfaat, yaitu ilmu yang membawa pada kebahagiaan dunia dan akhirat.
  5. Di hadapan muridnya, guru harus memberikan contoh yang baik, seperti berjiwa halus, sopan, lapang dada, murah hati dan berakhlak terpuji lainnya.
  6. Guru harus mengajarkan pelajaran yang sesuai dengan tingkat intelektual dan daya tangkap anak didiknya.
  7. Guru harus mengamalkan apa yang di ajarkannya, karena ia menjadi idola di mata anak muridnya.
  8. Guru harus memahami minat, bakat dan jiwa anak didiknya, sehingga di sampaing tidak akan salah dalam mendidik, juga akan terjalin hubungan yang akrab dan baik antara guru dengan anak didiknya.
  9. Guru harus dapat menanamkan keimanan kedalam pribadi anak didinya, sehingga akal pikiran anak didik tersebut akan dijiwai oleh keimanan itu.

Tipe ideal guru yang dikemukakan Al-Ghazali yang demikian sarat dengan norma akhlak dan masih dianggap relevan, jika tidak dianggap hanya satu-satunya mode, melainkan jika dilengkapi dengan persyaratan yang lebih bersifat akademis dan profesi. Guru yang ideal di masa sekarang adalah guru yang memiliki persyaratan kepribadian sebagai mana yang dikemukakan Al-Ghazali dan persyaratan akademis dan profesional.[27]

  1. 6. Peserta Didik

Dalam kaitannya dengan peserta didik, lebih lanjut Al-Ghazali menjelaskan bahwa mereka adalah makhluk yang telah dibekali potensi atau fitrah untuk beriman kepada Allah. Fitrah itu sengaja disiapkan oleh Allah sesuai dengan kejadian manusia, cocok dengan tabi’at dasarnya yang memang cenderung kepada agama Islam.

Al-Ghazali dalam memberikan pendidikan kepada umat, membagi manusia itu menjadi tiga golongan yang sekaligus menunjukkan kepada keharusan menggunakan metode pendekatan yang berbeda pula, yaitu:

  1. Kaum awam, yang cara berfikirnya sederhana sekali. Dengan cara berfikir terebut, mereka tidak dapat mengembangkan hakikat-hakikat. Mereka mempunyai sifat lekas percaya dan menurut. Golongan ini harus dihadapi dengan sikap memberi nasehat dan petunjuk.
  2. Kaum pilihan, yang akalnya tajam dengan cara berfikir yang mendalam. Kepada kaum pilihan tersebut, harus dihadapi dengan sikap menjelaskan hikmat-hikmat.
  3. Kaum penengkar (ahl al jidal), mereka harus dihadapi dengan sikap mematahkan argumen-argumen mereka.

Di samping itu Al-Ghazali juga membagi manusia kedalam dua golongan besar, yaitu golongan awam dan golongan khawas, yang daya tangkapnya tidak sama. Oleh karena itu apa yang dapat diberikan kepada golongan khawas tidak selamanya dapat diberikan kepada golongan awam. Dan sebaliknya pengertian kaum awam dan kaum khawas dalam hal sama, sering kali berbeda dan perbedaan itu disebabkan karena perbedaan daya berfikir masing-masing. Bisaanya kaum awam membaca apa yang tersurat dan kaum khawas, membaca apa yang tersirat.[28]

Selanjutnya menurut Al-Ghazali dalam menuntut ilmu, peserta didik memilki tugas dan kewajiban, yaitu:

  1. Mendahulukan kesucian jiwa.
  2. Bersedia merantau untuk mencari ilmu pengetahuan.
  3. Jangan menyombongkan ilmunya dan menentang guru.
  4. Mengetahui kedudukan ilmu pengetahuan.[29]

Dengan tugas dan kewajiban tersebut diharapkan seorang peserta didik mampu untuk menyerap ilmu pengetahuan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

  1. C. BIOGRAFI IBN KHALDUN

1.         Sosio-Kultural Ibn Khaldun

Abd al-Rahman Abu Zaid Ibn Muhammad Ibn Muhammad Ibn Khaldun (lebih dikenal dengan Ibn Khaldun) lahir di Thunisia pada tanggal 1 Ramadhan 732 H/27 Mei 1332 M. dan meninggal di Cairo tanggal 25 Ramadhan 808 H/19 Maret 1406 M. ia dikenal sebagai pakar kenegaraan, sejarawan, dan ahli hukum mazhab Maliki. Asal usul nenek moyangnya berasal dari Hadramaut yang kemudian melakukan imigrasi ke sevill (Spanyol) pada abad ke-8, bersamaan dengan gelombang penaklukan Islam di Semenanjung Andalusia. Keluarganya merupakan tokoh politik yang cukup berpengaruh. Diantara keluarganya, hanya ayahnya yang tidak terjun di bidang pendidikan dan memilih untuk lebih intens di bidang pendidikan.[30] Latar belakang keluarga dan saat ia dilahirkan serta menjalani hidupnya tampaknya merupakan faktor yang menentukan dalam perkembangan pemikirannya. Keluarganya telah mewariskan tradisi intelektual kedalam dirinya.[31]

Sebagaimana para pemikir Islam lainnya, pendidikan masa kecilnya berlangsung secara tradisional. Artinya, ia harus belajar membaca al-Qur’an, hadits, fiqh, sastra, dan nahwu sharaf.[32]Khaldun pertama kali menerima pendidikan langsung dari ayahnya. Di samping dengan ayahnya ia juga mempelajari tafsir, hadits, fiqih (Maliki), gramatika Bahasa Arab, ilmu mantiq, dan filsafat dengan sejumlah ulama Andalusia dan Thunisia. Pendidikan formalnya di laluinya hanya sampai pada usia 17 tahun. Ia belajar al-Qur’an berikut tafsirnya, fiqh, tasawuf, dan filsafat. Dalam usia yang masih relatif muda ini ia telah mampu menguasai beberapa disiplin ilmu klasik, termasuk ‘ulum ‘aqliyah (ilmu-ilmu filsafat, tasawuf, dan metafisika). Di samping itu, Khaldun juga tertarik untuk mempelajari dan menggeluti ilmu politik, sejarah, ekonomi, geografi, dan lain sebagainya.

Ketika usianya melewati 17 tahun, ia kemudian belajar sendiri (otodidak), meneruskan apa yang telah diperolehnya pada masa pendidikan formal sebelumnya. Di samping memegang jabatan penting kenegaraan, seperti qadhi, diplomat, dan guru pada berbagai kesempatan.

Selama 40 tahun, Khaldun hidup di Spanyol dan Afrika Utara. Di sini, ia senantiasa dihadapkan pada situasi pergolakan politik dan memegang jabatan penting dibawah para penguasa yang silih berganti. Sekembalinya ia ke Afrika Utara, Khaldun memutuskan untuk menunaikan ibadah haji. Pada tahun 1832 M, ia kemudian pergi ke Iskandariyah. Akan tetapi, dalam perjalanannya ia terlebih dahulu singgah di Mesir. Karena popularitas dan kredebilitasnya sebagai seorang ilmuan, maka atas permintaan raja dan rakyat Mesir, ia ditawari menduduki jabatan guru dan ketua Mahkamah Agung Dinasti Mamluk. Tawaran ini akhirnya di terima sehingga niatnya untuk melaksanakan haji terpaksa di tunda. Keinginannya ini baru dapat terwujud pada tahun 1837 M.

Dari tahun 1832 M hingga wafatnya Ibn Khaldun memegang jabatan sebagai guru besar dan rektor di Madrasah Qamliyah serta ketua Hakim Agung (Mufti) di Mesir selama 6 periode. Disinilah ia memanfaatkan sisa usianya untuk mengembangkan dan mengabdikan ilmu pengetahuan yang selama ini ditinggalkannya.

2.         Karya-karya Ibn Khaldun

Buku pertama dari Ibn khaldun adalah Lubab Al-Muhashshal, diselesaikan atas bimbingan guru yang dicintainya, Al-Abili, pada waktu Ibn Khaldun baru berusia 19 tahun dan masih berada di Thunisia. Buku yang terakhir, yaitu sebuah komentar atas puisi rajaz mengenai ushul al-fiqh karya Ibn Khathib, mungkini dikerjakan di Granada, sekitar 765 H/1363 M, ia telah banyak menulis risalah, walaupun kurang begitu penting. Mayoritas karyanya kemudian berhubungan dengan persoalan-persoalan teologico-filosofis.

Masih ada lagi sebuah karya sebelum kitab Al-Ibar, yaitu Syifa’ Al-Sa’il yang ditulis selama masa singgahnya yang kedua di Fez sekitar 775 H/1373 M. ia tidak melontarkan sepatah kata pun berkenaan dengan teks ini (yang merupakan sumbangan nyata bagi mistisme Islam) dalam autografinya.[33]

Selain itu Ibn Khaldun juga menulis sebuah karya yang  momumental, yaitu al-’Ibar wa Diwan al-Mubtada’ wa al-Khabar fi ayyami al-A’rab wa al-’Ajam wa al-Barbar wa man ‘Asarahun min Dzami as-Sulthan al-Akbar. Seluruh bangunan ilmunya dalam kitab al-Muqaddimah memaparkan tentang ilmu sosial, kebudayaan, dan sejarah. Sementara cakupan kitab al-’Ibar merupakan bukti empiris-historis dari teori yang dikembangkannya. Orisinalitas dan kedalaman pemikirannya, telah berhasil meletakkan karyanya al-Muqaddimah sebagai sebuah karya besar yang unik dan melampui zamannya.

3.         Pemikiran Filosofis Al-Ghazali

Metafisika Ibn Khaldun

Dalam bab yang berjudul “suatu penolakan terhadap filsafat dan penyelewengan dari pengkajiannya”, Ibn Khaldun memilih tesis Neoplatonik yang menyatakan adanya hierarki wujud, dari yang indrawi hingga yang supra-indriawi yang berpuncak pada akal pertama yang identik dengan Wujud Niscaya (Tuhan) dan gagasan yang menyatakan bahwa pikiran manusia mampu mencapai pengetahuan tanpa bantuan wahyu. Lebih jauh, bagi orang yang mengetahui, pengetahuan menghasilkan kebahagiaan.

Di satu pihak, bagi Ibn Khaldun, semua penalaran metafisik bersandar dan bergantung pada”intelijibel-intelijibel kedua”. Bahkan, kesesuaian yang kita temukan antara intelijibel primer (hal-hal partikular) dan exsintentia individual (proposisi-proposisi yang menggambarkan hal-hal khusus primer tadi) bukan kemestian logis, melainkan harus dibuktikan secara empiris. Merujuk pada plato yang berlawanan dengan Theologica pseudo Aristoteles, ia berkata bahwa dalam bidang ini kita mungkini sekedar mendapatkan dugaan saja. Lagi pula, ketika mengklaim hendak melukiskan dan mengungkapkan hakikat Tuhan, teori-teori Neoplatonik mempunyai pengaruh buruk terhadap entitas politik karena dapat menggeser ajaran agama dari fungsi pokoknya yang diperlukan bukan saja oleh negara, melainkan juga organisasi sosial. Bagi Ibn Khaldun klaim ini mengandaikan secara keliru bahwa seorang yang berpersepsi menyusun eksistensi dalam persepsi-persepsinya. Tetapi menurut Ibn Khaldun baik eksistensi yang luas bagi akal manusia maupun kebahagiaan yang dijanjikan tidak mungkin tercakup.[34]

Epistimologi Ibn Khaldun

Ibn Khaldun berpendapat bahwa pertumbuhan pendidikan dan ilmu pengetahuan dipengaruhi oleh peradaban. Hal ini dapat dilihat pada negara Qairawan dan Cordova yang keduanya berperadaban Andalus dan luas pula problematikanya atau heterogen. Di situ terdapat pertumbuhan ilmu, pabrik-pabrik, pasar yang tersusun rapi. Keadaan ini akan berpengaruh terhadap corak pendidikannya.

Pada bagian lain, Ibn Khaldun mengatakan bahwa adanya perbedaan lapisan sosial timbul dari hasil kecerdasannya yang diproses melalui pengajaran. Hal ini berbeda dengan apa yang diduga oleh sebagian orang yang mengatakan bahwa perbedaan ini bersumber pada perbedaan hakikat manusia.

Menurutnya, ilmu pengetahuan dalam kebudayaan umat Islam dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu: ilmu pengetahuan Syar’iyyah dan ilmu pengetahuan filosofis. Ilmu pengetahuan Syar’iyyah berkenaan dengan hukum dan ajaran agama Islam. Ilmu ini diantaranya tentang al-Qur’an, Hadits, prinsip-prinsip Syari’ah, fiqh, teologi, dan sufisme. Sementara ilmu pengetahuan filosofis meliputi: logika, ilmu pengetahuan alam (fisika), metafisika, dan matematika. Ilmu pengetahuan filosofis juga sering di sebut sains alamiah. Hal ini disebabkan karena dengan potensi akalnya, setiap orang memiliki kemampuan untuk menguasainya dengan baik.

Ilmu pengetahuan Syar’iyyah dan filosofis merupakan pengetahuan yang ditekuni manusia (peserta didik) dan saling berinteraksi, baik dalam proses memperoleh atau proses mengajarkan. Konsepsi ini kemudian merupakan pilar dalam merekonstruksi kurikulum pendidikan Islam yang ideal, yaitu kurikulum pendidikan yang mampu mengantarkan peserta didik yang memiliki kemampuan membentuk dan membangun peradaban manusia

Berkenaan dengan ilmu pengetahuan, Ibn Khaldun membaginya menjadi tiga macam, yaitu:

  1. Ilmu lisan (bahasa) yaitu ilmu tentang tata bahasa (gramatika) sastra atau bahasa yang tersusun secara puitis (sya’ir).
  2. Ilmu naqli, yaitu ilmu yang diambil dari kitab suci dan sunah nabi. Ilmu ini berupa membaca kitab suci al-Qur’an dan tafsirnya, sanad dan hadits yang pentashihannya serta istinbath tentang kaidah-kaidah fiqh. Dengan ilmu ini manusia akan dapat mengetahui hukum-hukum Allah yang diwajibkan kepada manusia. Dari al-Qur’an itulah akan didapati ilmu-ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu ushul fiqih, yang dapat dipakai untuk menganalisa hukum-hukum Allah itu melalui cara istinbath.
  3. Ilmu ‘aqli, yaitu ilmu yang dapat menunjukkan manusia dengan daya fikir atau kecerdasannya kepada filsafat dan semua ilmu pengetahuan. Termasuk di dalam katagori ilmu ini adalah ilmu mantiq (logika), ilmu alam, ilmu ketuhanan, ilmu-ilmu teknik, ilmu hitung, ilmu tingkah laku manusia, termasuk juga ilmu sihir dan ilmu nujum (perbintangan). Mengenai ilmu nujum, Ibn Khaldun menganggapnya sebagai ilmu yang fasid, karena ilmu ini dapat dipergunakan untuk meramalkan segala kejadian sebelum terjadi atas dasar perbintangan. Ini merupakan sesuatu yang batil, berlawanan dengan ilmu tauhid yang menegaskan bahwa tak ada yang menciptakan kecuali Allah sendiri.

Aksiologi Ibn Khaldun

Menurut Ibn Khaldun dalam pandangan aksiologinya bahwa manusia berbeda dengan makhluk yang lain karena manusia memiliki akal yang telah diberikan Tuhan kepadanya. Dengan akal tersebut manusia bias menciptakan tekbologi yang canggih  dan bisa merubah peradaban manusia. Dan hal tersebut tidak terlepas dari wujud Tuhan yang ada yang tidak bias dibuktikan secara empiris tetapi hanya bias di yakini.

Pengaplikasian semua ilmu yang ada dalam diri kita, bias membawa kita kepada keberhasilan peradaban masyarakat. Khaldun adalah seorang sejarawan yang telah memilki banyak pengalaman dari perjalanannya dan dari sanalah konsep filosofisnya mengalami perkembangan. Ia menitik beratkan pemikirannya pada pengalaman yang ada dan menurutnya manusia adalah makhluk semprna dari makhluk yang ada. Dan tujuan dari penerapan ilmu yang dimilki adalah bukan semata untuk kebahagiaan akhirat tetapi juga untuk kebutuhan duniawi.

  1. D. Pemikiran Ibn Khaldun Tentang Pendidikan Islam

  1. 1. Ilmu dan Pendidikan

Menurut pandangan Ibn Khaldun, ilmu dan pendidikan sebagai suatu gejala konklusi yang lahir dari terbentuknya masyarakat dan perkembangan di dalam tahapan kebudayaan dan mendorong manusia untuk memiliki pengetahuan yang penting baginya di dalam kehidupan yang sederhana pada periode pertama pembentukan masyarakat. Lalu lahirlah ilmu-ilmu dengan bertumpuknya pengetahuan, sejalan dengan perjalanan masa, karena ilmu lahir sebagai akibat dari kebimbangan pikiran. Kemudian lahir pula pendidikan sebagai akibat adanya kesenangan manusia untuk memahami dan mendalami pengetahuan. Jadi ilmu dan pendidikan merupakan dua anak yang lahir dari kehidupan yang berkebudayaan dan bekerja untuk melestarikan dan meningkatkannya.

Oleh karena itu Ibn Khaldun berpendapat bahwa pendidikan berusaha untuk melahirkan masyarakat yang berkebudayaan dan bekerja untuk melestarikan eksistensi masyarakat  selanjutnya, maka pendidikan akan mengarahkan kepada pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas.

Rumusan pendidikan yang dikemukakan oleh Ibn Khaldun adalah merupakan hasil dari berbagai pengalaman yang dilaluinya sebagai seorang ahli filsafat sejarah dan sosiologi yang mencoba menghubungkan antara konsep dan realita. Sebagai seorang ahli filsafat sejarah, tentu ia menggunakan pendekatan filsafat sejarah atau historical philosophy approach, karena kedua pendekatan tersebut akan mempengaruhi terhadap system berfikir dan pemikirannya dalam pembahasan setiap permasalahan, karena kedua pendekatan tersebut mampu merumuskan beberapa pendapat dan interpretasi dari suatu kenyataan dan pengalaman yang telah dilalui.[35]

  1. 2. Kurikulum Pendidikan Islam

Pemikiran Khaldun tentang kurikulum dapat dilihat dari konsep epistimologinya. Menurutnya, ilmu pengetahuan dalam kebudayaan umat Islam dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu: ilmu pengetahuan Syar’iyyah dan ilmu pengetahuan filosofis. Ilmu pengetahuan Syar’iyyah berkenaan dengan hukum dan ajaran agama Islam. Ilmu ini diantaranya tentang al-Qur’an, Hadits, prinsip-prinsip Syari’ah, fiqh, teologi, dan sufisme. Sementara ilmu pengetahuan filosofis meliputi: logika, ilmu pengetahuan alam (fisika), metafisika, dan matematika. Ilmu pengetahuan filosofis juga sering di sebut sains alamiah. Hal ini disebabkan karena dengan potensi akalnya, setiap orang memiliki kemampuan untuk menguasainya dengan baik.

Ilmu pengetahuan Syar’iyyah dan filosofis merupakan pengetahuan yang ditekuni manusia (peserta didik) dan saling berinteraksi, baik dalam proses memperoleh atau proses mengajarkan. Konsepsi ini kemudian merupakan pilar dalam merekonstruksi kurikulum pendidikan Islam yang ideal, yaitu kurikulum pendidikan yang mampu mengantarkan peserta didik yang memiliki kemampuan membentuk dan membangun peradaban manusia.[36]

Selain itu, berkenaan dengan ilmu pengetahuan, Ibn Khaldun membaginya menjadi tiga macam, yaitu:

  1. Ilmu lisan (bahasa) yaitu ilmu tentang tata bahasa (gramatika) sastra atau bahasa yang tersusun secara puitis (sya’ir).
  2. Ilmu naqli, yaitu ilmu yang diambil dari kitab suci dan sunah nabi. Ilmu ini berupa membaca kitab suci al-Qur’an dan tafsirnya, sanad dan hadits yang pentashihannya serta istinbath tentang kaidah-kaidah fiqh. Dengan ilmu ini manusia akan dapat mengetahui hukum-hukum Allah yang diwajibkan kepada manusia. Dari al-Qur’an itulah akan didapati ilmu-ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu ushul fiqih, yang dapat dipakai untuk menganalisa hukum-hukum Allah itu melalui cara istinbath.
  3. Ilmu ‘aqli, yaitu ilmu yang dapat menunjukkan manusia dengan daya fikir atau kecerdasannya kepada filsafat dan semua ilmu pengetahuan. Termasuk di dalam katagori ilmu ini adalah ilmu mantiq (logika), ilmu alam, ilmu ketuhanan, ilmu-ilmu teknik, ilmu hitung, ilmu tingkah laku manusia, termasuk juga ilmu sihir dan ilmu nujum (perbintangan). Mengenai ilmu nujum, Ibn Khaldun menganggapnya sebagai ilmu yang fasid, karena ilmu ini dapat dipergunakan untuk meramalkan segala kejadian sebelum terjadi atas dasar perbintangan. Ini merupakan sesuatu yang batil, berlawanan dengan ilmu tauhid yang menegaskan bahwa tak ada yang menciptakan kecuali Allah sendiri.

Ilmu yang harus diajarkan kepada anak didik menurut Ibnu Khaldun ada empat macam, yaitu:

  1. Ilmu Syari’ah dengan segala jenisnya.
  2. Ilmu filsafat seperti ilmu alam dan ilmu ketuhanan.
  3. Ilmu alat yang membantu ilmu agama seperti ilmu bahasa, gramatika, dan sebagainya.
  4. Ilmu alat yang membantu ilmu falsafah seperti ilmu mantiq[37]

Selain itu Ibn Khaldun berpendapat bahwa al-Qur’an adalah ilmu yang pertama kali harus diajarkan kepada anak, karena mengajarkan al-Qur’an kepada anak termasuk syari’at Islam yang dipegang teguh oleh para ahli agama dan dijunjung tinggi oleh setiap negara Islam. Al-Qur’an yang telah ditanamkan pada anak didik akan jadi pegangan hidupnya, karena pengajaran pada masa kanak-kanak masih mudah, karena otak si anak masih jernih.[38]

  1. 3. Tujuan Pendidikan Islam

Rumusan Ibn Khaldun mengenai tujuan pendidikan adalah untuk:

  1. Memberikan kesempatan kepada pikiran untuk aktif dan bekerja, karena aktifitas ini bagi terbukanya pikiran dan kematangan individu, kemudian kematangan ini akan mendapatkan faedah bagi masyarakat.
  2. Memperoleh berbagai ilmu pengetahuan, sebagai alat untuk membantunya, hidup dengan baik di dalam masyarakat yang maju dan berbudaya.
  3. Memperoleh lapangan pekerjaan, yang digunakan untuk meperoleh rizki.

Ada beberapa faktor yang dijadikan alasan untuk merumuskan tujuan pendidikan, yaitu:

  1. Pengaruh filsafat sosiologi, yang tidak bisa memisahkan antara masyarakat, ilmu pengetahuan dan kebutuhan masyarakat.
  2. Perencanaan ilmu pengetahuan sangat menentukan bagi perkembangan masyarakat berbudaya.
  3. Pendidikan sebagai aktivitas akal insani, merupakan salah satu industri yang berkembang di dalam masyarakat, karena sangat urgen dalam kehidupan setiap individu.

Rumusan tujuan pendidikan dan factor-faktor yang dijadikan sebagai dasar pertimbangan menentukan tujuan pendidikan, tampaknya masih ada kesesuaian dengan pendidikan pada masa kini.[39]

  1. 4. Metode Pendidikan Islam

Menurut Ibn Khaldun bahwa mengajarkan pengetahuan kepada pelajar hanyalah akan bermanfaat apabila dilakukan dengan berangsur-angsur, setapak demi setapak dan sedikit demi sedikit. Pertama ia harus diberi pelajaran tentang soal-soal mengenai setiap cabang yang dipelajarinya. Keterangan-keterangan diberikan harus secara umum, dengan memperhatikan kekuatan pikiran pelajar dan kesanggupannya memahami apa yang diberikan kepadanya. Apabila dengan jalan itu seluruh pembahasan pokok telah dipahami, maka ia telah memperoleh keahlian dalam cabang ilmu pengetahuan tersebut, tetapi itu baru sebagian keahlian yang belum lengkap. Sedangkan, hasil keseluruhan dari keahliannya itu adalah ia memahami pembahsan pokok itu seluruhnya dengan segala seluk beluknya. Untuk itu jika pembahasan yang pokok itu belum dicapai dengan baik, maka harus diulanginya kembali hingga dikuasai benar.

Dalam menggunakan metode pendidikan seorang pendidik hendaknya memperhatikan enam prinsip utama, yaitu:

  1. Prinsip pembisaaan.
  2. Prinsip berangsur-angsur.
  3. Prinsip pengenalan umum.
  4. Prinsip kontinuitas.
  5. Prinsip memperhatikan bakat dan kemampuan peserta didik.
  6. Prinsip menghindari kekerasan dalam mengajar.[40]

  1. 5. Pendidik

Seorang pendidik hendakanya memiliki pengetahuan yang memadai tentang perkembangan psikologi peserta didik. Pengetahuan ini akan sangat membantunya untuk mengenal setiap individu peserta didik dan mempermudah dalam melaksanakan proses belajar mengajar. Para pendidik hendakanya mengetahui kemampuan dan daya serap peserta didik. Kemampuan ini akan bermanfaat bagi menetapkan materi pendidikan yang sesuai dengan tingkat kemampuan peserta didik. Bila pendidik memaksakan materi di luar kemampuan peserta didiknya, maka akan menyebabkan kelesuan mental dan bahkan kebencian terhadap ilmu pengetahuan yang di ajarkan. Bila ini terjadi, maka akan menghambat proses pencapaian tujuan pendidikan. Oleh karena itu, diperlukan keseimbangan antara materi pelajaran yang sulit dan mudah dalam cakupan materi pendidikan.[41]

  1. 6. Peserta Didik

Ibn Khaldun memandang manusia (peserta didik) sebagai mahluk yang berbeda dengan berbagai mahluk yang lain. Manusia, kata Ibn Khaldun adalah mahluk berfikir. Oleh karena itu ia mampu melahirkan ilmu (pengetahuan) dan teknologi. Sifat-sifat semacam ini tidak dimiliki oleh mahluk yang lain. Lewat kemampuan berpikirnya itu, manusia tidak hanya membuat kehidupannya, tetapi juga menaruh perhatian terhadap berbagai cara guna memperoleh makanya hidup. Proses-proses yang semacam ini melahirkan peradaban.

Pada bagian lain, Ibn Khaldun berpendapat bahwa dalam proses belajar atau menuntut ilmu pengetahuan, manusia disamping harus sungguh-sungguh juga harus memiliki bakat. Menurutnya, dalam mencapai pengetahuan yang bermacam-macam itu seseorang tidak hanya membutuhkan ketekunan, tetapi juga bakat. Berhasilnya suatu keahlian dalam satu bidang ilmu atau disiplin memerlukan pengajaran.[42]

  1. E. Analisis Dan Perbandingan

Konsep pemikiran pendidikan Islam, Al-Ghazali berpendapat pendidikan yang baik merupakan jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Al-Ghazali menggabungkan antara kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat. Sedangkan pemikiran Ibn Khaldun tentang pendidikan Islam adalah pendidikan berusaha untuk melahirkan masyarakat yang berkebudayaan dan bekerja untuk melestarikan eksistensi masyarakat  selanjutnya, maka pendidikan akan mengarahkan kepada pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas. konsep pendidikan yang dikemukakan oleh Ibn Khaldun adalah merupakan hasil dari berbagai pengalaman yang dilaluinya sebagai seorang ahli filsafat sejarah dan sosiologi yang mencoba menghubungkan antara konsep dan realita. Jadi disini terlihat bahwa Al-Ghazali berbeda pendapat dengan Ibn Khaldun tentang pendidikan.

Tentang kurikulum pendidikan Islam al-Ghazali mengatakan bahwa al-Quran beserta kandungannya adalah merupakan ilmu pengetahuan. Isinya sangat bermanfaat bagi kehidupan, membersihkan jiwa, memperindah akhlak, dan mendekatkan diri kepada Allah. Hal ini sejalan dengan yang diungkapkan Ibn Khaldun. Ia berpendapat bahwa al-Qur’an adalah ilmu yang pertama kali harus diajarkan kepada anak, karena mengajarkan al-Qur’an kepada anak termasuk syari’at Islam yang dipegang teguh oleh para ahli agama dan dijunjung tinggi oleh setiap negara Islam. Al-Qur’an yang telah ditanamkan pada anak didik akan jadi pegangan hidupnya, karena pengajaran pada masa kanak-kanak masih mudah, karena otak si anak masih jernih

Pandangan Ibn Khaldun tentang pendidikan, berbeda dengan pandangan Al-Ghazali mengenai tujuan pendidikan. Menurut Al-Ghazali tujuan pendidikan Islam hanyalah untuk mendekatkan diri kepada Allah, sedangkan pendapat Ibn Khaldun sudah dihubungkan dengan memperoleh rizki.

Mengapa tujuan pendidikan Islam dimasukkan Ibn Khaldun untuk mendapatkan rizki? Ternyata pengalaman, pengamatannya dalam pergaulan dan pengalaman bekerja dalam berbagai lapangan pekerjaan serta kepandaiannya dalam berbagai ilmu pengetahuan telah membawanya ke puncak kejayaan dan kepercayaan penguasa yang sedang berkuasa. Dengan demikian pendapat Ibn Khaldun sudah mulai maju selangkah, artinya ia sudah memunculkan suatu pendapat baru, yang berbeda dengan AL-Ghazali. Dari  pendapat Ibn Khaldun tersebut sudah ada pergeseran nilai mengenai pengertian ikhlas dari pendapat Al-Ghazali dalam mengamalkan pengetahuan. Maka keberaniannya mengemukakan pendapat yang berbeda itulah ia memperoleh temuan-temuan baru, yang dapat diaplikasikan pada masa kini, sehingga di antara rumusannya mengenai pendidikan masa kinii masih up to date.

Dalam hal yang berhubungan dengan metode pendidikan Islam, Al-Ghazali menekankan pentingnya bimbingan dan pembisaaan. Dalam menerapkan metode tersebut Al-Ghazali menyarankan agar tujuan utama dari penggunaan metode tersebut di selaraskan dengan tingkat usia, tingkat kecerdasan, bakat dan pembawaan anak dan tujuannya tidak lepas dari hubungannya dengan nilai manfaat. Metode pendidikan Islam menurut Ibn Khaldun adalah bahwa mengajarkan pengetahuan kepada pelajar hanyalah akan bermanfaat apabila dilakukan dengan berangsur-angsur, setapak demi setapak dan sedikit demi sedikit. Metode pendidikan Islam yang disampaikan Ghazali selaras dengan yang disampaikan Ibn Khaldun.

Tentang Pendidik  Al-Ghazali menekankan bahwa seorang pendidik harus memiliki norma-norma yang baik, khususnya norma akhlak. Karena pendidik adalah merupakan contoh bagi anak didiknya. Mengenai pendidik Ibn Khaldun mengatakan seorang pendidik hendakanya memiliki pengetahuan yang memadai tentang perkembangan psikologi peserta didik. Pengetahuan ini akan sangat membantunya untuk mengenal setiap individu peserta didik dan mempermudah dalam melaksanakan proses belajar mengajar. Para pendidik hendakanya mengetahui kemampuan dan daya serap peserta didik

Dalam kaitannya dengan peserta didik, lebih lanjut Al-Ghazali menjelaskan bahwa mereka makhluk yang telah dibekali potensi atau fitrah untuk beriman kepada Allah. Fitrah itu sengaja disiapkan oleh Allah sesuai dengan kejadian manusia, cocok dengan tabi’at dasarnya yang memang cenderung kepada agama Islam. Selanjutnya tentang anak didik, Ibn Khaldun memandang manusia (peserta didik) sebagai mahluk yang berbeda dengan berbagai mahluk yang lain. Manusia, kata Ibn Khaldun adalah mahluk berfikir. Oleh karena itu ia mampu melahirkan ilmu (pengetahuan) dan teknologi. Pemikiran ini sejalan dengan apa yang disampaikan Ghazali karena mengakui adanya kemampuan dari masing individu sejak lahirnya kedunia.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Ghazali, Tahafut al-Falasifah, Yogyakarta: Islamika, 2003.

Arifin M., Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta, Bumi Aksara, 1991.

Hanafi, Ahmad, Pengantar Filsafat Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1990.

Jalaluddin & Usman Said, Filsafat Pendidikan Islam, Konsep dan Perkembangan Pemikiran, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1994.

Kholiq, Abdul Dkk., Pemikiran Pendidikan Islam Kajian Tokoh Klasik &   Kontemporer, Yogyakarta: Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang             bekerjasama dengan Pustaka Pelajar, 1999.

Leaman, Seyyed Hossein Nasr dan Oliver, Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam, Bandung: Penerbit Mizan dan anggota IKAPI, 2003.

Nata, Abuddin, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997.

Najati, Muhammad Utsman, Jiwa Dalam Pandangan Filosofis Muslim, Bandung: Pustaka Hidayah, 2002.

Nizar, Samsul, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta, Ciputat Pers, 2002.

Sudarsono, Filsafat Islam, Jakarta: PT Rineka Cipta, 1997.

Tadjab, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Malang: Fakultas Tarbiyah IAIN      Sunan Ampel, 1984.

Umam, Cholil, Ikhtisar Ilmu Pendidikan Islam, Surabaya: Duta Aksara, 1996.


[1] Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997, 159.

[2] Muhammad Utsman Najati, Jiwa Dalam Pandangan Filosofis Muslim, Bandung: Pustaka Hidayah, 2002, 201.

[3] Ibid, 202.

[4] Abu Hamid Al-Ghazali, Tahafut al-Falasifah, Yogyakarta: Islamika, 2003, xxix.

[5] Abuddin Nata, Ibid, 159.

[6] Muhammad Utsman Najati, Ibid, 203.

[7] Ibid, 203.

[8] Ahmad Hanafi. Pengantar Filsafat Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1990, 135.

[9] Ibid, 135-136.

[10] Muhammad Utsman Najati, Ibid,

[11] Sudarsono, Filsafat Islam, Jakarta: PT Rineka Cipta, 1997. 70-71.

[12] Ahmad Hanafi, Ibid, 144.

[13] Muhammad Utsman Najati, Ibid, 234.

[14] Sudarsono, Ibid, 71-72.

[15] Jalaluddin & Usman Said, Filsafat Pendidikan Islam, Konsep dan Perkembangan Pemikiran, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1994, 139.

[16] Ibid, 161.

[17] Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta, Ciputat Pers, 2002, l 87.

[18] Ibid, 90.

[19] M. Arifin, Ibid, 87-88.

[20] Abuddin Nata, Ibid, 166-167.

[21] Cholil Umam, Ikhtisar Ilmu Pendidikan Islam, Surabaya: Duta Aksara, 1996. 46-47.

[22] Abuddin Nata, 162.

[23] Samsul Nizar, Ibid, 87.

[24] Jalaluddin & Usman Said, Ibid, 143.

[25] M. Arifin, Ibid, 104.

[26] Ibid, 103-104.

[27] Abuddin Nata, Ibid, 164-165.

[28] Tadjab, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Malang: Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel,       1984, 110.

[29] Samsul Nizar, Ibid, 88-89.

[30] Ibid, 91-92.

[31] Abuddin Nata, Ibid, 171.

[32] Ibid, 171.

[33] Seyyed Hossein Nasr dan Oliver Leaman, Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam, Bandung: Penerbit Mizann dan anggota IKAPI, 2003, 444.

[34]Ibid, 451-452.

[35] Abdul Kholiq Dkk, Pemikiran Pendidikan Islam Kajian Tokoh Klasik & Kontemporer, Yogyakarta: Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang bekerjasama dengan Pustaka Pelajar, 1999, 6-7.

[36] Samsul Nizar, Ibid, 95-96.

[37] M. Arifin, Ibid, 92.

[38] Abuddin Nata, Ibid, 175-176.

[39] Abdul Kholiq Dkk, Ibid, 18-19.

[40] Sansul Nizar, Ibid, 95.

[41] Ibid, 94-95.

[42] Abuddin Nata, Ibid, 173-175.